Kebebasan dan Ayat Al-Quran


RAHBAR

“Wa yadha’u ‘anhum ishrahum, wal aghlaalal latii kaanat ‘alaihim”[1] termasuk … dari ayat-ayat yang harus ditulis dalam piagam emas dan ditempelkan di semua pintu masyarakat yang berjuang di dunia demi hak asasi manusia.

… Ayat ini mengenai pribadi Nabi Muhammad Saw dan penggambaran mengenai pribadi Rasulullah Saw dalam al-Quran. Ada beberapa ayat dalam al-Quran yang menjelaskan pribadi dan sahabat Nabi Muhammad Saw dan ayat-ayat itu menjelaskan satu sisi dari dimensi agung pribadi Nabi, sementara ayat ini termasuk yang paling menonjol. Kandungan ayat ini menyebutkan Nabi Saw membuang beban dan belenggu manusia. Beban dan belenggu yang memberatkan kaki manusia, mencegah mereka bergerak, terbang dan menyempurna. Beliau melepaskan beban dan belenggu itu dari leher dan kaki manusia. Ishr dalam bahasa berarti tali yang mengikat tiang tenda dan tersambungkan ke paku besar yang terpatri ke dalam bumi sehingga tenda dapat berdiri tegak. Beragam paksaan, diskriminasi, pembatasan dan dogma yang disampaikan saat ini dalam bentuknya yang modern ternyata membuat manusia seperti binatang.

Manusia di mayoritas masyarakat Barat hidup dalam bentuk hewan dan pada prinsipnya tidak terdapat sedikitpun dari sifat manusia. Lalu apa sebenarnya yang membuatnya tersandera seperti ini? Terkadang mereka juga meraih keberhasilan, tapi manusia seperti ini yang kalian lihat di tengah masyarakat Barat ternyata tersandera kecenderungan materi yang rendah, tersandera kezaliman, diskriminasi, dogma rendah dan penistaan. Inilah yang disebut Ishr. Inilah beban dan belenggu. Ketika para nabi memasuki sebuah masyarakat, maka pekerjaan pertama mereka adalah membuka belenggu ini dari leher para tawanan. Inilah kebebasan. Dengan demikian, pengertian kebebasan adalah dalam al-Quran, riwayat dan teks-teks Islam.

Kebebasan dan pengertian mulia ini paling tidak baru dua ratus tahun lalu menemukan jalannya di media cetak, buku dan pemikiran Barat, sementara telah ada dalam al-Quran dan saya yakin sudah ada dalam pemikiran kebanyakan para nabi.[2]

Dalam al-Quran pada surat al-Ahzab ayat 60 Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang Munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar.” Kata Murjifun (para penyebar kabar bohong) disandingkan dengan Munafikun dan orang-orang yang hatinya sakit. Munafikun berada di satu kelompok dan orang-orang yang sakit hatinya berada di kelompok yang lain. Nah, Murjifun disandingkan dengan dua kelompok ini. Murjifun merupakan orang-orang yang biasanya menakuti-nakuti orang lain. Sebuah masyarakat Islam yang baru berdiri dengan semua musuh yang dimilikinya, tapi ternyata mereka dari sisi semangat telah siap membela negara dan sistem agung ini lewat mobilisasi yang disampaikan al-Quran dan Nabi Muhammad Saw. Tapi ada sekelompok orang yang berusaha melemahkan semangat masyarakat. Mereka ini disebut Murjifun. Al-Quran menyebutkan, “Bila Murjifun, yakni orang-orang yang kerjaannya menakuti-nakuti masyarakat, berusaha membuat masyarakat pesimis dan mampu membuat mereka tidak mengambil tindakan, maka Kami akan memerintahkanmu untuk memerangi mereka.” Ini batasan kebebasan! Dengan demikian, kebebasan dalam logika Islam memiliki perbedaan lain terkait batasan dengan nilai-nilai spiritual.

