Nasihat Imam Husein as: Tiga Kelompok Tempat Meminta


imam husein

Imam Husein as kepada seorang pria miskin berkata:

Ketika membutuhkan sesuatu, maka hendaknya engkau menyampaikan keinginanmu hanya kepada tiga kelompok manusia ini dan minta bantuan dari mereka; orang beragama, ksatria dan tokoh. Orang beragama akan membantumu demi menjaga agamanya. Seorang ksatria juga akan membantumu karena malu sebagai seorang ksatria bila tidak membantumu. Sementara seorang tokoh mengetahui bahwa ketika engkau meminta kepadanya, berarti engkau telah mengorbankan kehormatanmu kepadanya. Sudah barang tentu ia akan menjaga kehormatanmu.” (Tuhaf al-Uqul, hal 251)

Imam Husein as dalam perkataannya menjebutkan tiga kelompok manusia yang membantu orang lain, sekaligus menjelaskan alasannya. Tiga kelompok manusia ini, sekalipun mereka tidak mampu membantu, tapi senantiasa berusaha untuk menyelesaikan masalah yang dihadapai orang lain.

Kelompok pertama adalah orang beragama. Kelompok manusia ini senantiasa berusaha melakukan kewajiban demi membantu masalah yang dihadapi orang lain demi keridaan Allah. Kelompok kedua adalah mereka yang memiliki sifat ksatria, sekalipun tidak beragama dan tidak mengenal Tuhan, tapi mereka memiliki rasa malu dan tidak akan berdiam diri ketika dimintai bantuan. Sementara kelompok ketiga adalah tokoh masyarakat. Mereka merasa berutang ketika ada orang tidak mampu mendatanginya dan meminta bantuannya, bukan berasal dari rasa malu. Oleh karenanya, ia akan berusaha sebisa mungkin untuk membantu orang yang meminta pertolongannya. (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

Sumber: Pandha-ye Emam Hossein.

Hijab


hijab

Islam dalam topik hijab mengkaji masalah dengan sangat bijaksana. Semakin seseorang detil, maka ia akan mendapati topik tersebut lebih dalam. Tentunya syariat Islam menentukan batasan tertentu terkait hukum hijab dan batasan itu harus dikenali. Tidak perlu melangkahi batasannya atau ekstrim kanan dan kiri di dalamnya. Hijab wanita-wanita Iran adalah hijab yang bagus. Tentunya ini bukan satu-satunya bentuk hijab. Muslimah-muslimah lainnya di dunia juga memiliki beragam hijab lainnya, meskipun tidak punya chadur. Sekalipun menurut pandangan kami, chadur adalah hijab yang lebih bagus. Chadur adalah hijab yang bagus dan merupakan hijab yang terbagus. Siapa saja yang menginovasi chadur- chadur pada hakikatnya adalah hijab Irani- ia telah menginovasi pakaian yang bagus. Prinsipnya adalah topik hijab dan makna hijab harus dipahami. Hijab bukan berarti hijab wanita dari lelaki. Hijab kita adalah antara wewenang kehidupan khusus lelaki dan wanita. Tentunya wanita harus menjaga dengan cara tertentu dan lelaki juga harus menjaganya dengan cara yang lain. Terkait kehalusan yang kami jelaskan, sebagian hal dipaksakan kepada wanita. Imam Ali as berkata, “Almar’atu Raihaanatun.” Wanita adalah bunga. Ini adalah ibarat yang ajaib dan memiliki kelembutan dan kehalusan tersendiri dalam dirinya. Terkait lelaki tidak ada ibarat seperti ini, yang mengatakan “Almar’u Raihaanun” menjadi bunga akan memaksakan sebagian hal kepada seseorang dan mau tidak mau harus menjaga sebagian hal tertentu.

Menjaga hijab, bagi kaum wanita, pertama tidak menjadi penghalang aktivitas keilmuan dan politik sama sekali. Bila kita ingin mengajukan dalilnya, para wanita yang pandai, mengenyam bangku sekolah, berpendidikan, memiliki aktivitas politik, aktivitas sosial, hadir dan aktif di kebanyakan kancah kehidupan dengan memakai hijab; hijab baginya bukan penghalang.

Bukan berarti di tengah-tengah masyarakat kita, orang-orang yang tidak memakai hijab dengan baik  pasti maju atau hadir di lingkungan keilmuan. Di masa ketika politik pemerintahan yang berkuasa di negara ini menetapkan bahwa semua digiring ke arah untuk tidak berhijab bahkan ke arah kekejian, mereka yang lebih banyak tenggelam dalam lumpur ini bukanlah orang-orang yang berilmu, memiliki spesialisasi, berpengetahuan dan berpendidikan. Tapi sebaliknya. Mereka yang berpendidikan dan semacamnya malah menyingkirkan diri. Sekarang ini juga demikian. Dengan demikian, hijab dari satu sisi bukan penghalang. Dan ini adalah pakaian khusus seorang muslimah dan menjaganya tidak membuatnya menjadi penghalang baginya untuk melakukan pekerjaan yang baik,  dan tidak menjadi penghalang untuk mencapai kemajuan spiritual, materi dan lahiriah. Dari sisi lain, hijab bagi kaum wanita di tengah-tengah masyarakat memberikan pelbagai anugerah yang tidak ada bandingannya. Salah satu dari anugerah itu adalah menjaga pondasi rumah tangga. Dengan tanpa hijab, pondasi rumah tangga tidak akan terjaga dengan baik dan akan melemah. Problem ini sekarang ada di Barat.

