INSEPAR FOUNDATION

Inspiration and seduction from beauty of Parungponteng to care and share for human and Humanity

Masa Depan Islam di Tangan Kaum Muda Islam Saat Ini

“Kemajuan umat Islam hanya dapat dicapai dengan persatuan. Oleh karenanya kaum muda Islam harus menjaga semangat persatuan itu. Masa depan Islam berada ditangan kaum mudanya saat ini. Kerjasama dan hubungan antar pemuda harus ditingkatkan, karena kaum mudalah penentu kemajuan dibidang ilmu, tekhnologi dan kebudayaan Islam di masa datang.”

 

Velayati: Masa Depan Islam di Tangan Kaum Muda Islam Saat IniMenurut Kantor Berita ABNA, Dr. Ali Akbar Velayati, kamis (26/1) dihadapan ribuan peserta Pertemuan Internasional Pemuda dan Kebangkitan Islam berkata, “Terselenggaranya konferensi internasional kebangkitan Islam ini adalah buah dari keberkahan Revolusi Islam Iran. Kami mengajak ribuan pemuda dari berbagai Negara ke Iran untuk melihat langsung dan menyerap keberkahan itu.”

Beliaupun dalam penyampaiannya menyatakan rasa optimisnya kegiatan internasional semacam itu dapat memperat hubungan antar bangsa dalam bingkai saling memahami dan menghargai khususnya antar Negara-negara yang bermayoritas berpenduduk muslim, “Hari ini, dunia lebih besar kebutuhannya terhadap hubungan baik antar bangsa, yang satu sama lain saling menghargai dan bekerja sama.” Tegasnya.
Cendekiawan yang juga menjadi pengurus pimpinan di Majma Jahani Ahlul Bait ini dalam kaitannya dengan persatuan Sunni-Syiah beliau menegaskan, “Kemajuan umat Islam hanya dapat dicapai dengan persatuan. Oleh karenanya kaum muda Islam harus menjaga semangat persatuan itu. Masa depan Islam berada ditangan kaum mudanya saat ini. Kerjasama dan hubungan antar pemuda harus ditingkatkan, karena kaum mudalah penentu kemajuan dibidang ilmu, tekhnologi dan kebudayaan Islam di masa datang.”

Velayati yang juga menjabat sebagai penasehat Rahbar dalam urusan Internasional tersebut menyebutkan bahwa konferensi yang bakal berlangsung selama dua hari dari 29-30 Januari di Teheran tersebut dihadiri oleh lebih dari 1000 peserta dari 73 Negara. Termasuk Indonesia mengirimkan delegasinya sebanyak 20 orang pemuda yang merupakan aktivis pemuda dari berbagai organisasi kepemudaan dan keagamaan.

Sekjen konferensi, Ali Akbar Velayati mengatakan kepada wartawan bahwa konferensi akan membahas peran pemuda dalam gelombang kebangkitan Islam, yang menyapu Timur Tengah dan Afrika Utara.

“Di antara tujuan utama konferensi adalah menghidupkan kembali nilai-nilai Islam serta tujuan-tujuan luhur Islam dan al-Quran, memulihkan rasa nasionalisme, martabat Islam dan negara-negara Muslim, menciptakan sebuah peradaban Islam yang baru atas dasar agama dan rasionalitas, mewujudkan pertukaran pengalaman antara gerakan pencari kebebasan, menyajikan demokrasi Islam sebagai pengganti demokrasi Barat, dan memperkuat kepercayaan diri di kalangan umat Islam,” jelas Velayati.

Sementara itu, Para pelajar hawzah ilmiah Qom menandatangani surat dukungan terhadap kebangkitan Islam dan pemuda revolusioner di negara-negara Islam. Hawzah News (26/1) melaporkan, komunitas pelajar pendukung kebangkitan Islam dengan bekerjasama dengan sekretariat urusan internasional hawzah ilmiah dan Basij, mengungkapkan dukungan terhadap kebangkitan Islam dan pemuda revolusioner dengan memasang tiga kain dalam bahasa Persia, Inggris, dan Arab, di madrasah Feyziyah dan Daarul Shifa. Surat tersebut adalah dalam rangka mendukung revolusi Mesir, Tunisia, Bahrain, Libya, Yaman, Lebanon, dan Palestina.

Selain mendukung perjuangan para pemuda revolusioner, surat tersebut juga dalam rangka mengecam kejahatan kaum-kaum zalim.
Para pelajar hawzah Iran maupun asing berbondong-bondong menandatangani kain tersebut dan menyatakan dukungan mereka terhadap gelombang kebangkitan Islam.

Filed under: Uncategorized

Perempuan dan Ibu adalah Separuh Kerangka Masyarakat

Peneliti hawzah Qom, Hujjatul Islam Abdul Karim Behjat-pour menyatakan, pandangan strategis Islam terhadap keluarga adalah bahwa sebuah masyarakat yang sehat dan saleh muncul dari keluarga-keluarga yang sakinah dan berwibawa yang kaum laki-laki dan perempuan di dalamnya memiliki tingkat rasional, afeksi, kesadaran dan wawansan yang tinggi.
Behjat-pour kepada Rasa News (30/1) mengatakan, “Kaum perempuan adalah separuh dari kerangka masyarakat dan oleh karena itu ketidakpedulian terhadap kapasitas dan peran mereka dalam mengembangkan potensi dalam pribadi setiap individu dalam keluarga, juga tidak dapat menyukseskan tujuan-tujuan masyarakat Islam.”

Dikatakannya, jika kita merenungkan dan mencermati ajaran-ajaran Islam, baik al-Quran dan hadis memberikan penekanan luas pada peran perempuan dalam pencapaian kehidupan yang indah dan bersih serta terbentuknya masyarakat yang terjauhkan dari keburukan.
Menurut pandangan Islam, peran para ibu dalam membentuk sebuah keluarga tidak dapat dipungkiri lagi dan oleh karena itu kaum laki-laki diperingatkan untuk selalu berhati-hati dalam memilih istri atau ibu menyusui. Karena Islam menilai peran ibu dalam membentuk pondasi keluarga sangat esensial.”

Perbedaan mendasar perspektif Islam dan pemikiran di Barat adalah bahwa di negara-negara Barat, kaum perempuan dinilai sebatas pekerja, pegawai, atau seorang wanita karir dalam masyarakat. Adapun Islam, justru ingin mengangkat beban ekonomi itu dari pundak kaum perempuan sehingga mereka dapat melaksanakan tugas utamanya dengan tenang, yaitu mengatur sisi afeksi keluarga.
Manajemen afeksi dalam keluarga menurut Islam ada di pundak para ibu dan tugas tersebut merupakan beban berat yang memerlukan dukungan yang kuat juga. Oleh karena itu masyarakat islami harus memperhatikan peran para ibu dan perempuan dalam keluarga sehingga akan terbentuk masyarakat yang sehat dan saleh. (IRIB Indonesia/MZ)

Tags:

Filed under: Uncategorized

Waspadai Para Tokoh Pembela Sekte Sesat Syiah ini!

Jakarta (Voa-Islam) – Rupanya, ada banyak tokoh yang mengklaim dirinya sebagai tokoh Islam yang membela paham sesat Syiah. Mulai dari Ketua MUI Umar Syihab, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siraj, dan sebagainya. Berikut Voa-Islam tampilkan pendapat mereka mengenai ajaran Syiah:

Umar Syihab (Ketua MUI)

Menurut Umar Syihab, ia  tak sependapat dengan MUI Jawa Timur yang menyebut aliran Syiah sesat. Umar menegaskan bahwa MUI tidak pernah mengeluarkan fatwa bahwa ajaran Syiah sebagai aliran sesat.

Mengenai insiden pembakaran pesantren Syiah di Sampang, Madura beberapa waktu lalu, Umar berpendapat insiden hanyalah ditumpangi pihak-pihak yang ingin mengadu domba umat Islam dengan kedok ajaran Syiah yang dituding sesat.
Kata Umar, MUI tidak pernah menyatakan, bahwa Syiah itu sesat. Syiah dianggap salah satu mazhab yang benar, sama halnya dengan ahli sunnah wal jama’ah. Kendati pun ada perbedaan pandangan, kata dia, Islam tidak pernah menghalalkan kekerasan, apalagi perusakan tempat ibadah dan majelis taklim seperti terjadi di Sampang.

Ajaran Syiah, kata Umar, sudah diakui di dunia islam sebagai mazhab yang benar sampai saat ini. “Karena itu jangan kita membuat peryataan yang bisa mengeluapkan gejolak di tengah-tengah masyarakat kita dan bisa menyebabkan korban.”

Said Aqil Siraj

Menurut Ketua Umum PBNU Said Aqil Siraj, ada desain besar di balik aksi pembakaran pesantren penganut Syiah di Sampang, Madura. Tak mungkin peristiwa tersebut terjadi tanpa ada yang membuatnya. Padahal kerukunan hidup beragama di sana sebelumnya baik-baik saja.

Said meminta pemerintah dan aparat keamanan bekerja lebih keras, mencegah aksi serupa terulang di kemudian hari. “Ini pasti ada big design-nya. Ada pihak-pihak yang ingin merusak suasana damai di Indonesia,” kata Said.

Menurut Said Aqil, Sunni dan Syiah hanya dijadikan alat seolah-olah memang ada permusuhan. Padahal tidak, mereka dari dulu sampai sekarang hidup damai berdampingan. Ketua Umum PBNU itu meminta semua pihak bisa menahan diri dengan tidak melakukan tindakan-tindakan anarkis. “Pihak ketiga itu selalu melancarkan provokasi supaya konflik terus terjadi. Dan bukan tidak mungkin kasus serupa akan terjadi di kemudian hari,” katanya.

Prof Dr Said Agil Siraj mengungkapkan, di sejumlah negara Islam maupun Timur Tengah yang hidup faham Suni dan Syiah, dapat hidup rukun dan berdampingan. ”Bahkan Mufti Syria Badruddin Hassun yang berasal dari Suni, fatwa-fatwanya sangat didengar oleh kelompok Syiah,” jelas Kiai Siraj seraya menambahkan kondisi serupa terjadi di Saudi Arabia, Pakistan, maupun Libanon.

Bahkan di Libanon Selatan, lanjut Said, Hizbullah dari kelompok Syiah didukung juga oleh kelompok Suni. Dikatakan Said, sepanjang sejarah, perbedaan yang terjadi antara Suni dan Syiah sebenarnya, terkait soal kekuasaan atau lazim disebut imamah. Karena itu, kelompok Syiah memasukkan masalah imamah ke dalam rukun agama dan sejak dini anak-anak mereka diajarkan pengetahuan tentang imamah. “Dalam perkembangan Islam, kedua kelompok Suni dan Syiah sama-sama memberikan andil dan peran yang sangat besar dalam peradaban Islam,” tegas kyai Siraj.

Said menyebut sejumlah tokoh Syiah yang memberikan andil besar bagi kemajuan Islam. Sebut saja misalnya Ibnu Sina, seorang filsuf yang juga dikenal sebagai seorang dokter, Jabir bin Hayyan yang dikenal sebagai penemu ilmu hitung atau aljabbar, dan seorang sufi Abu Yazid al Busthami. Mereka yang beraliran Syiah ini telah menyumbangkan ilmunya bagi kemajuan Islam. “Jadi, kedua kelompok ini adalah aset yang sangat berharga bagi umat Islam.”