Sementara perbedaan lainnya adalah kebebasan dalam pemikiran Liberalisme Barat tidak kontradiksi dengan kewajiban. Kebebasan berarti bebas dari kewajiban! Dalam Islam satu sisi lain dari kebebasan adalah kewajiban. Pada prinsipnya manusia itu bebas dikarenakan mereka punya kewajiban. Bila mereka tidak punya kewajiban, maka tidak ada maknanya kebebasan bagi mereka. Sama seperti malaikat. Sebagaimana disampaikan oleh Maulawi:

Dalam sebuah hadis disebutkan Allah
Menciptakan alam dalam tiga bentuk

Satu kelompok memiliki akal, ilmu dan kedermawanan
Malaikat tidak mengetahui apapun kecuali sujud

Kelebihan manusia ada pada kepemilikan sekumpulan kecenderungan yang saling bertentangan dan berkewajiban untuk melewati jalan kesempurnan di antara segala kecenderungan ini. Kepada manusia diberikan kebebasan demi melewati jalan kesempurnan. Kebebasan dengan nilai seperti ini demi membuat manusia menjadi sempurna. Sebagaimana kehidupan manusia itu sendiri untuk kesempurnaan. “Wa maa khalaqtul jinna wal insa illa liya’buduun.”[3] Allah Swt menciptakan manusia dan jin agar mereka sampai pada derajat penghambaan yang merupakan derajat yang sangat tinggi. Kebebasan sama seperti hak hidup yang merupakan pengantar bagi penghambaan.

Di Barat, upaya menafikan “kewajiban” telah mencapai puncaknya sehingga bukan hanya dalam pemikiran agama, bahkan mencakup pemikiran non agama dan semua ideologi yang memiliki kewajiban, wajib, haram, harus dan tidak harus! Hal ini dapat ditemukan dalam karya-karya terbaru mereka, para penulis liberal Amerika, semi Amerika dan orang-orang yang menganggap nabinya adalah mereka, umat mereka di negara-negara lain, termasuk sebagian masyarakat di negara kita, patut disayangkan. Mereka mengatakan bahwa pemikiran kebebasan Barat bertentangan dengan prinsip “harus dan tidak harus” dan prinsip ideologi! Islam secara keseluruhan bertengan dengan cara pandang ini. Islam menilai kebebasan bersama dengan kewajiban bagi manusia, sehingga manusia dapat melakukan kewajibannya dengan benar bersama kebebasan ini. Manusia dapat melakukan pekerjaan besar dengan kebebasan, melakukan pilihan besar dan mencapai kesempurnaan.

… Masalah kebebasan merupakan pembahasan islami. Kita hendaknya memikirkannya secara islami dan semua meyakini hasilnya sebagai sebuah gerakan islami dan sebuah kewajiban agama. Alhamdulillah, kita harus mensyukuri apa yang ada dalam masyarakat dan memanfaatkan fasilitas ini secara maksimal. Para pemikir harus berusaha keras. Tentu saja ada sebagian pembahasan yang sangat spesifik dan harus dikaji di universitas, media khusus dan di kumpulan  khusus. Tapi sebagian permasalahan kebebasan bersifat umum dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat umum. Ini harus disampaikan dan semua bisa memanfaatkannya.[4] (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

Sumber: Doktor Manouchehri Mohammadi, Azadi dar Negah Rahbar Moazzame Enqelab Eslami, Ayatullah Khamenei, Tehran, 1390 Hs, Moasseseh Pajouhesh Farhanggi Enqelab Eslami.

[1] . QS. al-A’raf: 157, “… dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka…”
[2] . Pidato dihadapan masyarakat Iran, 1/9/1368.
[3] . QS. adz-Dzariyat: 56, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”
[4] . Pidato dihadapan Dewan Ketua Majlis Syura Islami, 6/12/1379.

UNTUK JOKOWI & KITA


ilustrasi-jokowi-jekaSalam. Wahai Pencinta ‘Irfan …. Hari ini, Senin 20 Oktober 2014, salah seorang putra terbaik bangsa dari aspek kenegaraan dan kebangsaan dilantik menjadi presiden RI. Ingat…. ingatlah, bahwa Sang Presiden telah melalui proses panjang untuk menjadi, sekali lagi menjadi Bukan sebagai presiden. Proses ini merupakan jalan kehidupan yang telah digariskan oleh Allah SWT. Hari ini juga merupakan momentum kita untuk semakin mengedepankan kehidupan berbangsa dan bernegara yang berazaskan KESEDERHANAAN, KESEIMBANGAN, TOLERANSI, dan AKULTURASI.