Jangan katakan bahwa ada orang-orang yang memiliki keluarga yang baik, penyayang dan lingkungan rumah tangga yang baik, sementara mereka juga tidak berhijab. Tentunya pasti ada keluarga seperti ini. Kita tidak ingin mengatakan bahwa di mana saja hijab tidak dijaga, maka rumah tangga pasti akan goyah. Tapi kita ingin mengatakan bahwa ketika di lingkungan masyarakat prinsip ini tidak dijaga maka prinsip yang itu dengan sendirinya akan goyah. Dan hal inilah yang telah terjadi di Barat.

Masalah ini akan menampakkan akibatnya yang benar-benar menyakitkan di tengah-tengah masyarakat. Masalah melemahnya pondasi rumah tangga, masalah perdagangan wanita yang benar-benar membuat orang menangis dan tragis. Sekarang di dunia, berdasarkan laporan yang disampaikan. Laporan ini menurut saya adalah laporan PBB, laporan sebuah badan resmi, perdagangan yang paling cepat berkembang adalah perdagangan  wanita dan penyelundupan wanita. Ada sejumlah negara terburuk dalam bidang ini, antara lain rezim Zionis. Wanita dan anak-anak perempuan atas nama mencari pekerjaan dan atas nama perkawinan dan semacamnya dikumpulkan dari negara-negara miskin, dari Amerika Latin, dari sebagian negara Asia, dari sebagian negara miskin Eropa dan mereka dibawa dan diserahkan ke pusat-pusat dengan kondisi yang benar-benar tragis, dimana badan manusia bergetar untuk membayangkan dan menyebut nama mereka. Semua ini berdasarkan pandangan yang salah, ini adalah ketidakseimbangan secara aniaya terkait kedudukan wanita di tengah-tengah masyarakat. Fenomena anak haram dan jumlah terbesar anak haram juga ada di Amerika. Fenomena hidup bersama di luar nikah. Yakni pada hakikatnya, menghancurkan lembaga rumah tangga, lingkungan rumah tangga yang hangat dan akrab dan keberkahan rumah tangga. Hal ini menjauhkan manusia dari keberkahan. Semua ini bersumber dari problem pertama. Hal ini harus dipikirkan.  Kedudukan wanita harus didefinisikan dan harus bertahan di hadapan logika rumor Barat dengan serius.

Pada waktu tertentu saya mengatakan, saya ditanya bahwa apa yang bisa Anda jawab di hadapan isu-isu Barat terkait masalah wanita di negara kita? Saya jawab, kita tidak perlu mempertahankan diri, tapi kita yang harus menyerang mereka. Terkait dengan masalah wanita kita berposisi sebagai penuntut Barat. Kita sebagai pengklaim. Merekalah yang sedang melakukan kezaliman terhadap wanita. Mereka menghina wanita. Mereka menurunkan posisi wanita. Atas nama kebebasan, atas nama karier, atas nama memberikan tanggung jawab, para wanita ditekan secara kejiwaan, psikologi, perasaan kepribadian serta kehormatan mereka diinjak-injak. Barat yang harus memberikan jawaban. (1/3/1390) (IRIB Indonesia / Emi Nur Hayati)

Sumber: Khanevadeh; Be Sabke Sakht Yek Jalaseh Motavval Motavva Dar Mahzar-e Magham Moazzam Rahbari.

Jarak Antara Kebenaran dan Kebatilan


kebenaran

Ucapan para Imam as semuanya mengandung ilmu dan pencerahan, sehingga siapa saja yang mendengarkan ucapan mereka akan bertanya bagaimana mungkin seorang manusia dapat berbicara sedemikian indahnya dan pada saat yang sama memiliki pengaruh luar biasa. Selain itu, ilmu yang terkandung dalam ucapan mereka sangat dalam dan luas.

Tentu saja jawaban atas pernyataan semacam ini sangat mudah dan jelas. Para Imam Maksum as dikarenakan mereka senantiasa bersandar pada sumber ilmu yang tak terbatas, yaitu Allah Swt.

Satu dari ucapan indah dan penuh makna yang keluar dari lisan mubarak Imam Ali as disampaikannya dihadapan mereka yang ikut melaksanakan salat berjamaah dengannya. Waktu itu beliau berdiri di atas mimbar dan berbicara tentang mengikuti kebenaran dan menolak kebatilan. Beliau berusaha agar apa yang akan disampaikannya diingat oleh masyarakat dan mengamalkannya.

Imam Ali as berkata, “Wahai masyarakat! Hendaknya kalian merasa malu membicarakan keburukan saudara muslim kalian dan berbicara di belakangnya… Ketahuilah bahwa jarak antara kebenaran dan kebatilan hanya empat jari.”

Seorang yang hadir bertanya, “Wahai Ali! Bagaimana bisa jarak antara kebenaran dan kebatilan tidak lebih dari empat jari?”

