PEMILU DAMAI DALAM EKSISTENSI DAN TOLERANSI


Insepar

Ada yang menarik di layar televisi kita minggu-minggu ini, yaitu munculnya ajakan atau himbauan tokoh/ulama kita untuk menciptakan kedamaian dan menjaganya dalam menghadapi penetapan hasil pilpres yang , Insya Allah, oleh KPU Indonesia akan dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 22 Juli 2014.
Sebelumnya kita tentu telah menyaksikan dan mengalami bersama-sama begitu sengitnya persaingan dan pergesekan antara para pendukung kedua calon presiden (kita). Hal tersebut semakin seru dengan hadirnya para penggiat Hitung Cepat yang memberikan hasil beragam dengan prediksi kemenangan yang berbeda. Tentu hal ini sah-sah saja, namanya juga hitung cepat, jadi tidak akan persis sama dengan hasil ril yang didapatkan dengan hitung manual. Namun demikian, kita semua juga harus memahami dengan baik dan seksama bahwa apapun hasil yang didapatkan dari pilpres ini, bahwa semua rangkaian kegiatan tersebut adalah bagian dari PESTA DEMOKRASI kita semua. Jadi bukan hanya pestanya para calon presiden dan wakilnya, bukan hanya pestanya para anggota partai dan pendukungnya, lebih dari itu semua ini adalah pesta rakyat Indonesia.

isHal yang menggembirakan dari proses panjang pilpres ini pula bahwa tingkat partisipasi pemilih sangat tinggi. Ini memberikan gambaran dan harapan akan lahirnya presiden dan wakil presiden baru yang lebih berkualitas, berkarakter kuat, dan memiliki dukungan penuh untuk menjalankan roda pemerintahan dan roda kehidupan bangsa Indonesia.
Ingat!!! Kedua calon presiden dan wakilnya ini, merupakan putra terbaik bangsa kita sendiri. Adapun pada akhirnya harus bersaing untuk memperebutkan hati dan simpati rakyat merupakan hal yang sangat lumrah dalam kehidupan demokrasi saat ini. Untuk menegakkan sebuah kondisi tidak harus berada dalam satu macam pilihan, situasi ataupun waktu. Tegaknya satu bangunan harus banyak di topang oleh berbagai penyangga dari berbagai arah, bukan hanya satu arah. Semakin bangunan tersebut mendekati tahap akhir, tentu material yang di butuhkan semakin banyak baik dari aspek jumlah maupun jenisnya. Ini merupan hukum sebab akibat yang sangat sederhana untuk dipahami.
Pada saatnya nanti akan keluar satu pasang pemenang hati rakyat, bukan berarti pasangan lainya (satunya) adalah pasangan yang kalah dan harus menanggung derita sebuah kegagalan. Tetapi dalam perspektif berbeda, hakekatnya para pendukung yang belum berhasil mencapai tujuannya, sebenarnya benarnya, ikut menegakkan kemenangan yang terjadi. Seperti tegaknya sebuah bangunan yang kokoh. Berbeda pilihan tentu berbeda harapan, dan tentulah berbeda jalan untuk mencapai tujuan. Perbedaan tersebut adalah anugerah utama yang kita miliki sebagai satu bangsa besar. Perbedaanlah yang menggerakkan kita semua untuk tetap eksis dalam kehidupan ini. makanya, PEMILIHAN PRESIDEN DAN WAKILNYA BUKAN SEKEDAR PESTA DEMOKRASI BIASA, KARENA PILPRES ADALAH EKSISTENSI UNTUK KELANJUTAN KEHIDUPAN BERBANGSA DAN BERNEGARA .
Tugas kita selanjutnya adalah menjaga dan mengawal hasil dari pesta demokrasi ini bersama-sama dalam kedamaian dan kesejukan. Siapapun, apapun profesi kita, dan dimanapun kita berada semangat kebangsaan dan toleransi kita bersama kedepankan untuk kepentingan bersama, sebesar-besar kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Amin.. Yaa… Allah.

Anak-anak di Medan Perang


anak-palestin

MuslimahZone.com – ”Allahu akbar.. Allahu akbar..” Sayup-sayup kumandang azan maghrib bergema di beberapa penjuru bumi jihad. Sementara, di tempat lain, patroli pasukan keamanan PBB dan hiruk pikuk aktivitas warga setempat mulai berkurang. Di suatu area dekat medan pertempuran , shalat maghrib berjamaah dilakukan oleh beberapa mujahid. Wajah mereka bersih dan segar sehabis terguyur air wudu. Tak banyak orang dewasa di jamaah tersebut. Pasalnya, sebagian besar di antara mereka adalah remaja dan anak-anak belasan tahun.