Peristiwa ini, bukan saja disaksikan dan diikuti oleh alam lahiriah kita saja, tetapi, jauh dari kesadaran kita semua, sebenarnya juga disaksikan oleh alam malakut sebagai saksi dari hakikat. Sehingga, tanggungjawab dalam menegakkan kehidupan yang lebih baik merupakan tanggungjawab kita semua sebagai manusia dan alam Indonesia. Karena JOKOWI – JUSUF KALLA, adalah kita juga……

images

Walhasil … Sebagai bentuk komitmen kita semua, mari bersama-sama kita mengawal dan berperan aktif untuk mewujudkan kita sebagai satu bangsa besar. BANGSA INDONESIA YANG BERDAULAT ADIL DAN MAKMUR…

Kisah Ushul Kafi: Optimis dalam Berdoa


e5407fac593873fce76874ae3c1654e9_L

Ahmad bin Muhammad menemui Imam Ridha as dan berkata, “Beberapa tahun ini saya punya hajat dan berdoa kepada Allah agar dikabulkan, tapi doa saya tidak mustajab. Perlahan-lahan saya mulai ragu.”

Imam Ridha as berkata, “Wahai Ahmad! Waspadalah jangan sampai engkau dikalahkan setan, sehingga engkau merasa putus asa. Sesungguhnya Imam Baqir as berkata, ‘Seorang mukmin meminta hajatnya kepada Allah. Dalam hal ini Allah mengakhirkan terkabulkannya hajatmu. Karena Dia mencintai tangisan dan munajatmu.

Setelah itu Imam Ridha as menambahkan, “Demi Allah! Ditangguhkannya mengijabahi kebutuhan duniawi seorang mukmin yang diminta kepada Allah lebih baik dari mempercepat penerimaannya dan terpenuhinya kebutuhan.”

Lalu apa nilai dunia?

Imam Baqir as berkata: “Selayaknya seorang mukmin ketika berdoa dalam kondisi senang sama dengan kondisinya saat susah. Karena bila doanya tidak diterima, ia tidak menjadi lemah dan tetap berdoa. Oleh karenanya, jangan merasa lelah dari berdoa. Sesungguhnya doa memiliki maqam yang tinggi di sisi Allah. Hendaknya engkau bersabar. Berusaha untuk bekerja mendapatkan rezeki yang halal dan tetap menjaga silaturahmi. Karena kami adalah keluarga yang tetap menjaga silaturahmi, sekalipun orang lain memutuskannya. Kami juga menyikapi baik, sekalipun terhadap orang yang berbuat buruk. Demi Allah! Dengan cara ini kami mendapatkan banyak kebaikan.

Sesungguhnya orang yang mendapat nikmat ilahi di dunia bila ia berdoa dan meminta kepada Allah Swt, ia akan mendapatkan apa yang diinginkannya, tapi dikarenakan ketamakannya ia terus meminta dan perlahan-lahan nikmat Allah yang telah diterimanya dianggap tidak bernilai dan tidak pernah merasa cukup. Ketika seorang muslim mendapat nikmat yang banyak, ia dalam kondisi bahaya dan diuji terkait hak-hak yang wajib dikeluarkannya.

Kemudian Imam Ridha as bertanya, “Katakan padaku, apakah engkau percaya dengan yang saya sampaikan kepadamu?”

Ahmad menjawab, “Bila saya tidak pernya denganmu, lalu kepada siapa saya bisa percaya. Engkau adalah Hujjah Allah dan sudah pasti ucapanmu benar.”

Imam Ridha as berkata, “Bila engkau mempercayai kata-kataku, hendaknya engkau lebih mempercayai firman Allah. Karena Allah pasti memenuhi janji-Nya. Bukankah Allah Swt berfirman, ‘Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku’ (QS. al-Baqarah: 186), begitu juga dalam ayat yang lain, ‘Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah’ (QS, az-Zumar: 53) dan ‘Sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia.’ (QS. al-Baqarah: 268) Dengan demikian, keyakinanmu kepada Allah harus lebih besar dari yang lainnya dan jangan memberi jalan ke dalam hatimu kecuali kebaikan. Dalam kondisi yang demikian, engkau akan diampuni-Nya.” (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

Sumber: Dastanha-ye Usul Kafi, Mohammad Mohammadi Eshtehardi, 1371Hs,  jilid 1.

FPI kemukakan lima alasan tolak Ahok


misbahul-anam-fpi

JAKARTA (Arrahmah.com) – Ketua Dewan Syuro Front Pembela Islam (FPI) KH. Misbahul Anam menegaskan umat Islam khususnya yang menjadi warga DKI Jakarta wajib bersatu menolak Basuki Purnama alias Ahok menjadi gubernur. Dan wajib bagi anggota DPRD DKI untuk sidang istimewa untuk penolakan Ahok sebagai realisasi wakil rakyat.