Imam Ali as memang sejak awal menanti pertanyaan itu lalu meletakkan empat jarinya di antara telinga dan matanya. Setelah itu beliau berkata, “Kebatilan adalah ketika Anda mengatakan ‘Saya mendengar’ dan kebenaran adalah ketika Anda mengatakan, ‘Saya melihat’.” (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

Sumber: Sad Pand va Hekayat; Imam Ali as

Dampak Buruk Malas dan Solusinya


Dalam tulisan singkat ini akan dibahas mengenai dampak-dampak malas dalam mengerjakan tugas dan kewajiban, dan cara untuk mengatasinya. Salah satu kelalaian manusia adalah malas dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya. Malas berarti tidak semangat dan lalai untuk melakukan pekerjaan. Sifat tersebut memiliki banyak dampak buruk, di antaranya; menyebabkan kegagalan untuk mencapai tujuan-tujuan hidup yang telah ditentukan sebelumnya.

 malas

Malas termasuk dari sifat-sifat buruk dan tercela, di mana tidak terbatas pada kelompok usia tertentu, namun sifat malas bagi remaja sangat merugikan. Sebab, di masa itu mereka dalam usia pertumbuhan dan perkembangan yang sangat menentukan masa depan. Malas merupakan penyakit berbahaya bagi kehidupan manusia terutama bagi generasi muda. Sifat buruk ini akan menghancurkan karakter manusia dan membuat layu bunga-bunga segar kehidupannya, bahkan akan menyebabkan manusia tertinggal di jalan kehidupannya itu.

Malas bagaikan sebuah mata rantai yang sambung menyambung dan mengikat kaki dan tangan manusia. Jika seseorang malas dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya, maka dalam waktu yang tidak lama, ia tidak akan memiliki semangat lagi untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaannya yang lain. Jika kondisi tersebut berlanjut dalam dirinya, ia akan berubah menjadi orang yang tak berguna dalam keluarga dan masyarakat.

Para psikolog meyakini bahwa rasa malas memiliki banyak sebab. Sejumlah penyakit fisik seperti Hipotiroid, Anemia atau gangguan mental seperti depresi dan gangguan kepribadian, dapat menjadi penyebab munculnya sifat malas dalam diri manusia. Namun pada dasarnya, hubungan malas dengan depresi dan gangguan kepribadian adalah hubungan dua arah, di mana kondisi-kondisi itu saling memperkuat satu dengan lainnya.

Kehidupan di dunia modern sekarang ini membawa kemudahan bagi manusia, namun hal ini juga dapat menjadi salah satu penyebab munculnya rasa malas dalam dirinya. Teknologi baru saat ini telah memudahkan manusia untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaannya dengan sangat mudah sehingga ia tidak banyak melakukan aktivitas fisik yang diperlukan. Padahal, tidak melakukan aktivitas fisik dan tidak terbiasa untuk berolah raga atau kegiatan fisik lainnya, akan memunculkan rasa malas dalam diri manusia.

Malas dan lalai dalam pekerjaan adalah hal-hal yang sering diperingatkan dalam Islam, dan umat Islam selalu ditekankan untuk menjauhi sifat tercela itu. Sifat buruk tersebut juga sangat dicela dalam al-Quran dan riyawat Nabi Muhammad Saw dan Ahlul Bait as. Imam Shadiq as berkata, “Jauhilah malas dan tidak semangat, sebab kedua sifat tersebut akan menghalangimu untuk memperoleh manfaat dari dunia dan akhirat.” Sementara Imam Ali as berkata: seseorang yang malas hingga berlebihan maka akan menjadi lemah dan ia akan menghancurkan kehidupannya, dan akibatnya, akan mengarah kepada dosa dan ketidaktaatan kepada Allah Swt.

Dalam riwayat di atas, sifat malas dicela disebabkan oleh dampak dari sifat itu yang akan merusak kehidupan manusia di dunia dan di akhirat. Sementara di dalam berbagai riwayat lainnya, juga disinggung mengenai beberapa dampak merusak lain dari malas seperti kemiskinan, pengucilan, kehinaan dan dianggap tak berharga oleh orang lain.

Sifat malas juga akan menghalangi harapan manusia dan menyebabkan pelanggaran terhadap hak-hak Tuhan dan hamba-hamba-Nya. Manusia yang malas tidak akan melaksanakan kewajiban-kewajiban agama, dan pada akhirnya ia akan terjerumus ke dalam lembah dosa dan maksiat serta kesengsaraan abadi. Dengan demikian, dampak malas bagi manusia telah sampai pada tahap yang tidak mudah untuk diperbaiki.

Al-Quran menyebut malas khususnya dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan baik dan ibadah kepada Allah Swt, sebagai sifat yang buruk, dan sifat itu dianggap sebagai ciri orang-orang munafik. Dalam Surat An-Nisa Ayat 142, Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah menipu mereka pula. Dan jika mereka berdiri untuk mengerjakan salat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bersifat riya di hadapan manusia dan tidak berzikir kepada Allah kecuali sebentar.”

Shalat adalah perantara terbaik untuk menjalin hubungan dengan Allah Swt dan merupakan bentuk pengabdian dan kerendahan hati di hadapan-Nya. Orang yang munafik tidak berniat untuk menjalin hubungan dengan Tuhan, sehingga ketika ia mengerjakan shalat ia akan melaksanakannya dengan malas dan tidak bersemangat. Dengan demikian, malas dalam mengerjakan tugas terpenting manusia di hadapan Tuhan tidak menunjukkan sifat keimanannya.