Meski masih belia, para anak-anak yang beranjak remaja itu telah terbiasa menyandang senjata. Konflik berkepanjangan dan perang membuat anak-anak tersebut ikut menanggung perjuangan. Sebuah pemandangan mengharukan saya saksikan dari sebuah berita internasional. Yakni, pemandangan seorang anak kecil dengan dua kaki palsu yang tertidur di pelataran Kota . Dia tampak lelah. Dua kakinya terpaksa diamputasi karena kena serpihan bom yang mendarat di beberapa daerahnya.

Perang menyisakan duka. Perang juga meninggalkan kisah pahit. Negeri-negeri di Timur Jauh dilanda perang saudara dan konflik bersenjata yang tak kunjung usai. Kota-kota bersejarah di beberapa negara Islam seperti Baghdad, syam, Yerusalem, dan Kabul seakan telah akrab dengan suara bombardir rudal dan desingan peluru.

Udara Kota malam itu cukup dingin. Beberapa desingan peluru sesekali masih terdengar. Di depan komputer, saya menyaksikan foto anak-anak yang tewas akibat terjangan granat, entah milik siapa. Mereka gugur dengan memeluk senapan dan mortir. Ya, mereka mati muda karena keadaan negaranya dilanda perang.

Belum cukup sampai di situ, saya mengalihkan perhatian ke berita tentang mujahid cilik di Lebanon dan Palestina. Usia mereka rata-rata 8–14 tahun. Wajah mereka tampak berbinar meski nyawa mereka bisa terancam setiap saat.

Hati saya tergerus mengingat senja di Palestina pada Ramadhan . Seorang bocah tersenyum riang saat dipotret oleh seorang jurnalis perang. Dia gembira menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Dia juga memimpikan negerinya merdeka dari jajahan Israel. Saya terharu melihat wajah anak itu tersenyum. Senyum yang akan sangat sulit ditemukan di daerah konflik seperti Palestina.

Di beberapa sudut dekat perbatasan Jalur Gaza, sekelompok anak-anak dan remaja turun ke jalan sambil menggemakan takbir. Di kejauhan, barisan rapat serdadu dan tank-tank militer Israel siap memblokir dan menembak warga yang berani menembus wilayah yang diklaim oleh Yahudi tersebut. Saya kagum dengan perjuangan para anak-anak di medan perang itu. ”Islam is a way of life. Islam is my life, ” begitulah slogan mereka untuk mengobarkan keberanian.

”We want freedom, ” ucap seorang pejuang kecil di Palestina. Dia tidak salah mengucapkan demikian. Sebab, kemerdekaan begitu mahal. Mereka siap membayar dengan darah dan nyawa untuk merebut kemerdekaan negeri Islam yang dicintainya. Mati berjihad melawan Yahudi lebih mereka pilih ketimbang menjadi bangsa terjajah.

(fauziya/eramuslim/muslimahzone.com)

Muslimah Smart


Selasa, 17 Ramadhan 1435 H / 15 Juli 2014 08:14

Muslimah Smart

Ilustrasi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MuslimahZone.com – Muslimah itu harus smart alias cerdas. Bukan hanya nilai ulangan Fisika dan Kimia yang tinggi itu disebut smart, tapi juga cara dia bergaul menentukan sekali smart atau tidaknya seorang muslimah. Yang namanya muslimah, identitas dia terlihat terutama dari cara berpakaian. Jelas dia harus menutup auratnya. Nah, dalam posisi ini sang muslimah membawa nama Islam dalam seluruh perilakunya. Jadi muslimah harus hati-hati.

Kita tentu tahu, sekarang ini, perempuan yang meleng sedikit saja bisa habis dimangsa serigala. Ya…serigala berbulu domba alias laki-laki yang terlihat manis padahal niatnya busuk untuk menjerumuskan. Itu sebabnya, dibutuhkan langkah-langkah jitu untuk menjadi muslimah yang smart. Kalau kita smart, sulit untuk dibodohi apalagi dimanfaatkan.

Smart = nggak kupeng                                                          

Kupeng alias kurang pengetahuan. Muslimah itu wawasannya harus luas. Bukan cuma gosip artis yang diurusin atau model baju terbaru yang diketahui. Gadget terbaru selalu update tapi hanya untuk main game atau bahkan nyari gebetan via facebook. Rajin di depan TV tapi sekadar mantengin acara musik atau FTV.

