Revolusi Mental & Aku (Bukan) Siapa


Revolusi Mental & Aku (Bukan) Siapa

Oleh: Ammar Fauzi Heriyadi*

“Kapan terakhir bertemu dengan Megawati?” Pertanyaan itu terlontar dari wartawan Tempo hampir dua minggu yang lalu (27/1/15) kepada Presiden Joko Widodo. Dalam ketidaksabaran yang terbaca wartawan tadi, Jokowi menjawab, “Pertemuan seperti itu tidak perlu saya sampaikan kapan atau bagaimana. Urgensinya apa? Sebenarnya saya ingin pertemuan-pertemuan itu terbuka. Pers melihat supaya terang benderang. Tidak menebak-nebak. Tapi belum tentu beliau-beliau (elite partai) ini mau.”

Jawaban itu cukup menarik untuk dicermati. Pertanyaan balik, “Urgensinya apa?” sudah dijawab sendiri oleh Jokowi di awal tadi; pertemuan seperti itu tidak perlu dijelaskan kapan (waktunya) dan bagaimana (caranya).

Dalam dinamika dan doktrin politik kebanyakan politikus juga partisan, “politik itu dinamis”; waktu karenanya sangat krusial, yaitu membaca momentum. Sebelum meninggalkan tanah air Rabu lalu, misalnya, Jokowi belum bisa memberi kejelasan soal pelantikan calon kapolri Budi Gunawan yang kontroversial. “Akan diumumkan pada waktu yang tepat,” katanya. Kapan? Pastinya bukan sekarang, tapi lain hari. Hari apa? Katanya, minggu depan. Ini artinya, minimal, kurang dari tujuh hari ke depan sejak pernyataan itu menjanjikan.

Dalam ajaran “politik itu dinamis”, perubahan sikap dan pergeseran haluan lazim terjadi semudah dan secepat politikus membalik telapak tangan. Maka, hitungan kurang dari tujuh hari akan sangat berarti; entah itu urgen yang membuat orang terdesak dan kepepet, atau itu penting yang mesti dituntaskan segera tanpa kompromi.

Waktu itu definitif dan, jika kita mengaretnya, akan menjepret kita. Waktu itu pedang bermata tajam; sekali datang momentum dan kesempatan tak akan lagi menghampiri kita. Atau, pada akhirnya, kita akan ditebas ketentuan waktu hingga kita menyesal sudah mengabaikan momentum yang pernah kita kuasai sepenuhnya; entah membiarkan masalah terus berlarut dan mengeruh, terlalu besar hasrat menimang keinginan semua pihak, kening berkerut lantaran banyak berpikir dan menimbang-nimbang, atau saking asyiknya berdiskusi dengan orang luar atau dalam sampai-sampai nyaris jadi referensi dari adagium, “Terlalu banyak berpikir adalah pecundang.”

Tak ubahnya tali pecut dari karet, semakin ditarik dan diregang lebar-lebar, waktu akan terlepas atau putus untuk memastikan kekuatannya yang membuat kita malu dan terpaksa memakan nasi yang sudah jadi bubur.

Satu lagi yang menarik lagi dari ungkapan Jokowi adalah soal ‘bagaimana’. Dalam jawabannya, Jokowi mengatakan, “pertemuan seperti itu”. Kata ‘seperti’ tadi mengisyaratkan tentang bagaimana pertemuan itu dilakukan. Senasib dengan ‘kapan’, Jokowi memandang ‘bagaimana’ tidak urgen, tak perlu ditanyakan.

Tapi, entah disadari atau tidak, ia sudah menjawab, “Biasa saja, dari dulu, kan, begitu,” saat Tempo bertanya, “Sebenarnya bagaimana pola hubungan Anda dengan Megawati?” Jawaban ini tentu saja sumir; “begitu itu” bagaimana? Namun, dalam jawaban berikutnya, entah lagi-lagi sadar atau tidak, Jokowi malah membongkar sendiri, “Sebenarnya saya ingin pertemuan itu terbuka.”

Kiranya gejala ini menjadi contoh yang persis untuk sebuah ironi dalam ilmu Logika Hukum, “Apa yang dikehendaki tidak terjadi, dan apa yang terjadi tidak dikehendaki.” Sependek wawancara itu, ada dua ‘sebenarnya’: dari Tempo dan dari Jokowi. Namun, fakta yang terjadi justru saling bersilang dan menekuk prediksi keduanya.

Sulit menepis indikasi yang terlalu kuat bahwa hubungan Jokowi dan Megawati sekarang tak lagi biasa, tak lagi seperti dulu. Keinginan Jokowi untuk mengadakan pertemuan terbuka jelas-jelas bertolak belakang dengan keinginan kalangan elit partai.

Benturan kepentingan itu digadang-gaadang akan dimenangkan kalangan elit partai yang agaknya masih cukup kuat, setidaknya sampai detik ini, untuk meredam keinginan orang nomor satu di negeri ini. Maka, dalam tempo kurang dari tujuh hari, publik akan tahu, presidennya akan tampil ‘hebat’ di hadapan kepentingan yang berseberangan dengannya atau malah sebaliknya, kalah.

Pertemuan terbuka yang diinginkan Jokowi tentu saja memberi akses pada pihak pers untuk mengeksposnya ke ranah publik; kondisi yang tentu saja tidak diinginkan kalangan partai karena akan menghilangkan momentum yang ditunggu-tunggu atau merusak doktrin “politik itu dinamis”. Wajar pula bila ada pihak yang mengeluhkan seorang konsultan yang menginformasikan suasana hati dan keinginan Jokowi kepada pers untuk tidak melantik BG. Keluhan itu membuktikan bahwa indikasi itu benar adanya.

Kapan dan bagaimana hanyalah dua dari empat pertanyaan dasar untuk hidup, tetap hidup, dan menguasai hidup. Waktu dan pola merupakan dua elemen dasar yang kita butuhkan. Nilai penting waktu dan pola mengikuti kasus yang terkait; semakin besar kasusnya, semakin besar pula nilai waktu dan polanya. Hidup akan dikuasai saat seseorang menguasai waktu dan pola. Kita bukanlah pemimpin diri sendiri bila waktu  dan pola hidup serta keputusan kita diatur oleh waktu dan pola pihak lain. Pilihannya hanyalah, “Anda yang mengubah zaman atau zaman yang mengubah Anda.”

Untuk kita yang sepakat dengan nilai pola pengelolaan dalam spirit “revolusi mental”, saatnya mundur satu langkah dengan mendefinisikan diri melalui “mental revolusi”. Masalah kita bukan hanya revolusi, bagaimana revolusi, dan di sektor apa berevolusi. Juga bukan soal mental ini dan mental itu. Masalah kita justru mental itu sendiri; mental revolusi, keinginan untuk berubah, menjadi diri sendiri, menjadi bangsa mandiri, dan menjadi negawaran sejati dalam kepungan masalah dan situasi apa pun.

