Hati-Hati ‘Politik’ Ahok!

Ahok: negara ini rusak karena mencampuradukkan agama dan politik

Terkait

Oleh: Nuim Hidayat  

PERNYATAAN Wakil Gubernur DKI Basuki Purnama (Ahok) pada Selasa (19/02/2013) patut dicermati. Dalam seminar di hadapan para dokter, Ahok menyatakan, “Kerusakan akhlak jelas bukan soal politik, negara ini rusak karena mencampuradukkan agama dan politik. Kita bisa berdebat di luar itu, banyak orang munafik, ada nggak pejabat yang berani melaporkan harta kekayaannya dan pajak yang dibayarkannya, tidak ada yang berani Pak, munafik!” seru Ahok.

Ia juga mengatakan dunia politik dengan kemunafikan. Banyak pejabat yang mengaku berakhlak, namun kenyataan berbicara sebaliknya. “Yang penting itu tiga hal, perut, otak sama dompet,” sambung Ahok.(lihat: “Ahok: Pejabat Munafik Campuradukkan Agama dan Politik!’, itoday.co.id, 19 Februari 2013,http://www.itoday.co.id/politik/ahok-pejabat-munafik-campuradukkan-agama…)

Sebagai non Islam, Ahok mungkin tidak sadar bahwa pernyataannya itu ‘melukai’ banyak kaum Muslimin. Umat Islam di tanah air berpandangan bahwa antara Islam dan politik adalah saling terkait. Yakni ajaran Islam mesti menjadi landasan atau dasar dalam berpolitik. Islam menjadi dasar program dan moral politik.

Tokoh kenamaan politik Islam, Mohammad Natsir pernah menyinggung masalah ini. Ia menyatakan;

“Seringkali orang bertanya kenapa agama dibawa-bawa dalam politik atau politik membawa-bawa agama. Dan sering timbul pertanyaan, bagaimana dapat suatu partai politik didasarkan kepada agama, seperti halnya dengan partai politik Islam, Masyumi pada era Bung Karno. Pertanyaan itu timbul sebab seringkali orang mengartikan yang namanya agama itu hanyalah semata-mata satu sistem peribadatan antara makhluk dengan Tuhan Yang Maha Kuasa saja. Definisi ini mungkin tepat bagi bermacam-macam agama. Akan tetapi tidak tepat bagi agama yang bernama Islam yang hakikatnya lebih dari sekedar itu.”

Mantan Ketua Umum Partai Masyumi ini menjelaskan kembali, “Jika kita meminjam perkataan seorang orientalis, H.A.R. Gibb, maka kita dapat simpulkan dalam sebuah kalimat, “Islam is much more than a religious system. It is a complete civilization.” Islam itu adalah lebih dari sistem peribadatan. Ia adalah satu kebudayaan yang paling lengkap sempurna!…Oleh karena itu bagi kita seorang Muslim tidak dapat melepaskan diri dari politik. Dan sebagai orang berpolitik, kita tidak dapat melepaskan diri dari ideologi kita, yakni ideologi Islam. Bagi kita, menegakkan Islam tidak dapat dilepaskan dari menegakkan masyarakat, menegakkan Negara, menegakkan kemerdekaan.”

Berbeda dengan kalangan Kristen/Katolik yang mempunyai trauma dalam sejarahnya dalam hubungan antara politik dan agama, maka Islam justru sebaliknya.

Di masa panjang pemerintahan Islam, dimana sultan/khalifah memegang teguh ideologi Islam dan menerapkannya dalam sistem pemerintahan, yang terjadi adalah keadilan dan kemakmuran.

Lihatlah kehidupan kaum Muslimin di masa Khulafaaur Rasyidin dan juga masa Bani Umayah/Abbasiyah /Andalusia, kaum Muslimin mengalami kemakmuran dan kemajuan yang luar biasa.

Beda dengan pengalaman gereja ketika bersekutu dengan kekuasaan (kaum birokrat) di abad pertengahan Eropa, yang terjadi justru korupsi, manipulasi dan keditaktoran. Saat itu pendeta bersekutu dengan kalangan birokrat bersama-sama memeras rakyat dan juga melakukan tindakan-tindakan yang kejam terhadap para ilmuwan yang pemikirannya berbeda dengan gereja.