Wawasan luas itu lebih ke pengetahuan yang mempunyai efek bagi bertambahnya keimanan dan kepedulian terhadap nasib umat ini. Misal nih, kita tahu bahwa berkembangnya hormon yang menjadikan tertarik pada lawan jenis itu memang alami. Nah, yang penting untuk disikapi adalah kita tidak mau mengikuti nafsu tersebut dengan cara tidak halal yaitu berpacaran atau kita bisa mengendalikannya dengan kegiatan yang bermanfaat. Muslimah smart tentu pandai memilih yang sesuai syariat. Kondisi ini kita sharing dengan teman-teman sesama muslimah untuk saling menguatkan dalam keimanan dan mengingatkan dalam kebaikan.

Muslimah smart juga harus rajin mengikuti berita perkembangan dunia Islam baik di dalam maupun luar negeri. Mulai dari heboh pemilu di negeri ini, tuduhan terorisme yang merupakan setingan Amerika untuk memusuhi Islam hingga berita luar negeri seperti konflik di Suriah untuk perjuangan menegakkan kalimat Allah. Dan yang terbaru yaitu terkait penyerangan Israel ke Palestina.

Penting sekali luasnya wawasan ini, supaya kita tahu bahwa umat Islam dan problematikanya bukan hanya ada di Indonesia saja. Saudara muslim di belahan bumi lain juga membutuhkan pertolongan, dukungan, dana dan doa dari kita semua.

Wawasan muslimah smart juga bukan tentang masalah dunia saja. Atau sebaliknya, tahunya cuma masalah salat, puasa, zakat dan haji. Iya sih, itu memang wajib tahu. Tapi muslimah smart juga paham bahwa Islam bukan hanya soal itu saja. Islam itu kan the way of life alias jalan hidup. Jadi ya urusan dunia dan akhirat harus sama-sama paham dengan berimbang. Bukan hanya berat di salah satunya saja. Ini semua sudah pernah dicontohkan oleh generasi hebat sebelum kita. Mereka itu ibarat singa yang perkasa di siang hari (keperluan dunia) dan seperti rahib di malam hari (rajin ibadah). Lagipula, kedua hal tersebut ada nilai pahalanya sendiri-sendiri di hadapan Allah Ta’ala.

Smart = nggak kuper

Kuper alias kurang pergaulan. Ada loh muslimah itu yang rajin mengurung diri di kamar saja. Dia baik dan salihah tapi dipakai untuk diri sendiri. Dia cerdas tapi enggan berbagi. Seolah-olah surga untuk ditempati sendiri. Semoga kita bukan termasuk tipe ini ya.

Sebaliknya nih, ada muslimah yang rajin jalan-jalan di mal tapi untuk nongkrong dan cuci mata. Gabung di organisasi tapi dengan niatan mau cari pacar. Punya banyak teman tapi tidak membawa manfaat bagi perbaikan diri.

Kedua tipe di atas tak bisa dipilih. Muslimah smart itu tipenya peduli. Bukan hanya diri sendiri, tapi juga keluarga, teman, dan lingkungan. Banyak bergaul itu memang harus. Tapi bukan bergaul yang kebablasan sehingga cenderung bebas. Tetaplah ada rambu-rambu bagi seorang muslimah ketika melibatkan diri dalam kegiatan kemasyarakatan atau berorganisasi. Ini artinya, tetap harus waspada.

Smart = jaga kehormatan

Kehormatan muslimah itu mahal harganya. Maka, dengan bekal pengetahuan dan pergaulan yang cukup, seorang muslimah menjadi tahu bagaimana harus bersikap dan berperilaku. Dia nggak akan jual obral dengan bergaul bebas khususnya pada lawan jenis. Ada batas-batas tertentu yang harus dipatuhi demi menjaga kehormatan muslimah sendiri.

Pertama, harus menutup aurat. Alhamdulillah banyak muslimah baik secara sadar atau karena pembiasaan dari orang tua, sudah menutup aurat dengan sempurna. Kerudung yang menutup kepala hingga menjulur ke dada beserta dengan jilbab yang merupakan baju longgar rajin dipakai bila keluar rumah.

Kedua, menghindari khalwat atau berduaan dengan lawan jenis. Muslimah smart nggak akan coba-coba untuk melanggar aturan ini.