AHOL

Dia menyebut minimal ada lima alasan menolak Ahok. “Pertama, Tidak ada dalil pemimpin kafir yang adil apalagi melindungi warga muslim. Kedua, Ahok itu arogan, sombong bahkan kerap berkata kasar. Ketiga, dari berbagai elemen masyarakat DKI sudah muak dan menolak kepemimpinannya,” jelas Kiai Anam, Sabtu (20/9/2014), dikutip dari Suara Islam Online.

Keempat, Ahok selalu teriak demokrasi. Dalam demokrasi tidak ada minoritas memimpin mayoritas. Lihat Amerika sebagai negara yang katanya guru demokrasi, tidak pernah ada gubernur atau menteri muslim karena Amerika negara kafir. Atau lihat Bali, kemarin ada calon gubernur beragama Hindu yang ditolak hanya karena sering pakai peci, karena peci dianggap simbol Islam. Dan yang kelima, alasan menolak Ahok adalah karena warga DKI mayoritas pribumi-Muslim sedangkan Ahok Cina-kafir,” tambah Kiai.

Rencananya, FPI akan menggelar aksi menolak Ahok sebagai gubernur. Aksi tersebut akan dilakukan pada Rabu, 24 September 2014 pukul 09.00 WIB di depan Gedung DPRD DKI Jakarta, Jl Kebon Sirih, Jakarta Pusat. FPI menyerukan umat Islam Jakarta untuk mengikuti aksi ini.

Sebelumnya beredar mulai di kalangan pewarta informasi via WA, Sabtu (20/9/2014) yang isinya:

UNDANGAN AKSI TOLAK AHOK: Asalamualaikum wr wb , Kepada umat Islam,Ulama,Tokoh, Mahasiswa,ormas dan komponen bangsa sejabodetabek kami mengundang Bpk/Ibu/Sdr untuk IKUT AKSI AKBAR PENOLAKAN AHOK SEBAGAI GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR bersama FPI dan FUI hari/tgl : Rabu, 24 September 2014, jam 10 pagi di depan Kantor DPRD DKI Jakarta , Kebon Sirih Jakarta Pusat ” Ayo berjuang dengan Jiwa dan raga demi tegaknya IZZUL ISLAM WAL MUSLIMIN “, ALLAHU AKBAR ! Wassalam. Korlap Ust. Maman 081288666655, Wakorlap Ust. Bernaaard Abdul Jabbar 085692617850. (azm/arrahmah.com)

TOPIK: , , ,

- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2014/09/24/fpi-kemukakan-lima-alasan-tolak-ahok.html#sthash.kGwzT7Ug.dpuf


Hati-Hati ‘Politik’ Ahok!

Ahok: negara ini rusak karena mencampuradukkan agama dan politik

Terkait

Oleh: Nuim Hidayat  

PERNYATAAN Wakil Gubernur DKI Basuki Purnama (Ahok) pada Selasa (19/02/2013) patut dicermati. Dalam seminar di hadapan para dokter, Ahok menyatakan, “Kerusakan akhlak jelas bukan soal politik, negara ini rusak karena mencampuradukkan agama dan politik. Kita bisa berdebat di luar itu, banyak orang munafik, ada nggak pejabat yang berani melaporkan harta kekayaannya dan pajak yang dibayarkannya, tidak ada yang berani Pak, munafik!” seru Ahok.

Ia juga mengatakan dunia politik dengan kemunafikan. Banyak pejabat yang mengaku berakhlak, namun kenyataan berbicara sebaliknya. “Yang penting itu tiga hal, perut, otak sama dompet,” sambung Ahok.(lihat: “Ahok: Pejabat Munafik Campuradukkan Agama dan Politik!’, itoday.co.id, 19 Februari 2013,http://www.itoday.co.id/politik/ahok-pejabat-munafik-campuradukkan-agama…)

Sebagai non Islam, Ahok mungkin tidak sadar bahwa pernyataannya itu ‘melukai’ banyak kaum Muslimin. Umat Islam di tanah air berpandangan bahwa antara Islam dan politik adalah saling terkait. Yakni ajaran Islam mesti menjadi landasan atau dasar dalam berpolitik. Islam menjadi dasar program dan moral politik.

Tokoh kenamaan politik Islam, Mohammad Natsir pernah menyinggung masalah ini. Ia menyatakan;

“Seringkali orang bertanya kenapa agama dibawa-bawa dalam politik atau politik membawa-bawa agama. Dan sering timbul pertanyaan, bagaimana dapat suatu partai politik didasarkan kepada agama, seperti halnya dengan partai politik Islam, Masyumi pada era Bung Karno. Pertanyaan itu timbul sebab seringkali orang mengartikan yang namanya agama itu hanyalah semata-mata satu sistem peribadatan antara makhluk dengan Tuhan Yang Maha Kuasa saja. Definisi ini mungkin tepat bagi bermacam-macam agama. Akan tetapi tidak tepat bagi agama yang bernama Islam yang hakikatnya lebih dari sekedar itu.”