Mental revolusi tak akan memandang diri jadi kerdil dan inferior di hadapan “realitas politik” dan “politik itu dinamis”, kalau bukan malah menertawakan dua ajaran ini sebagai determinasi dan alasan berpolitik dan ber-revolusi. Satu langkah dalam membangun mental ini adalah mendeterminasi ketentuan waktu, membeber pola yang jelas, dan menguasai kelincahan dinamika, dimulai dengan seutas pertanyan paling fundamental yang kini telah terkubur jauh: ‘(Si)apa’. Aku siapa? Atau, aku bukan siapa-siapa? (IRIB Indonesia)

*) Doktor Filsafat Islam lulusan Universitas Al-Mustafa, Iran.

Manfaat dan Resiko Obat Asma


inhaler

Oleh: Profesor Zullies Ikawati

Bicara mengenai obat asma, tak lepas dari berbagai pilihan jenis obat yang tersedia. Mulai dari golongan obat, tujuan penggunaan, maupun bentuk sediaan. Beda golongan obat akan menunjukkan efek yang berbeda pula. Efek yang berbeda akan mempengaruhi tujuan penggunaan, apakah obat digunakan untuk mencegah atau untuk mengatasi saat asma kambuh. Sedangkan bentuk sediaan mempengaruhi onset (waktu yang dibutuhkan dari obat dikonsumsi sampai obat berefek) dan efektivitas obat sehingga biasanya menyesuaikan dengan tujuan pengobatan dan kondisi pasien. Namun yang namanya obat selain memiliki manfaat, tentu tak lepas dari risiko efek samping yang ditimbulkan. Untuk mengetahui lebih jauh, Info Obat berbincang-bincang seputar manfaat dan risiko obat asma bersama Prof.Dr. Zullies Ikawati, Apt, salah satu staf pengajar di Fakultas Farmasi UGM.

Zullies memulai penjelasan mengenai obat golongan steroid. Contoh obat golongan steroid antara lain budesonide, beclometason dan deksametason. Obat lini pertama dalam terapi asma ini umum digunakan untuk tujuan pencegahan kambuhnya asma. Kendati dapat pula untuk mengatasi keadaan saat asma kambuh. Pada terapi pencegahan yang mengharuskan pasien mengkonsumsi obat secara rutin sebaiknya menggunakan bentuk sediaan inhalasi atau lebih dikenal dengan sebutan metered dose inhaler (MDI). Penggunaan inhalasi memiliki memiliki onset lebih cepat dibandingkan dengan penggunaan per oral (obat diminum sehingga melewati saluran cerna). Efek samping pun bisa diminimalisir karena obat hanya bekerja di seputar saluran pernapasan. Mengenai isu gangguan pertumbuhan anak dan timbulnya osteoporosis akibat penggunaan steroid terus-menerus, Zullies menambahkan belum ada fakta selama obat asma digunakan dalam bentuk sediaan inhalasi. Selain dalam bentuk sediaan inhalasi, tetap tidak tertutup kemungkinan menerima obat golongan steroid dalam bentuk sediaan per oral. Efek samping dari obat golongan steroid antara lain meningkatkan tekanan dan kadar gula darah, sehingga penggunaan steroid pada pengidap hipertensi dan diabetes mellitus (DM) perlu mendapat perhatian khusus. Obat golongan steroid juga memiliki efek sebagai imunosupressan yang dapat menurunkan kekebalan tubuh. Sehingga sebaiknya tetap menjaga kondisi dan stamina tubuh selama penggunaannya. Sedangkan penggunaan steroid untuk ibu hamil dan menyusui cukup aman selama obat diberikan atas rekomendasi dokter. Bahkan sebelum melahirkan kerap dilakukan suntikan intravena obat golongan steroid untuk mencegah kekambuhan asma saat ibu melahirkan. Yang perlu diperhatikan adalah saat pasien menerima terapi pencegahan yang mengharuskan penggunaan steroid secara rutin. Selama terapi tubuh menerima steroid dari luar/eksogen yang mengakibatkan sistem endogen (hormon) dalam tubuh tidak memproduksi steroid. Karena itu, penggunaan steroid tidak boleh dihentikan secara tiba-tiba, dan dosis harus diturunkan perlahan untuk memberi waktu pada sistem endogen agar bisa kembali bekerja memproduksi steroid.

Untuk mengatasi serangan akut, obat golongan beta-agonist misalnya salbutamol menjadi obat lini pertama yang bekerja sebagai bronkodilator (merelaksasi bronkus). Obat golongan ini pun sudah banyak tersedia dalam bentuk inhalasi sehingga bekerja lebih efektif dalam mengatasi serangan akut. Pada keadaan darurat dimana pasien mengalami kesulitan bernapas yang parah digunakan metode pemberian obat secara nebulisasi. Nebulisasi merupakan metode semacam pengasapan obat yang diberikan pada pasien sehingga obat dapat masuk ke saluran nafas dalam kondisi sulit bernafas sekalipun. Sayangnya tidak semua sarana kesehatan memiliki alat nebulizer karena relatif mahal. Di samping penggunaan short acting, ada juga obat golongan beta-agonist yang bekerja long acting, misalnya salmeterol atau formeterol, yang memiliki onset dan durasi efek yang lebih panjang dibanding salbutamol. Biasanya untuk terapi pencegahan kambuhnya asma. Efek samping golongan beta-agonist cukup beragam seperti: tremor/gemetar pada tangan, sakit kepala, hipokalemia (kekurangan kalium), dan takikardi (percepatan denyut jantung). Namun efek samping tersebut tidak selalu terjadi tiap kali penggunaan obat. Muncul atau tidaknya efek samping tergantung kondisi klinis masing-masing individu. Apabila obat beta-agonist digunakan dalam jangka panjang dan secara berlebihan dapat menurunkan efektivitasnya. Hal ini disebabkan karena terjadinya desensitisasi reseptor obat, sehingga reseptor menjadi kurang peka. Karenanya perlu dosis yang lebih besar untuk memperoleh efek yang sama. Untuk itu dokter akan mempertimbangkan dosis yang paling tepat untuk pasien sesuai dengan keadaan klinisnya.