Maka ilmuwan kritis seperti Bruno dan Galileo mengalami siksaan yang luar biasa saat itu. Begitu pula ketika ketika kekuasaan Andalusia pindah ke Katolik (1492), Ratu Isabella bersama para pendeta melakukan siksaan yang kejam terhadap ribuan kaum Muslimin di sana. Peristiwa itu dikenal dengan nama Inkuisisi dan kemudian mengharuskan tokoh-tokoh Katolik di abad ini minta maaf atas tindakannya yang di luar nalar manusia itu. Zaman kelam menyatunya gereja dengan kekuasaan saat itu disebut dalam sejarah dengan The Dark Ages. Maka kemudian lahirlah prinsip sekulerisme: “Serahkanlah kepada  kaisar yang  menjadi  hak  kaisar dan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan!”

Moral Politik

Saat ini politik Islam di Indonesia memang menyedihkan. Tokoh-tokoh Islam, meski sebagian memegang peran dalam politik, kebanyakan kalah bermain politik dengan tokoh-tokoh lain. Yang paling jelas adalah ketika Jokowi-Ahok yang diusung partai PDIP dan Gerindra mengalahkan Foke-Nahrowi dalam pemilukada di Jakarta. Meski  Foke bukan tokoh ideal, tapi dukungan tokoh-tokoh umat tehadapnya menunjukkan ia wakil dari umat Islam. Tapi ternyata  profesionalitas Jokowi-Ahok tetap menjadi pilihan masyarakat daripada Foke yang hanya bermain simbol.

Dalam hal ini, mestinya politikus Islam menguasai keduanya. profesionalitas dan politik simbol. Bukan hanya menjagokan simbol atau slogan-slogan yang kurang bermakna karena rendahnya profesionalitas.

Kurangnya profesionalitas di kalangaan politikus Islam, kini semakin buram ditambah dengan  berkembangnya eksponen-eksponen politik Islam yang terjerat dengan kasus korupsi. Kasus terakhir adalah dugaan yang sedang menimpa pada Luthfi Hasan Ishaaq (LHI), mantan presiden PKS. Partai yang menjadi banyak harapan umat untuk menumbuhkan budaya politik Islam yang bersih, kini justru ikut kena imbas. Meskipun secara prosentase kader-kader PKS yang terkena korupsi sedikit, tapi karena partai ini membawa nama Islam/dakwah dan mengusung slogan bersih, maka noda sedikit saja akan nampak lebih besar di mata masyarakat.

Tokoh-tokoh politik Islam mestinya mulai mengambil teladan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam, sahabat, ulama atau tokoh-tokoh Islam di negeri ini dalam menjalankan pemerintahan. Mohammad Natsir mesti berpeluang menjadi seorang milyarder, tapi karena ia tokoh umat, ia tidak pernah menumpuk-numpuk kekayaan dalam rumahnya. Bahkan ketika menjadi Menteri Penerangan, bajunya paling kumal disbanding staf-stafnya. Ketika ia berhenti menjabat sebagai Perdana Menteri, ia dengan sukarela mengembalikan mobil dinasnya ke istana dan menempati rumahnya yang sangat sederhana dan tidak layak sebagai seorang mantan Perdana Menteri.

Tapi begitulah Natsir. Karena kesederhanaannya itulah ia kini terus menjadi model dan teladan bagi umat. Begitu pula ulama besar Buya HAMKA. Ia membuka layanan gratis setiap harinya di rumahnya untuk konsultasi. Rata-rata 10-15 orang tiap hari datang ke rumahnya untuk berkonsultasi masalah keluarga, anak, agama dan sebagainya. Ia tidak mau mengambil upah untuk konsultasinya itu, bahkan menempatkan kotak amal agar para pengunjung mengisinya pun ia hindari. Dengan kesederhanannya itu, HAMKA terus menjadi teladan ulama Indonesia hingga kini.

Begitu pula Prawoto Mangkusasmito, Ketua Partai Masyumi terakhir (1959-1960). Laki-laki berperawakan kurus itu memilih hidup sederhana dan menghindari bergelimang dengan duit. Bahkan untuk mencukupi kebutuhan rumahtangga, istrinya juga membantu mencari nafkah. “Ia bukan seorang politikus yang menggunakan politik untuk mencari duit. Ia berjuang untuk negara dan rakyat Indonesia dan ini kelihatan sekali daripenghidupannya,” tulis Tan Eng Kie wartawan China di Pos Indonesia, Agustus 1970.

