WASIAT SUFI AYATULLAH KHOMEINI


banner-ramadhan

” Akrabkan dirimu dengan Al-Quran, kitab -agungpengetahuan ini, meskipun hanya dalam bentuk membacanya. Dengan demikian, engkau telah membangun hubungan dengan Yang Terkasih. Jangan berpikir bahwa membaca saja tanpa pemahaman adalah tak ada gunanya. Kesan seperti itu adalah hasutan setan. Bukankah ini adalah kitab yang datang dari Yang Terkasih untuk semua orang. Surat dari Yang Terkasih amatlah indah meskipun si pencinta tak tahu maknanya. Dengan hasrat seperti itu, cinta Yang Terkasih, yang adalah kebaikan  tertinggi, akan menyapa, dan siapa tahu, Dia mengulurkan tangannya. Bahkan, jika kita harus bersujud sepanjang umur kita, sebagai tanda terima kasih karena memiliki Al-Quran sebagai kitab suci kita, itu masih tak mencukupi.”

Nowruz, Warisan Budaya Dunia


 

 

 

 

 

 

 

 

Setiap tahun rakyat Iran bersuka cita menyambut  kedatangan tahun baru Nowruz. Selain bangsa Iran, perayaan tahun baru ini diperingati di Azerbaijan, Afganistan, Pakistan, beberapa bagian India, dan juga suku Kurdi. Selain itu, tradisi menyambut tahun baru Nowruz juga dirayakan di Asia Tengah, Turki, dan tempat-tempat lain di mana budaya Persia pernah berpengaruh di zaman dahulu.

 

Norouz adalah perayaan awal musim semi dan awal Kalender Persia. Nowruz adalah hari pertama bulan Farvardin, bulan pertama dari kalender Persia. Biasanya jatuh pada tanggal 21 Maret, tapi bisa juga terjadi pada tanggal 20 Maret atau 22 Maret menurut kalender Gregorian. Masyarakat yang tinggal di negara dengan empat musim merasakan perubahan cuaca dan pergantian musim, yaitu 21 Maret permulaan musim semi, 22 Juni awal musim panas, 23 September kedatangan musim gugur, dan 23 Desember dimulainya musim dingin. Namun, kedatangan tiga musim lain tidak dirayakan di Iran seperti peringatan Nowruz. Hari Nowruz Internasional tercatat dalam Daftar Warisan Budaya Tak benda UNESCO.

Peringatan Tahun Baru Nowruz telah dilakukan di Iran sejak ribuan tahun lalu yang dirayakan oleh para kaisar dan raja Iran pada masa pra-Islam. Peringatan Nowruz telah dirayakan secara turun-temurun selama 3.000 tahun silam. Bahkan beberapa ilmuwan menuturkan bahwa Nowruz sudah berusia 7.000 tahun. Bukan hanya negara-negara Asia Tengah namun juga Eropa Timur, Timur Tengah, dan Asia Selatan.

Perayaan Tahun Baru Hijriyah Syamsiah Nowrouz masuk daftar warisan budaya tak benda PBB. Pada tanggal 21 Maret 2013, untuk pertama kalinya dinamakan sebagai “Hari Nowruz Sedunia”.  Perayaan Nowruz yang digelar setiap tahun dengan berbagai tradisi yang beragam membawa pesan harapan akan perdamaian, persahabatan dan kebahagiaan bagi jutaan manusia di seluruh penjuru dunia.

Perayaan Nowruz yang digelar di Iran, Kaukasus, Asia Tengah dan negara-negara di Timur Tengah lainnya menjadi sebuah momentum bagi masyarakat internasional untuk mengenal lebih mendalam tentang budaya Nouruz. Perayaan Nouruz yang digelar setiap tahun dengan berbagai tradisi yang beragam membawa pesan harapan akan perdamaian, persahabatan dan kebahagiaan bagi jutaan manusia di seluruh dunia.