Ketiga, tidak berikhtilat atau campur baur dengan lawan jenis. Ikhtilat adalah lawan dari infishal (terpisah). Pada dasarnya, Islam telah mewajibkan pemisahan antara pria dan wanita. Pemisahan ini berlaku umum dalam kondisi apapun, baik dalam kehidupan umum maupun khusus, kecuali ada dalil-dalil yang mengkhususkannya. Pada dasarnya, ikhtilath itu dibenarkan dalam aktivitas-aktivitas yang diperbolehkan oleh syara’. Terutama aktivitas yang di dalamnya mengharuskan adanya interaksi. Misalnya, bercampur baurnya laki-laki dan wanita dalam aktivitas jual beli, atau ibadah haji dan juga dalam masalah kesehatan.

Rambu-rambu di atas diberikan oleh Allah yang sangat mengetahui potensi manusia. Namanya saja dibuat oleh Yang Mahatahu jadi sudah pasti jaminan mutu. Jadi nggak bakal ada trial and error seperti hukum buatan manusia. Bila perempuan utamanya muslimah mau mengikuti aturan ini dengan baik dan benar maka fenomena cewek cabe-cabean seperti yang marak akhir-akhir ini nggak akan terjadi.

Smart = mau ngaji

Ngaji di sini bukan sebatas membaca al-Quran tanpa tahu maknanya. Ngaji di sini adalah memahami Islam berdasar Quran dan sunah serta ijma sahabat. Sekali mengaji dengan benar, kita akan merasa bahwa banyak sekali ilmu Islam yang masih belum kita ketahui. Makanya kita nggak boleh sombong dan enggan mendatangi majelis ilmu.

Orang yang sudah tua ngaji dan ingat akhirat, itu biasa. Mau kemana lagi tujuan hidup bila usia sudah senja. Betul tidak? Tapi bila usia masih muda sudah rajin mengaji, itu baru luar biasa. Biarpun muda, siapa yang bisa tahu kapan ajal kan tiba? Jadi jangan menunggu tua untuk mengaji dan beribadah dengan serius.

Kalau sudah ngaji, kita akan tahu bahwa menyebarkan apa yang telah kita ketahui itu adalah wajib dan merupakan tabungan kebaikan.

Finally…

Muslimah smart dimulai dari diri kita. Nggak usah jauh-jauh mencari teladan. Nggak usah bingung mencari padanan. Sosok istimewa ini ada di dalam diri kita, kamu dan juga saya. Kita semua mempunyai potensi untuk menjadi muslimah smart.

Semua langkah besar dimulai oleh langkah kecil dulu. Harus ada langkah pertama yang harus dilakukan. Bila kita belum memenuhi syarat sebagai muslimah smart di atas, ayo ambil langkah pertama dulu. Niatkan kuat untuk berubah. Bismillah. Selanjutnya mulai berbenah. Bagi yang belum berhijab, ayo segera ditutup auratnya dengan kerudung dan jilbab. Bagi yang sudah berhijab tapi akhlak belum beres, ayo mulai dijaga suara tertawanya atau becandanya. Untuk yang sudah oke berhijab dan akhlaknya, ingat-ingat apakah ketika berjanji suka ingkar atau tidak. Suka berbicara yang menyakitkan hati orang lain atau tidak.

Bila ini sudah oke semua, beranjak ke hal yang lebih besar. Lihat teman kita, adakah yang memerlukan bantuan? Bila iya, segera bantu. Bila tidak, ayo luaskan sudut pandang. Galang kepedulian terhadap muslim lainnya. Jangan sampai ada teman atau tetangga kita yang tidak bisa makan di saat kita kekenyangan. Atau ada muslimah yang tidak bisa berhijab karena tak mampu membeli kain untuk menutup aurat.

Nah, mudah kan menjadi muslimah smart itu? Mulai dari diri sendiri, saat ini, dan jangan tunda lagi.

Sumber: disadur dari gaulislam.com, penulis: Ria Fariana

(fauziya/muslimahzone.com)

Penyebab Pegawai Kantor Sering Mengantuk Saat Kerja


246832_ilustrasi-tidur-saat-rapat-atau-kerja_663_382

Masalah ini tentu perlu mendapat perhatian serius. Lutfi Dwi Puji Astuti
Kamis, 17 Juli 2014, 13:55 WIB

VIVAlife - Apakah Anda sering merasa mengantuk dan tertidur di kantor? Jika ya, Anda bukanlah satu-satunya. Sebuah studi baru bahkan mengungkap, banyak karyawan atau pekerja kantor sering tertidur saat berada di tempat kerja.

Masalah kurang tidur memang kerap dialami oleh sejumlah karyawan di seluruh dunia. Hal ini tentu bisa memengaruhi produktivitas seseorang di suatu perusahaan.