Dengan mengkaji ayat-ayat dan riwayat dapat dipahami bahwa tidak adanya pemahaman yang benar atas situasi dan kondisi serta posisi individu menjadi akar utama dari malas. Masalah tersebut tidak hanya terbatas di ranah agama saja, tetapi lebih dari itu. Barang siapa malas atas sesuatu dan tidak mengerjakan pekerjaannya, maka ia sebenarnya tidak memahami situasi dan kondisinya sendiri.

Seorang siswa yang tidak memahami manfaat dan pentingnya pelajaran dan ilmu, ia akan malas untuk belajar. Dengan demikian, pengubahan pandangan siswa dan pemberian pemahaman tentang manfaat dan pentingnya ilmu serta kerugian jika meninggalkannya, adalah langkah pertama untuk mencegah mereka supaya tidak malas belajar.

Sebaliknya, orang yang memiliki pandangan benar terhadap dirinya dan dunia, serta memahami bahwa dunia merupakan kesempatan singkat dan menentukan nasib kehidupannya di akhirat, maka ia akan menghindarkan diri dari sifat malas. Jika seseorang memiliki iman kuat yang didukung oleh pengetahuan, maka ia tidak akan pernah malas dalam mengerjakan kewajiban-kewajiban agama seperti shalat, puasa, jihad, haji, infaq dan kewajiban lainnya, dan ia akan mampu mencapai kebahagiaan abadi.

Langkah pertama untuk memerangi malas adalah memiliki pandangan yang benar tentang manusia, dunia dan Tuhan. Yaitu, mengenai mengapa manusia diciptakan dan bagaimana ia dapat mencapai kebahagiaan? Tentang apa sebenarnya peran dan pengaruh perbuatan dan perilaku setiap manusia dalam kehidupan dunia dan akhiratnya? Pemahaman tentang masalah-masalah tersebut dan iman kepada Tuhan akan mendorong seseorang untuk selalu berusaha dan bersemangat mengerjakan tugas dan kewajibannya.

Langkah berikutnya adalah menguatkan keinginan. Imam Ali as berkata, “Pergilah kalian untuk memerangi malas dengan tekad dan keinginan.” Ada banyak jalan untuk memperkuat keinginan. Salah satunya adalah bergaul dengan orang-orang yang memiliki keinginan dan semangat kuat serta rajin bekerja. Bergaul dengan mereka memiliki banyak pengaruh bagi manusia untuk menjauhkan diri dari kebiasaan buruk dan malas.

Memperhatikan kecenderungan-kecenderungan diri secara berlebihan akan melemahkan keinginan. Oleh sebab itu, mengontrol hawa nafsu dan naluri dapat menguatkan keinginan manusia. Hal lain yang dapat memperkuat keinginan manusia adalah memiliki tujuan hidup dan mempunyai pemikiran kepada tujuan-tujuan yang tinggi, namun hal ini jangan sampai disalahpahami sebagai idealisme ekstrim, tetapi dimaksudkan bahwa penentuan tujuan harus logis.

Dalam Islam, sifat malas dicela, namun keinginan dan kemauan tinggi dipuji dalam agama Samawi tersebut. Jika seseorang ingin terbebas dari malas, ia harus memiliki semangat kuat dan tekad baja. Orang-orang yang memiliki keinginan kuat akan mampu menjauhkan rasa malas dari dalam dirinya dan mereka akan mampu melewati berbagai rintangan dan mengambil langkah konstruktif untuk mencapai kebahagiaan dalam kehidupan individu dan sosial.

Orang yang bersemangat adalah orang yang melaksanakan pekerjaannya dengan mudah dan cepat dan tidak menunda-nunda pekerjaan hari ini untuk dilaksanakan besok. Semangat, pengetahuan dan perbuatan orang yang memiliki semangat kuat akan selalu selaras, bakan ia akan melakukan pekerjaannya dengan sebaik mungkin. Imam Ali as berkata, “Mereka yang berada di jalan hidayah akan selalu bersemangat (berbahagia).”

Orang-orang Mukmin yang meyakini Tuhan dan Maad, dan memahami bahwa ada tujuan dalam penciptaan alam semesta ini, mereka akan selalu mengerahkan segenap kemampuannya di jalan penghambaan dan menghindari perbuatan yang tidak berguna serta menjauhi malas dalam melaksanakan perbuatan-perbuatan baik. (IRIB Indonesia/RA)

Pakaian Adat Suku Asmat: Antara Alam dan Manusia Sejati


Selain terkenal dengan seni ukirnya yang adiluhung, Suku Asmat juga memiliki pakaian tradisional yang khas. Seluruh bahan untuk membuat pakaian tersebut berasal dari alam. Tidak salah jika menganggap pakaian Suku Asmat merupakan representasi kedekatan mereka dengan alam raya.

Tidak hanya bahan, desain pakaian Suku Asmat pun terinspirasi dari alam. Pakaian laki-laki Suku Asmat, misalnya, yang dibuat menyerupai burung dan binatang lain yang dianggap melambangkan kejantanan. Sementara, rok dan penutup dada kaum perempuan menggunakan daun sagu sehingga menyerupai kecantikan burung kasuari.

Secara umum, pakaian laki-laki dan perempuan Suku Asmat tidak terlalu berbeda. Pada bagian kepala, dikenakan penutup yang terbuat dari rajutan daun sagu dan pada sisi bagian atasnya dipenuhi bulu burung kasuari. Bagian bawah dan bagian dada (untuk perempuan) berupa rumbai-rumbai yang dibuat menggunakan daun sagu.