Terapi obat beta-agonist terkadang dikombinasikan dengan obat golongan antikolinergik untuk mencapai efek yang lebih baik. Sama dengan beta agonis, obat golongan antikolinergik misalnya ipratropium bromida bekerja dengan merelaksasi bronkus. Umumnya digunakan untuk mengatasi serangan akut. Efek samping yang timbul antara lain: mulut kering, mengantuk, dan gangguan penglihatan. Terutama pada penggunaan inhalasi dimana pasien melakukan teknik penyemprotan yang kurang tepat. Dalam beberapa saat mata dapat menjadi kabur. Zullies menyarankan agar pasien mengetahui teknik penggunaan inhalasi yang tepat misalnya dengan bertanya pada dokter atau apoteker. Satu lagi obat yang akrab dalam terapi asma, yaitu teofilin. Teofilin tergolong obat ’tua’ dalam arti sudah digunakan untuk terapi sejak lama. Teofilin memiliki jarak dosis terapi dan dosis toksik yang sempit. Hal ini dapat membahayakan jika pasien mengkonsumsi dosis yang berlebihan. Gejala keracunan teofilin antara lain: insomnia, sakit kepala, mual, dan takikardi. Oleh sebab itu saat ini teofilin sudah banyak ditinggalkan dalam terapi asma. Namun kadang-kadang masih tetap dipakai misalnya pada keadaan darurat, teofilin diberikan dengan menyuntikkan dalam bentuk aminofilin. Pemakaian teofilin ini dipertimbangkan karena harganya yang ekonomis. Teofilin pun masih terdapat sebagai salah satu bahan aktif obat asma yang dijual bebas. Setelah mengulas berbagai jenis obat asma, Zullies menyimpulkan bahwa obat-obat asma tersebut cukup aman. “Saya sarankan untuk penggunaan inhalasi, karena efeknya lebih cepat, sesuai sasaran karena langsung ke saluran nafas, efek sampingnya pun minimal jika dibandingkan penggunaan oral sehingga cukup aman. Dan teknik penggunaan inhalasi yang tepat sangat mempengaruhi keberhasilan terapi.”, imbuh Zullies menutup perbincangan. [Rika]

Imam ‘Ali Ridha as


MIR11
Ustadz Miftah F. Rakhmat
Dewan Syura PP IJABI

Imam ‘Ali Ridha adalah Imam ke-8 di dalam mazhab pencinta keluarga Nabi Saw. Hari ini, cucu Baginda Nabi Saw tersebut dilahirkan. Imam Ridha dilahirkan di Madinah, 11 Dzulqa’idah 148 H. Setelah ayahnya syahid, Imam Ridha menjadi Imam kaum Muslimin dengan kemuliaan akhlaknya, keutamaan ilmunya, dan kesempurnaan kepribadiannya. Beliau menjadi Imam selama 20 tahun, dan syahid pada usia 55 tahun. Pusara Imam di Mashhad, Iran menjadi satu di antara tempat yang paling banyak diziarahi. Setiap tahunnya, lebih dari seratus juta orang datang. Pada hari-hari seperti kelahiran dan syahadah, jumlah peziarah bisa lebih dari 3-5 juta orang per hari. (majulah-IJABI)


Pernyataan para ulama tentang Imam Ridha as.

Al-Waqidi: “Ali bin Musa al-Ridha mendengar hadits dari ayahnya. Ia sangat terpercaya (dalam hadits) dan ia memberi fatwa di Masjid Rasulullah Saw di saat usianya duapuluh tahunan. Ia generasi kedelapan dari para tabi’in penduduk Madinah.” (Tadzkirat al-Khawwash, 315)
MIR13

Syaikh Kamaluddin bin Thalhah: “Ali bin Musa al-Ridha mewarisi kedua kakeknya (Ali bin Abi Thalib dan Ali bin Husain) dengan keagungan imannya, keluhuran derajatnya, dan ketinggian kedudukannya. Hujjahnya telah tampak, pecintanya banyak, hingga Khalifah al-Ma’mun memberinya tempat yang utama, menjadikannya serikat dalam kekuasaannya, dan menitipkan padanya urusan kekhalifahan. Kemuliaannya cemerlang, perilakunya terpuji, pribadinya Hasyimi yang suci, dan seluruh dirinya adalah cerminan (keturunan) kenabian yang mulia.” (Al-Fushul al-Muhimmah, 243).

Imam Ridha as hidup di zaman berkembangnya kebudayaan, peradaban, dan intelektualisme Islam. Pada saat itu, terjemahan buku-buku berbahasa Yunani, Romawi, dan sebagainya mempengaruhi dunia pemikiran Kaum Muslimin, setelah sebelumnya diramaikan dengan pengaruh Nasrani, Yahudi, dan orang-orang yang menisbatkan sosok makhluk pada Tuhan, al-mujassimah.

Di sinilah Imam as memperlihatkan kebenaran bimbingan dan jalan Rasulullah Saw. Imam berdialog dan berdiskusi dengan penganut mazhab dan agama yang berbeda. Kisah-kisah dialog Imam Ridha as berkenaan dengan dalil-dalil terhadap mazhab dan agama yang banyak itu dapat dibaca pada Al-Ihtijaj (Cara-cara berhujjah) dari Syaikh Thabarsi.

Sebagai contoh, satu di antaranya:

Abu Qurrah, seorang ahli hadits, datang menemui Abul Hasan Imam Ridha as dan berkata, “Telah sampai pada kami bahwa Allah Ta’ala membagi (anugerah) melihatNya berbicara denganNya pada dua nabi. Nabi Musa as dapat berbicara denganNya dan Nabi Muhammad Saw dapat melihat Tuhan?”

Imam Ridha as menjawab, “Lalu siapakah yang menyampaikan pada jin dan manusia, bahwa ‘Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata (Al-An’aam 103), Ilmu mereka tidak dapat meliputiNya (Tha Haa 110), Tiada sesuatu pun yang serupa dengan Dia (Asy-Syura 11).’ Bukankah yang menyampaikan itu Nabi Muhammad Saw?”

“Benar.”

“Maka bagaimana mungkin seorang nabi datang pada seluruh makhluk dan mengabarkan pada mereka bahwa ia datang dari sisi Allah Ta’ala yang tak dapat dicapai oleh penglihatan mata, yang ilmu (makhluk) tak dapat meliputiNya, yang tiada sesuatu pun serupa denganNya, kemudian akan berkata, “Aku melihat Tuhan dengan mataku, dan ilmuku meliputiNya, dan Dia dalam perwujudan (rupa) manusia. Tidakkah kamu malu? Para zindiq itu tidak dapat menisbatkan sesuatu tentang Allah dari satu sisi lalu menentangnya dari sisi yang lain.”

Abu Qurrah berkata, “Bukankah Dia berfirman, ‘Dan sesungguhnya ia telah melihatnya pada waktu yang lain’ (Al-Najm 13)?”