Sebuah lembaga kesehatan berbasis di Amerika Serikat baru-baru ini melakukan studi terhadap 1.139 karyawan dari tiga perusahaan. Pemimpin penelitian, Jennifer Turgiss, menemukan bahwa 15 persen dari karyawan tertidur pada saat jam kerja setidaknya sekali seminggu.

Jika Anda sering menemukan diri Anda terkantuk-kantuk dalam sebuah rapat, mungkin kualitas tidur Anda di malam hari sangat buruk. Ada empat faktor kunci yang membuat seseorang tidak mendapatkan tidur berkualitas di malam hari. Antara lain rasa khawatir atau stres, aktivitas mental, ketidaknyamanan fisik, dan faktor pengganggu dari lingkungan tempat tinggal.

Seperti diberitakan Times of India, laporan lain oleh National Sleep Foundation (NSF) menyatakan, penelitian sebelumnya juga pernah mengungkap sebanyak 29 persen dari responden tertidur atau menjadi sangat mengantuk di tempat kerja, sementara 36 persen telah jatuh tertidur atau tertidur saat mengemudi.

Masalah ini tentu perlu mendapat perhatian serius. Sebab, ada banyak bahaya mengintai ketika seseorang menderita kurang tidur. Gelisah juga menjadi salah satu akibat dari kurang tidur. Tak hanya itu, produktivitas seseorang di tempat kerja juga akan semakin merosot.

Bahkan seseorang yang menderita masalah kurang tidur selama lima hari dapat mengurangi metabolisme energi, terutama pada wanita. Sistem kekebalan tubuh juga bisa semakin lemah, risiko terserang penyakit kardiovaskular tinggi, hingga berisiko menderita diabetes dan obesitas. Ini semua, menjadi efek samping karena tidak mendapatkan cukup tidur yang berkualitas.

Turgiss juga menemukan bahwa rasa lelah mengurangi kemampuan seseorang untuk mengelola situasi stres. Hal ini menyebabkan berbagai masalah di tempat kerja, menurunkan kemampuan pengambilan keputusan, kurang konsentrasi, penurunan fungsi kognitif, lekas marah dan kurang sabar dengan rekan-rekan kerja dalam mengatasi masalah kerja.

Apa yang harus dilakukan?

Berolahraga secara teratur dan berjalan-jalan menghirup udara segara bisa menjadi salah satu solusi mengatasi masalah ini. Bisa juga, luangkan waktu untuk beristirahat sejenak setiap beberapa jam. Selama istirahat ini, berjalan-jalanlah di sekitar gedung kantor untuk menyegarkan pikiran Anda.

Jangan lupa pula, jalani diet sehat yang nantinya juga akan membantu meningkatkan energi. Ketika tidur, cobalah redupkan lampu kamar. Sertakan pula, makanan diet tinggi Omega-3. Sebuah studi terbaru yang dilakukan di Inggris telah menemukan bahwa orang dengan tinggi Omega-3 memiliki pola tidur yang lebih baik.

Setelah mengetahui apa yang harus dilakukan agar memiliki waktu istirahat berkualitas, Anda pun perlu tahu hal-hal apa saja yang menyebabkan seseorang menderita masalah kurang tidur.

Sebuah penelitian pun mengungkap alasan seseorang sulit tidur. Sebanyak 85,2 persen mengatakan suhu ruang atau tempat tidur terlalu tinggi atau terlalu rendah, kemudian 71,9 persen masalah tidur juga disebabkan oleh pasangan mereka.

Sebanyak 68,6 persen mengatakan suara yang tidak diinginkan adalah sebuah masalah, kemudian 52,8 persen menyalahkan masalah kurang tidur karena lampu terang, dan 40 persen memiliki masalah dengan kasur mereka. Selain itu 35,9 responden menyatakan tidur mereka terganggu karena anak-anak dan 10,2 persen memiliki kondisi medis yang menyebabkan tidurnya terganggu. (ms)

Ini 12 Nama Penumpang Indonesia di Pesawat MH17


1405644355Perdana Menteri Malaysia Najib Razak (tengah)
menggelar konferensi pers di sebuah hotel di Sepang,
terkait jatuhnya pesawat Malaysia Airlines MH17
diwilayah yang dikuasai pemberontak Ukraina tanggal 17 Juli 2014.
(sumber: AFP Photo / Mohd Rasfan)

Jakarta - Malaysia Airlines merilis informasi baru bahwa total 298 penumpang, termasuk 12 warga negara Indonesia, yang ikut dalam penerbangan maskapai Malaysia Airlines yang jatuh di wilayah timur Ukraina.