Tradisi Nouruz sejak dahulu hingga kini masih lestari. Salah satu tradisi itu adalah membersihkan seluruh rumah atau disebut dengan “Khaneh Tekani”. Khaneh tekani adalah istilah bagi masyarakat Iran untuk membersihkan dan menata kembali rumahnya dengan rapi. Mulai dari membersihkan dinding rumah, mencuci seluruh karpet, sofa sampai membongkar dan merapikan lemari-lemari pakaian dan kabinet-kabinet dapur. Tradisi khaneh tekani ini dilakukan secara bersamaan oleh anggota keluarga. Dengan kondisi rumah dan perabot rumah dalam keadaan bersih dan rapi, bangsa Iran memulai tahun barunya dengan suasana yang baru.

Pada 10 hari atau tujuh hari menjelang Nouruz, mayarakat Iran mempunyai tradisi menanam benih seperti gandum dan kacang hijau di pot-pot kecil dan besar atau di guci-guci keramik supaya di hari pergantian tahun nanti benih-benih tersebut dapat diletakkan di Sufreh Haft Sin (Taplak Tujuh Sin). Selain itu, berbagai pohon muda dan bunga yang sesuai dengan musim semi akan ditanam di kebun atau taman rumah. Adanya hijau-hijauan dan bunga segar selain menandakan datangnya musim semi dan keindahan alam juga membawa keindahan dan kesegaran di sekitar rumah.

Selain itu, membantu orang-orang yang tidak mampu merupakan bagian dari tradisi masyarakat Iran dalam menyambut tahun baru. Setiap tahun menjelang Nouruz, dilakukan gerakan massal membantu orang-orang yang membutuhkan. Masyarakat Iran meyakini bahwa membantu menyelesaikan masalah orang lain khususnya di hari-hari akhir tahun adalah perbuatan yang sangat bernilai, mulia dan terpuji di mana setiap Muslim yang melakukannya sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Masyarakat Iran di akhir tahun berusaha membantu orang-orang tak mampu dan berbagi kebahagiaan dengan mereka. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, mereka bekerjasama dengan berbagai lembaga pemerintah dan masyarakat. Sebagai contohnya, sepekan sebelum tahun baru, masyarakat Iran merayakan pesta kasih sayang atau disebut dengan “Jashn  Atefe“.

Jashn Atefe diselenggarakan dengan cara membuka berbagai stand-stand di setiap bundaran kota dan perempatan jalan dengan menyajikan kotak-kotak bantuan bagi para dermawan. Para dermawan menyumbangkan uang dan pakaian untuk kaum papa supaya mereka juga dapat merayakan tahun baru dengan bahagia. Sumbangan ini dikoordinasi salah satunya oleh “Komite Emdad Imam Khomeini”, yaitu sebuah lembaga yang didirikan atas instruksi langsung Pendiri Republik Islam Iran, Imam Khomeini pada tanggal 5 April 1979. Komite Emdad inilah yang mengumpulkan sumbangan-sumbangan masyarakat Iran dan membagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan.

Di detik-detik dimulainya tahun baru, masyarakat Iran di seluruh penjuru dunia duduk mengelilingi Sufreh Haft Sindan memulai tahun baru dalam suasana bahagia dan kasih sayang. Membuka Sufreh Haft Sin adalah salah satu momen indah Nouruz dan simbol kegembiraan dan sekaligus sebagai sarana berkumpulnya keluarga di detik-detik menjelang tahun baru.

Barang-barang yang disajikan di atas Sufreh Haft Sin memiliki awal kata dengan huruf Sin yang terdiri dari: Sir (bawang putih), Sib (apel), Sabzeh (tumbuhan hijau), Senjed (sejenis buah semak),Serkeh (cuka), Samanu (makanan/bubur terbuat dari kuncup gandum ), Somagh (nama sebuah tanaman). Sufreh tersebut dihiasi puladengan al-Quran, cermin, lilin, bunga hidup,  ikan emas, telur,  kurma, dan uang logam. Masing-masing dari benda-benda ini memiliki simbol dan makna tertentu. Cabang-cabang cemara, bunga lavender dan mawar adalah bagian lain dari Sufreh Haft Sin sebagai pengabar datangnya musim semi. Manisan dan permen juga termasuk bagian dari sufreh tersebut. Sementara adanya kitab suci al-Quran di atas Sufreh Haft Sin memberikan suasana spiritual tersendiri.(IRIB Indonesia)

Tags:

KPU Waspadai Praktik Jual Beli Suara di Pemilu 2014


Hal ini terjadi pada Pemilu 2009.