Syafii Maarif

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif mengutuk keras aksi pembakaran terhadap pondok pesantren Syiah di Kecamatan Karang Penang, Sampang. Terlebih jika aksi pembakaran tersebut dilatarbelakangi oleh perbedaan pandangan keagamaan.

Menurutnya, kebenaran bukanlah milik individu apalagi kelompok. Syafii mengatakan, Syiah telah diakui sebagai mazhab kelima dalam Islam. Dia pun menyatakan bahwa setiap orang, sekalipun atheis berhak hidup. Terpenting, katanya, bisa hidup rukun dan toleran.

Din Syamsudin

Pada Konferensi Persatuan Islam Sedunia yang berlangsung 4-6 Mei 2008 di Teheran, Iran, Din Syamsuddin pernah mengatakan, bahwa Sunni dan Syi’ah ada perbedaan, tapi hanya pada wilayah cabang (furu’yat), tidak pada wilayah dasar agama (akidah). Menurut Din, Sunni dan Syi’ah berpegang pada akidah Islamiyah yang sama, walau ada perbedaan derajat penghormatan terhadap sahabat sekaligus menantu Nabi Muhammad, yakni Ali bin Abi Thalib.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini juga mengatakan, sewajarnya jika dua kekuatan besar Islam ini (Sunni dan Syi’ah) bersatu melawan dua musuh utama umat saat ini yaitu kemiskinan dan keterbelakangan. (Detikcom 5 Mei 2008)

Dikatakan Din, seandainya tidak dicapai titik temu, maka perlu dikembangkan tasamuh atau toleransi. Seluruh elemen umat Islam dalam kemajemukannya perlu menemukan “kalimat sama” (kalimatun sawa) dalam merealisasikan misi kekhalifahan di muka bumi. 

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin menegaskan bahwa persatuan umat Islam khususnya antara kaum Sunni dan kaum Syiah, adalah mutlak perlu sebagai prasyarat kejayaan Islam. Kejayaan umat Islam pada abad-abad pertengahan juga didukung persatuan dan peran serta kedua kelompok umat Islam tersebut.

Fatwa MUI Nyatakan Syi’ah Sesat!!

Sejak tahun 1984 MUI Pusat telah memfatwa Syi’ah sebagai sekte sesat, berikut kutipannya:

FATWA MUI TENTANG SYI’AH

Majelis Ulama Indonesia dalam Rapat Kerja Nasional bulan Jumadil Akhir 1404 H/Maret 1984 M merekomendasikan tentang faham Syi’ah sebagai berikut:

Faham Syi’ah sebagai salah satu faham yang terdapat dalam dunia Islam mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan mazhab Sunni (Ahlus Sunnah Wal Jama’ah) yang dianut oleh Umat Islam Indonesia. Perbedaan itu di antaranya :

1. Syi’ah menolak hadits yang tidak diriwayatkan oleh Ahlul Bait, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak membeda-bedakan asalkan hadits itu memenuhi syarat ilmu musthalah hadits.

2. Syi’ah memandang “Imam” itu ma ‘sum (orang suci), sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah memandangnya sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kekhilafan (kesalahan).

3. Syi’ah tidak mengakui Ijma’ tanpa adanya “Imam”, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ ah mengakui Ijma’ tanpa mensyaratkan ikut sertanya “Imam”.

4. Syi’ah memandang bahwa menegakkan kepemimpinan/pemerintahan (imamah) adalah termasuk rukun agama, sedangkan Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) memandang dari segi kemaslahatan umum dengan tujuan keimamahan adalah untuk menjamin dan melindungi dakwah dan kepentingan umat.

5.Syi’ah pada umumnya tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar As-Shiddiq, Umar Ibnul Khatthab, dan Usman bin Affan, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengakui keempat Khulafa’ Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali bin Abi Thalib).

Mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syi’ah dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah seperti tersebut di atas, terutama mengenai perbedaan tentang “Imamah” (pemerintahan)”, Majelis Ulama Indonesia mengimbau kepada umat Islam Indonesia yang berfaham Ahlus Sunnah wal Jama’ah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya faham yang didasarkan atas ajaran Syi’ah.

Ditetapkan di Jakarta, 7 Maret 1984 M (4 Jumadil Akhir 1404 H)

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia

Prof. K.H. Ibrahim Hosen, LML
Ketua

H. Musytari Yusuf, LA
Sekretaris

Sejak dirilis tahun 1984 hingga saat ini, Fatwa MUI tentang kesesatan Syi’ah itu belum pernah diamandemen apalagi dicabut! [Desastian/dbs]

Filed under: Uncategorized

Prof Dadang Hawari: Pemimpin Aliran Sesat Alami Gangguan Jiwa

JAKARTA (VoA-Islam) – Menarik, psikiater Prof. Dr.dr. H. Dadang Hawari bicara aliran sesat ditinjau dari segi kesehatan jiwa dan agama. Menurutnya, kasus-kasus aliran sesat termasuk bidang agama dan kesehatan jiwa. Oleh karena itu, penanganannya seyogianya melibatkan tokoh agama dan psikiater.“Untuk menghadapi permasalah tersebut, psikiater diharapkan, memiliki pengetahuan agama agar dapat membedakan keyakinan agama seseorang yang benar dengan keyakinan agama yang patalogis. Dengan pemahaman terhadap dinamika psikoreligius pasien, diharapkan pula psikiater dapat mengobati psikopatologi keyakinan pasien ke jalan yang benar.”

Demikian dikatakan Prof. Dadang kepada Voa-Islam usai mengisi kajian Majelis Taqarub Ilallah di Masjid Baiturrahman di Jl. Saharjo, Tebet, Jakarta Selatan, belum lama ini.

Prof Dadang mencatat, The American Psychiatric Association(APA) Committee On Religion and Psychiatry, pernah mengadakan penelitian mengenai aliran sesat keagamaan.APA Committee On Religion and Psychiatry telah bekerja selama tiga tahun meneliti gerakan pemujaan/ kultus individu dalam 20 tahun terakhir. Tidak kurang, dari 20 juta warga Amerika Serikat terlibat dalam dalam aliran sesat yang bercorak spiritual itu. Permasalahan psikososial religius ini mencapai klimaksnya secara nasional dalam tahun 1980-an.

Aliran yang dikenal dengan nama New Religion Movement (NRM) itu menebar ajaran-ajaran yang menyimpang dari mainstream atau standar baku agama induknya. Kalangan agamawan menyebutkan NRM sebagai agama sesat atau agama setan.

Gerakan Pemujaan atau NRM ini telah menimbulkan reaksi masyarakat berupa kecemasan dan ketakutan social serta protes terhadap gerakan pemujaan tersebut. Saking berbahayanya, NRM disebut-sebut FBI sebagai gerakan subversif.

Salah satu hasil dari penelitian tadi menyebutkan, NRM adalah gerakan spiritual (pseudo agama) yang ada pada para pemimpin dan pengikutnya terdapat kelainan kejiwaan (psikopatologi) dalam pemahaman dan pengamalan keyakinannya itu.

Seperti diketahui, pada awal 1970, masyarakat Amerika merasakan kebutuhan spiritual dan kerohanian dalam kehidupannya. Sejak saat itu mulai bermunculan aliran spiritual atau pseudo agama yang cukup laris merasuk masyarakat Amerika. Munculnya NRM dikarenakan ketidakpuasan masyarakat terhadap agama yang sudah ada serta ketidakpuasan mereka pada tatanan social yang berlaku.

Aliran Sesat di Indonesia

Di Indonesia, lanjut Dadang, juga terdapat banyak aliran sesat yang muncul silih berganti. Meskipun belum ada penelitian dari profesi Ilmu Kedokteran Jiwa terhadap aliran sesat, namun diperoleh kesan adanya psikopatologi dari pimpinan aliran sesat tersebut. Misalnya, pengakuan bahwa dirinya seorang Nabi, orang suci. Orang yang mendapatkan wahyu, orang yang diutus Tuhan, Imam Mahdi dan sebagainya.

Dikatakan Dadang, terdapat kelainan jiwa, salah satunya ditandai dengan adanya waham kebesaran dan keagamaan. Waham atau delusi adalah keyakinan yang tidak benar. Meskipun terdapat bukti-bukti tentang ketidakbenaran tersebut, yang bersangkutan tetap meyakininya.

“Suatu aliran dikatakan sesat, apabila aliran itu menyimpang dari maenstrem agama induknya. Misalnya saja, ayat-ayat Al Qur’an ditafsirkan semaunya, tidak percaya pada hadits, mengkafirkan sesama muslim dan seterusnya ,” kata Dadang.

Pemimpin aliran sesat pandai memutar-balikkan ayat-ayat dengan logika palsu (pseudo-logika) dalam rangka meyakinkan para pengikutnya. Para pengikutnya adalah mereka yang sedang mengalami “kekosongan spiritual”, tidak faham tentang pokok-pokok ajaran Islam. Tetapi ada juga tokoh-tokoih intelektual Islam yang terpengaruh ajaran sesat. Benar mereka intelektual Islam, tetapi kurang memahami keislamannya.

Sambil menunjukkan buku yang ditulisnya “Aliran Sesat Ditinjau dari Kesehatan Jiwa dan Agama” (Diterbitkan Badan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia). Dadang menyebut beberapa aliran sesat di Indonesia, diantaranya: Aliran Inkar Sunnah, Isa Bugis, Darul Arqam, Lembaga Kerasulan, NII-Ma’had Al Zaytun, LDII, Lia Aminuddin, Millah Ibrahim, dan Syiah yang suka mencela sahabat Nabi seperti Abu Bakar, Umar dan Utsman. Desastian

Filed under: Uncategorized

Duh, Lily Wahid Adik Kandung Gus Dur Bela Gereja dengan Komentar Bodoh

BOGOR (voa-islam.com) – Kisruh GKI Yasmin semakin rumit, dengan munculnya para ‘pahlawan kesiangan’ yang berakting membela GKI Yasmin. Salah satunya Lily Wahid, adik kandung mendiang Gus Dur yang datang ke lokasi pada Minggu (25/12/2011) ini untuk mendukung GKI Yasmin.Kepada wartawan, bekas anggota DPR RI ini mengecam kepolisian, bahkan secara membabi-buta minta Presiden SBY mengundurkan diri. “Ini negara sudah negara preman! Polisi membantai penduduk di mana-mana sekarang, orang beribadah gak boleh. Gimana sih negara ini? Polisi itu penindas hari ini, polisi itu penindas! Polisi bukan lagi melindungi warga masyarakat. Polisi seharusnya tidak bawa senjata hari ini, seharusnya bawa pentungan supaya jangan semena-mena dengan masyarakat. Presiden harusnya turun tangan dan bertanggung jawab karena polisi itu dibawah presiden. Kalau presiden gak sanggup menata polisi, munduuur!” ujarnya dengan nada meledak-ledak penuh emosi. “Kita negara Pancasila Ketuhanan yang Maha Esa, orang beribadah kok dihalang-halangi? Itu yang saya tidak mengerti, mau jadi apa negeri ini? Polisi hanya jadi alat kapitalis,” tambahnya.

Lily Wahid juga mendesak agar Kapolri segera menindak oknum-oknum yang melarang orang beribadah disini. “Ga ada undang-undang yang membolehkan melarang orang beribadah.”

Saat ditanya tentang IMB Gereja Yamin yang dibelanya, Lily menjawab dengan sedikit kikuk, “Keputusan MA jelas dikembalikan kepada jemaat. Ini negara  apa?  Kalau polisi gak bisa melaksanakan putusan MA, Kapolri suruh berhenti gitu lho!!”