Menurut keterangan Emergency Operations Center, Government and International Affairs Malaysia Airlines, terdapat 11 penumpang berpaspor Indonesia ditambah satu bayi bernama Clarice Yeleza Huizen.

Informasi ini sekaligus mengoreksi berita sebelumnya yang menyatakan bahwa 295 orang yang berada dalam pesawat.

Selain 12 orang Indonesia yang berada di dalam pesawat Boeing 777 itu, terdapat total 154 penumpang berkewarganegaraan Belanda, 43 warga negara Malaysia (termasuk 15 kru dan dua bayi), 27 warga negara Australia, sembilan asal Inggris, empat asal Jerman, empat orang asal Belgia, tiga warga negara Filipina, satu warga Kanada dan sisanya 41 orang belum teridentifikasi.

“Seluruh penerbangan Eropa yang dioperasikan Malaysia Airlines akan menggunakan rute alternatif menghindari rute biasa,” demikian pernyataan resmi Malaysia Airlines, Jumat (18/7) pagi.

Berikut nama penumpang asal Indonesia yang ikut dalam pesawat MH17 yang dijadwalkan bertolak dari Amsterdam, Belanda, menuju Kuala Lumpur, Malaysia.

Perempuan:
1. Yodricunda Theistiasih
2. Ketut Wiartini
3. Yuli Hastini
4. Vickiline Kurniati Kardia
5. Supartini
6. Gerda Leliana Lahenda
7. Jane M. Adi Soetjipto
8. Clarice Yeleza Huizen (bayi)

Laki-laki:
1. Hadiono Gunawan
2. Hendry
3. Wayan Sujana
4. Werther Smallenburg

Pesawat Malaysia Jatuh, Diduga Ditembak Rudal


1405614690

Sebuah pesawat milik Malaysia Airlines dilaporkan ditembak jatuh oleh rudal di wilayah udara Ukraina Kamis (17/7).

Sebuah pesawat penumpang jatuh di wilayah timur Ukraina dan diduga adalah milik maskapai Malaysia Airlines, yang mengumumkan hilang kontak dengan salah satu pesawatnya nomor penerbangan MH17 dari penerbangan Amsterdam, Kamis (17/7).

Menurut kantor berita Rusia, Interfax, pesawat itu jatuh di perbatasan Rusia-Ukraina dan diperkirakan ada 295 orang di dalamnya, termasuk 280 penumpang dan 15 kru.

Pesawat yang naas ini adalah jenis Boeing 777, sama seperti tipe pesawat yang lebih dulu hilang sejak Maret lalu dan belum ketemu hingga sekarang.

Pesawat itu terbang di ketinggian 10.000 meter ketika “dihantam sebuah rudal yang ditembakkan dari peluncur jenis Buk”, kata Anton Gerashenko, penasihat menteri dalam negeri Ukraina, seperti dikutip dalam live report kantor berita BBC.

VIVAnews – Puing-puing pesawat Malaysia Airlines MH17 terlihat di desa Grabovo, Ukraina, 17 Juli 2014. Pesawat nahas berisi 280 penumpang dan 15 kru itu diduga ditembak rudal dalam perjalanannya dari Amsterdam, Belanda, menuju Kuala Lumpur, Malaysia.

Seluruh penumpang MH17 yang berasal dari berbagai negara dinyatakan tewas. Lihat lokasi jatuhnya pesawat dan serpihan bangkai MH17 itu di tautan video ini.

Belum jelas betul siapa yang menembak jatuh pesawat tersebut. Pemerintah Ukraina dan pemberontak pro-Rusia sama-sama membantah sebagai pelakunya.

Namun, belakangan beredar percakapan yang menunjukkan bahwa pemberontak Ukraina salah menembak pesawat. Mereka mengira MH17 yang sedang melintas itu adalah pesawat militer Ukraina.

Lokasi jatuhnya pesawat MH17 di Ukraina sesungguhnya adalah rute umum yang biasa dilintasi pesawat penumpang. Namun, kini sejumlah maskapai langsung menghindari rute maut tersebut, di antaranya AirFrance asal Prancis.

Jatuhnya MH17 ini merupakan tragedi kedua bagi Malaysia Airlines dalam setahun terakhir. Sebelumnya, maskapai nasional Malaysia itu juga menjadi sorotan dunia menyusul hilangnya Boeing 777 MH370 pada Maret 2014.