Mantan Ketua Umum Partai Masyumi ini menjelaskan kembali, “Jika kita meminjam perkataan seorang orientalis, H.A.R. Gibb, maka kita dapat simpulkan dalam sebuah kalimat, “Islam is much more than a religious system. It is a complete civilization.” Islam itu adalah lebih dari sistem peribadatan. Ia adalah satu kebudayaan yang paling lengkap sempurna!…Oleh karena itu bagi kita seorang Muslim tidak dapat melepaskan diri dari politik. Dan sebagai orang berpolitik, kita tidak dapat melepaskan diri dari ideologi kita, yakni ideologi Islam. Bagi kita, menegakkan Islam tidak dapat dilepaskan dari menegakkan masyarakat, menegakkan Negara, menegakkan kemerdekaan.”

Berbeda dengan kalangan Kristen/Katolik yang mempunyai trauma dalam sejarahnya dalam hubungan antara politik dan agama, maka Islam justru sebaliknya.

Di masa panjang pemerintahan Islam, dimana sultan/khalifah memegang teguh ideologi Islam dan menerapkannya dalam sistem pemerintahan, yang terjadi adalah keadilan dan kemakmuran.

Lihatlah kehidupan kaum Muslimin di masa Khulafaaur Rasyidin dan juga masa Bani Umayah/Abbasiyah /Andalusia, kaum Muslimin mengalami kemakmuran dan kemajuan yang luar biasa.

Beda dengan pengalaman gereja ketika bersekutu dengan kekuasaan (kaum birokrat) di abad pertengahan Eropa, yang terjadi justru korupsi, manipulasi dan keditaktoran. Saat itu pendeta bersekutu dengan kalangan birokrat bersama-sama memeras rakyat dan juga melakukan tindakan-tindakan yang kejam terhadap para ilmuwan yang pemikirannya berbeda dengan gereja.

Maka ilmuwan kritis seperti Bruno dan Galileo mengalami siksaan yang luar biasa saat itu. Begitu pula ketika ketika kekuasaan Andalusia pindah ke Katolik (1492), Ratu Isabella bersama para pendeta melakukan siksaan yang kejam terhadap ribuan kaum Muslimin di sana. Peristiwa itu dikenal dengan nama Inkuisisi dan kemudian mengharuskan tokoh-tokoh Katolik di abad ini minta maaf atas tindakannya yang di luar nalar manusia itu. Zaman kelam menyatunya gereja dengan kekuasaan saat itu disebut dalam sejarah dengan The Dark Ages. Maka kemudian lahirlah prinsip sekulerisme: “Serahkanlah kepada  kaisar yang  menjadi  hak  kaisar dan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan!”

Moral Politik

Saat ini politik Islam di Indonesia memang menyedihkan. Tokoh-tokoh Islam, meski sebagian memegang peran dalam politik, kebanyakan kalah bermain politik dengan tokoh-tokoh lain. Yang paling jelas adalah ketika Jokowi-Ahok yang diusung partai PDIP dan Gerindra mengalahkan Foke-Nahrowi dalam pemilukada di Jakarta. Meski  Foke bukan tokoh ideal, tapi dukungan tokoh-tokoh umat tehadapnya menunjukkan ia wakil dari umat Islam. Tapi ternyata  profesionalitas Jokowi-Ahok tetap menjadi pilihan masyarakat daripada Foke yang hanya bermain simbol.

Dalam hal ini, mestinya politikus Islam menguasai keduanya. profesionalitas dan politik simbol. Bukan hanya menjagokan simbol atau slogan-slogan yang kurang bermakna karena rendahnya profesionalitas.

Kurangnya profesionalitas di kalangaan politikus Islam, kini semakin buram ditambah dengan  berkembangnya eksponen-eksponen politik Islam yang terjerat dengan kasus korupsi. Kasus terakhir adalah dugaan yang sedang menimpa pada Luthfi Hasan Ishaaq (LHI), mantan presiden PKS. Partai yang menjadi banyak harapan umat untuk menumbuhkan budaya politik Islam yang bersih, kini justru ikut kena imbas. Meskipun secara prosentase kader-kader PKS yang terkena korupsi sedikit, tapi karena partai ini membawa nama Islam/dakwah dan mengusung slogan bersih, maka noda sedikit saja akan nampak lebih besar di mata masyarakat.