Lily pun mulai mengumbar berbagai praduga untuk membela Gereja Yasmin. “Kita harus investigasi, jangan-jangan ada orang yang menginginkan tanah itu? Dan memakai aparat, Bisa aja kan terjadi seperti itu? Lalu agama dijadikan alasan, ini yang saya gak bisa terima, kita ini hidup rukun sudah puluhan tahun tiba-tiba ada seperti ini, keterlaluan pemerintah hari ini,” ujarnya berapi-api.

Sebelumnya, voa-islam.com berulang kali mempublikasikan fakta-fakta soal kekisruhan GKI Yasmin. Kasus ini bermula tahun 2006 saat proses pendirian gereja ini dilakukan dengan cara menipu dan memanipulasi data. Bahkan secara hukum, pihak GKI Yasmin telah terbukti melakukan banyak kesalahan, antara lain memalsukan tandatangan warga, tidak memiliki pendapat tertulis dari Kepala Kantor Departemen Agama setempat, tidak memiliki dan tidak memenuhi minimal pengguna sejumlah 40 Kepala Keluarga yang berdomisili di wilayah setempat, tidak mendapatkan izin dari warga setempat, dan tidak mendapatkan rekomendasi tertulis dari MUI, DGI, Parisada Hindu Dharma, MAWI, WALUBI, Ulama/Kerohanian.

Selain itu pihak GKI Yasmin juga tidak dapat memenuhi ketentuan Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 dan 9 Tahun 2006, tentang Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama dan Pendirian Rumah Ibadah yang harus memiliki umat (jemaat) minimal 90 orang yang memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan disetujui oleh 60 orang dari umat agama lain di wilayah tersebut, dan para pejabat setempat (Lurah/Kades) harus mensahkan persyaratan ini. Selanjutnya, rekomendasi tertulis diminta dari kepala Departemen Agama kabupaten atau kotamadya, dan dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) kabupaten atau kotamadya.

Atas dasar penyimpangan yang dilakukan oleh pihak GKI Yasmin dan desakan warga sekitar itulah, akhirnya Pemkot melalui Dinas Tata Kota dan Pertamanan (DTKP) mengeluarkan surat pembekuan IMB pembangunan gereja. Namun keputusan DTKP digugat oleh GKI Yasmin melalui Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PTUN) dan Pemkot dinyatakan kalah secara administrasi karena yang membekukan bukan pihak berwenang (DTKPred). Untuk menindaklanjuti putusan PTUN dan putusan Mahkamah Agung (MA) akhirnya Pemkot mencabut surat pembekuan IMB yang telah dikeluarkan oleh Pemkot melalui DTKP pada 8 Maret 2011.

Belajar dari kesalahan, beberapa hari kemudian Pemkot segera memperbaiki kesalahan administrasi tersebut dengan kembali melakukan pembekuan IMB GKI Yasmin. Melalui Surat Keputusan (SK) Walikota Bogor No. 645.45137 tahun 2011 yang dikeluarkan pada 11 Maret 2011 Walikota Bogor mencabut IMB GKI Yasmin yang terletak di Jalan KH Abdullah Bin Nuh, Taman Yasmin, Bogor.

Terakhir pihak GKI Yasmin mengajukan permohonan ke Ombudsman Republik Indonesia agar mencabut pembekuan IMB sesuai dengan putusan PTUN dan MA. Akhirnya, Ombudsman memberikan rekomendasi kepada Walikota Bogor, agar membatalkan surat pencabutan IMB GKI. Rekomendasi kedua untuk Gubernur Jabar dan Walikota Bogor untuk berkoordinasi untuk penyelesaian masalah GKI. Ketiga, untuk Mendagri agar melaksanakan pengawasan. Sayangnya rekomendasi tersebut tidak mengubah apapun, putusan PTUN dan MA sudah dilaksanakan jauh hari sebelum rekomendasi Ombudsman dikeluarkan. Kini yang berlaku adalah Surat Keputusan (SK) Walikota Bogor No. 645.45137 tahun 2011 yang dikeluarkan pada 11 Maret 2011 tentang pencabutan IMB GKI Yasmin.

Dengan keputusan itulah, sebenarnya walikota sudah melaksanakan putusan MA. Namun selama ini pihak GKI Yasmin selalu menutupi kesalahannya.

Menanggapi pernyataan Lily Wahid yang dinilai provokatif itu, Ketua Forum Komunikasi Muslim Indonesia (FORKAMI), Ustadz Ahmad Iman yang juga tokoh warga setempat, menyayangkan komentar provokatif dan tidak tahu persoalan.

“Itu hanya komentar bodoh, yang tidak tahu hukum,” ujarnya enteng. [taz/saiful]

Filed under: Uncategorized

Fibromyalgia (Fibrositis)

What is fibromyalgia?

Fibromyalgia is a chronic condition that causes pain, stiffness, and tenderness of the muscles, tendons, and joints. Fibromyalgia is also characterized by restless sleep, awakening feeling tired, chronic fatigue, anxiety, depression, and disturbances in bowel function. Fibromyalgia is sometimes referred to as fibromyalgia syndrome and abbreviated FMS. Fibromyalgia was formerly known as fibrositis.

While fibromyalgia is one of the most common diseases affecting the muscles leading to chronic pain and disability, its cause is currently unknown. The painful tissues involved are not accompanied by tissue inflammation. Therefore, despite potentially disabling body pain, patients with fibromyalgia do not develop body damage or deformity. Fibromyalgia also does not cause damage to internal body organs. In this sense, fibromyalgia is different from many other rheumatic conditions (such as rheumatoid arthritis, systemic lupus, and polymyositis). In those diseases, tissue inflammation is the major cause of pain, stiffness, and tenderness of the joints, tendons and muscles, and it can lead to joint deformity and damage to the internal organs or muscles.

What causes fibromyalgia?

The cause of fibromyalgia is not known. Those affected experience pain in response to stimuli that are normally not perceived as painful. Researchers have found elevated levels of a nerve chemical signal, called substance P, and nerve growth factor in the spinal fluid of fibromyalgia patients. Levels of the brain chemical serotonin are also relatively low in patients with fibromyalgia. Studies of pain in fibromyalgia have suggested that the central nervous system (brain) may be somehow supersensitive. Scientists note that there seems to be a diffuse disturbance of pain perception in patients with fibromyalgia.

Also, patients with fibromyalgia have an impaired non-rapid eye movement, or non-REM, sleep phase (which likely, at least in part, explains the common feature of waking up fatigued and unrefreshed in these patients). The onset of fibromyalgia has been associated with psychological distress, trauma, and infection.

Whom does fibromyalgia affect?

Fibromyalgia affects predominantly women (over 80% of those affected are women) between the ages of 35 and 55. Less commonly, fibromyalgia can also affect men, children, and the elderly. It can occur independently or can be associated with another disease, such as systemic lupus or rheumatoid arthritis. The prevalence of fibromyalgia varies in different countries. In Sweden and Britain, 1% of the population is affected by fibromyalgia. In the United States, approximately 4% of the population has fibromyalgia.

What are symptoms and signs of fibromyalgia?

The universal symptom of fibromyalgia is pain. As mentioned earlier, the pain in fibromyalgia is not caused by tissue inflammation. Instead, these patients seem to have an increased sensitivity to many different sensory stimuli and an unusually low pain threshold. Minor sensory stimuli that ordinarily would not cause pain in individuals can cause disabling, sometimes severe pain in patients with fibromyalgia. The body pain of fibromyalgia can be aggravated by noise, weather change, and emotional stress.

The pain of fibromyalgia is generally widespread, involving both sides of the body. Pain usually affects the neck, buttocks, shoulders, arms, the upper back, and the chest. “Tender points” are localized areas of the body that are tender to light touch. Fibromyalgia tender points, or pressure points, are commonly found around the elbows, shoulders, knees, hips, back of the head, and the sides of the breastbone and are typical signs of fibromyalgia.

Fibromyalgia Tender Points Diagram

Fibromyalgia Illustration - Fibromyalgia Tender Points Picture
Fibromyalgia “tender points” are sometimes incorrectly referred to as “trigger points,” which is terminology that is used to describe a situation whereby pressing on certain trigger points can initiate a sequence of symptoms. This is not the case with fibromyalgia tender points, which are chronically a focus of pain and tenderness in the particular area involved.

Fatigue occurs in 90% of patients. Fatigue may be related to abnormal sleep patterns commonly observed in these patients. Normally, there are several levels of depth of sleep. Getting enough of the deeper levels of sleep may be more important in refreshing a person than the total number of hours of sleep. Patients with fibromyalgia lack the deep, restorative level of sleep, called “non-rapid eye movement” (non-REM) sleep. Consequently, patients with fibromyalgia often awaken in the morning without feeling fully rested, even though they seem to have had an adequate number of hours of sleep time. Some patients awaken with muscle aches or a sensation of muscle fatigue as if they had been “working out” all night!

Mental and/or emotional disturbances occur in over half of people with fibromyalgia. These symptoms include poor concentration, forgetfulness, and memory problems, as well as mood changes, irritability, depression, and anxiety. Since a firm diagnosis of fibromyalgia is difficult and no confirmatory laboratory tests are available, patients with fibromyalgia are often misdiagnosed as having depression as their primary underlying problem.

Other symptoms of fibromyalgia include migraine and tension headaches, numbness or tingling of different parts of the body, abdominal pain related to irritable bowel syndrome (“spastic colon”), and irritable bladder, causing painful and frequent urination. Like fibromyalgia, irritable bowel syndrome can cause chronic abdominal pain and other bowel disturbances without detectable inflammation of the stomach or the intestines.

Each patient with fibromyalgia is unique. Any of the above symptoms can occur intermittently and in different combinations.

How is fibromyalgia diagnosed?

There are no blood tests or X-ray tests that specifically point the doctor to the diagnosis of fibromyalgia. These tests are done to exclude other possible diagnoses. Therefore, the diagnosis of fibromyalgia is made purely on clinical grounds based on the doctor’s history and physical examination. In patients with chronic widespread body pain, the diagnosis of fibromyalgia can be made by identifying point tenderness areas (typically, but not always, patients will have at least 11 of the 18 classic fibromyalgia tender points), by finding no accompanying tissue swelling or inflammation, and by excluding other medical conditions that can mimic fibromyalgia. Many medical conditions can cause pain in different areas of the body, mimicking fibromyalgia. These conditions include

Again, even though there is no blood test for fibromyalgia, blood tests are important to exclude other medical conditions. Therefore, thyroid hormone and calcium blood levels are obtained to exclude hypercalcemia, hyperparathyroidism, and hypothyroidism. The blood alkaline phosphatase (a bone enzyme) level is often raised in patients with Paget’s disease of the bone. The CPK (a muscle enzyme) level is often elevated in patients with polymyositis, a disease with diffuse muscle inflammation. Therefore, obtaining alkaline phosphatase and CPK blood levels can help the doctor decide whether Paget’s disease and polymyositis are the causes of bone and muscle pains. A complete blood count (CBC) and liver tests help in the diagnosis of hepatitis and other infections. A blood vitamin D level can detect vitamin D insufficiency.

Fibromyalgia can occur alone or in association with other systemic rheumatic conditions. Systemic rheumatic conditions refer to diseases that can cause inflammation and damage to numerous different tissues and organs in the body. Systemic rheumatic conditions associated with fibromyalgia include systemic lupus erythematosus, rheumatoid arthritis, polymyositis, and polymyalgia rheumatica. Blood tests which are helpful in evaluating these diseases when they are suspected include erythrocyte sedimentation rate (ESR), serum protein electrophoresis (SPEP), antinuclear antibody (ANA), and rheumatoid factor (RF). In patients with fibromyalgia without associated systemic illnesses, the ESR, SPEP, ANA, and RF blood tests are usually normal.