Imam Ridha as menjawab, “Sesungguhnya setelah ayat itu ada penjelasan pada apa yang dilihat Nabi Saw. Allah Ta’ala berfirman, ‘Hatinya tidak mendustakan apa yang dilihatnya.’ (Al-Najm 11), Tidaklah hati Nabi Saw mendustakan apa yang dilihat kedua matanya, kemudian mengabarkan bahwa ‘Sesungguhnya dia telah melihat tanda-tanda kebesaran Tuhannya (Al-Najm 18). Maka tanda kebesaran Tuhan bukanlah Allah. Dan Dia berfirman, “ilmu (mereka) tidak dapat meliputiNya” Kalaulah mata melihat, maka ilmu telah meliputinya, dan jatuhlah makrifat,”

Berkatalah Abu Qurrah, “Engkau dustakan riwayat?” (Red: tentang hadis-hadis melihat Tuhan dalam wujud dsb…)

Imam Ridha as menjawab, “Sekiranya riwayat itu bertentangan dengan Al-Qur’an, aku akan mendustakannya. Dan yang disepakati oleh kaum Muslimin adalah bahwa ilmu tidak dapat meliputiNya, mata tidak dapat melihatNya, dan tak ada yang menyerupaiNya sesuatu apa pun.”

Demikian diriwayatkan dalam Al-Ihtijaj dari Allamah Thabarsi juz 2 halaman 184. Karena ilmu dan keluhuran budi pekertinya, Imam menarik banyak pengikut, perindu dan pecintanya. Begitu rupa hingga Khalifah merasa terancam dengan keberadaannya.

Khalifah membuat reka perdaya. Ia menyatakan hendak mengundurkan diri dan menyerahkan kekhalifahan pada Imam Ridha as. Imam menjawab, “Aku berlindung kepada Allah.” Lalu Khalifah membalas dengan mengirimkan surat, “Kalau engkau menolak apa yang aku tawarkan, maka engkau harus menjadi wali ‘ahd, pelanjut setelahku. ” Imam pun menolaknya. Meski untuk itu, Khalifah mengadakan serangkaian acara, pemaksaan terhadap Imam untuk dikenal publik sebagai pelanjut Khalifah Ma’mun. Para petinggi tentara dibariskan. Mata uang khusus diedarkan, dan sebagainya. Imam tetap menolaknya. Khalifah bahkan mengancamnya. Diskusi seputar itu, juga tentang bagaimana Khalifah menggunakan perumpamaan pemilihan Syura oleh Khalifah Umar dan satu di antaranya adalah Imam Ali bin Abi Thalib as, kakek Imam Ridha as. Khalifah Umar bahkan mengancam akan memukul tengkuk orang yang tidak bersedia mengikutinya. Jawaban Imam as dapat disimak pada kitab semisal Al-Ihtijaj Allamah Thabarsi dan Al-Irsyad dari Syaikh Mufid.

Imam Ridha as menjalani periode Imamah selama 20 tahun. Hijrah Imam pada berbagai kota menjadikan ajaran-ajaran Islam sejati menyebar ke seluruh negeri. Kecintaan pada keluarga Nabi tumbuh mengakar di setiap tempat yang dilewatinya. Di Nishabur bahkan ada tempat dengan batu bertelaoak kaki yang diyakini sebagai bekas injakan Imam Ridha as. Waktu itu terjadi kekeringan, kemudian Imam menancapkan tongkatnya, mencabutnya, dan keluarlah air yang segar hingga sekarang. Di mata air itu ada bekas injakan Imam yang diziarahi orang hingga sekarang.

Imam Ridha as syahid karena racun yang dicampur pada makanannya. Imam dikebumikan di Sinabad Thus, Khurasan pada 17 bulan Safar 203 H. Ada juga yang meriwayatkannya pada 23 bulan Dzulqa’idah. Imam digelari dengan banyak nama: Abul Hasan, al-Ridha, al-Murtadha, Gharib al-Ghuraba,  Mu’in al-Dhu’afa wal Fuqara, Shah Khurasan, Dhamine Ahu dsb. Ibunya adalah Sayyidah Najma Khatun.

Di antara sebagian hadis Imam Ridha as:

Hadis qudsi silsilah dzahabiyyah: kalimatu laa ilaaha illallah hishni, fa man dakhla hishni aamina min ‘adzaabi, walakin ma’a syuruuthiha. Wa ana min  syuuruuthiha. “Kalimat laa ilaaha illallah adalah penjagaanKu, dan barang siapa masuk ke dalamnya ia selamat dari azabKu. Tetapi ada syaratnya–kata Imam Ridha as–, ”dan aku adalah di antara syaratnya”.

Ra’su tha’atillah, al-Shabru war ridha, “Dasar ketaatan pada Allah adalah kesabaran dan keridhoan”

Maa halakam’ru’un ‘arafa qadrah, “Tidak akan celaka orang yang mengenal kadar dirinya.”

“Orang yang tidak berterima kasih pada ia yang mengantarkan nikmat Tuhan sampai padanya, ia belum bersyukur pada Allah yang agung dan mulia.” Uyun Akhbar al-Ridha, 2:24

“Tuhan murka pada orang yang tidak membela rumahnya atau tanah airnya dari penindasan.” Ibid, h. 28

“Orang terpercaya tak pernah mengkhianatimu. Tapi orang yang mengkhianatimu adalah ia yang pernah kauanggap terpercaya bagi dirimu.” Bihar al-Anwar, 78:335

“Orang yang mengucapkan salam dengan cara yang berbeda pada orang miskin dan orang kaya, kelak akan berjumpa dengan Tuhan dalam keadaan sangat dimurkaiNya.” Wasaa’il al-Syiah 8:442

Sayidah Maksumah, Bintang Ahlul Bait


SYADINAH FATIMAH MAKSUMAH

Tanggal 10 Rabiul Tsani, bertepatan dengan hari wafatnya wanita suci Ahlul Bait as, Sayidah Fatimah Maksumah as. Beliau termasuk anggota keluarga Ahlul Bait as yang memiliki kemuliaan tinggi dari keturunan Imam Musa Kadzim as, setelah saudaranya Imam Ridha. Jauh hari sebelum kelahiran Sayidah Maksumah, kakeknya Imam Shadiq sudah memberitahukan tentang kelahiran cucunya.

Imam Shadiq berkata: “Akan meninggal dan dikuburkan seorang perempuan dari salah satu keturunanku. Namanya Fatimah putri Musa, seorang perempuan yang dengan syafaatnya pada hari kiamat, seluruh pengikut kami akan masuk surga”. Saudara Sayidah Maksumah, Imam Ali ar-Ridha as, berkata, “Barang siapa yang menziarahi Sayidah Maksumah di kota Qom, sama seperti menziarahiku.”