Pakaian adat tersebut belum sempurna jika tidak dilengkapi berbagai aksesori, juga menggunakan berbagai bahan yang tersedia di alam. Aksesori yang biasa dijadikan pelengkap pakaian tradisional Suku Asmat adalah hiasan telinga, hiasan hidung, kalung, gelang, dan tas. Hiasan telinga terbuat dari bulu burung kasuari. Bulu burung kasuari yang digunakan untuk hiasan telinga ukurannya lebih pendek dibanding bulu burung kasuari yang digunakan pada penutup kepala.

Hiasan hidung biasanya hanya dikenakan oleh kaum laki-laki. Hiasan ini terbuat dari taring babi atau bisa dibuat dari batang pohon sagu. Hiasan hidung yang dikenakan kaum laki-laki memiliki dua fungsi: simbol kejantanan dan untuk menakuti musuh. Sementara, aksesori kalung dan gelang dibuat dari kulit kerang, gigi anjing, dan bulu burung cendrawasih.

Esse (sebutan masyarakat Suku Asmat untuk tas) merupakan aksesori yang penting. Selain berfungsi sebagai wadah penyimpan ikan, kayu bakar, serta berbagai hasil ladang, esse juga dipakai ketika diadakan upacara-upacara besar. Orang yang mengenakan esse saat diadakan upacara adat dianggap sebagai orang yang mampu menjamin kehidupan dan kesejahteraan masyarakat.

Dalam berbagai upacara adat, masyarakat Suku Asmat biasanya melengkapi penampilan mereka dengan gambar-gambar di tubuh. Gambar yang didominasi warna merah dan putih tersebut konon merupakan lambang perjuangan untuk terus mengarungi kehidupan. Warna merah yang digunakan berasal dari campuran tanah liat dan air, sementara warna putih berasal dari tumbukan kerang.

Seiring pengaruh modernisasi dan budaya dari luar, sebagian masyarakat Suku Asmat mulai meninggalkan pakaian tradisional mereka. Hanya masyarakat Suku Asmat yang tinggal di pedalaman yang masih menggunakan pakaian tradisional tersebut. [AhmadIbo/IndonesiaKaya] http://www.indonesiakaya.com/kanal/detail/pakaian-adat-suku-asmat-antara-alam-dan-manusia-sejati

Menjajaki Kawah dengan Pemandangan yang Luar Biasa Indah


Berjalan-jalan sambil menghirup udara pegunungan yang sejuk pasti akan membuat pikiran menjadi tenang. Jika itu yang Anda cari, coba berkunjung ke Kawah Papandayan yang terletak di kaki Gunung Papandayan, Garut, Jawa Barat. Berada di ketinggian 2.662 meter di atas permukaan laut, Kawah Papandayan memberikan suasana yang tenteram dan nyaman.

Terletak 30 kilometer dari pusat Kota Garut, tepatnya di Desa Sirna Jaya dan Desa Keramat Wangi, Kecamatan Cisurupan, Kawah Papandayan memiliki topografi yang unik untuk dijelajahi. Lahannya yang berupa perbukitan, lembah, dan daratan sangat cocok bagi Anda yang menyukai wisata petualangan. Tak hanya itu, bebatuan vulkanik yang tersebar menjadi pemandangan yang luar biasa untuk disaksikan.

Saat mengelilingi kawah yang memiliki area mencapai 10 hektare ini, Anda akan disuguhi lereng-lereng gunung yang kokoh dan bau belerang yang menyekat. Bagi Anda yang baru pertama kali berkunjung ke sini, di kawah ini pun sudah disediakan program tur yang dapat dipilih sesuai keinginan.

Bagi Anda yang ingin berkemah dan menyukai olahraga hiking, tak salah jika mengikuti program “volacano” dan “sunrise tour”. Dengan mengikuti program ini, Anda akan diajak berkemah sambil menikmati suasana alam Papandayan dan menikmati indahnya matahari terbit di balik Gunung Papandayan. Bagi yang tidak punya waktu untuk berkemah, dapat memilih paket “one day tour”.

“One day tour” yang berlangsung 2-3 jam ini akan mengajak Anda berkeliling sekitar kawah dengan ditemani pemandu yang berpengalaman. Menjajaki jalan berbatuan dan menanjak menjadi pengalaman yang tak mudah terlupakan. Sungai asri hingga danau yang bewarna hijau akan tersaji saat Anda berkeliling Kawah Papandayan.

Mengunjungi Kawah Papandayan yang memiliki temperatur mencapai 10 derajat Celcius ini sebaiknya Anda bertandang pada Bulan April-Oktober. Musim kemarau merupakan saat yang paling cocok untuk menikmati keindahan alam Kawah Papandayan. Warna bebatuan dan belerang yang terdapat di Kawah Papandayan sangat indah terlihat pada musim Kemarau.