What are medications and other forms of treatment for fibromyalgia?

Since the symptoms of fibromyalgia are diverse and vary among patients, treatment programs must be individualized for each patient. Fibromyalgia treatment programs are most effective when they combine patient education, stress reduction, regular exercise, and medications. Recent studies have verified that the best outcome for each patient results from a combination of approaches that involves the patient in customization of the treatment plan.

Patient education

Patient education is an important first step in helping patients understand and cope with the diverse symptoms. Unfortunately, not all physicians are intimately acquainted with the vagaries of this illness. Therefore, community hospital support groups and the local chapters of the Arthritis Foundation have become important educational resources for patients and their doctors. The Arthritis Foundation is a national voluntary health organization that provides community education through their many local chapters. Community hospital support groups also provide an arena for patients to share their experiences and treatment successes and failures.

Stress reduction

It is extremely difficult to measure stress levels in different patients. For some people, spilling milk on the table can represent a significant tragedy. For others, a tank rolling into the living room might represent just another day! Therefore, stress reduction in the treatment of fibromyalgia must be individualized. Stress reduction might include simple stress modification at home or work, biofeedback, relaxation tapes, psychological counseling, and/or support among family members, friends, and doctors. Sometimes, changes in environmental factors (such as noise, temperature, and weather exposure) can exacerbate the symptoms of fibromyalgia, and these factors need to be modified. Optimal sleep is encouraged.

Exercise

Low-impact aerobic exercises, such as swimming, cycling, walking, and stationary cross-country ski machines, can be effective fibromyalgia treatments. Exercise regimens are most beneficial when performed on an every-other-day basis, in the morning. How exercise benefits fibromyalgia is unknown. Exercise may exert its beneficial effect by promoting a deep level of sleep (non-REM sleep). Sometimes physical therapy can be helpful to optimally guide the exercise plan.

Fibromyalgia diet

Similarly, avoiding alcohol and caffeine before bedtime can also help promote a more restful sleep. Foods that lead to comfortable sleep should be favored. While these dietary changes may not apply to everyone, they can be very helpful for some. There is no specific fibromyalgia diet or food supplements that are recommended for all patients. When patients have accompanying irritable bowel syndrome, the diet should be adjusted to not aggravate the bowels. Likewise, when patients have accompanying interstitial cystitis, foods that irritate the bladder should be avoided.

Fibromyalgia medications

Traditionally, the most effective medications in the treatment of fibromyalgia have been the tricyclic antidepressants, medications traditionally used in treating depression. In treating fibromyalgia, tricyclic antidepressants are taken at bedtime in doses that are a fraction of those used for treating depression and actually can be beneficial as sleep aids. Tricyclic antidepressants appear to reduce fatigue, relieve muscle pain and spasm, and promote deep, restorative sleep in patients with fibromyalgia. Scientists believe that tricyclics work by interfering with a nerve transmitter chemical in the brain called serotonin. Examples of tricyclic antidepressants commonly used in treating fibromyalgia include amitriptyline (Elavil) and doxepin (Sinequan).

Studies have shown that adding fluoxetine (Prozac), or related medications, to low-dose amitriptyline further reduces muscle pain, anxiety, and depression in patients with fibromyalgia. The combination is also more effective in promoting restful sleep and improving an overall sense of well-being. These two medications also tend to cancel out certain side effects each can have. Tricyclic medications can cause tiredness and fatigue, while Prozac can make patients more cheerful and awake. A study of patients with resistant fibromyalgia found that lorazepam (Ativan) was helpful in relieving symptoms. Prozac has also been shown to be effective when used alone for some patients with fibromyalgia. Trazodone can be taken at bedtime to improve sleep when tricyclic antidepressants are not tolerated.

In 2007, pregabalin (Lyrica) became the first medication approved specifically for treating fibromyalgia. Lyrica may work by blocking nerve pain in patients with fibromyalgia. Lyrica has advantages of flexible dosing that can be adjusted according to persisting symptoms. A related medication, gabapentin (Neurontin), is also used to treat fibromyalgia.

More recently, drugs that simultaneously increase the amount of two brain nerve transmitters, serotonin and norepinephrine, have been approved to treat fibromyalgia in adults. These drugs include duloxetine (Cymbalta) and milnacipran (Savella). Research studies have shown significant effectiveness in decreasing pain and improving function in patients with fibromyalgia with these drugs. Cymbalta has been effective in treating depression and relieving pain in people with depression and is also used to treat anxiety.

Other fibromyalgia treatments

Local injections of analgesics and/or cortisone medication into the tender point areas can also be helpful in relieving painful soft tissues, while breaking cycles of pain and muscle spasm. Some studies indicate that the pain reliever tramadol (Ultram) and tramadol/acetaminophen (Ultracet) may be helpful for the treatment of fibromyalgia pains. The muscle relaxant cyclobenzaprine (Flexeril) has been helpful for reducing pain symptoms and improving sleep.

The nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs), while very helpful in treating other rheumatic conditions, have only a limited value in treating fibromyalgia pain. Narcotic pain relievers and cortisone medications have not been shown to be beneficial in this condition. Narcotics and cortisone medications are avoided because they have not been shown to be beneficial, and they have potential adverse side effects, including dependency, when used long term.

Both biofeedback and electroacupuncture have been used for relief of symptoms with some success. Standard acupuncture has also been reported to be effective in treating some patients with fibromyalgia. Massage therapy is beneficial for some.

Of note, there are many other modalities and medications that are touted to be helpful for patients with this chronic condition. Unfortunately, most have no scientific basis for their usage. This includes guaifenesin (Humibid, Humibid LA, Robitussin, Organidin NR, Fenesin), copper bracelets, and magnets. Consumers should be especially cautious when products come with marketing claims such as “will cure,” “ancient remedy,” “has no side effects,” and “revolutionary new scientific breakthrough.”

What is the outlook (prognosis) for patients with fibromyalgia?

The outlook for patients with fibromyalgia is generally quite good. It is important to note that fibromyalgia is not an organ-threatening illness. Those patients with an approach to treatment that involves optimal understanding of the condition, as well as sleep improvement, stress reduction, and exercise, tend to do best.

Can fibromyalgia be prevented?

There is no method of preventing fibromyalgia. Exacerbations of fibromyalgia can be minimized with exercise, promotion of optimal sleep, stress reduction, and proper medical treatment.

What is in the future for fibromyalgia therapy?

The key to unlocking the mystery of fibromyalgia has yet to be found. Research scientists have been studying numerous viruses as potential causes for fibromyalgia. Identification of an infectious agent or toxin which causes the disease may one day lead to a laboratory test that can help doctors diagnose fibromyalgia. Specific fibromyalgia treatment aimed at a cure awaits future research that uncovers the exact cause of the disease.

Recent scientific studies suggest that a specific area of the brain called the insula may be involved in the pathophysiology of fibromyalgia. New drugs may be developed that block substance P or nerve growth factor to relieve pain of fibromyalgia. Many fibromyalgia patients can be helped by improved patient education, proper exercise, and medications. With ongoing research, the future prognosis will certainly improve for those affected by fibromyalgia.

Where can people find more information about fibromyalgia and support groups?

Arthritis Foundation
PO Box 19000
Atlanta, GA 30326

National Fibromyalgia Association

American Fibromyalgia Syndrome Association

REFERENCES:

Klippel, John H., et al., eds. Primer on the Rheumatic Diseases. 13th ed. New York: Springer and Arthritis Foundation, 2008.

Rao, Srinivas G., Judith F. Gendreau, and Jay D. Kranzler. “Understanding the Fibromyalgia Syndrome.” Psychopharmacol Bull. 40.4 (2008): 24-56.

Filed under: Uncategorized

Tahun Baru Cina-Gong xi fa cai

Tahun Baru Cina merupakan perayaan terpenting orang Cina bagi menyambut tahun baru dalam kalendar qamari Cina. Kalendar qamari Cina terbahagi kepada kitaran 12 tahun dan dinamakan sempena nama haiwan. (Lihat Tarikh perayaan di bawah.)

Tahun Baru Cina melambangkan permulaan, titik permulaan dalam nasib dan kehidupan. Sebelum hari tahun baru bermula, sanak saudara yang jauh akan kembali berkumpul. Rumah akan dicuci dan segala hutang-piutang dikutip atau dibayar agar mereka tidak sentiasa dikelilingi hutang sepanjang tahun yang baru. Mercun dibakar pada tengah malam bagi menandakan bermulanya tahun baru dan bagi menghalau puaka dan nasib malang. Rumah-rumah dihiasi dengan buah limau sebagai simbol murah rezeki, bunga dan pokok limau.

Tahun Baru Cina diraikan dengan jamuan yee sang dan kuih bakul. Kaum keluarga akan makan besar dengan masakan tradisi seperti daging itikdaging salaisosej, kuih pulut, danlimau mandarin. Golongan muda pula akan melawat golongan tua dan menerima wang ang pau dalam sampul merah bagi melambangkan nasib baik, yang diberikan oleh orang yang berkeluarga kepada mereka yang masih belum kahwin. Perarakan tarian naga atau singaakan diadakan, dengan kereta berhias yang diiringi bunyi gendang. Lima belas hari selepas perayaan Tahun Baru Cina, perayaan Tahun Baru Cina ditamatkan dengan perayaan Chap Goh Mei.

Tahun Baru Cina disambut di negara-negara dan wilayah-wilayah yang diduduki oleh ramai orang Cina, seperti Tanah Besar ChinaHong KongIndonesiaMacauMalaysiaFilipina,Singapura,[1] TaiwanThailand, dan juga di Pekan Cina di merata dunia. Tahun Baru Cina juga disetempatkan bangsa-bangsa yang kuat dipengaruhi dengan budaya Cina (termasuk memakai takwim qamari Cina), termasuk Korea (Seollal), Tibet dan Bhutan (Losar), Mongolia(Tsagaan Sar), Vietnam (Tết), dan Jepun hingga tahun 1873 (Oshogatsu).

Ucapan

Tahun Baru Cina diserikan dengan ucapan yang diucap dengan kuat dan ghairah, yang dikenali sebagai “ungkapan pembawa tuah” (Cina Tradisional: 吉祥話, Cina Ringkas: 吉祥话, pinyinjíxiáng hùa).

Selamat Tahun Baru

“Selamat Tahun Baru” (Tulisan Cina Tradisional: 新年快樂; Tulisan Cina Ringkas: 新年快乐; pinyinxīnnián kuàilèBahasa Kantonis (Yale):sānnìhn faailohkbahasa Hokkien (POJ): Sin-nî khòai-lo̍k) ialah ucapan kontemporari yang mencerminkan pengaruh barat ini diterjemah secara literal dari ucapan Happy new year yang kerap didengar di negara Barat. Namun di bahagian utara China, “guò nián hǎo” (Cina Tradisional: 過年好, Cina Ringkas: 过年好) yang dijadikan ucapan tradisi, bagi membezakannya dari Tahun Baru antarabangsa, boleh dipakai dari hari pertama hingga hari kelima tahun baru.