Sayidah Fatimah Maksumah as dilahirkan di kota Madinah pada tanggal 1 Dzulqadah, tahun 173 hijriah. Wanita agung ini dibesarkan di bawah bimbingan dua manusia suci, ayahnya Imam Musa Kadzim, dan kakaknya Imam Ridha.Tapi kebahagiaan Sayidah Fatimah Maksumah di masa kecil itu tidak bertahan lama karena ayahnya Imam Musa Kazhim as gugur syahid di penjara penguasa lalim saat itu. Ketika ayahnya syahid, Sayidah Fatimah Maksumah as berusia sepuluh tahun. Setelah itu, Imam Ali ar-Ridha as menjadi satu-satunya pelindung setia Sayidah Fatimah Maksumah.

Sejak usia kanak-kanak, Sayidah Maksumah telah menunjukkan kecerdasaan dan keluasan ilmunya. Sayidah Fatimah berjuang keras dalam menuntut ilmu dan pengetahuan Islam. Beliau tidak menambah dan mengurangi ilmu yang disampaikan oleh ayahnya ketika menyampaikannya kepada masyarakat. Ini menunjukkan tanggung jawab besar dan amanat yang tertanam dalam jiwa putri Imam Musa as.

Sayidah Fatimah senantiasa menuntut ilmu dan membela kebenaran dalam kondisi sulit sekalipun. Sayidah Fatimah didampingi Imam Ali ar-Ridha as dan mengamalkan ilmu pengetahuan yang didapatkan dari ayahnya.

Sayidah Maksumah memiliki beberapa sebutan nama agung seperti Shadiqah, karena dikenal sebagai orang yang terpercaya. Selain itu beliau dipanggil dengan nama mulia seperti Karimah Ahlul Bait dan Thahirah, sebagaimana dijelaskan dalam hadis dari Imam Shadiq. Selain itu, beliau juga disebut  dengan nama “Muhadatsah” yang berarti perawi Hadis.

Di antara hadis yang diriwayatkan Sayidah Maksumah adalah Hadis Manzilah yang menjelaskan kedudukan mulia Imam Ali as. Di hadis ini dijelaskan bahwa kedudukan Imam Ali terhadap Nabi Saw, seperti posisi Harun bagi Nabi Musa as. Beliau juga menjelaskan peristiwa penting di Ghadir Khum untuk mencegah umat Islam lalai dari amanat Nabi Muhammad Saw tentang kepemimpinan setelahnya.

Pada tahun 200 hijriah, Imam Ali ar-Ridha as terpaksa meninggalkan kota Madinah menuju Khorasan di bawah tekanan penguasa lalim saat itu. Setahun kemudian, Sayidah Fatimah Maksumah yang merindukan kakaknya berangkat menuju kota Marv ditemani sejumlah saudaranya seperi Fadhil, Jafar, Hadi, Qasim dan Zaid serta beberapa orang lainnya.

Perjalanan wanita agung beserta rombongan dari Madinah menuju Khorasan tersiar ke berbagai wilayah. Di setiap daerah yang mereka lewati, para pencinta Ahlul Bait menyambutnya, dan memanfaatkan kehadiran sumber pengetahuan dan keluhuran akhlak ini. Mereka juga ingin mendapatkan berkah dari kedatangan manusia agung ini di daerah yang dilewati rombongan Sayidah Maksumah.

Dalam setiap penyambutan di berbagai kota, Sayidah Fatimah selalu menggunakan kesempatan tersebut untuk memberikan pencerahan kepada para pecinta Ahlul Bait. Beliau dalam berbagai pidatonya mengungkap kedok penguasa Bani Abbasiah. Pada dasarnya, Sayidah Fatimah sengaja berhijrah dari Madinah ke Marv sebagai bentuk protes terhadap kondisi yang ada. Perjalanan itu merupakan bagian dari perjuangan Sayidah Fatimah terhadap intimidasi dan kezaliman.

Sayidah Maksumah senantiasa mengingatkan umat Islam terkait jawaban Imam Ridha as soal usulan Khalifah Makmun kepada Imam ini. Makmun dalam makarnya mengusulkan posisi Putra Mahkota kepada Imam Ridha as, sebuah usulan yang bersifat makar dan tipu daya. Tujuannya, Makmun bisa meredam perlawanan para pengikut Ahlul Bait as. Imam Ridha saat menjawab usulan Makmun mengatakan, jika khilafah merupakan hakmu tidak seharusnya kamu melimpahkannya kepada orang lain, namun jika bukan hakmu, mengapa kamu menyebut dirimu khalifah umat Islam dan menentukan putra mahkota (Wali Ahd).

Sayidah Maksumah berusaha menyadarkan masyarakat bahwa kepemimpinan terhadap umat Islam merupakan hak Ahlul Bait Rasulullah Saw.Sejarah mencatat perjuangan besar Sayidah Maksumah dalam mengokohkan Imamah Ahlul Bait di tengah rongrongan konspirasi musuh.

Pencerahan yang dilakukan Sayidah Fatimah Maksumah memicu kemarahan penguasa lalim. Antek-antek Bani Abbasiah memburu rombongan Sayidah Maksumah. Ketika rombongan sampai di kota Saveh, mereka diserang oleh pasukan Makmun dan kelompok pembenci Ahlul Bait. Sejumlah pengikut beliau dalam peperangan tak seimbang ini gugur syahid. Akibat peristiwa ini, Sayidah Maksumah jatuh sakit. Atas inisiatif Sayidah Maksumah, rombongan kemudian menuju kota Qom. Sayidah Fatimah berkata, “Bawalah aku ke kota Qom, karena aku mendengar dari ayahku bahwa kota ini adalah pusat para pecinta Ahlul Bait as.” Mendengar permintaan Sayidah Fatimah, mereka pun membawa beliau ke kota Qom.

Tepat tanggal 23 Rabiul Awal 201 Hijriah, Sayidah Maksumah as bersama rombongannya tiba di kota Qom. Para tokoh dan ulama Qom menyambut rombongan Ahlul Bait Rasulullah Saw. Seorang pecinta Ahlul Bait as dan pembesar di kota Qom yang bernama Musa bin Khazraj, menjadi tuan rumah yang menjamu Sayidah Fatimah selama di kota Qom. Sayidah Fatimah berada di kota Qom selama 17 hari. Pada hari-hari terakhir masa hidupnya, Sayidah Fatimah lebih banyak menyibukkan diri bermunajat kepada Allah Swt. Beliau akhirnya menghembuskan nafas terakhir pada tanggal 10 Rabiul Tsani dan dimakamkan di kota Qom.