Prawoto lahir di desa Tirto, Grabag Magelang 4 Januri 1910. Sejarah hidupnya, menggambarkan seorang pejuang politik (Islam) yang konsisten terhadap agama. Dalam soal prinsip agama, mantan guru sekolah Muhammadiyah ini mengingatkan, “Jangan tinggalkan tuntunan agama. Dipandang daripada sudut partai politik yang mendasarkan perjuangannya atas kaidah-kaidah agama, perlu kita renungkan kembali, apakah benar di dalam mengejar kemenangan-kemenangan yang bersifat sementara itu, dapat dipertanggungjawabkan jika ditinggalkan ketentuan-ketentuan yang terang nashnya dalam agama? Saya yakin tidak. Jika demikian, maka kerusakanlah yang akan menjadi bagian kita dan tidak ada guna, malah menyesatkan perkataan agama yang kita tempelkan pada papan nama kita.” (lihat buku Prawoto Mangkusasmito, 1972).

Dalam kesempatan lain, Prawoto mengingatkan kepada Presiden Soekarno yang membubarkan Partai Masyumi (1960): “Orang-orang yang benar-benar memperjuangkan Islam, tidak bisa lain dari bertujuan supaya hukum Islam berlaku dan terutama untuk si pejuang sendiri, hukum Islam dengan segala batas dan larangan-larangannya, yang tidak boleh dilanggar oleh si Muslim yang kebetulan berkuasa.”

Sebuah pesan yang sangat relevan dengan situasi politik kita saat ini. Wallahu a’lam.*

Penulis adalah dosen STID Mohammad Natsir

Rep: -

Editor: Cholis Akbar

Anak Cerdas karena Keshalihan Ayah


Anak Cerdas karena Keshalihan Ayah

Terkait

AL HAFIDZ AHMAD BIN SHIDDIQ AL GHUMARI waktu awal menuntut ilmu di Al Azhar, ia amat cepat memahami kitab-kitab yang ia baca di hadapan para gurunya. Sehingga dalam waktu singkat ia sudah mengkaji kitab-kitab tingkat tinggi.

Sampai pada suatu saat, sang guru Syeikh Muhammad Imam Saqqa yang saat itu menjabat sebagai imam masjid Al Azhar mengatakan kepada Syeikh Ahmad bin Shiddq Al Ghumari,”Ayahmu pasti laki-laki yang shalih. Yang terjadi padamu ini adalah keberkahannya tanpa diragukan. Sesungguhnya kami tidak mengetahui ada yang mampu berpindah kepada buku tingkatan tinggi dengan secepat ini. Sesungguhnya penuntut ilmu yang ada pada kami tidak akan menghadiri kajian Al Asymuni atau Ash Shaban, kecuali setelah mempelajari nahwu selama 6 tahun serta telah membaca Al Ajrumiyah dan Al Qathr lantas mengulang-ulanginya. Sedangkan engkau sudah naik kepadanya dalam waktu hanya tiga bulan”. (Bahr Al Amiq, 1/ 60-61)

Rep: Sholah Salim

Editor: Thoriq

MENGENANG PERTEMPURAN SASAK KAPUK


sasak-kapuk-640x330_c
jicadmin / August 22, 2014

Salah satu pertempuran yang heroik yang dipimpin oleh ulama Betawi terkemuka, KH. Noer Alie, terhadap tentara sekutu untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia adalah pertempuran Sasak Kapuk. Pertempuran ini dinamakan pertempuran Sasak Kapuk karena  terjadi di jembatan Sasak Kapuk, Pondok Ungu, Bekasi.  Pertempuran ini berlangsung pada tanggal 29 November 1945. Salah satu sumber tulisan saya yang terinci tentang pertempuran ini terdapat di dalam buku biografi yang berjudul “KH. Noer Alie: Kemandirian Ulama Pejuang”yang ditulis oleh Ali Anwar.