Sabtu, 5 April 2014, 09:59 Anggi Kusumadewi, Syahrul Ansyari

Surat suara pemilu.

Surat suara pemilu. ( ANTARA FOTO/Syaiful Arif)
 
VIVAnews – Komisi Pemilihan Umum mewaspadai praktik jual beli suara dalam Pemilu 2014. KPU tak ingin kejadian pada Pemilu 2009 itu terulang kembali.

“KPU mengantisipasi hal-hal seperti itu dengan memperkuat sistem,” kata Ketua KPU Husni Kamil Manik di kantor KPU, Jakarta 5 April 2014.

Sistem yang dia maksud itu antara lain memperbaiki proses di Tempat Pemungutan Suara (TPS), yakni terkait bagaimana rekapitulasi suara di tingkat TPS sampai ke pusat berjalan aman.

“Dalam sistem itu, kami perkuat pencatatan administrasinya dan petugas administrasi itu sendiri,” ujar Husni.

KPU juga memperbaiki cara mendokumentasikan bahan-bahan administrasi dari TPS, yakni dengan formulir C1 –formulir untuk rekap TPS. Setelah itu, KPU akan mempublikasikan dokumen C1 ke publik melalui sistem online.

“Kami memperkuat komitmen penyelenggara pemilu dengan melakukan gerakan moral menandatangani pakta integritas. Dengan itu kami pandu perilaku penyelenggara pemilu agar lebih tertib,” kata Husni. (sj)

Nasihat Imam Husein as: Memberi Makan Muslim


 

 

 

 

 

 

 

 

 

Memberikan Makan Muslim

Imam Husein as berkata:

“Bila aku memberi makan seorang muslim, nilainya lebih baik di sisiku, ketimbang membebaskan manusia yang mememuhi ufuk.”

Ada yang bertanya, “Seberapa luas ufuk itu?”

Imam Husein as menjawab, “Seukuran sepuluh ribu meter.” (Mustadrak al-Wasail, jilid 16, hal 250)

Memberi makan orang lain merupakan tradisi terpuji dalam Islam. Karena dengan memberi makan orang lain akan menumbuhkan cinta antara pemberi makan dan orang yang diberi makan. Dengan demikian, mengadakan majlis atau acara untuk memberi makan orang lain, demi memperkuat kasih sayang di antara manusia dan pengungkapan rasa syukur atas nikmat ilahi dengan menjauhkan dari sikap boros merupakan hal yang sangat baik dan dicintai Allah.

Satu poin penting saat memberi makan orang lain, tuan rumah tidak boleh membeda-bedakan antara orang miskin dan orang kaya. Ia harus melihat semua yang hadir sama dan menghormati semuanya. (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

Sumber: Pandha-ye Emam Hossein.

Baca juga:

Nasihat Imam Husein as: Berbuat Baik Kepada Semua Orang

Nasihat Imam Husein as: Memenuhi Kebutuhan Masyarakat

Kala Bansos Rp91 Triliun Menggoda…Politikus Bersemi Lagi


 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh: Anom Prihantoro

Angka dana bantuan sosial (bansos) yang besar sekitar Rp91 triliun tentu bisa membuat siapa saja yang memiliki akses menuju uang bagian dari kesejahteraan rakyat itu tergiur untuk memakainya dengan berbagai tujuannya masing-masing terutama para politisi demi kepentingan kampanye Pemilu 2014.

Satu hal yang paling rentan adalah bansos yang sejatinya ditujukan untuk kemaslahatan masyarakat luas justru dipakai untuk hajat individu atau golongan tertentu.

“Meski bansos itu untuk keperluan rakyat terkadang dimanfaatkan beberapa politisi untuk kepentingannya sendiri seperti dipakai bagi masyarakat di daerah pemilihannya atau dalam domain sempit. Padahal dana itu terkadang lebih diperlukan di wilayah lain dengan cakupan penerima manfaat yang lebih besar. Ini yang patut disayangkan,” kata anggota Komisi III DPR RI Eva Kusuma Sundari.