Gong xi fa cai

Kung Hei Fat Choi di Lee Theatre Plaza, Hong Kong

Gong xi fa cai” (Tulisan Cina Tradisional: 恭喜發財; Tulisan Cina Ringkas: 恭喜发财; pinyingōngxǐ fācáiBahasa Kantonis (Yale)gūnghéi faatchòihbahasa Hokkien(POJ): Kiong-hí hoat-châibahasa HakkaKung hei fat choi), yang diterjemah sebagai “Tahniah dan semoga mendapat rezeki”. Ungkapan ini yang sering tersalah angggap sebagai bersinonim dengan “Selamat tahun baru” mula digunakan berabad-abad lalu. Dua aksara pertama ungkapan ini mempunyai kepentingan sejarah yang lebih lama (menurut legenda, ucapan tahniah adalah bagi kejayaan menghadapi raksasa Nian dengan selamat, namun secara praktis ini juga boleh melibatkan kejayaan mengharungi keadaan musim sejuk yang teruk)[21]; manakala dua aksara terakhir ditambah sebagai menyentuh idea kapitalisme dan konsumerisme yang makin penting di kalangan masyarakt Cina seluruh dunia. Ucapan ini kerap didengar di kalangan komuniti yang berbahasa Inggeris sewaktu Tahun Baru Cina di beberapa tempat dsi dunia yang mempunyai komuniti berbahasa Cina yang ketara, termasuk komuniti pendatang Cina yang lama menetap selama beberapa generasi, serta pendatang baru dari tanah besar China, Hong Kong, Macau dan Taiwan, dan pendatang transit (khususnya golongan siswa).

Ucapan lain

Terdapat ucapan lain bagi Tahun Baru Cina, antaranya boleh dijerit dengan sekuatnya tanpa mengira penerima dalam situasi tertentu. Contohnya, memecah objek ketika tahun baru dianggap tidak bagus, dan jika berlakunya sedemikian “Suìsuì píng’ān” (Cina Tradisional: 歲歲平安, Cina Ringkas: 岁岁平安) diucapkan serta-merta, yang bermakna “semoga keamanan berkekalan tahun demi tahun”. 歲 (Suì, bermaksud “usia”) sama bunyi dengan 碎 (“pecah”), sebagai demonstrasi bagi kegemaran orang Cina “bermain-main” dengan perkataan dalam bahasa mereka. Melalui cara yang sama, 年年有餘 (Niánnián yǒuyú), hajat penambahan hasil setiap tahun, memanipulasi suku kata yú yang juga ditulis 魚 (ikan), menjadikannya ungkapan utama bagi sajian tahun baru berikan dan juga lukisan dan grafik ikan yang digantung pada dinding atau dijadikan hadiah.[3][10]

Ucapan-ucapan ini juga diujar sebelum menerima angpau oleh kanak-kanak, apabila bertukar hadiah, menziarahi tokong, atau ketika melambung ramuan-ramuan yee sang di Malaysia dan Singapura.

Kanak-kanak nakal sering berjenaka dengan mengucap (Cina Tradisional: 恭喜發財,紅包拿來, Cina Ringkas: 恭喜发财,红包拿来, pinyin:Gōngxǐ fācái, hóngbāo nálái), yang diterjemah menjadi “Tahniah dan semoga peroleh rezeki, mintalah bagi ang pau.”

Pantang-larang sewaktu perayaan

Tuah baik

  • Membuka pintu dan tingkap dianggap menjemput masuk tuah pada tahun baru.
  • Membiarkan lampu menyala semalaman dipercayai menghalau hantu dan puaka pembawa musibah yang mampu mempengaruhi nasib sekeluarga sepanjang tahun.
  • Gula-gula dan manisan dimakan untuk “memaniskan” nasib sepanjang tahun bagi pemakannya.
  • Pembersihan rumah di setiap sudut wajib dilangsungkan sebelum hari tahun baru agar mudah menerima tuah bagi tahun yang menjelang.
  • Ada orang yang percaya bahawa apa yang berlaku pada hari pertama mencerminkan peristiwa yang akan berlangsung sepanjang tahun. Maka, orang Asia mengambil kesempatan untuk berjudi pada hari pertama ini bagi menaruh harapan untuk menambah kekayaan.
  • Memakai selipar baru yang dibeli sebelum tahun baru bermaksud memijak orang yang bergosip tentang pemakainya.

Nasib Malang (“Tuah buruk”)

  • Membeli kasut baru dianggap pembawa malang bagi sesetengah orang Cina kerana perkataan bahasa Kantonis bagi “kasut” sama bunyinya dengan perkataan “kasar” atau “sukar”.
  • Membeli seluar baru juga dipandang sebagai pembawa malang kerana perkataan Kantonis bagi “seluar” sama bunyinya dengan “pahit”. (Namun ada yang menganggapnya sebagai positif, kerana perkataan bagi “seluar” dalam dialek itu juga sama bunyinya dengan “kaya”.)
  • Menggunting rambut juga ditegah kerana perkataan bagi rambut sama bunyinya dengan hasil. Maka menggunting rambut juga dipandang sebagai “memotong hasil dalam bahasa Kantonis”.
  • Mencuci rambut juga dianggap sebagai mencuci keluar kekayaan (namun perihal kebersihan sering telah mengatasi tradisi ini.)
  • Menyapu lantai juga dilarang pada hari pertama kerana ini akan menyapu keluar tuah bagi tahun baru.
  • Perbualan mengenai kematian juga kurang sesuai bagi beberapa hari terawal Tahun Baru Cina kerana ini turut dianggap tidak bagus.
  • Membeli buku juga membawa malang kerana perkataan sesetengah dialek Cina bagi “buku” sebunyi dengan perkataan bagi “kalah”.

Rujukan

  1.  http://www.yoursingapore.com/content/traveller/en/browse/whats-on/festivals-and-events/chinese-new-year.html
  2.  “Nian”. About.com. Dipetik 2008-01-21.
  3. ↑ 3.0 3.1 3.2 3.3 “春节 CHUNJIE, Spring Festival (The Chinese New Year) (1st of the 1st month)”. huayinet.org. Dipetik 2008-01-21.
  4. ↑ 4.0 4.1 “Chinese New Year’s Eve Dinner aka Reunion Dinner”. Everything2. 2004-01-20. Dipetik 2008-01-21.
  5.  “Chinese New Year Customs Around the World”. Quick Brown Fox. 2006-03. Dipetik 2008-01-21.
  6. ↑ 6.0 6.1 “Celebrating Chinese Lunar New Year in a Cantonese’s Way”. Dipetik 2008-01-21.
  7.  “Chinese New Year”. Kiwi Families for Passionate Parents. Dipetik 2008-01-21.
  8. ↑ 8.0 8.1 “Yan Yat: Everybody’s Birthday”. Christine O’Keeffe’s New Year Legends. Dipetik 2008-01-21.
  9. ↑ 9.0 9.1 “Lo Hei”. Mana Makan – The Feast Crusade. 2006-01-28. Dipetik 2008-01-21.
  10. ↑ 10.0 10.1 10.2 “Yu San (Chinese New Year Fish Salad)”. DimSum. 2001-01-01. Dipetik 2008-01-21.
  11.  “Chinese New Year”. HK Information. Dipetik 2008-01-21.
  12.  Firecrackers Singapore
  13.  Yardley, J.. “Bang is back for Beijing’s New Year“, International Herald Tribune, 2006-01-27.
  14.  Book soul 1970
  15.  Chingay Past
  16.  Akbur M., Peer (2002). Policing Singapore in the 19th and 20th centuries, 100, Angkatan Polis SingapuraISBN 981-04-7024-X.
  17.  ”Singkawang dan Pinyuh Sepi Petasan, YBS Setuju Imlek Tanpa Petasan“, Equator Online, Kalbar, 2003-01-30.  Dipetik 2008-01-21.
  18.  ”Can you pig it? New York goes hog-wild for Chinese New Year“, New York Post, 2007-02-17.
  19.  “HAPPY NEW YEAR part 3, News Archive – Feb 2003″. 2003-02-03. Dipetik 2008-01-21
  20.  “fu dao”. Everything2. 2002-12-23. Dipetik 2008-01-21.
  21.  ”The origins and meaning of Gong Xi Fa Cai“, Daily Express, 2007-02-17.  Dipetik 2008-01-21.

Filed under: Uncategorized

Benarkah Syiah Indonesia Tak Merisaukan? (Tanggapan terhadap Rektor IAIN Sunan Ampel)

Oleh: Kholili Hasib, M.A
Alumnus Program Pasca Sarjana Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Gontor Ponorogo

Beberapa kalangan menyebut penganut Syi’ah di Indonesia berbeda dengan di Iran dan Irak. Salah satu di antaranya Prof. Dr. Nur Syam, Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya, di harian Surya, Sabtu (31/12/2011) mengatakan bahwa Syi’ah di Indonesia telah ‘mengindonesia.’ Syiah  telah beradaptasi dengan kultur Indoensia, sehingga Syi’ah Indonesia tidak perlu dirisaukan. Benarkah demikian?

Dalam konteks ini, menarik jika kita membaca hasil penelitian disertasi Prof. Dr. Mohammad Baharun, M.Ag di IAIN Surabaya tentang karakter Syi’ah Indonesia. Menurut Rektor Universitas Nasional Pasim Bandung ini, Syi’ah di Indonesia itu tidak monolitik. Meski begitu, penelitian Prof. Baharun selama bertahun-tahun itu menyimpulkan, bahwa mereka disatukan oleh satu doktrin esensial, yakni doktrin Imamah.

Ternyata, faktor perbedaan karakter Syi’ah di Indonesia itu bukan karena budaya, kultur keindonesiaan. Akan tetapi, tingkat pemahaman penganut Syi’ah terhadap doktrin Imamah itu yang melahirkan tipologi yang berbeda. Adapun faktor budaya dan kultur Indonesia hanya mewarnai kulitnya saja, tidak sampai kepada mengubah pandangan akidah, atau doktrin-doktrin utamanya. Kesimpulannya, pada dasarnya Syi’ah di Indonesia itu menurut Prof. Baharun sama dengan Syi’ah di Iran yakni Syi’ah ‘Istna Asyariyah. Apalagi, penyebarannya dibawa oleh orang-orang Indonesia alumni Universitas Qom Iran.

Doktrin Utama

Akidah yang paling sentral dan sifatnya mutlak dalam Syi’ah Itsna ‘Asyariyah adalah akidah Imamah. Mengimani dua belas Imam yang disebutnya ma’shum (bebas dari kesalahan), sebagaimana kema’shuman para Nabi. Dalam pengertian Syi’ah, Imammah ini bukan seperti Imamah dalam konsep Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Akan tetapi imamah adalah doktrin primer  dalam ideologi dan teologi.

Dalam pemahaman Ahlus Sunnah Imamah disebut pula khalifah, yaitu penguasa dan pemimpin tertinggi rakyat sesudah Nabi SAW. Kata imam pun disebut dalam al-Qur’an dengan berbagai bentuk, selain berarti pemimpin juga bermakna lain, misalnya yang disebut dalam QS. Al-Ahqaf Imam bermakna al-Qur’an. Kata imam juga memiliki arti pemimpin pasukan dan pengatur kemaslahatan (QS. Al-Baqarah: 24). Imam dalam pengertian di sini bukan pemimpin pengganti Nabi SAW.