Tokoh-tokoh politik Islam mestinya mulai mengambil teladan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam, sahabat, ulama atau tokoh-tokoh Islam di negeri ini dalam menjalankan pemerintahan. Mohammad Natsir mesti berpeluang menjadi seorang milyarder, tapi karena ia tokoh umat, ia tidak pernah menumpuk-numpuk kekayaan dalam rumahnya. Bahkan ketika menjadi Menteri Penerangan, bajunya paling kumal disbanding staf-stafnya. Ketika ia berhenti menjabat sebagai Perdana Menteri, ia dengan sukarela mengembalikan mobil dinasnya ke istana dan menempati rumahnya yang sangat sederhana dan tidak layak sebagai seorang mantan Perdana Menteri.

Tapi begitulah Natsir. Karena kesederhanaannya itulah ia kini terus menjadi model dan teladan bagi umat. Begitu pula ulama besar Buya HAMKA. Ia membuka layanan gratis setiap harinya di rumahnya untuk konsultasi. Rata-rata 10-15 orang tiap hari datang ke rumahnya untuk berkonsultasi masalah keluarga, anak, agama dan sebagainya. Ia tidak mau mengambil upah untuk konsultasinya itu, bahkan menempatkan kotak amal agar para pengunjung mengisinya pun ia hindari. Dengan kesederhanannya itu, HAMKA terus menjadi teladan ulama Indonesia hingga kini.

Begitu pula Prawoto Mangkusasmito, Ketua Partai Masyumi terakhir (1959-1960). Laki-laki berperawakan kurus itu memilih hidup sederhana dan menghindari bergelimang dengan duit. Bahkan untuk mencukupi kebutuhan rumahtangga, istrinya juga membantu mencari nafkah. “Ia bukan seorang politikus yang menggunakan politik untuk mencari duit. Ia berjuang untuk negara dan rakyat Indonesia dan ini kelihatan sekali daripenghidupannya,” tulis Tan Eng Kie wartawan China di Pos Indonesia, Agustus 1970.

Prawoto lahir di desa Tirto, Grabag Magelang 4 Januri 1910. Sejarah hidupnya, menggambarkan seorang pejuang politik (Islam) yang konsisten terhadap agama. Dalam soal prinsip agama, mantan guru sekolah Muhammadiyah ini mengingatkan, “Jangan tinggalkan tuntunan agama. Dipandang daripada sudut partai politik yang mendasarkan perjuangannya atas kaidah-kaidah agama, perlu kita renungkan kembali, apakah benar di dalam mengejar kemenangan-kemenangan yang bersifat sementara itu, dapat dipertanggungjawabkan jika ditinggalkan ketentuan-ketentuan yang terang nashnya dalam agama? Saya yakin tidak. Jika demikian, maka kerusakanlah yang akan menjadi bagian kita dan tidak ada guna, malah menyesatkan perkataan agama yang kita tempelkan pada papan nama kita.” (lihat buku Prawoto Mangkusasmito, 1972).

Dalam kesempatan lain, Prawoto mengingatkan kepada Presiden Soekarno yang membubarkan Partai Masyumi (1960): “Orang-orang yang benar-benar memperjuangkan Islam, tidak bisa lain dari bertujuan supaya hukum Islam berlaku dan terutama untuk si pejuang sendiri, hukum Islam dengan segala batas dan larangan-larangannya, yang tidak boleh dilanggar oleh si Muslim yang kebetulan berkuasa.”

Sebuah pesan yang sangat relevan dengan situasi politik kita saat ini. Wallahu a’lam.*

Penulis adalah dosen STID Mohammad Natsir

Rep: -

Editor: Cholis Akbar

Anak Cerdas karena Keshalihan Ayah


Anak Cerdas karena Keshalihan Ayah

Terkait

AL HAFIDZ AHMAD BIN SHIDDIQ AL GHUMARI waktu awal menuntut ilmu di Al Azhar, ia amat cepat memahami kitab-kitab yang ia baca di hadapan para gurunya. Sehingga dalam waktu singkat ia sudah mengkaji kitab-kitab tingkat tinggi.