Belakangan dana bansos semakin disorot oleh sejumlah pihak karena penyalurannya meningkat menjelang Pemilu 2014. Diduga peningkatan itu karena ada minat para politisi untuk ongkos politik demi melenggang menuju kekuasaan yang diinginkannya lewat prosesi pesta demokrasi.

Koordinator Divisi Korupsi Politik Indonesia Corruption Watch (ICW) Abdullah Dahlan menduga bansos berpotensi dipakai untuk kepentingan pribadi dan politik dengan tolok ukur anggarannya yang melonjak tajam jelang Pemilu 2014.

Menurut kajian ICW, dana bansos pada seluruh kementerian dan lembaga sejak 2011 selalu naik drastis.

Pada 2011 dianggarkan Rp77 triliun dan meningkat menjadi Rp80 triliun (2012), Rp82 triliun (2013). Sementara itu, tahun 2014 dari semula dianggarkan Rp55 triliun naik menjadi Rp91 triliun.

Sementara itu, Komisi Pemberantasan Korupsi sendiri mengendus adanya petanda kepentingan politik dalam penganggaran bansos itu. Hingga kemudian komisi antirasuah tersebut meminta pemerintah untuk melakukan moratorium bansos di kementerian dan lembaga negara.

Selain itu, terdapat rekomendasi KPK agar pemerintah hanya memperbolehkan bansos dikucurkan melalui Kementerian Sosial saja bukan lewat banyak kementerian.

Di sisi lain, kepentingan politik dari dana bansos di kementerian semakin rentan. Setidaknya terdapat enam kementerian yang menterinya menjadi calon anggota legislatif.

Sejumlah kementerian itu seperti Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah dengan Menteri Syariefuddin Hasan dari Partai Demokrat, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Roy Suryo, Demokrat), Kementerian Kehutanan (Zulkifli Hasan, PAN), Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Muhaimin Iskandar, Partai Kebangkitan Bangsa), Kementerian Pertanian (Suswono, Partai Keadilan Sejahtera) dan Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (Helmy Faishal Zaini, PKB).

Pemilu merupakan ajang pesta demokrasi bagi seluruh rakyat Indonesia. Dikatakan juga jika pemilu merupakan tonggak bagi penyegaran kepemimpinan melalui pemungutan suara lima tahunan. Meski begitu, tak bisa dipungkiri pengejewantahan nilai demokrasi dari rakyat untuk rakyat memiliki risiko yaitu biaya politik yang tinggi.

Ibarat pepatah Jawa “jer basuki mawa beya” (demi keberhasilan dibutuhkan pengorbanan), tingginya ongkos politik itu merupakan alasan sejumlah parpol mencari sumber dana politik meski harus menggunakan dana bansos. Dana yang terbilang mudah didapatkan selama yang bersangkutan memiliki akses terlebih bagi mereka para petahana.

Bansos Anggaran Politik

Bansos dan politik memang sukar dipisahkan mengingat ada titik temu yang sama yaitu popularitas di tengah masyarakat.

Potensi popularitas dari bansos sangat besar karena sifatnya yang membantu meringankan beban masyarakat sekaligus mereka butuhkan. Sementara itu, aspek politik tak bisa lepas begitu saja dari popularitas. Dalam pada itu, para politisi akan berupaya mendulang popularitas dengan berbagai cara salah satunya program nyata meski harus dibiayai oleh dana bansos.

Satu muara dari politik dan bansos adalah popularitas. Dengan begitu, politisi melihat bansos strategis untuk dimanfaatkan dalam meraih popularitas sekaligus tidak perlu bersusah payah mendapatkan dananya karena hanya tinggal bernegosiasi melalui para pemilik akses dalam buka tutup keran dana bansos.

Bansos memang memiliki manfaat seperti penerapannya melalui rehabilitasi sosial, perlindungan sosial, pemberdayaan sosial, jaminan sosial, penanggulangan kemiskinan dan penanggulangan bencana. Akan tetapi, para pemberinya yang memiliki motivasi politis seperti menerapkan prinsip “tidak ada makan siang gratis” atau istilah politik balas jasa akan menjadi masalah tersendiri.