Dalam hadis Nabi SAW, dapat ditemukan istilah-istilah imamah, khilafah, dan imarah yang semuanya bermakna pemimpin. Baik pemimpin shalat, atau pemimpin kenegaraan. seperti hadis Nabi SAW yang menyuruh Abu Bakar r.a mempimpin shalat ketika Nabi SAW sedang sakit. “Dari Abdullah ia berkata: Ketika Rasulullah SAW wafat, maka kaum Anshar berkata: “Sebaiknya dari kami dipilih seorang pemimpin dan dari kalian seorang pemimpin.” Umar ra bertanya;” Apakah kalian tidak tahu bahwa Rasulullah SAW memilih Abu Bakar untuk menjadi imam dalam shalat?” Karena itu jika salah satu dari kalian yang lebih afdhal dari Abu Bakar, maka belakangilah (tinggalkan) Abu Bakar. Mereka menjawab: “Kami berlindung dari Allah untuk membelakangi Abu Bakar”.

Bagi Syi’ah Imamiyah, memahami hadis-hadis doktrin imamah bukan saja harus bersumber dari Rasulullah SAW, namun juga dari para imam dua belas sebagai manusia-manusia suci (ma’shum). Kemutlakan imam sebagai pemimpin yang bebas dari dosa berimplikasi kepada konsep hadis. Ucapan-ucapan para imam disebut hadis. Seperti yang ditulis dalam al-Kafi Jilid I halaman 52 hadis no. 14: “Abu Abdillah as (Imam Ja’far al-Shadiq) berkata, bahwa hadisku adalah hadis ayahku (imam Muhammad al-Baqir), hadis ayahku adalah hadis kakekku (Imam Ali Zainal Abidin), hadis kakekku adalah hadis al-Husein (imam ke-3), hadis al-Husein adalah hadis al-Hasan (imam ke-2) dan hadis al-Hasan adalah Hadis Amir al-Mu’minin (Imam pertama), dan hadis Amir al-Mu’minin adalah hadis Rasulullah SAW sedang hadis Rasulullah SAW adalah firman Allah SWT”.

Kategorisasi dan parameter pengukuran hadis disebut shahih atau tidak juga berbeda dengan hadis dalam konsep Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Menurut Syi’ah, hadis disebut shahih dengan syarat; Pertama, karena hadis itu diriwayatkan dari sumber yang dipercaya. Kedua, karena hadis itu sejalan dengan dalil lain yang bersifat pasti (qat’i) dan sejalan pula dengan konteks yang dipercaya. Dari pemahaman seperti ini (hadis Nabi identik dengan hadis para Imam), maka doktrin imamah dalam Syi’ah Itsna ‘Asyariyah adalah satu keniscayaan. Dimananpun Syi’ah dua belas berada, pasti mengamalkan doktrin esensial ini.

Saya pernah mengonfirmasi doktrin ini ke sejumlah orang-orang dan lembaga pendidikan Syi’ah di Jawa Timur. Mereka jujur meyakini bahwa perkataan Imam itu disebut hadis, dan katanya tidak mungkin salah. Perkataan imam menjadi hukum yang pasti.

Dalam pandangan mereka, imamah itu penerus nubuwwahyang ditunjuk berdasarkan nash  Ilahi, karena ucapan-ucapan para Imam itu adalah identik dengan hadis Nabi yang bersumber dari wahyu Allah SWT.

Sejumlah kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah di daerah Jawa Timur menilai ajaran ini aneh. Seringkali perdebatan-perdebatan mewarnai di daerah ini. Menurut mereka ajaran aneh ini bertentangan dengan ajaran para pendahulu. Lebih menghawatirkan lagi jika perdebatan mereka sampai kepada debat tentang keadilan sahabat. Saya mendapat informasi dari beberapa orang di Pasuruan, Jember dan Bondowoso, kalangan Sunni merasa gerah dengan ajaran Syi’ah yang merendah-rendahkan sahabat Abu Bakar, Umar dan ‘Aisyah istri Rasulullah SAW. Sebelum isu bentrok Syi’ah merebak, ada pengikut Syi’ah yang terang-terangan mengucapkan penistaan. Bahkan penistaan blak-blakan ditulis aktivis Syi’ah di jejaring sosial.

Pengikut Syi’ah memang ada yang terang-terangan ada pula yang mengajarkan secara tertutup untuk kalangan mereka sendiri. Ragam respon penganut Syi’ah itu juga dipengaruhi oleh tingkat pemahaman mereka terhadap doktrin kemutlakan imamah.

 

Model penghayatan terhadap akidah imamah yang bertingkat-tingkat itu melahirkan model perilaku pengikut Syi’ah yang berbeda pula. Selain itu pola adaptasi Syi’ah di tengah mayoritas Sunni juga mempengaruhi perilaku pengikut Syi’ah Imamiyah. Umumnya, Syi’ah enggan berterus terang kepada kelompok lain, kecuali kepada sesama ikhwan Syi’ah.

 

Seperti dalam kesimpulan Prof. Dr. Mohammad Baharun dalam penelitian Syi’ah di Jawa Timur,  bahwa lahirnya tipe-tipe Syi’ah itu tergantung seberapa banyak mereka menyerap doktrin imamah yang diajarkan. Ada tiga tipe yang ditemukan Prof. Baharun:

 

1. Syi’ah ideologis. Jama’ah Syi’ah imamah ini dididik secara sistematis, intens, serius melalui program kaderisasi. Ada yang dikader melalui pesantren ada pula di lembaga pendidikan formal. Materi-materinya meliputi mantiq, filsafat dan akidah-akidah penopang seperti konsep imamah. Kader ini ini biasanya menjadi pengikut yang militant yang tidak saja memahami teologi namun sekaligus ideology yang bersumber dari imamah. Banyak dari kader tipe ini yang disekolahkan ke pusat Syi’ah di kota Qom Iran.

 

2. Syi’ah “Su-Si”. Jama’ah Syi’ah model ini diperkenalkan melalui pengajian dan selebaran. Sasarannya biasanya para santri di pondok pesantren. Ada pula yang semula bersimpatik kepada Syi’ah. Model pendekatannya tidak terlalu intensif bahkan kadang setengah-setengah. Rata-rata mereka tidak memahami referensi-referensi penting Syi’ah. Pemahamannya setengah-setengah. Saya pernah menjumpai tipe ini di sebuah daerah di Pasuruan. Orang tersebut mengaku Sunni, akan tetapi ia juga mengikuti ritual-ritual yang diadakan oleh Syi’ah, seperti karbala, menghormati para dua belas Imam, dan mengkultuskan Khomeini. Ketika shalat orang itu mengikuti cara ala Sunni. “Syi’ah sama saja, yang berbeda kulitnya. Maka saya ambil yang sekiranya baik dari Syi’ah dan Sunni”, begitu alasan tipe Su-Si. Namun tetap orang tersebut mengimani dua belas Imam sebagai pemimpin pengganti Nabi SAW. Ada pula tipe ini adalah calon kader militan. Seperti sebuah tahapan untuk meningkat ke jenjang berikutnya.

 

3. Syi’ah Simpatisan. Biasanya mereka pemuda yang gemar pemikiran filsafat Syi’ah. Jama’ah ini mengenal Syiah imamah melalui buku-buku, seminar yang diadakan di kampus-kampus dan pendekatan individual. Mereka juga mengagumi Revolusi Iran yang dipelopori Khomeini tahun 1979. Mereka memahami pemikiran aja. Mereka juga disebut Syi’ah pemikiran. Mereka bersifat lebih adaptif dengan Sunni tapi mereka elaboratif dalam memahami Syi’ah dua belas.

 

Syi’ah Imamiyah di Indonesia khususnya di Jawa Timur pada dasarnya memiliki rujukan-rujukan yang sama. Yang berbeda itu tingkat memahami rujukan-rujukan tersebut. Boleh jadi Syi’ah Simpatisan atau Syi’ah ‘Su-Si’ meningkat menjadi Syi’ah Ideologis, setelah mereka memahami dan memasuki kader intensif.

 

Syi’ah Ideologis yang militan pun bisa sangat adaptif, meski keyakinannya termasuk fundamental. Alasannya mereka itu untuk berdakwah lebih dekat dengan Sunni, sebagai sebuah strategi merekrut anggota.

 

Pola adaptif di tengah mayoritas Sunni di Indonesia dipraktikkan sejak awal dari strategi seoranttokoh senior Syi’ah di kota Bangil Pasuruan. Majalah AULA – majalah milik Nahdlatul Ulama– pada edisi November 1993 pernah menurunkan berita tentang strategi Syi’ah berdakwah di Indonesia. AULA mengutip sebuah surat rahasia dari seorang di Iran. Berikut sebagaian isi surat tersebut:

 

“Saya ucapkan terima kasih kepada tuan atas usulan yang benar terhadap saya dan sudah lama menjadi pemikiran saya. Yaitu sejak kemenangan Imam atas Syi’ah. Walaupun saya tangguhkan hal itu, namun saya tidak ragu sedikitpun tentang kebenaran Ahlul Bait dan bukan karena takut kepada orang-orang atau jika saya tinggalkan taqiyah maka bukan supaya dipuji orang-orang. Sama sekali tidak! Akan tetapi saya sekarang mempertimbangkan situasi disekitar saya. Fanatisme Sunni secara umum masih kuat. Untuk mendekatkan mereka (kaum Sunni), saya ingin nampak dengan membuka kedok, kemudian membela serangan ulama mereka yang Nawasib (anti Syi’ah) mereka akan mengatakan: Syi’i membela Syi’ah. Saya telah berhasil merangkul sejumlah ulama mereka yang lumayan banyaknya, sehingga mereka memahami jutaan madzhab Ahlul Bait atas lainnya. Saya anggap ini sebagai kemajuan dalam langkah-langkah perjuangan kita”.

 

Surat ini juga sempat menjadi berita heboh di Pasuruan dan membuka pikiran sejumlah orang. Banyak yang kemudian menyadari bahwa selama ini akidah Syi’ah diajarkan secara sembunyi-sembunyi. Beberapa ulama’ kemudian tertarik untuk mempelajari kitab-kitab rujukan Syi’ah yang asli, terutama kitab al-Kafi. Dari pendekatan pustaka ini banyak yang sudah mengenal apa dan bagaimana Syi’ah di Indonesia.

Memang mengkaji Syi’ah secara proprosional haruslah dengan mendekati kepada litelatur-litelatur yang diajarkan oleh Syi’ah di Indonesia. Mengkaji Syi’ah dari pernyataan tokoh-tokoh Indonesia dipastikan tidak mampu mendapatkan hakikat yang sebenarnya. Sebab, mereka mengamalkan doktrin taqiyyah (pura-pura/menyembunyikan keyakinan) untuk mengelabuhi mayoritas sunni. Yang tepat, mempelajari kitab-kitab yang menjadi rujukan mereka. Tanpa itu, pengetahuan kita tentang Syi’ah remang-remang dan kabur. [voa-islam.com]

Filed under: Uncategorized

Dusta Syi’ah: Mengaku Pecinta Ahlul Bait, Padahal Menghina Rasulullah & Ahlul Bait

Syi’ah secara dusta mengaku sebagai pecinta ahlul bait. Ucapan dan perbuatan mereka bertolak belakang dengan klaim mereka. Hal seperti ini tidaklah aneh atau asing pada diri anak cucu Majusi. Mereka telah berani menginjak-injak rumah tangga Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mereka telah menghina Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam –semoga Allah melaknat mereka- mereka telah menghina istri-istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menjadi ibu-ibu bagi kaum mukminin.