Sekadar tips. Jika Anda ingin berkunjung ke Kawah Papandayan, disarankan membawa perlengkapan jas hujan. Cuaca di Kawah Papandayan kadang tak menentu, bahkan di musim kemarau sekalipun. [Riky/IndonesiaKaya] http://www.indonesiakaya.com/kanal/detail/menjajaki-kawah-dengan-pemandangan-yang-luar-biasa-indah

KEMULIAAN SHALAWAT


26/11/2014

Picture

Ustadz Miftah F. Rakhmat
Dewan Syura PP IJABI

Shalawat punya keistimewaan. Ia satu-satunya ibadah yang dicontohkan Tuhan  sebelum diperintahkan. Para ulama beragam pendapat mengenai arti shalawat Tuhan pada Nabi Saw. Ada yang berpendapat bahwa shalawat Tuhan pada Nabi Saw adalah penyucian. Karena itu, ketika kita bershalawat kita pun bergerak ke arah kesucian. (majulah-IJABI)


Dalam Bihar al-Anwar, seseorang bertanya pada Imam Ali as tentang empat hal,

”Apa itu wajib?”

Imam menjawab, ”Taat kepada (perintah) Allah.”

”Apa yang lebih wajib?”
”Meninggalkan dosa dan yang dilarang Allah.”

”Apa yang dekat?”
”Hari kiamat.”

”Dan apa yang lebih dekat?”
”Kematian.”

”Apa yang aneh?”
”Dunia.”

”Apa yang lebih aneh dari itu?”
”Para pecintanya.”

”Apa yang sulit?”
”Kuburan.”

”Apa yang lebih sulit dari itu?”
”Memasukinya tanpa persiapan.”

Dalam riwayat lain, pertanyaan keempat itu dijawab dengan ”Perjalanan, dan menempuhnya tanpa perbekalan.” Ada juga riwayat, ”Alam kubur, dan memasukinya dengan tangan kosong.”

Yang menarik adalah riwayat ketika jawaban itu diberikan Imam Ali as dalam syair yang indah,

Taubur rabbil warab waajibun ‘alaihim/
Wa tarkuhum lidz dzunuubi awjab(un)//

Wad dahru fii sharfihi ‘ajabun/
Wa ghiflatun naasi fiihi a’jab(un)//

Was shabru fin naa’ibaati sha’bun/
Laakin faututs tsawaabi as’ab(un)//

Wa kullama yurtajaa qariibun/
Wal mawtu min kulli dzaaka aqrab(un)//

Kalimat Imam, indah, singkat, namun dalam maknanya dan saling memperkaya satu dengan yang lainnya. Berikut terjemahan untuk syair Imam Ali as.

Bertaubat pada Tuhan wajib bagi mereka dalam ketaatan/ Dan menjauhkan diri dari dosa di atas kewajiban//

Dan waktu dalam menjalaninya sangat mengherankan/ Terlebih lagi mereka yang lupa dan terlenakan//

Dan sulit bersabar dalam penderitaan/ tapi kehilangan pahala karena kesabaran jauh lebih merugikan//

Dan dekatlah setiap yang diharapkan/ tapi yang lebih dekat dari semuanya adalah kematian//

Menurut Imam Ali as, taubat wajib. Tapi lebih wajib lagi berusaha meninggalkan dan menjauhkan diri dari dosa. Dunia ini aneh, ajaib, mengherankan. Lebih aneh lagi orang yang lalai dan terlena di dalamnya. Lalu, yang disebut kesulitan adalah ketika kita menghadapi musibah. Tapi akan lebih menyulitkan lagi, akan lebih menyakitkan lagi tatkala kita kehilangan pahala karena tidak bersabar menghadapinya. Dan yang terakhir, manusia merasa dekat dengan harapan-harapan dan keinginannya. Padahal yang lebih dekat dari segala sesuatu adalah kematian.

Hadis dalam Bihar al-Anwar 75:89 itu menunjukkan pada kita keutamaan Imam Ali as sebagai pintu kota ilmu Rasulullah Saw. Menurut Imam Ali, Baginda Nabi mengajari seribu pintu. Dan untuk seribu pintu, terbuka seribu pintu berikutnya. Mungkin metaforis, tetapi ia mengajak kita untuk merenung tentang perjalanan singkat di dunia ini. Perjalanan yang memerlukan ilmu agar mengetahui prioritas memanfaatkannya.

Ada hadis qudsi, dialog antara Allah Ta’ala dan Rasulullah Saw. Sebuah kitab ”Kalimatullah” bahkan mengumpulkan percakapan wahyu antara para nabi dan Allah Ta’ala. Antara lain ada yang berbunyi seperti ini.

Tuhan bertanya, ”Untuk dan kepunyaan siapakah langit dan bumi?”

Nabi Saw, ”UntukMu dan milikMu Ya Rabb.”

”Perahu dan lautan, untuk siapakah?”
”UntukMu jua Ya Rabb.”

”Surga dan neraka?”
”UntukMu dan milikMu ya Rabb…”

”Lalu, Aku…untuk siapakah?”

Bersujudlah Nabi Saw mendengar ini. Baginda menjawab, ”Engkau jauh lebih mengetahuinya Ya Rabb…”

Suara kudus pun bergema, ”Aku…bagi dia yang bershalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.”