Sampai pada suatu saat, sang guru Syeikh Muhammad Imam Saqqa yang saat itu menjabat sebagai imam masjid Al Azhar mengatakan kepada Syeikh Ahmad bin Shiddq Al Ghumari,”Ayahmu pasti laki-laki yang shalih. Yang terjadi padamu ini adalah keberkahannya tanpa diragukan. Sesungguhnya kami tidak mengetahui ada yang mampu berpindah kepada buku tingkatan tinggi dengan secepat ini. Sesungguhnya penuntut ilmu yang ada pada kami tidak akan menghadiri kajian Al Asymuni atau Ash Shaban, kecuali setelah mempelajari nahwu selama 6 tahun serta telah membaca Al Ajrumiyah dan Al Qathr lantas mengulang-ulanginya. Sedangkan engkau sudah naik kepadanya dalam waktu hanya tiga bulan”. (Bahr Al Amiq, 1/ 60-61)

Rep: Sholah Salim

Editor: Thoriq

MENGENANG PERTEMPURAN SASAK KAPUK


sasak-kapuk-640x330_c
jicadmin / August 22, 2014

Salah satu pertempuran yang heroik yang dipimpin oleh ulama Betawi terkemuka, KH. Noer Alie, terhadap tentara sekutu untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia adalah pertempuran Sasak Kapuk. Pertempuran ini dinamakan pertempuran Sasak Kapuk karena  terjadi di jembatan Sasak Kapuk, Pondok Ungu, Bekasi.  Pertempuran ini berlangsung pada tanggal 29 November 1945. Salah satu sumber tulisan saya yang terinci tentang pertempuran ini terdapat di dalam buku biografi yang berjudul “KH. Noer Alie: Kemandirian Ulama Pejuang”yang ditulis oleh Ali Anwar.

Awal pertempuran Sasak Kapuk bermula pada tanggal 23 November 1945, ketika pesawat Dakota Inggris jatuh di Rawa Gatel, Cakung, Jakarta Timur. Pesawat Dakota yang berangkat dari lapangan udara Kemayoran, Jakarta Pusat menuju Semarang itu diduga mengalami kerusakan mesin sehingga harus melakukan pendaratan daruraut sekitar jam 11.00 WIB.

Penduduk Cakung, Jakarta Timur segera mengepung pesawat, kemudian menangkap seluruh awak pesawat dan penumpangnya yang berisi 26 orang, dengan rincian 4 orang awak pesawat berkebangsaan Inggris dan 22 orang sisanya berkebangsaan India (Sykh). Setelah senjata mereka dilucuti dan tinggal memakai cawat saja, seluruh tawanan dikirim ke markas TKR Ujung Menteng, untuk selanjutnya dibawa ke markas TKR Batalyon V Bekasi, dan dijebloskan ke dalam sel tangsi polisi Bekasi. Sore harinya, pasukan berkuda dan tank Sekutu dikirim ke tempat kejadian untuk mencari pasukannya. Namun karena tidak mendapatkan hasil, pada malam harinya, mereka kembali ke Jakarta.

Esok harinya, tanggal 24 November 1945, komandan tentara Inggris di Jakarta mengeluarkan maklumat agar seluruh pasukannya yang ditawan TKR tersebut dikembalikan ke Jakarta. Tetapi, pemuda Bekasi menolaknya. Bahkan  tiga hari kemudian, seluruh tahanan dieksekusi di belakang tangsi polisi Bekasi. Rencana semula, seluruh mayat tawanan akan dibuang ke kali Bekasi. Tetapi karena kali Bekasi sedang surut sehingga mayatnya dikubur di belakang tangsi polisi yang lubang penguburannya telah disiapkan.

Atas peristiwa ini, tanggal 29 November 1945, Sekutu melakukan  penyerangan ke Cakung, Pondok Ungu dan Kranji. Sekutu menggunakan tentara Punjab ke-1/16, Skuadron Kaveleri F.A.V.O ke-11, pasukan perintis ke-13, pasukan Resimen medan ke-37, detasemen kompi medan ke-69, dan dengan 50 truk, 5 meriam serta beberapa mortir dan kanon.

Pertempuran pertama terjadi di Cakung, Jakarta Timur, yang mengakibatkan jatuh korban pada kedua belah pihak. Dari pihak Indonesia ada 13 orang. Merasakan sulitnya menembus pertahanan sampai kota Bekasi, Sekutu kemudian mundur dengan membawa pasukannya yang telah jadi korban. Namun begitu tiba di Pondok Ungu, Sekutu harus berhadapan dengan Laskar Rakyat dan penduduk kampung pimpinan KH. Noer Alie yang dibantu oleh beberapa TKR Laut. Penduduk yang telah menjadi prajurit tempur dikerahkan KH. Noer Alie untuk mengusir Sekutu yang dianggap melanggar garis demarkasi.