Insiden itu memicu pencarian pesawat berskala besar, bahkan yang terbesar sepanjang sejarah penerbangan. Namun, hingga kini keberadaan MH370 belum juga diketahui. (one)

Penulis: Heru Andriyanto/HA

Sumber:BBC

Gaza crisis: Who’s who in Hamas


By Jethro Mullen and Brian Todd, CNN
July 15, 2014 — Updated 1238 GMT (2038 HKT)
Watch this video

Hamas at its weakest?

STORY HIGHLIGHTS
  • Amid the Gaza conflict, experts try to figure out who’s in charge
  • Movements like Hamas aren’t “monoliths,” one analyst says
  • The military wing in Gaza appears to be asserting its control
  • The group’s political leader in Qatar may have lost favor with Iran

(CNN) — They call themselves “the resistance.”

Israel and the United States call them terrorists.

What’s unclear is who’s calling the shots within the Palestinian militant group Hamas.

Israel: If Hamas keeps firing, we’ll act

Hamas rejects cease-fire

Israel approves Egyptian truce plan

Egypt proposes possible cease-fire

Source: Israelis to discuss cease-fire

Hamas denies targeting Israeli civilians

Gaza mood darkens as strikes continue

Increased rocket range raises fears

The political and the military arms of Hamas appear to have contrasting mission statements — a push-and-pull that became apparent after Israel agreed to an Egyptian-proposed cease-fire in Gaza.

Mousa Abumarzook, a senior Hamas member, said the group was still “discussing” how to respond and “there is no official position yet from the movement on the Egyptian inititive.”

But the military wing, the Qassam Brigades, didn’t mince words.

“We in the Al-Qassam Brigades reject altogether the proposal, which for us is not worth the ink that it was written with.”

So who’s in control?

Analysts say it’s hard to pin down precisely who has the final word on making decisions and guiding strategy.

“It’s very much believed that the political wing, the political leadership inside Gaza and externally, was counseling for restraint,” said Neri Zilber of the Washington Institute for Near East Policy. “The military wing very much had other ideas,”

Here’s an introduction to Hamas’ key players:

THE POLITICAL WING

KHALED MESHAAL

He’s Hamas’ top political leader and often its public face. He’s had the role since 2004 after Hamas’ then-leader, Abdel Aziz al-Rantissi, was killed in an Israeli airstrike.

A former teacher, Meshaal operates mostly from Qatar and is known as Hamas’s external deal-maker, raising money from supporters in the region.

“Despite his George Clooney-type looks, he’s very much a dangerous man because he aids and abets Hamas’ very destructive policies and strategy,” Zilber said.

A bizarre assassination plot: In 1997, Meshaal was the target of a bizarre assassination attempt by the Mossad, Israel’s intelligence service.

Mossad’s agents confronted Meshaal in Jordan and injected poison into his ear.

It might have ended right there. But Jordan’s King Hussein, who had a peace treaty with Israel, threatened to break off relations unless Mossad delivered the antidote to the poison. And they did.

“Allah saved me. Then King Hussein,” Meshaal told CNN in 2002.

A $70 million budget: In 2012, Meshaal left his previous base of operations in Syria as the country’s civil war deepened. That decision is believed to have led to a breakdown in his relationship with Iran, Hamas’ key backer, said Firas Abi Ali, head of Middle East and North Africa Country Risk and Forecasting at IHS.

“The Qataris, who are backing him now, are not able to provide the military expertise and training on rockets and drones that the military wing needs to fight Israel,” he said. “These are things that only the Iranians can provide.”

But there are other members who still enjoy the support of Iran. And, as Meshaal told CNN’s Christiane Amanpour, Hamas enjoys the support of expatriate Palestinians, private donors in the Middle East and Muslim charities — enough to bankroll its $70 million annual budget.

“Hamas — as a movement of resistance, with a cause, for a people living under occupation — we seek, not just wait, to get support, financial support, military support, political support from all over the world, from all the states in the world,” he said. “Everyone giving us support, whether it’s from Iran or Europe, from anywhere.”

ISMAIL HANIYEH AND MOUSA ABU MARZOUK

Hamas formed in 1987 at the start of the first Palestinian intifada, or uprising, as an Islamic resistance movement against Israel. In 2006, Hamas won a majority in Palestinian legislative elections and formed a unity government with its rival Fatah. But the coalition collapsed into deadly violence in 2007, leaving Hamas in control of Gaza and the Fatah-dominated Palestinian Authority in power in the West Bank.

During Hamas’ short-lived coalition with Fatah, Haniyeh became Prime Minister of the Palestinian Authority. After their 2007 split, he retained the role for Hamas in Gaza.

The group’s second political leader is Mousa Abu Marzouk.