Hingga kini, Makam Sayidah Maksumah diziarahi para  pecinta Ahlul Bait dari seluruh penjuru dunia. Berkat keberadaan Sayidah Fatimah, di Qom berdiri pusat pendidikan agama Syiah terbesar di dunia. Aura spritual yang dipancarkan makam suci Sayidah Fatimah as memberikan pencerahan intelektual bagi para ulama, dan berkah bagi masyarakat.(IRIB Indonesia/PH)

Persatuan Umat Islam; Kendala dan Solusi


Persatuan merupakan kebutuhan urgen dan mendesak dunia Islam dewasa ini. Persatuan dan persaudaraan di antara Muslim termasuk sendi-sendi agama Islam. Persatuan dan persaudaraan ini dalam pandangan Islam bukan bersifat sementara dan berdasarkan kepentingan, namun sebuah asumsi rasional, selaras dengan fitrah dan sesuai dengan ajaran al-Quran. Allah Swt saat menjelaskan pentingnya persatuan umat dan empati mereka menekankan bahwa seluruh manusia sejak awal penciptaan hingga hari kiamat berasal dari satu akar dan sumber.

9285d67522ff98f7e062059537d2ee59_L

Sejatinya penciptaan manusia berasal dari satu ibu dan bapak, yakni Adam dan Hawa. Seluruh manusia memiliki satu tujuan. Allah Swt sendiri dalam al-Quran menjelaskan persatuan Islam. Allah berfirman dalam surat al-Mu’minun ayat 52 yang artinya, “Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku”. Allah juga menjelaskan untuk menjaga persatuan di antara manusia maka perpecahan serta friksi harus dihindari. Di Surat Aali Imran ayat 103 Allah berfirman, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai…”

Di agama Islam, peluang bagi persatuan bukan saja ada dalam Usuluddin, namun di Furuuddin pun banyak ditemukan perintah untuk bersatu. Dengan mudah dapat dikatakan bahwa umat Islam tidak memiliki friksi yang besar dalam masalah ini dan tidak ada pula kendala yang menghambat persatuan di antara mereka. Umat Muslim memiliki satu pandangan dunia. Mereka sama-sama menyembah Tuhan Yang Esa dan mengimani kenabian Muhammad Saw. Kitab Suci mereka pun sama yakni al-Quran dan kiblat mereka pun satu, Kabah. Mereka bersama-sama menunaikan ibadah haji di Mekah, shalat bersama serta berpuasa. Mereka hanya berbeda dalam sejumlah kecil masalah parsial.

Kesemuanya ini mampu membentuk sebuah umat yang satu dan menciptakan kekuatan besar. Ini adalah masalah yang sangat ditakuti oleh musuh-musuh Islam. Oleh karena itu, mereka senantiasa mencegah bersatunya umat Islam dan membesar-besarkan isu-isu perbedaan demi mencegah kekuatan besar ini. Salah satu masalah yang dapat memperbesar perpecahan di antara umat Islam baik Sunni dan Syiah adalah tanggal kelahiran Nabi.

Republik Islam Iran menggulirkan gagasan, rentang waktu antara 12 hingga 17 Rabiul Awwal dinamakan sebagai Pekan Persatuan. Hal ini dimaksudkan untuk mengubah ancaman perpecahan di antara Muslim yang mungkin muncul menjadi sebuah peluang dan memanfaatkan perayaan maulid Nabi bagi persatuan lebih erat di antara umat Islam. Konferensi internasional Persatuan Islam digelar di Pekan Persatuan juga dimaksudkan untuk mempererat persatuan umat Muslim. Konferensi ini digelar atas gagasan dan inisiatif Republik Islam.

Tahun ini, Konferensi Internasional Persatuan Islam ke 28 digelar di Tehran mulai 7-9 Januari dengan tema “Umat Satu, Kendala dan Solusinya”. Konferensi ini dihadiri lebih dari 600 cendikiawan dalam negeri dan asing dari 69 negara dunia. Mereka saling mengkaji dan mendekatkan pandangan ilmiah dan budaya mereka. Presiden Republik Islam Iran, Dr. Hassan Rouhani di acara pembukaan konferensi ke 28 Persatuan Islam  di Tehran mengucapkan selamat atas kelahiran Nabi besar Muhammad Saw dan Imam Sadiq as. Dalam pidatonya Hassan Rouhani menekankan, “Kita, umat Muslim dewasa ini sangat membutuhkan lebih banyak cahaya kelahiran manusia suci ini, nabi yang telah memberi oleh-oleh besar kepada Muslim berupa akhlak dan kehormatan dalam kehidupan materi dan maknawi. Nabi juga membentuk umat Islam yang satu di bawah naungan Wahyu Ilahi. Nabi meminta kita untuk meniti jalan ini serta melanjutkannya.”

Seraya menjelaskan bahwa arti persatuan bukan berarti seseorang meninggalkan keyakinannya, presiden Iran menjelaskan, “Arti persatuan adalah memiliki rasa lapang dada, toleransi dan sifat jantan. Kita mengakui sesama kita sebagai umat Muslim dan menerima bahwa siapa saja yang mengucapkan kalimat syahadat “La Ila ha Illa Allah” sebagaimana yang dikatakan oleh Allah dan Nabi-Nya, maka orang seperti ini benar-benar beruntung dan mereka adalah Muslim.”

Presiden Iran juga menjelaskan bahwa arti persatuan bukan berarti berbagai mazhab yang ada meninggalkan tuntunannya dan mengabaikan ajaran fiqihnya. Hassan Rouhani mengungkapkan, “Jika kita memiliki pandangan seperti ini terhadap berbagai mazhab yang kesemuanya memiliki satu tujuan dan untuk mencapai tujuan satu, mazhab-mazhab tersebut menempuh jalur yang berbeda di mana tujuan mereka adalah al-Quran, tunduk pada kebenaran dan mengikuti sirah Rasulullah Saw, maka saat itu persatuan baru memiliki makna dan mungkin untuk direalisasikan.”

Persatuan umat Islam merupakan isu paling penting Dunia Islam, namun sangat disayangkan banyak skenario untuk menjegal persatuan ini yang kini tengah dilancarkan. Dewasa ini kelompok Takfiri setiap harinya menarget berbagai wilayah Dunia Islam. Ulah mereka ini hanya merusak citra Dunia Islam. Aksi brutal kelompok Takfiri semakin meningkat ketika dunia setapak demi setapak kian dekat dengan ajaran Islam dan al-Quran. Dunia yang kian merasa bahwa peradaban Barat tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan materi dan spiritual dunia saat ini dan mendatang, sedikit demi sedikit mulai mengenal ayat-ayat al-Quran dan tunduk pada sirah Nabi besar Muhammad Saw.

Dalam kondisi seperti ini, kelompok-kelompok bayaran dengan dukungan rezim Zionis Israel tak segan-segan melakukan cara apa pun untuk merusak citra Islam. Kelompok ini pun melawan mereka yang menghendaki untuk mengenal Islam dengan benar. Oleh karena itu, salah satu agenda Konferensi Internasional Persatuan Islam adalah menciptakan peluang persatuan dan solidaritas Dunia Islam. Kesamaan pemikiran ulama dan cendikiawan untuk mendekatkan perbedaan di antara mazhab Islam akan sangat membantu merealisasikan tujuan ini. Urgensitas lain yang menjadi perhatian konferensi ini adalah mengkaji gerakan Takfiri dan memberikan solusi yang tepat serta sikap bersama menghadapi fenomena buruk ini.