Mereka juga telah berani menginjak-injak imam pertama mereka yang diyakini ma’shum. Sifat mereka ini menjadi sempurna dengan menghinakan al-Hasan, al-Husain, Ali ibn al-Hasan dan para imam lainnya. Sebagaimana pula mereka telah menghina putri-putri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan yang utama adalah Fathimah az-Zahra’ Radhiyallahu ‘Anha. Ini belum lagi dengan penghinaan mereka terhadap semua Nabi dan Rasul.

Ash-Shadug di dalam kitab “al-Amal” meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepada Ali Radhiallahu ‘Anhu: “Seandainya aku tidak menyampaikan apa yang aku diperintah dengannya dari perkara wilayahmu (kepemimpinanmu) maka leburlah seluruh amalku.” (Tafsir Nur Ats-Tsaqalain, jilid I, hal 654).

Sepertinya Allah yang Maha Suci tidak mengutus Rasul-Nya yang mulia melainkan hanya untuk menyampaikan wilayah Ali. Orang-orang yang tidak tahu diri itu telah mengecilkan kedudukan Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam demi mewujudkan kepentingan dan tujuan mereka yang kotor. Ini semua mereka lakukan karena mustahil bagi mereka untuk mendatangkan bukti dan dalil tentang wilayah Ali Radhiyallahu ‘Anhu.

Al-Bahrani menukil dari as-Syyid ar-Ridah dari Ibnu Mas’ud, bahwa ia berkata: “Saya keluar menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, saya dapati beliau sedang ruku’ dan sujud, beliau berdo’a, “… Ya Allah dengan (demi) kehormatan hamba-Mu Ali ampunilah orang-orang yang bermaksiat dari umatku.” (Al-Burhan fi Tafsir Al-Qur’an, jilid IV, hal 226).

Coba perhatikanlah kenistaan ini, yang dengannya mereka ingin menunjukkan keutamaan Ali Radhiyallahu ‘Anhu di atas Rasul yang diutus sebagai rahmat untuk alam semesta dan yang menjadi sayyid bagi manusia dari awal hingga akhir, Sayyid kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

An-Nu’mani secara dusta meriwayatkan dari imam Muhammad al-Baqir ‘Alaihi Sallam, ia berkata: “Ketika imam Mahdi muncul ia didukung oleh para malaikat dan orang pertama yang membai’atnya adalah Muhammad ‘Alaihi Sallam kemudian Ali ‘Alaihi Sallam.” Syaikh ath-Thusi meriwayatkan dari imam ar-Ridha ‘Alaihi Sallam bahwa di antar tanda-tanda munculnya al-Mahdi adalah dia akan muncul dalam keadaan telanjang di depan bulatan matahari.” (Al-Kafi fil-Ushaul, jilid I, hal 504),

Perhatikan baik-baik pengakuan mereka tentang pembai’atan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian Ali Radhiyallahu ‘Anhu kepada al-Mahdi yang diduga. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah makhluk Allah yang terbaik, apakah beliau akan berbaiat kepada orang yang di bawahnya? Berbaiat kepada orang yang telanjang bulat tanpa sehelai benang pun? Kerendahan macam apa yang dialamatkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini?

Perhatikan orang-orang Syi’ah yang “dungu” itu. Mereka menetapkan telanjangnya keturunan Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan dia akan muncul di hadapan umat dalam keadaan telanjang! Apakah ini yang disebut sebagai penghormatan kepada ahlul bait? Ataukah ini justru menjadi penghinaan yang terang-terangan?!

Al-Qummi menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika ada di Makkah tidak ada orang yang berani mengganggu beliau karena kedudukan Abu Thalib. Mereka memprovokasi anak-anak kecil untuk mengganggu beliau.

Jika beliau keluar anak-anak kecil itu melemparinya dengan batu dan kerikil (dan debu). Maka beliau mengadukan hal itu kepada Ali Radhiyallahu ‘Anhu.” (Tafsir Al-Burhan, jilid II, hal 404).

Mereka meriwayatkan, ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mi’raj ke langit beliau melihat Ali Radhiyallahu ‘Anhu dan anak-anaknya yang telah sampai di sana sebelum Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Nabi mengucap salam kepada mereka. Padahal beliau telah berpisah dengan mereka di bumi. (Tafsir Al-Burhan, jilid II, hal 404).

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditanya: “Dengan bahasa apakah Rabb anda berbicara dengan anda pada waktu mi’raj?” Beliau menjawab: “Dia berbicara kepadaku dengan bahasa Ali bin Abi Thalib, hingga saya berkata “Engkaukah yang sedang berbicara kepadaku ataukah Ali?!” (Kasyf Al-Ghummah, jilid I, hal 106).

Aku memohon ampun kepada-Mu ya Ilahi…….!!! Kita biarkan kebebasan para pembaca yang mulia untuk menginterpretasikan apa yang dimaksud dengan riwayat yang keji ini!!

Mereka begitu rajin mengikuti langkah-langkah penghinaan, dengan berbagai rupa bentuk dan ukuran, sampai mereka meragukan kenabian Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam karena tiga putrinya; Zainab, Ummu Kultsum dan Ruqayyah. Hal ini terjadi ketika mereka menafikan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai bapak mereka. Mereka –semoga dilaknat oleh Allah, para malaikat dan manusia semuanya-mengatakan bahwa “Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak melahirkan mereka, tetapi mereka adalah anak-anak tirinya.”

Muhsin al-Amin menambahkan: “Para sejarawan menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hanya memiliki empat putri, dan setelah meneliti teks-teks sejarah ternyata kita tidak mendapatkan bukti yang menetapkan adanya putri Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selain Fathimah az-Zahra’.” (Dairah al-Ma’arif al-Islamiyah asy-Syi’iyyah, jilid I, hal 27, Dar al-Ma’arif, Beirut; Kasyf al-Ghitha’, Ja’far An-Najefi, hal 5).

Apakah semisal mereka bisa disebut sebagai “pecinta ahlul bait”?!

Jika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak selamat dari kejahatan mereka, maka istri-istri beliau pun lebih tidak selamat. Bahkan telah keluar fatwa “kafir” bagi ibu-ibu kaum mukminin terutama Aisyah dan Hafshah Radhiyallahu ‘Anha. (Bihar Al-Anwar, jilid XXII, hal 227-247).

Cukuplah mengisyaratkan kepada apa yang beredar di kalangan Syi’ah bahwa firman Allah  “Dan Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat” (at-Tahrim: 10). Al-Qummi pembesar Syi’ah dalam bidang tafsir (dusta) itu menyatakan: ”Demi Allah yang dimaksud dengan pengkhianatan itu adalah zina. Artinya hendaklah menegakkan hukuman zina terhadap Fulanah yang telah melakukan zina dalam perjalanan ke Bashrah. Ada seorang laki-laki mencintainya, maka tatkala dia (Aisyah) hendak menuju Bashrah Fulan tadi berkata kepadanya: Kamu tidak halal pergi tanpa mahram. Maka dia mengawinkan dirinya dengan Fulan tersebut. (Bihar Al-Anwar, jilid XXII, hal 240-245; Tafsir al-Qummi, jilid II, hal 344).

Dan yang dimaksud dengan Fulan adalah Thalhah.

Kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa Aisyah Radhiyallahu ‘Anha adalah ibu bagi kaum mukminin semata.

Sebagaimana mereka menghina Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, putri-putrinya dan istri-istrinya, mereka juga telah menghina imam mereka yang pertama Ali Radhiyallahu ‘Anhu. (Menurut mereka), ketika mereka melukiskannya sebagai pengemis –wa al-‘iyadzu billah-. Telah disebutkan oleh Salim ibn Qais penulis buku Syi’ah pertama kali bahwa Ali telah menaikkan Fathimah di atas himar, dan ia menuntun al-Hasan dan al-Husain. Disebutkan bahwa Ali tidak meninggalkan satu shahabat pun melainkan ia telah mendatanginya di rumahnya untuk meminta haknya atas nama Allah. (Kitab Salim ibn Qais, hal 82-83).

Lihatlah penghinaan yang luar biasa ini, penghinaan terhadap Ali yang menuntun kedua putranya dan putrinya yang menaiki himar. Mereka berjalan berkeliling mendatangi rumah-rumah sahabat untuk meminta belas kasih mereka!!

Apakah sifat seperti ini layak bagi kedudukan ahlul bait dan bagi seorang pemimpin dari pemimpin-pemimpin kaum muslimin? Cerita, hikayat dan dongeng!

Sebagaimana al-Kulaini meriwayatkan di dalam al-Kafi bahwa Fathimah tidak suka diperistri oleh Ali. Riwayat itu sebagai berikut: “Tatkala Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menikahkan Ali dengan Fathimah ‘Alaihi Sallam. Ali masuk menemui Fathimah yang ketika itu ia menangis. Maka Ali menanyakan: “Apa yang membuatmu menangis?! Demi Allah seandainya dalam keluargaku ada yang lebih baik dengannya, aku tidak akan menikahkan engkau dengannya, dan aku tidak akan menikahkannya akan tetapi Allah yang telah menikahkannya”. (Al-Furu’ min al-Kafi).

Hingga imam mereka yang pertama dihina dan diturunkan derajatnya seperti ini?!

Di mana “cinta” yang selama ini diumbar? Di mana ia bersembunyi?

Disebutkan oleh al-Ashfahani dari Ibn Abu Ishaq bahwa ia berkata: “Aku dimasukkan oleh ayahku ke dalam masjid pada hari Jum’at. Ia mengangkatku maka aku melihat Ali berkhutbah di atas mimbar, dia adalah orang tua yang botak, menonjol dahinya, bidang dadanya (lebar jarak antara dua pundaknya), jenggotnya memenuhi dadanya dan lemah matanya.”(Maqatil ath-Thalibin, hal 27-48).

Sebagaimana mereka meyakini bahwa Ali adalah hewan bumi. Ja’far berkata “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendatangi amirul mukminin ketika ia tidur di masjid dan berbantal tumpukan kerikil yang ia kumpulkan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengerak-gerakkannya (menggugahnya) dengan kakinya kemudian mengatakan: “Bangunlah wahai “hewan Allah”. Maka seorang sahabatnya bertanya, “Wahai Rasulullah! Apakah sebagian kita boleh menyebut sebagian yang lain dengan nama ini?” beliau bersabda: “Tidak. Demi Allah. Nama tadi khusus untuknya.” (Bihar al-Anwar, jilid XIII, hal 213).

Inilah imam pertama mereka yang mereka katakan bahwa ia akan menjadi “Dabbah” (hewan melata)!

Betapa khawatirnya kita jika yang dimaksud adalah Ali Radhiyallahu ‘Anhu akan menjadi hewan tunggangan bagi al-Mahdi ciptaan Syi’ah. hasbunallah!!

Mereka pun telah menghina paman Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Abbas dan putranya Abdullah dan juga ‘Aqil ibn Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu. Diriwayatkan oleh al-Kulaini bahwa Sudair bertanya kepada imam Muhammad al-Baqir: “Di manakah kecemburuan (ghirah) Bani Hasyim, kekuatan (syaukah) dan bilangan mereka yang banyak itu setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika dikalahkan oleh Abu Bakar, Umar dan orang-orang munafik lainnya?” Imam Muhammad al-Baqir berkata: “Siapa yang masih tersisa dari Bani Hasyim? Ja’far dan Hamzah yang menjadi bagian “as-Sabiqun al-Awwalun” dan “al-Mukminun al-Kamilun” telah meninggal dunia. Sementara dua orang yang lemah keyakinannya, yang hina jiwanya dan yang baru kenal Islam itulah yang tersisa, Abbas dan ‘Aqil.” (Hayat al-Qulub, jilid II, hal 846; Furu’ al-Kafi, jilid III, kitab ar-Rawdhah).