Awal pertempuran Sasak Kapuk bermula pada tanggal 23 November 1945, ketika pesawat Dakota Inggris jatuh di Rawa Gatel, Cakung, Jakarta Timur. Pesawat Dakota yang berangkat dari lapangan udara Kemayoran, Jakarta Pusat menuju Semarang itu diduga mengalami kerusakan mesin sehingga harus melakukan pendaratan daruraut sekitar jam 11.00 WIB.

Penduduk Cakung, Jakarta Timur segera mengepung pesawat, kemudian menangkap seluruh awak pesawat dan penumpangnya yang berisi 26 orang, dengan rincian 4 orang awak pesawat berkebangsaan Inggris dan 22 orang sisanya berkebangsaan India (Sykh). Setelah senjata mereka dilucuti dan tinggal memakai cawat saja, seluruh tawanan dikirim ke markas TKR Ujung Menteng, untuk selanjutnya dibawa ke markas TKR Batalyon V Bekasi, dan dijebloskan ke dalam sel tangsi polisi Bekasi. Sore harinya, pasukan berkuda dan tank Sekutu dikirim ke tempat kejadian untuk mencari pasukannya. Namun karena tidak mendapatkan hasil, pada malam harinya, mereka kembali ke Jakarta.

Esok harinya, tanggal 24 November 1945, komandan tentara Inggris di Jakarta mengeluarkan maklumat agar seluruh pasukannya yang ditawan TKR tersebut dikembalikan ke Jakarta. Tetapi, pemuda Bekasi menolaknya. Bahkan  tiga hari kemudian, seluruh tahanan dieksekusi di belakang tangsi polisi Bekasi. Rencana semula, seluruh mayat tawanan akan dibuang ke kali Bekasi. Tetapi karena kali Bekasi sedang surut sehingga mayatnya dikubur di belakang tangsi polisi yang lubang penguburannya telah disiapkan.

Atas peristiwa ini, tanggal 29 November 1945, Sekutu melakukan  penyerangan ke Cakung, Pondok Ungu dan Kranji. Sekutu menggunakan tentara Punjab ke-1/16, Skuadron Kaveleri F.A.V.O ke-11, pasukan perintis ke-13, pasukan Resimen medan ke-37, detasemen kompi medan ke-69, dan dengan 50 truk, 5 meriam serta beberapa mortir dan kanon.

Pertempuran pertama terjadi di Cakung, Jakarta Timur, yang mengakibatkan jatuh korban pada kedua belah pihak. Dari pihak Indonesia ada 13 orang. Merasakan sulitnya menembus pertahanan sampai kota Bekasi, Sekutu kemudian mundur dengan membawa pasukannya yang telah jadi korban. Namun begitu tiba di Pondok Ungu, Sekutu harus berhadapan dengan Laskar Rakyat dan penduduk kampung pimpinan KH. Noer Alie yang dibantu oleh beberapa TKR Laut. Penduduk yang telah menjadi prajurit tempur dikerahkan KH. Noer Alie untuk mengusir Sekutu yang dianggap melanggar garis demarkasi.

Gema takbir dan gema bacaan Hizbun Nasr berkumandang bersamaan dengan langkah pasukan rakyat yang dipimpin langsung oleh KH. Noer Alie. Pada awalnya, tentara sekutu terdesak oleh serangan mendadak pasukan Laskar Rakyat. Namun tidak sampai satu jam pertempuran, tentara Sekutu yang bersenjata lengkap balik menyerang sehingga pasukan KH. Noer Alie terdesak sampai ke jembatan Sasak Kapuk. Untuk menghindari korban jiwa, KH. Noer Alie menginstruksikan seluruh pasukannya untuk mundur. Sebagian pasukan mundur, namun puluhan lainnya tetap bertahan. Saat itulah, tiba-tiba mortir dan meriam Sekutu menyalak. Tidak dapat dihindari, sekitar 30 pasukan Laskar Rakyat menjadi korban. Sedangkan KH. Noer Alie yang sempat lolos dari terjangan peluru Sekutu segera menyelamatkan diri dengan cara menceburkan diri ke kali Sasak Kapuk, sambil menyusuri kali sampai ke utara.