Gema takbir dan gema bacaan Hizbun Nasr berkumandang bersamaan dengan langkah pasukan rakyat yang dipimpin langsung oleh KH. Noer Alie. Pada awalnya, tentara sekutu terdesak oleh serangan mendadak pasukan Laskar Rakyat. Namun tidak sampai satu jam pertempuran, tentara Sekutu yang bersenjata lengkap balik menyerang sehingga pasukan KH. Noer Alie terdesak sampai ke jembatan Sasak Kapuk. Untuk menghindari korban jiwa, KH. Noer Alie menginstruksikan seluruh pasukannya untuk mundur. Sebagian pasukan mundur, namun puluhan lainnya tetap bertahan. Saat itulah, tiba-tiba mortir dan meriam Sekutu menyalak. Tidak dapat dihindari, sekitar 30 pasukan Laskar Rakyat menjadi korban. Sedangkan KH. Noer Alie yang sempat lolos dari terjangan peluru Sekutu segera menyelamatkan diri dengan cara menceburkan diri ke kali Sasak Kapuk, sambil menyusuri kali sampai ke utara.

Dari kisah pertempuran Jembatan Sasak Kapuk ini, yang menarik untuk diulas adalah Laskar Rakyat pimpinan KH. Noer Alie.  Siapakah Laskar Rakyat pimpinan KH. Noer Alie ini yang tanpa rasa takut berani mempertaruhkan nyawa dengan persenjataan minim melawan sekutu yang membawa persenjataan berat dan lengkap? Apa rahasia dibalik keberanian mereka? Menurut KH. Noer Alie, Laskar Rakyat dibentuk olehnya karena emosi rakyat tidak terkendali akibat sikap pemimpin Republik Indonesia waktu itu yang hanya bisa menghimbau agar rakyat bersikap tenang, sedangkan rakyat telah dihadapkan oleh kondisi obyektif provokasi Sektu dan NICA. Juga karena TKR (Tentara Keamanan Rakyat) yang dibentuk tanggal 5 Oktober 1945 belum mengakar dan belum berwibawa di masyarakat. Pemikiran KH. Noer Alie ini ternyata sejalan dengan Markas Umum TKR di Yogyakarta yang pada tanggal 30 Oktober 1945 mengeluarkan sebuah pernyataan umum tentang pembentukan Laskar Rakyat. Sebagian Laskar Rakyat yang dibentuk dan dipimpin KH. Noer Alie ini adalah murid-muridnya. Kepada murid-muridnya ini, KH. Noer Alie memerintahkan agar untuk sementara waktu berhenti belajar, diganti dengan berjuang fisik menggunakan senjata dalam upaya mengusir penjajah. Proses belajar mengajar akan dibuka kembali, “kelak bila perang selesai.”

Lalu, apa rahasia keberanian Laskar Rakyat ini? Untuk memotivasi dan meningkatkan keberanian para prajuritnya, KH. Noer Alie memerintahkan para Laskar Rakyat yang berjumlah 200 orang untuk berpuasa selama tujuh hari di Masjid Ujungmalang. Selama berpuasa, para prajurit diajarakan membaca doaHizbun Nasr sampai hafal. Juga ditambah dengan membaca wirid, Ratibul Haddad, shalat tasbih, shalat hajat, dan shalat witir. Jika sudah selesai, mereka dinyatakan “lulus” dengan diberi semacam ijazah yang disimbolkan dengan pemberian lempengan kaleng ukuran kecil berlatar belakang bendera merah putih dan bertuliskan kalimat La Ilaha Illa-Allah, Muhammad ar- Rasul- Allah. Setiap usai penyematan ijazah, KH. Noer Alie berpesan kepada prajuritnya agar tidak bersikap sombong dan angkuh, terutama pada saat pertempuran. Ajaran,  amalan-amalan dan wejangan dari sang ulama Betawi terkemuka “Singa Karawang-Bekasi” inillah kunci keberanian Laskar Rakyat, para pejuang dan syuhada pertempuran Jembatan Sasak Kapuk.

Akhir kalam, kini Hizbun Nasr dan Ratibul Haddad masih dibacakan oleh ulama Betawi dan murid-muridnya, latihan silat dan amalan-amalan lainnya seperti yang dikerjakan oleh Laskar Rakyat pimpinan KH. Noer Alie juga dilakukan oleh sebagian mereka untuk berjaga-jaga jika negara membutuhkan. ***

Penulis : H. Rakhmad Zaelani Kiki, S.Ag, MM (Kepala Bidang Pengkajian dan Pendidikan JIC)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.