Sebagaimana Syi’ah telah menuduh Ibn ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhu mencuri dari baitul mal di Bashrah sewaktu pemerintahan Ali Radhiyallahu ‘Anhu. Mereka mengklaim bahwa Ali naik mimbar dan berkhutbah ketika mendengar kabar, dia menangis dan berkata: “Ini adalah putra paman Rasulullah, dia dalam ilmu dan kedudukannya melakukan hal seperti ini…. Bagaimana bisa dipercaya orang-orang yang berada di bawah tingkatannya…. Ya Allah aku telah bosan dengan mereka, tenangkan aku dari mereka… dan cabutlah aku kepada-Mu bukan sebagai orang yang lemah.” (Rijal al-Kasysyi, hal 57).

Al-Majlisi telah menyebutkan dalam bahasa Persia yang artinya: “Muhammad al-Baqir meriwayatkan dari imam Zainal Abidin ‘Alaihi Sallam dengan sanad yang dapat diandalkan bahwa ayat ini “Barang siapa di dunia ini buta maka di akhirat dia (juga) buta dan lebih sesat jalannya (Qs Al-Isra’: 72) turun pada diri Abdullah ibn Abbas dan bapaknya.”

Inilah penghinaan Syi’ah terhadap paman Nabi, Abbas dan ‘Aqil dengan kelemahan, kehinaan dan pengecut serta tidak sempurna imannya. Begitu pula penghinaan terhadap Abbas dan putranya Habr al-Ummah Abdullah ibn Abbas Radhiallahu ‘Anhu. Adapun ayat tadi telah diturunkan tentang perihal orang-orang kafir……..Akan tetapi masalahnya bukan untuk orang yang melihat melainkan untuk orang yang memiliki!

Mereka juga telah menghina al-Hasan dengan ucapan yang sangat menyakitkan. Mereka berkata tentangnya: “Wahai orang yang menghinakan kaum mukminin.” (Rijal al-Kasysyi, hal 111).

Begitu juga mereka telah menghina Ali Zainal Abidin imam keempat yang ma’shum bagi mereka, mereka menuduhnya sebagai ornag yang pengecut dan budak. Telah disebutkan dalam al-Kafi bahwa putra Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir berkata: “Sesungguhnya Yazid ibn Muawiyah memasuki Madinah ingin menunaikan haji. Dia mengutus kepada seorang Quraisy. Setelah ia datang dia menanyainya, “Apakah engkau mengakui bahwa engkau adalah budakku, jika aku mau aku menjualmu dan jika aku mau aku menjadikan kamu budak?” Orang itu menjawab: “Demi Allah! Wahai Yazid hasabmu (kebaikanmu dan keluargamu) tidak lebih mulia dariku di kalangan Quraisy, ayahmu juga tidak lebih utama dari ayahku, waktu jahiliyah ataupun waktu Islam dan engkau juga tidak lebih mulia dan tidak lebih baik dariku dalam agama ini. Bagaimana aku mengakui permintaanmu?” Maka Yazid berkata: “Jika kamu tidak menyukainya, Demi Allah aku pasti membunuhmu.” Orang tadi menjawab: “Pembunuhan terhadapku olehmu tidak seagung pembunuhanmu terhadap al-Husain ibn Ali ‘Alaihi Sallam, putra Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” Maka dia memerintahkan untuk membunuhnya. Dan terbunuhlah dia.

Kemudian dia mengutus kepada Ali ibn al-Husain ‘Alaihi Sallam, kemudian ia mengatakan kepadanya apa yang telah dikatakan kepada seorang Quraisy di atas. Maka Ali ibn al-Husain bertanya: “Bagaimana seandainya aku tidak mau mengakui apakah engkau akan membunuhku sebagaimana engkau membunuh orang yang kemarin?” Yazid berkata: “Allah melaknatinya, ya.” Maka Ali ibn al-Husain (Ali Zainal Abidin) ‘Alaihi Sallam berkata: “Aku mengakui apa yang engkau minta. Aku adalah hamba yang dipaksa, jika kamu mau pertahankanlah aku dan jika kamu mau juallah aku.” (Ar-Rawdhah min al-Kafi, jilid VIII, hal 234-235).

Mereka menjadikan imam mereka yang tidak lain adalah cucu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mau mengakui dirinya sebagai budak yang diperjualbelikan!

Kami tidak habis pikir, bukankah orang-orang Majusi saja telah memiliki prinsip “Hidup mulia atau mati mulia”.

Kalian benar-benar telah menghina ahlul bait secara habis-habisan hingga merampas harga diri dan kemuliaan!

Adapun Muhammad al-Baqir imam kelima yang ma’shum bagi mereka, juga telah merasakan sengatan orang-orang Syi’ah. Zurarah ibn A’yun menjulukinya sebagai: “Orang tua yang tidak mengerti ilmu permusuhan”. (Al-Kafi fi al-Ushul)

Dia juga berkata: “Allah merahmati Abu Ja’afar, sesungguhnya di dalam hatiku ada unsur berpaling dari padanya.” (Rijal al-Kasysyi, hal 152, Biografi Abu Bashir).

Dia juga berkata: “Sahabat kamu juga tidak memiliki pengetahuan tentang ucapan para tokoh (orang-orang besar).” (Rijal al-Kasysyi, hal 133).

Mereka juga menjuluki Ja’far, imam yang keenam sebagai “bermuka ganda”. Pernah ia memuji Abu Hanifah di hadapan Muhammad ibn Muslim, setelah ia keluar Ja’far mencelanya. Hal ini diriwaytkan oleh al-Kulaini dalam kisah yang panjang.

Mereka menasabkannya kepada Ja’far bahwa ia berkata: “Sesungguhnya aku berbicara di atas 70 wajah, di dalam semuanya ada jalan keluar bagiku.” (Bashair ad-Darajat, jilid III).

Ahli hadits mereka, Muhammad al-Baqir al-Majlisi dalam kitan Jala’ al-‘Uyun menyebutkan: “Dari kakekku dari Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda, “Jika dilahirkan Ja’far ibn Muhammad ibn Ali ibn al-Husian maka julukilah “shadiq”, karena jika lahir anak kelima dari anak-anaknya (ash-Shadiq) yang bernama Ja’far dan mengaku sebagai imam secara dusta dan membuat kebohongan atas nama Allah, dia di sisi Allah adalah Ja’far al-kadz-dzab.” (Jala’ al-‘Uyun, Al-Majlisi, hal 348).

Yang mereka maksud dengan Ja’far al-kadz-dzab adalah putra imam yang suci salah satu imam ma’shum bagi Syi’ah. Ja’far al-kadz-dzab berdasarkan klaim mereka adalah saudara kandung imam ghaib, Muhammad al-Hasan al-‘Ashari (al-Mahdi, imam kedua belas).

Sebagaimana mereka berkata tentangnya: “Dia pelaku maksiat secara terang-terangan, fasik, rusak, pemabuk berat, tokoh paling rendah yang pernah aku lihat dan yang paling menghina diri sendiri, tak bernilai dan tak berharga!” (Jala’ al-‘Uyun, Al-Majlisi, hal 348).

Setelah ini semua apakah Syi’ah pecinta ahlul bait?! Sesungguhnya ahlul bait lebih mulia dan lebih suci dari pada bangkai-bangkai seperti mereka itu! Yang anjing pun tidak akan sudi mengendusnya!! [Syiahindonesia.com].

http://www.voa-islam.com/

Filed under: Uncategorized

Lembaga Amnesti Internasional Minta Pengikut Syiah di Indonesia Dilindungi

Lembaga Amnesti Internasional meminta kepada Pemerintah Indonesia untuk melindungi ratusan pengikut Syiah di Desa Nangkrenang, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang, Pulau Madura, yang diserang massa anti-Syiah.

 

Lembaga Amnesti Internasional Minta Pengikut Syiah di Indonesia DilindungiMenurut Kantor Berita ABNA, Lembaga Amnesti Internasional meminta kepada Pemerintah Indonesia untuk melindungi ratusan pengikut Syiah di Desa Nangkrenang, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang, Pulau Madura, yang diserang massa anti-Syiah.
Direktur Asia Pasifik Amnesti Internasional, Sam Zarifi mengatakan, pihaknya khawatir dengan kondisi desa, apalagi banyak pengikut Syiah tersebut yang sudah tidak memiliki tempat tinggal. Pengungsi Syiah akan kembali jika polisi memberi perlindungan yang memadai dan mengadili penyerang mereka dibawa ke pengadilan. “Pertanyaan serius tentang kesediaan polisi untuk melindungi komunitas ini dari serangan berbasis agama di masa depan atau untuk menahan para pelaku,” kata Sam dalam siaran persnya, Sabtu (14/1).
Menurut Sam, pada 12 Januari 2012, pemerintah setempat dengan menggunakan truk memaksa 335 pengungsi Syiah, di antaranya 107 anak-anak untuk kembali ke desanya di Nangkrenang. Sam menilai, Pemerintah Kabupaten Sampang telah memaksa pengungsi kembali ke tempat yang tidak aman, tanpa perlindungan yang jelas atau penawaran tempat relokasi alternatif, melanggar prinsip-prinsip yang disepakati secara internasional tentang hak-hak orang pengungsi internal.
Nasib pengikut Syiah di penampuangan sementara setelah serangan baru-baru ini juga memprihatinkan karena dilaporkan kekurangan air bersih dan sanitasi memadai. Amnesti International menyesalkan serangan kelompok anti-Syiah terhadap sebuah madrasah, tempat ibadah dan rumah komunitas Syiah di Nangkrenang, Sampang, Pulau Madura pada 29 Desember 2011.

Apalagi, aparat hanya diam saat terjadinya penyerangan yang dilakukan sekitar 500 orang dengan beberapa di antaranya membawa senjata tajam. “Meskipun aparat keamanan tahu tentang serangan pada hari sebelumnya, mereka tidak mengambil langkah-langkah untuk mencegah atau melindungi pengikut Syiah, tapi merekam penyerangan menggunakan kamera ponsel atau menonton serangan,” kata Sam.
Serangan tersebut, lanjutnya, bukan kali pertama dialami para pengikut Syiah. Syiah di Madura telah menghadapi intimidasi dan serangan sejak 2006.
Sam menambahkan, Amnesti Internasional telah mendokumentasikan banyak kasus intimidasi dan kekerasan terhadap kelompok agama minoritas di Indonesia oleh kelompok-kelompok Islam radikal. Salah satunya kekerasan terhadap komunitas Ahmadiyah.
Hak untuk kebebasan agama atau kepercayaan dijamin dalam Pasal 18 (1) Konvensi Internasional Tentang Hak Sipil dan Politik (ICCPR), di mana Indonesia telah meratifikasinya dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005. “Di bawah ICCPR, Indonesia harus menjamin hak untuk hidup, keamanan dan kebebasan dari penyiksaan dan perlakuan buruk lainnya. Perlindungan tersebut harus diberikan tanpa diskriminasi, termasuk atas dasar agama,” kata Sam.

 

Share

Filed under: Uncategorized

ASMAUL HUSNA

SYAHADATAIN

Pages

DEMI WAKTU

January 2012
M T W T F S S
« Dec    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 5 other followers

CATEGORIES

Tags

Flickr Photos

walk for life

Cala

nature

More Photos

Blog Stats

  • 43,858 hits

SocialVibe


Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 5 other followers

TOP RATED

 

January 2012
M T W T F S S
« Dec    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Top Rated

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.