Dengan kata lain, pemberian bansos itu harus dibalas masyarakat seperti dengan mendorong masyarakat memberi suaranya kala pemungutan suara kepada pemberi bansos.

“Dana bansos rawan dipolitisasi untuk membiayai program-program populis jangka pendek untuk memenangkan pemilu,” kata Abdullah.

Senada dengan peneliti ICW itu, Eva mengatakan terdapat kecenderungan tidak proporsionalnya pembagian dana bansos. Selain itu, pengalokasiannya sering didasarkan pada hasil negosiasi di antara para pemangku kepentingan daripada merujuk pada kebutuhan masyarakat.

“Pemerintah lebih sering tidak menggunakan data dalam membagi alokasi bansos. Namun lebih kepada negosiasi di antara internal mereka atau tidak sesuai kebijakan,” kata dia.

“Jangan sampai bansos itu sedari masuk ke ranah politik anggaran bahkan menjadi anggaran politik,” kata Eva.

Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Busyro Muqoddas mengatakan ada beragam modus penyalahgunaan bansos jelang pemilu. Di antaranya pencairan dana dalam hari-hari menjelang pemilihan dan dana yang diperuntukkan itu tidak sesuai kebutuhan masyarakat.

Program yang dialiri dana pun bisa bersifat fiktif karena dilakukan oleh organisasi dan koperasi fiktif. Atas dasar itu, KPK menyarankan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menghentikan penyaluran dana itu untuk sementara hingga Pemilu 2014 berakhir. (IRIB Indonesia / Antara / SL)

Terasing di Bumi, Tapi Tenar di Langit!


 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh: Emi Nur Hayati

Akhir tahun 1392 HS, TV2 IRIB dalam acara “Bist va Si” menayangkan berita tentang seorang talabeh muda basiji (santri muda basiji) yang berbaring di rumahnya menanggung derita luka akibat bacokan pisau di lehernya oleh lima sampai enam berandalan. Ia tak dapat mengeluarkan suara apalagi berbicara.

Beberapa hari kemudian, di saat-saat liburan tahun baru 1393 HS disiarkan di televisi bahwa talabeh muda basiji ini telah meneguk cawan syahadah.

Alkisah, pada 25 Tir 1390 HS,  Ali Khalili yang saat itu berusia 19 tahun sedang mengantarkan pulang dua sampai tiga orang anak buahnya dari acara Nisfu Sya’ban. Acara pesta ulang tahun hari lahirnya Imam Zaman af. Malam itu acara agak terlambat bubar dan ia tidak tenang bila membiarkan anak buahnya yang masih remaja pulang sendirian dan tidak aman di jalan. Ali mengantarkan anak buahnya dengan motor salah satu kawan seperjuangannya. Namun ketika di pertengahan jalan kira-kira pukul dua belas malam, ia bersama anak-anak bimbingannya menyaksikan kejadian ada lima sampai enam berandalan sedang mengganggu dan memaksa dua perempuan untuk naik dan masuk ke dalam mobil mereka.

Dua perempuan itu berteriak meminta tolong. Melihat pemandangan seperti itu Ali tidak bisa diam. Ia segera turun tangan dan melakukan amar makruf dan nahi mungkar menegur para berandalan. Karena ia menilai membela kesucian adalah kewajiban agama. Anak-anak bimbingannya tidak maju karena usia mereka yang masih terlalu muda, mereka masih kelas 3 SMP. Ali maju menegur para berandalan itu. Tapi para berandalan itu mengeroyok Ali dan melukai lehernya. Para anak bimbingan Ali juga mendapatkan pukulan dari para berandalan itu.

Para berandalan itu melukai pembuluh darah bagian leher Ali. Alipun jatuh terkapar bergelimang darah. Sekitar setengah jam ia terkapar pingsan dan bergelimang darah di jalan. Para berandalan melarikan diri dan salah satu anak buahnya yang bisa mengendarai motor mengejar dan berhasil mencatat plat mobil para berandalan itu.