Sekjen Forum Internasional Pendekatan Mazhab-Mazhab Islam (FIPMI), Ayatullah Muhsin Araki saat acara pemberian penghargaan kepada tokoh-tokoh yang berjasa dalam pendekatan antar mazhab menjelaskan bahwa masa depan milik Islam dan keadilan Islam cepat atau lambat akan meliputi seluruh dunia. Beliau mengungkapkan, “Supaya keadilan merata, harus dipersiapkan peluang dan kesempatan ini berada di pundak para pemuda, agar mereka mampu membawa peradaban agung ini hingga kemunculan sang penyelamat, Imam Mahdi as.”

Ayatullah Muhsin Araki juga mengingatkan, “Kelompok Takfiri di negara-negara Islam berupaya menciptakan iklim keruh dan memperuncing friksi, namun kita meyakini bahwa usaha busuk ini tidak akan berhasil. Yang tersisa bagi mereka adalah bekerja demi kepentingan rakyat dan aksi busuk mereka malah mendorong persatuan lebih erat umat Muslim.”

Hadi Amiri, ketua Gerakan Badr dan anggota parlemen Irak yang turut menghadiri konferensi ini mengatakan, “Kendala terbesar kita dewasa ini adalah gerakan Takfiri dan kami berharap konferensi ini berhasil menemukan formula tepat dan konstruktif untuk menghadapi gerakan ini. Dewasa ini ancaman sejati yang melilit Islam adalah aksi teror membabi buta dan ideologi Takfiri yang menginginkan Islam hancur.” Anggota parlemen Irak seraya menjelaskan bahwa Israel sebagai faktor utama perpecahan umat Muslim mengungkapkan, “Zionis dengan sepenuh tenaga mendukung kelompok teroris Takfiri ISIS. Ancaman terbesar masyarakat kita saat ini adalah pemuda-pemuda di negara-negara Islam tertipu sehingga bersedia bergabung dengan ISIS ketimbang bersatu membela Palestina.” Amiri menambahkan, “Zionis ingin memecah belah umat kita dan mereka memiliki program untuk memecah Suriah serta Irak sehingga umat Islam hancur. Saat ini ISIS bergerak tak ubahnya sebuah mesin yang siang dan malam memikirkan untuk menyebarkan ideologi Zionis.”

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar menilai persatuan sebagai pelajaran besar yang diberikan Nabi Muhammad Saw dan merupakan kebutuhan penting umat Islam. Ayatullah Sayid Ali Khamenei, Jumat (9/2) di hari kelahiran Nabi Muhammad Saw dan Imam Jafar Shadiq as dalam pertemuannya dengan pejabat pemerintahan Iran, para tamu konferensi internasional persatuan Islam dan kalangan masyarakat, menegaskan, “Penghormatan terhadap Nabi Muhammad Saw tidak boleh hanya sekedar ungkapan dan kata saja, akan tetapi upaya untuk mewujudkan pesan-pesan persatuan Rasulullah Saw harus menjadi prioritas negara-negara Islam dan bangsa Muslim.”

Berkonsentrasi pada kepentingan-kepentingan umat Islam dan persatuan Dunia Islam, katanya, dapat menjaga kepentingan negara-negara Islam. Ia menjelaskan, “Seluruh Muslimin harus menghadapi imperialisme dan tumor berbahaya, Zionisme internasional, terutama Amerika Serikat dan rezim Israel dengan bersandar kepada Al Quran. Sementara di antara mereka sendiri saling berkasih sayang, berjalan bersama dan menunjukkan simpatinya.”

Rahbar menunjukkan penyesalannya atas keberhasilan program perpecahan musuh Islam. Ia menuturkan, “Jika bangsa-bangsa Muslim dengan seluruh fasilitas besar dan karakteristik unik yang dimilikinya, bukan dalam hal parsial, akan tetapi dalam visi umum, berjalan seiring dan seirama, maka kemajuan umat Islam akan tercapai.  Refleksi global persatuan dan keselarasan Dunia Islam akan menunjukkan kemuliaan, kehormatan dan kebesaran Nabi Muhammad Saw.”

Sehubungan dengan terciptanya persatuan Dunia Islam, Rahbar menganggap penting upaya menghindari buruk sangka dan penghinaan terhadap mazhab-mazhab Islam baik Sunni maupun Syiah. Ia menerangkan, “Syiah yang memiliki hubungan dengan dinas intelijen Inggris, Mi6 dan Sunni yang menjadi orang bayaran CIA, keduanya melawan Islam dan Nabi Muhammad Saw.” Rahbar juga menilai konsentrasi kebijakan luar negeri sebagian negara kawasan yang memusuhi Iran, adalah salah besar. “Berbeda dengan kebijakan-kebijakan tidak rasional ini, Iran tetap menjalankan politik luar negerinya berdasarkan persahabatan dengan seluruh negara Islam termasuk negara-negara kawasan,” tandasnya.(IRIB Indonesia)

Biarkan Kejahatan Israel, Turki Kritik PBB dan Barat


Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, mengkritik Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan negara-negara Barat karena membiarkan kejahatan rezim Zionis Israel.

PRESIDENT OF TURKI

 Menurut laporan Today’s Zaman, Erdogan dalam pidatonya di forum Uni Parlemen Negara Islam (PUIC) di Istanbul, Rabu (21/1/2015), mengatakan ketika Israel membantai lebih dari 2.500 perempuan dan anak-anak Palestina tahun lalu, semua negara Barat dan PBB bungkam terhadap tindakan terorisme itu, berbeda saat serangan terjadi di Paris.

Erdogan menyeru negara-negara Islam untuk bersatu melawan terorisme yang mengincar kaum Muslim sebagai target pertamanya. Dia mengatakan, satu-satunya jalan melawan krisis yang ada di dunia Islam adalah persatuan dan kekompakan.

Presiden Turki juga mengkritik sikap bungkam Barat terhadap beberapa serangan teror yang terjadi di Nigeria, Libya dan Irak. Menurutnya, jika Barat hanya mengecam serangan yang menargetkan para seniman dan wartawan, maka mereka juga harus mengutuk pembunuhan awak media yang dilakukan Israel dalam beberapa tahun terakhir di Palestina.

Di akhir pidatonya, Erdogan menegaskan bahwa teroris atau kelompok teroris tidak akan pernah bisa menjadi wakil kaum Muslim atau dunia Islam dan tindakan mereka sama sekali tidak ada hubungannya dengan Islam.