Dari kisah pertempuran Jembatan Sasak Kapuk ini, yang menarik untuk diulas adalah Laskar Rakyat pimpinan KH. Noer Alie.  Siapakah Laskar Rakyat pimpinan KH. Noer Alie ini yang tanpa rasa takut berani mempertaruhkan nyawa dengan persenjataan minim melawan sekutu yang membawa persenjataan berat dan lengkap? Apa rahasia dibalik keberanian mereka? Menurut KH. Noer Alie, Laskar Rakyat dibentuk olehnya karena emosi rakyat tidak terkendali akibat sikap pemimpin Republik Indonesia waktu itu yang hanya bisa menghimbau agar rakyat bersikap tenang, sedangkan rakyat telah dihadapkan oleh kondisi obyektif provokasi Sektu dan NICA. Juga karena TKR (Tentara Keamanan Rakyat) yang dibentuk tanggal 5 Oktober 1945 belum mengakar dan belum berwibawa di masyarakat. Pemikiran KH. Noer Alie ini ternyata sejalan dengan Markas Umum TKR di Yogyakarta yang pada tanggal 30 Oktober 1945 mengeluarkan sebuah pernyataan umum tentang pembentukan Laskar Rakyat. Sebagian Laskar Rakyat yang dibentuk dan dipimpin KH. Noer Alie ini adalah murid-muridnya. Kepada murid-muridnya ini, KH. Noer Alie memerintahkan agar untuk sementara waktu berhenti belajar, diganti dengan berjuang fisik menggunakan senjata dalam upaya mengusir penjajah. Proses belajar mengajar akan dibuka kembali, “kelak bila perang selesai.”

Lalu, apa rahasia keberanian Laskar Rakyat ini? Untuk memotivasi dan meningkatkan keberanian para prajuritnya, KH. Noer Alie memerintahkan para Laskar Rakyat yang berjumlah 200 orang untuk berpuasa selama tujuh hari di Masjid Ujungmalang. Selama berpuasa, para prajurit diajarakan membaca doaHizbun Nasr sampai hafal. Juga ditambah dengan membaca wirid, Ratibul Haddad, shalat tasbih, shalat hajat, dan shalat witir. Jika sudah selesai, mereka dinyatakan “lulus” dengan diberi semacam ijazah yang disimbolkan dengan pemberian lempengan kaleng ukuran kecil berlatar belakang bendera merah putih dan bertuliskan kalimat La Ilaha Illa-Allah, Muhammad ar- Rasul- Allah. Setiap usai penyematan ijazah, KH. Noer Alie berpesan kepada prajuritnya agar tidak bersikap sombong dan angkuh, terutama pada saat pertempuran. Ajaran,  amalan-amalan dan wejangan dari sang ulama Betawi terkemuka “Singa Karawang-Bekasi” inillah kunci keberanian Laskar Rakyat, para pejuang dan syuhada pertempuran Jembatan Sasak Kapuk.

Akhir kalam, kini Hizbun Nasr dan Ratibul Haddad masih dibacakan oleh ulama Betawi dan murid-muridnya, latihan silat dan amalan-amalan lainnya seperti yang dikerjakan oleh Laskar Rakyat pimpinan KH. Noer Alie juga dilakukan oleh sebagian mereka untuk berjaga-jaga jika negara membutuhkan. ***

Penulis : H. Rakhmad Zaelani Kiki, S.Ag, MM (Kepala Bidang Pengkajian dan Pendidikan JIC)

Health systems financing


financing

Health financing systems are critical for reaching universal health coverage. Health financing levers to move closer to universal health coverage lie in three interrelated areas:

  • raising funds for health;
  • reducing financial barriers to access through prepayment and subsequent pooling of funds in preference to direct out-of-pocket payments; and
  • allocating or using funds in a way that promotes efficiency and equity.

Developments in these key health financing areas will determine whether health services exist and are available for everyone and whether people can afford to use health services when they need them.

Guided by the World Health Assembly resolution WHA64.9 from May 2011 and based on the recommendations from the World Health Report 2010 “Health systems financing: The path to universal coverage”, WHO is supporting countries in developing of health financing systems that can bring them closer to universal coverage.

Etika Berkomunikasi Menurut Quran


IFFAH

Kemampuan berkomunikasi merupakan sebuah instrumen dasar untuk membangun interaksi antar-sesama. Kepribadian dan pemikiran seseorang tercermin dari tutur kata yang benar dan beretika serta jauh dari segala bentuk penghinaan terhadap orang lain. Oleh karena itu, ucapan yang terukur serta penuh kelembutan dan kejujuran akan memperlihatkan nilai-nilai kemanusiaan dan merupakan manifestasi dari budi pekerti yang luhur.