Shalawat memang punya keistimewaan. Ia menjadi satu-satunya ibadah yang dicontohkan Tuhan  sebelum diperintahkan. Para ulama beragam pendapat mengenai arti shalawat Tuhan pada Nabi Saw. Ada yang berpendapat bahwa shalawat Tuhan pada Nabi Saw adalah penyucian. Karena itu, ketika kita bershalawat kita pun bergerak ke arah kesucian. Shalawat juga mengajarkan pada kita untuk patuh, cinta, taat penuh seluruh, pasrah seutuhnya pada seorang hamba pilihan Tuhan, kekasihNya, cahaya terangNya di tengah-tengah manusia, perwujudan rahmatNya untuk alam semesta. Ayat Surat Al-Ahzab 56 yang menggunakan bentuk ”taslim” setelah perintah shalawat sering diterjemahkan: dan ucapkanlah salam. Padahal kata yang sama pada Al-Nisaa 65 diterjemahkan: ”menerima dengan sepenuhnya.” Shalawat karenanya membimbing kita untuk mendahulukan keinginan, perintah, kepentingan, dan keputusan Rasulullah Saw di atas segalanya.

Itulah mengapa, di mata air Khum, Nabi Saw berdiri dan bertanya, ”A lastu awla bikum? Bukankah aku lebih kalian utamakan, lebih kalian dahulukan (di atas yang lainnya)?” Dan serentak para sahabat menjawab, ”Balaa…Benar ya Rasulallah.” Kemudian Nabi Saw mengangkat tangan Ali. Aduhai, adakah cincin bertaut pada tangan-tangan suci itu? Dan Nabi Saw bersabda, ”Man kuntu mawla, fa ‘Aliyyun mawlaahu.” Siapa saja yang mengutamakan aku, hendaknya ia mengutamakan Ali juga.”

Setidaknya, ada tujuh faidah shalawat di dunia dan duabelas faidah di akhirat. Saya sarikan dari berbagai sumber dari hadis-hadis Baginda Nabi Saw dan keluarganya yang suci.

Faidah duniawi :

  1. Bersama 100 shalawat, Allah Ta’ala cukupkan 100 keperluan.
  2. Bershalawat dengan lantang, membantu mengikis kemunafikan.
  3. Shalawat adalah sarana untuk menyucikan amalan, menyempurnakannya, dan melengkapi kekurangannya.
  4. Bagi setiap shalawat yang dibaca, Allah Ta’ala taburkan kesejahteraan bersamanya.
  5. Membaca shalawat, menjauhkan kefakiran.
  6. Shalawat membantu mengingatkan perkara atau urusan yang dilupakan.
  7. Shalawat mengekang dan merendahkan musuh yang selalu dekat dengan manusia, yaitu godaan setan yang terkutuk.

Adapun duabelas faidah ukhrawi seperti berikut ini :

  1. Dari Imam Shadiq as, ”Barangsiapa bershalawat 10 kali, Allah Ta’ala bershalawat baginya 100 kali.” Ada juga yang menyebutkannya 1000 kali. Kata Imam Ja’far as, ”Barangsiapa yang Allah bershalawat untuknya 1000 kali, ia dijauhkan dari api dan siksa Tuhan. Dan bagi setiap sepuluh shalawat, ada sepuluh kebaikan. Dan bagi setiap sepuluh shalawat, ada sepuluh dosa yang diampunkan. Dan bagi sepuluh shalawat, ada sepuluh derajat yang ditinggikan. Ia termasuk penghuni surga.
  2. Makhluk yang paling layak dan paling dekat kedudukannya dengan Rasulullah Saw di hari kiamat adalah orang-orang yang paling banyak bershalawat untuknya di dunia.
  3. Di antara wasiat Nabi Saw pada Sayyidina Ali as, ”Siapa saja bershalawat kepadaku, wajib baginya syafaatku.”
  4. Dari Imam Ridha as, ”Bershalawat pada Nabi Saw di sisi Tuhan, setara dengan tasbih, tahlil, dan takbir.”
  5. Masih dari Imam Ridha as, ”Siapa saja yang kesulitan menebus kifarat dosa-dosanya, hendaknya memperbanyak bershalawat karena shalawat pada Nabi Saw dan keluarganya menggugurkan dosa-dosa.”
  6. Dari Imam Ali as, ”Shalawat lebih cepat menghapuskan dosa ketimbang air memadamkan api.”
  7. Bacaan shalawat di hari kiamat akan menjadi cahaya yang menemani manusia di depannya, belakang, kiri dan kanan, atas dan bawahnya.
  8. Barangsiapa membaca ”Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ali Muhammad” Allah Ta’ala anugerahkan baginya pahala 72 syuhada.
  9. Shalawat menerangi alam kubur dan memberatkan timbangan.
  10. Shalawat menjadi perisai yang menghalangi api neraka.
  11. Shalawat menghilangkan pahitnya kematian, dahsyatnya perpindahan, dan kehausan pada hari kebangkitan.
  12. Nah, untuk faidah yang keduabelas dijabarkan agak panjang berikut ini. Dari Imam Musa bin Ja’far as, ”Barangsiapa yang berdoa tanpa membukanya dengan pujian pada Allah dan shalawat pada Rasulullah Saw, bagaikan orang yang membentangkan busurnya tanpa anak panah.” Shalawat memang artinya doa. Dan doa adalah inti dari seluruh peribadatan. Shalawat juga bentuk jamak dari shalat. Shalawat dimaknai rahmat, ampunan, pujian, penyucian, dan anugerah kemuliaan. Ada juga yang mengotak-atik kata: shad dalam shalawat adalah ‘shamad’, laam-nya adalah ‘lathiif’, waw-nya adalah ‘wahid’, dan haa-nya adalah ‘haadi’. Semua dari nama-nama indah Tuhan.