Kemudian ada mobil lewat berhenti dan membawa Ali ke rumah sakit. Karena saking parahnya beberapa rumah sakit tidak mau menerimanya, akhirnya dengan syarat membayar uang muka lima puluh juta riyal dari biaya enam puluh juta riyal, sebuah rumah sakit swasta mau menerima Ali dan mengoperasinya. Ali kehabisan darah sehingga menyebabkan otaknya tidak bekerja dan koma selama seminggu. Dalam jangka dua tahun menderita sakit, Ali mengalami mati otak selama tiga kali.

Ali tidak menyebut tindakannya malam itu sebagai amar makruf dan nahi mungkar tapi menyebutnya membela kesucian. “Membela kesucian muslim wajib bagi setiap muslim,” kata Ali. Ia mengatakan, ‘Aku tidak melakukan amar makruf tapi aku membela kesucian Muslim.”

Tragedi Pesawat MH370


 

 

 

 

 

 

 

 

Kisah pesawat MH370 merupakan pelajaran pahit bagi dunia penerbangan. Proses pencarian pesawat Malaysia Airlines ini memakan waktu lama dan membuat marah keluarga penumpang. Kekacauan tak akan terjadi andaikata pesawat itu dilengkapi dengan sistem komunikasi yang canggih.

Nasib pesawat yang menghilang dari radar sejak 8 Maret itu baru bisa dipastikan beberapa hari yang lalu. Pesawat Boeing 777-200ER ini diperkirakan jatuh di Samudra Indonesia bagian selatan–sekitar 2.000 mil dari daratan Australia. Besar kemungkinan, tak ada penumpang yang selamat. Serpihan-serpihan yang diduga bagian dari pesawat itu ditemukan lewat pengindraan satelit.

Spekulasi muncul karena pesawat ini lenyap begitu saja dari pantauan radar saat melintas di atas Laut Cina Selatan. Pesawat yang mengangkut 239 penumpang dengan tujuan Beijing ini kemudian terdeteksi berbalik arah ke Selat Malaka, lalu berputar lagi menuju Samudra Indonesia bagian selatan. Boleh jadi, pesawat ini dibajak. Tapi kemungkinan adanya kerusakan belakangan semakin menguat. Kejadian sebenarnya baru akan terungkap setelah black box ditemukan, yang bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan.

Pesawat itu sebetulnya juga dilengkapi dengan aircraft communications addressing and reporting system (ACARS). Kalaupun peranti ini rusak atau sengaja dimatikan oleh pilot, Boeing telah membuat sistem pelacak jejak cadangan. Masalahnya, Malaysia Airlines sengaja tidak mau memperbarui sistem komunikasinya walaupun biayanya cuma sekitar Rp 114 ribu per penerbangan.

Aplikasi yang disebut Swift itu terbukti bisa membantu menemukan pesawat Air France yang jatuh ke palung laut Samudra Atlantik pada 2009, hanya dalam lima hari. Swift akan tetap menyala meskipun pilot mematikan sistem komunikasi. Tanpa aplikasi ini, proses pencarian pesawat MH370 berlangsung lebih lama dan harus meminta bantuan banyak negara.

Di tengah era digital sekarang, sebetulnya memungkinkan pula pesawat mengirim data penerbangan secara real time ke bandar udara atau kantor maskapainya. Hanya, biaya untuk teknologi ini masih lumayan mahal, sehingga jarang digunakan oleh maskapai penerbangan.

Dunia penerbangan seharusnya tidak mengorbankan sistem komunikasi dan keselamatan hanya untuk menekan biaya. Inilah yang mesti diperhatikan, termasuk oleh maskapai penerbangan di negara kita. Beberapa tahun silam, misalnya, ada maskapai nakal yang tak mau memasang sistem komunikasi pesawat yang standar, sekalipun harganya tak terlalu mahal.

Pemerintah kita juga perlu mengevaluasi longgarnya pemberian izin mendirikan maskapai. Tidaklah tepat memberikan izin bagi perusahaan penerbangan tanpa persyaratan modal yang memadai. Kebijakan ini akan membuat maskapai mengabaikan sistem keselamatan penerbangan karena tak sanggup membeli peralatan komunikasi yang canggih. Jangan sampai insiden seperti pesawat MH370 terjadi pada maskapai penerbangan di negeri ini. (IRIB Indonesia / Tempo / SL)