Allah Swt menurunkan kitab suci al-Quran untuk memperbaiki umat manusia dan memberi petunjuk kepada mereka sehingga mendapat pencerahan di semua dimensi kehidupannya. Salah satu dimensi yang perlu dipoles dalam kehidupan manusia adalah etika berbicara. Dalam hal ini, ada sejumlah metode pendidikan dan kiat untuk memperbaiki dan menyehatkan hubungan komunikasi. Salah satu dari kiat tersebut adalah mempelajari etika berbicara dan kesantunan berkomunikasi. Kesantunan berbicara merupakan sebuah nikmat pemberian Tuhan dan simbol kepribadian mulia, sebab ucapan akan menyingkap isi hati dan batin manusia. Sementara salah satu dari sifat orang mukmin adalah berbicara dengan terukur dan bijak.

Iffah merupakan sebuah kondisi batin yang akan mencegah manusia dari mengikuti tuntutan-tuntutan hawa nafsu dan syahwat. Kondisi ini tampak di berbagai dimensi dan salah satunya ada dalam kesantunan dan kebijaksanaan berkomunikasi. Imam Ali as berkata, “Lisan seorang mukmin tersembunyi di balik hatinya (akalnya).” Oleh karena itu, ia tidak akan berbicara sembarangan dan tanpa nalar. Seorang mukmin menyadari fungsi-fungsi positif lisan dan selalu menggunakannya untuk mengingat Tuhan.

Jika lisan berada dalam kuasa seseorang dan ia mengontrolnya dengan kekuatan akal, tentu saja ia akan terhindar dari banyak keburukan dan dosa. Sebab, lisan merupakan sumber dari kebanyakan dosa dan penyimpangan. Organ tak bertulang ini dapat digunakan untuk memberi kesaksian yang benar atau palsu, menjaga kehormatan seseorang, bersikap jujur atau berdusta, memuji seseorang atau menggunjingnya, dan menebarkan kebaikan atau fitnah. Lisan yang buruk akan dibenci oleh lingkungan sekitar dan tidak seorang pun aman dari serangan kata-katanya.

Al-Quran menyeru manusia untuk menghiasi dirinya dengan tata krama dan tutur kata yang baik. Salah satu dari etika berkomunikasi yang dijelaskan al-Quran adalah membuka pembicaraan dengan ucapan salam. Dengan kata lain, seseorang harus memuliakan lawan bicaranya dan memulai pembicaraannya dengan salam sejahtera. Gaya komunikasi seperti ini akan menghadirkan ketenangan bagi lawan bicara dan memberikan rasa percaya diri kepada pembicara. Ia juga bisa tahu bahwa tujuannya dari berbicara adalah untuk menyampaikan pesan dengan kelembutan dan niat baik.

Metode seperti itu memiliki dampak yang sangat besar bagi para pendengar sampai-sampai Allah Swt dalam surat al-An’am, meminta Rasulullah Swt untuk memulai dakwahnya dengan memberikan salam. “Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah: “Salaamun alaikum.” Dalam surat al-Isra ayat 28, Allah Swt berfirman, “Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas.”

Secara umum, al-Quran di sejumlah ayatnya menyeru kaum Muslim untuk bertutur kata dengan baik, indah, dan terpuji (QS. 2:83), benar dan berdasar (QS.4:9), lemah lembut (QS. 20:44), berkesan dan jelas (QS. 4:63), mulia dan tidak membentak (QS. 23). Al-Quran menekankan untuk menggunakan kata-kata yang baik dan lembut bahkan ketika berdebat dengan orang lain. Tentu saja kita juga perlu mengingat bahwa menurut al-Quran, sebuah ucapan akan dianggap bernilai dan valid ketika dibarengi dengan nalar, hikmah, dan pemikiran yang sehat. Oleh karena itu, manusia tidak boleh mengaliri lisannya dengan kata-kata yang tidak direkomendasikan oleh akal sehat.