Shalawat juga menyembuhkan, meringankan beban. Tapi shalawat juga menumbuhkan kerinduan. Kerinduan yang takkan terpenuhi, takkan terlepaskan hingga saat pertemuan nanti. Yaitu kerinduan dan kecintaan pada Rasulullah Saw dan keluarganya yang suci.

Jadi ada dua jenis shalawat. Yang pertama disebut shalawat buntung. Yaitu shalawat yang tak menyertakan keluarga Rasulullah Saw. Shalawat yang hanya berbunyi, ”Allahumma shalli ‘ala Muhammad” tanpa ”wa ali Muhammad.” Kata Baginda Nabi Saw, ”Shalawat yang terputus takkan mencium wewangian surga.” Dalam Ash-Shawaiq al-Muhriqah, Ibnu Hajar meriwayatkan dari Ka’ab bin Ujrah tentang larangan Nabi Saw, ”Janganlah bershalawat kepadaku dengan shalawat yang terputus.”  Hadis dengan makna yang sama untuk menyertakan keluarga Nabi Saw diriwayatkan juga oleh Qurthubi dalam al-Jami’ li ahkaamil Qur’an, 14:233, Shahih Bukhari 6:12, Tafsir Ibnu Katsir 3:506, Al-Durr al-Mantsur 5:215, Al-Kabir Fakhrurrazi 25: 226 dan masih banyak lagi. Imam Syafi’i bahkan memasukkannya sebagai syarat sah shalat. Tidak diterima shalat kita kalau dalam tahiyyat, dalam tasyahhud tidak ada shalawat pada keluarga Rasulullah Saw.

Dari Imam Ja’far Shadiq as: Satu hari, Rasulullah Saw bersabda pada Imam Ali as, ”Wahai Ali, sudahkah engkau kuberi kabar gembira?”

”Ayah dan ibuku menjadi tebusan bagimu. Ya Rasulallah, engkau selalu menjadi kabar gembira bagiku.”

”Jibril baru saja mengabarkan padaku sesuatu yang istimewa.”
”Apakah gerangan itu Ya Rasulallah…?”

”Ia memberitahuku, siapa saja di antara umatku bershalawat kepadaku dan setelahnya pada keluargaku, Allah Ta’ala akan bukakan baginya pintu-pintu langit. Para malaikat membalas shalawatnya tujuhpuluh kali. Dan akan diampuni dosa-dosanya sebagaimana dedaunan yang berguguran dari batangnya.

Lalu Tuhan berkata kepadanya, ”Labbayka yaa ‘abdii wa sa’daik…labbaik wahai hambaKu dan berbahagialah.” Kemudian Allah Ta’ala berkata kepada para malaikat, ”Wahai malaikatku, kalian bershalawat untuknya 70 kali. Maka dariKu shalawat baginya 700 kali.” Tetapi–lanjut Baginda Nabi Saw–bila ia hanya bershalawat kepadaku dan tidak menyambungkannya dengan shalawat pada keluargaku, 70 pintu langit tertutup. Tuhan akan berkata, ”Tidak ada labbaik bagimu, tidak ada sa’daik bagimu. Wahai para malaikatKu, jangan bawa doanya naik, kecuali ia sambungkan shalawat pada nabiKu dengan shalawat untuk keluarganya.” Maka hamba yang mengucapkan ‘Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ali Muhammad’ terikat dalam kecintaan (hingga ia digabungkan, dipersatukan, bersamaku dan keluargaku.) Sebagaimana ia bershalawat kepadaku dan keluargaku.”

Shalawat yang lengkap itulah bentuk shalawat yang kedua. Shalawat kamil atau jami’. Shalawat yang menyertakan Nabi Saw dan keluarganya. Inilah makna berikutnya dari shalawat: kerinduan tak berkesudahan untuk Baginda dan keluarga sucinya. Maka ketika kita mendengar nama Baginda, lalu kita membaca, ”shallallahu ‘alaihi wa sallam, shalawat Allah baginya dan salam,” sudah lengkapkah shalawat kita? Bacalah, ”shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam, salam shalawat Allah baginya dan keluarganya.”

Dan bukankah sekikir-kikirnya manusia, adalah ia yang disebut nama ”Muhammad” atau nama-nama Rasulullah Saw lainnya dan tak bershalawat kepadanya. Kikir di dunia, dan merugi di akhirat. Itulah kerugian yang sebenar-benarnya.

Shalawat menjadi wasilah mendekatkan diri pada keluarga Rasulullah Saw. Kecintaan pada keluarga Nabi menjadi wasilah kecintaan pada Rasulullah Saw. Dan kecintaan pada Rasulullah Saw menjadi wasilah untuk sampai pada ridho Tuhan. ”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan mendekatkan diri) kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. 5:35)

Di antara doa yang baik didawamkan adalah doa ini, ”Allahumma inni as’aluka hubbaka wa hubba man yuhibbuka wa hubba ‘amalin shalih yuqarribuni ilaa hubbika. Ya Allah, aku mohonkan padaMu cintaMu, dan cinta mereka yang mencintaiMu, dan cinta perbuatan baik yang mendekatkan kami pada cintaMu.” Mencintai para nabi, Rasulullah Saw dan keluarganya yang suci, para teladan saleh sepanjang sejarah adalah perwujudan dari ‘cinta mereka yang mencintaiMu.’ Kita pun bermohon agar diberi kecintaan pada perbuatan yang mendatangkan kecintaan Tuhan.