In Iran’s good books: Haniyeh is a former leader of the Hamas’ student movement. He was considered to be a close associate of the group’s founder and spiritual leader, Sheikh Ahmed Yassin, according to the Council on Foreign Relations. Yassin was assassinated by an Israeli airstrike as he was leaving a Gaza City mosque in 2004.

“The faction in Gaza led by Ismail Haniyeh and Mousa Abu Marzouk appears to still be in Iran’s good books,” said Abi Ali. “It still has good relations with Iran, given the increased sophistication of rockets used by Hamas and Islamic Jihad.”

Haniyeh and Abu Marzouk are believed to operate between Egypt and Gaza.

But the Egyptian government has made movement between Egypt and Gaza a lot harder for Hamas leaders.

“The siege has led the Gaza-based factions to band together,” Abi Ali said. “They’re more coherent and cohesive.”

Goodwill among the people: Part of the pair’s job is to ensure that Hamas continues to enjoy widespread backing from the general population in Gaza. The group does it through its many social welfare programs.

According to the Council on Foreign Relations, “(its) efforts in this area — as well as a reputation for honesty, in contrast to the many Fatah officials accused of corruption — help to explain its broad popularity.”

THE MILITARY WING

MOHAMMED DIEF

Since Hamas took over Gaza, the armed wing, Qassam Brigades, have morphed into a military force aimed at protecting the territory. They have also continued to periodically fire rockets into Israel. The Israeli military estimated last week that Hamas and other militant groups in Gaza have between them roughly 10,000 rockets of varying ranges.

The military wing is led by Mohammed Dief, a shadowy, savvy figure who analysts say has survived multiple Israeli assassination attempts.

Always on the move: The Qassam Brigades’ website says that Dief’s real name is “Mohammed Diab.” It says he took the name “Dief,” which means “guest,” because under the pursuit of Israeli security forces, “he kept moving from village to village and from place to place.”

Dief was wounded years ago and is believed to have handed some operational parts of his role to other top Hamas military leaders like Marwan Issa.

“Over the years, it’s lost a lot of military commanders during assassinations and military conflicts,” said Abi Ali. “It’s proven that it’s robust enough to take this kind of event and keep improving its capability.”

MARWAN ISSA

Marwan Issa’s forte is believed to be unconventional attacks on Israel.

“It could be these kidnapping or offensive-type operations through attack tunnels underneath the Gaza border inside Israel,” Zilber said.

The Qassam Brigades also said it has sent several drones on missions inside Israel. The Israel Defense Forces said it shot down a drone off the country’s coast on Monday.

“What we are seeing in this conflict is the military wing asserting itself as the one in control,” said Abi Ali.

Always a target: And it’s that kind of tactic that may, according to analysts, have made Issa one of Israel’s chief targets in its offensive. In 2006, he survived an Israeli military assassination attempt. This week, his house was targeted in Israeli airstrikes. He’s believed to be in hiding elsewhere.

SALEH AL AROURI

Al Arouri is the head of the Qassam Brigades in the West Bank, and he is accused of catalyzing this latest conflict. Israeli officials say he’s the person who ordered the abduction of the three Israeli teens, whose bodies were later found in a field in the West Bank. “Al Arouri, who used to live in a village north of Ramallah, has urged West Bank operatives incessantly to set up terror cells and perpetrate kidnappings,” The Times of Israel reported last month, quoting an Israeli security official.

Sitting safe in Turkey: Last month, Israeli military demolished what is believed to be Al Arouri’s home in the West Bank. But he wasn’t there. His base of operation is Turkey, where he’s safe from the reaches of the Israeli forces. Turkey cut all diplomatic relations with Israel after commandos boarded a boat carrying supplies to Gaza and killed nine people in 2010.

Act of desperation: So, who exactly is in charge?

“None of these movements are monoliths,” said Abi Ali.

Still, he said, “what we are seeing in this conflict is the military wing asserting itself as the one in control.”

Khaled Elgindy, who was a former adviser to the Palestinian authority, said Hamas is in one of the weakest positions it’s been in in several years.

“The changes that have happened in the region and especially in Egypt; their closure of the tunnels and its access to finances and weapons have been severely diminished over the last year in particular. So they’re in a much weaker position,” he said.

And that weakened position, he says, is fueling the military wing’s belligerence.

“I think part of the motivation for sort of, you know, taking the Israeli bait, if you will, in this latest round of violence has been, I think, the fact that they’re in a state of disarray and, you know, in a way I think it’s an act of desperation by a very weak Hamas.”

CNN’s Tim Lister and Bryony Jones contributed to this report.