Al-Quran adalah panduan untuk menempa manusia yang mengajarkan etika kepada mereka dan kitab ini juga menghiasi dirinya sendiri dengan kesantunan. Al-Quran berkali-kali menyebut Tuhan dengan nama-nama yang baik atau menyeru kita untuk bersikap mulia dan santun di hadapan para nabi. Sebagai contoh, Allah Swt melarang umat Islam untuk memanggil Rasulullah Saw dengan suara lantang sebagaimana berlaku di tengah Arab badwi dan Dia sendiri juga memanggil utusan-Nya dengan baik. Dalam perkara-perkara moral, al-Quran juga meminta manusia untuk menjauhi kebohongan, ghibah, celaan, dan kata-kata kotor. Imam Ali as berkata, “Ketahuilah! Quran adalah pemberi nasehat yang tidak menipu manusia, pemberi petunjuk yang tidak menyesatkan, dan penutur yang tidak pernah berbohong.”

Para nabi merupakan pengusung panji hidayah bagi umat manusia dan memainkan peran sebagai guru akhlak di tengah masyarakat melalui perilaku mereka. Mereka adalah para guru yang menghiasi diri dengan akhlak Ilahi, sabda mereka adalah cahaya, dan ilmu mereka ialah penerang jalan kebahagiaan. Di mata manusia-manusia agung itu, lisan dan ucapan merupakan sebuah sarana untuk menyampaikan pesan, mendidik manusia, dan menyelesaikan sengketa di tengah masyarakat. Sebagai contoh, Nabi Musa as dalam menyampaikan risalahnya memohon kepada Tuhan agar diberikan kemampuan berorasi dan menyelesaikan perkara. Tidak ada seorang nabi pun yang bertindak dengan kezaliman dan bertentangan dengan prinsip-prinsip moral. Ini adalah bentuk komitmen al-Quran dan para nabi terhadap moralitas dan nilai-nilai akhlak.

Alkisah, Hujr bin Adi dan Amr ibn al-Hamiq adalah dua sosok pemberani dan setia dari sahabat Imam Ali as. Dalam peristiwa Perang Siffin, mereka menyatakan kebencian terhadap pasukan Syam dan mengeluarkan kata-kata kotor untuk mereka. Pada akhirnya berita ini sampai ke telinga Imam Ali as. Beliau kemudian mengirim pesan kepada mereka agar tidak mencaci maki dan menghina pihak lain dalam menjalankan perintah Tuhan. Mereka berdua akhirnya menemui Imam Ali as dan berkata kepadanya, “Bukankah kita berada di pihak yang benar, sementara pasukan Syam (pengikut Muawiyah) ada dalam kesesatan?” Imam Ali as menjawab, “Iya kita ada bersama kebenaran dan mereka dalam kesesatan, tapi aku tidak suka jika kalian menjadi pencela, jika sejak awal kalian menyingkap perilaku mereka dan menghitung kesesatan-kesesatan mereka, kalian akan tampak lebih jujur dalam berucap dan alasan kalian akan terlihat lebih kuat.”

Imam Ali as kemudian berkata, “Ada baiknya kita berdoa daripada mengeluarkan celaan dan bacalah doa ini, ‘Ya Tuhan! Jagalah darah kami dan mereka, perbaikilah antara mereka dan kami, berilah petunjuk kepada mereka dari kesesatan sehingga mereka yang lalai mengenali kebenaran, dan palingkanlah orang-orang yang berperang melawan kebenaran dari perbuatan buruk mereka.”

Dalam budaya Islam, menjaga etika dan kesantunan berkomunikasi merupakan bagian dari manifestasi-manifestasi luhur moral. Islam bahkan memperhatikan tinggi dan rendahnya nada bicara. Lukman Hakim dalam al-Quran mewasiatkan putranya agar tidak meninggikan suara dan berkata, “… dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS. 31:19). Salah satu bentuk kesantunan yang paling agung adalah merendahkan diri di hadapan kedua orang tua. Imam Jakfar Shadiq as berkata, “Janganlah engkau meninggikan suaramu melebihi suara ayah dan ibumu.” Imam Ali Zainal Abidin as-Sajjad as di salah satu doanya berkata, “Ya Tuhan! Lembutkanlah suaraku di hadapan ayah dan ibuku.”

Saat ini salah satu tantangan besar dalam kultur global adalah jarak dunia dengan kesantunan berkomunikasi. Kata-kata kotor telah menodai lembaran sastra dunia dan kebanyakan manusia membunuh karakter orang lain dengan celaan hanya untuk menutupi kelemahannya atau untuk mencapai kedudukan. Mungkin dapat kita katakan bahwa ada kebutuhan mendesak bagi masyarakat modern terhadap ajaran para nabi demi menjaga kesantunan berbicara. Imam Ali as berkata, “Orang yang berlisan manis akan memiliki banyak saudara.” (IRIB Indonesia / RM)

Ziarah dan Syirik


 rahbarziarahOleh  Ust  Husein Al Kaff

Sudah menjadi bagian dari budaya bangsa selama berabad abad, dan menjadi kajian ilmu tersendiri, yang tertuang di banyak kitab kitab ulama yang terserak di bumi nusantara, perihal keutamaan keutamaan yang terdapat di dalam tradisi ziarah. Tradisi ziarah yang di bawa oleh para pedagang Islam seiring dengan misi yang mereka emban, yakni penyebaran Islam di negeri ini, mendapatkan tempat di hati penduduk bumi putra. Ziarah yang merupakan salah satu dari etika Islam, rupanya selaras dengan jiwa luhur yang di miliki, bangsa yang mendiami negeri kepulauan ini. Dan seiring berjalannya waktu, kearifan budaya setempat mempersilahkan terjadinya akulturasi yang mutualis antara muatan nilai ziarah dengan kebudayaan lokal. Maka terciptalah tradisi ziarah sebagai bentuk budaya baru yang sarat dengan ajaran Islam. Dari perspektif sejarah inilah, di mulailah perjalanan syiar agama Islam hingga ke pelosok pelosok Indonesia. Hikmah dari hadirnya Islam di Tanah air kita, kemudian menjadi perekat perbedaan budaya yang ada serta menjadi Identitas bersama bangsa ini

Tradisi ziarah kubur, bukanlah sesuatu yang baru atau mengada ada, tetapi berakar jauh pada masa awal Islam, sebagai bentuk kecintaan dan penghormatan sahabat kepada Rasulullah saw, baik sewaktu beliau masih hidup maupun setelah wafatnya. Banyak sekali puji pujian yang Allah tujukan kepada beliau beserta perintah kepada manusia untuk taat, cinta dan memberikan penghormatan yang tinggi, yang tertuang di dalam Al Qur’an Al Karim. Sebagaimana firman Allah Swt berikut ini, “Janganlah kamu sekalian jadikan panggilan (kepada) Rasulullah di antara kamu, seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian yang lain.” QS. An Nur; 63.

Sementara hakikat ibadah adalah merendah, tunduk, patuh secara mutlak, tidak menyekutukan dan tidak mengingkari secara mutlak. Berkenaan dengan syirik, kalaulah definisi ini di hubungkan dengan perasaan kepada seseorang, maka manusia semenjak Adam As hingga sekarang tentulah kafir. Ini terlihat pada perasaan taat, patuh dan penghormatan seorang manusia kepada manusia, selain di tujukan kepada Allah Swt. Seperti ketaatan seorang anak pada orang tuanya, kawula kepada rajanya dan seterusnya. Niscaya, seluruh penduduk bumi pastilah kafir. Ini bertolak belakang dengan logika murni manusia dan perintah Allah untuk taat dan berbakti kepada kedua orang tua. Singkatnya, bahwa jenjang kesyirikan, bukan berdasarkan penghormatan dan pemuliaan. Dan penghormatan serta pemuliaan, secara mutlak bukan termasuk ibadah, namun hanya merupakan nilai nilai etika.

Jika kemudian, antara ziarah kubur dan syirik, tidak ada relevansinya, bahkan sebagai upaya seorang hamba untuk meraih ridha Allah Swt dan RasulNya. Ini jadi bukan sesuatu yang aneh, jika kemudian tradisi ziarah kubur di terima bangsa Indonesia dan bangsa bangsa lain di seluruh dunia karena Islam memang datang untuk memenuhi panggilan hati nurani dan menjawab tuntutannya, dan tidak mengharamkannya, selama masih sesuai dengan sasaran Islam. Karena Islam adalah agama fitrah, artinya adalah agama yang memberikan perintah dan kebutuhan alami secara seimbang, tanpa ada satu yang di abaikan dan di rugikan. Akhir kisah, selamat berziarah kubur tanpa harus takut menjadi kafir.