Perwakilan parlemen dari negara-negara anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI), bertemu mulai tanggal 20-22 Januari di Istanbul. Kepemimpinan periodik PUIC saat ini berada di tangan Republik Islam Iran dan akan diserahkan kepada Turki untuk satu tahun ke depan. (IRIB Indonesia/RM)

Menghormati Wanita Dalam Islam


IMAM KHAMEINI

Dunia yang memisahkan wanita dari dalam rumah tangga, menyeretnya keluar dengan janji-janji semu, membuatnya tidak punya perlindungan dan pertahanan di hadapan pandangan dan perilaku sosial yang cabul dan membuka peluang untuk mengganggu hak-haknya, sejatinya adalah melemahkan wanita sekaligus menghancurkan rumah tangga, juga menjadikan generasi yang akan datang terancam dan mewujudkan bencana terhadap setiap peradaban dan budaya yang memiliki logika ini. Yang demikian ini sekarang sedang terjadi di dunia dan semakin hari semakin parah. Saya sampaikan kepada kalian bahwa ini merupakan banjir yang membahayakan yang daya perusaknya akan tampak dalam jangka panjang dan akan memusnahkan dan meluluhlantakkan fondasi peradaban Barat. Dalam jangka pendek tidak ada sesuatu yang bisa dipahami. Semua ini baru akan menampakkan dirinya dalam jangka seratus-dua ratus tahun dan tanda-tanda krisis moral di Barat ini sekarang sedang menampakkan dirinya.

Islam telah menghormati wanita dalam makna yang sebenarnya. Bila bersandar pada peran ibu dan kehormatan ibu di dalam rumah tangga atau bertopang pada peran wanita, pengaruh wanita, hak-hak wanita dan batas-batasan wanita di dalam rumah tangga, sama sekali bukan berarti melarang wanita dari berpartisipasi dalam urusan sosial dan ikut campur dalam perjuangan dan aktivitas umum. Sejumlah orang tidak memahami atau salah memahami, sejumlah orang lainnya yang sakit jiwa juga memanfaatkan pemahaman salah ini. Seakan-akan wanita hanya harus sebagai ibu yang baik dan istri yang baik saja atau hanya harus berpartisipasi dan beraktivitas sosial. Masalahnya tidak demikian. Harus menjadi ibu yang baik dan istri yang baik sekaligus berpartisipasi dalam aktivitas sosial. Fathimah Zahra as adalah simbol penggabungan ini. Gabungan antara pelbagai posisi. Contoh lainnya adalah Zainab Kubra as. Para wanita terkenal masa permulaan Islam dan wanita unggulan adalah contoh-contoh lainnya. Mereka berada dan hadir di tengah-tengah kehidupan sosial.

Ketidakpahaman tentang memuliakan wanita dalam Islam dibarengi dengan pelajaran salah yang dicekokkan atas nama memuliakan wanita dalam peradaban Barat. Hal ini sudah dicampur dan muncullah sebuah gerakan pemikiran yang salah.

Wanita dalam rumah tangga adalah mulia dan terhormat dan merupakan poros menejemen dalam rumah tangga, lilin bagi semua anggota keluarga, sumber keakraban, ketenangan dan ketentraman. Lembaga rumah tangga yang merupakan telaga kecil ketenangan hidup setiap manusia yang penuh tantangan dan penuh usaha, akan menemukan ketenangan, ketentraman dan keyakinan dengan adanya wanita. Pada saat itu perannya sebagai istri, sebagai ibu, sebagai putri rumah tangga; masing-masing memiliki kehormatan dalam masa yang panjang. Oleh karena itu, pada hakikatnya harus ada penulisan, pembicaraan dan perhatian kembali di bidang nilai dan kemuliaan wanita dalam perspektif Islam. (5/5/1374)

Simbol Wanita Agung dalam Al-Quran

Almar’atu Sayyidatu Baitiha” (Nahjul Fashahah, hadis 2177) Wanita sebagai tuan di rumahnya. Ini dari Rasulullah Saw…beliau mengatakan kepada para lelaki, “Paling baiknya kalian adalah mereka yang paling baik dalam bersikap kepada istrinya.” Ini adalah pendapat Islam dan masih banyak lagi yang seperti ini. Yang disebutkan dalam al-Quran sebagai contoh bagi orang mukmin dan yang diridai Allah, dan orang kafir dan yang ditolak di sisi Allah adalah wanita. Ini adalah hal yang menarik. Ketika al-Quran ingin menyebutkan contoh bagi orang yang baik dan orang yang jelek, keduanya dengan memilih wanita. “Dharaballahu Matsalam Lilladziana Kafaru Imraata Nuhin Wa Imraata Luthin… Allah membuat istri Nuh dan istri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir” (QS. Tahrim:10-12) al-Quran telah menjadikan dua wanita sebagai ‘perumpamaan’ yakni mengenalkan istri Nuh dan istri Luth sebagai contoh dan simbol wanita-wanita yang jelek. Kemudian sebaliknya “Wa Dharaballahu Matsalan Lilladzina Amanu Imraata Firauna… Dan Allah membuat istri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman” dua orang wanita dikenalkan sebagai simbol wanita yang baik, wanita yang agung dan wanita mukmin; satunya adalah istri Firaun dan satinya lagi adalah Sayidah Maryam. “Wa Maryama Ibnata Imrana Allati Ahshanat Farjaha…Dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya.” Yang menarik adalah keempat wanita ini, kebaikan dan kejelekannya terkait dengan lingkungan rumah tangga. Terkait dua wanita yang jelek itu “Imraata Nuhin Wa Imraata Luthin”. Disebutkan, “Kanata Tahta Abdaini Min Ibadina Shalihaini Fakhanatahuma” Dua wanita ini mengkhianati suaminya masing-masing yang keduanya adalah nabi yang memiliki kedudukan dan derajat yang tinggi. Masalahnya adalah masalah rumah tangga. Masalah dua wanita lainnya juga terkait dengan rumah tangga. Yang pertama adalah istri Firaun dimana nilai dan sesuatu menurutnya penting adalah mengasuh seorang nabi Ulul Azmi, seorang yang bernama Musa Kalimullah dan beriman kepadanya dan menolongnya. Itulah mengapa Firaun balas dendam padanya. Masalahnya adalah masalah dalam rumah tangga yaitu pengaruh keagungan perbuatannya yang berhasil mendidik Musa. Terkait dengan Sayidah Maryam juga demikian. “Allati Ahshanat Farjaha” Ia telah menjaga kehormatannya. Ia telah menjaga kesuciannya. Ini menunjukkan bahwa dalam kehidupan Sayidah Maryam pasti ada faktor-faktor yang bisa mengancam kehormatan dan kesucian seorang wanita mulia dan ia bisa melawannya. Dengan demikian semuanya terkait dengan sisi-sisi penting yang sudah dijelaskan yaitu sisi rumah tangga dan masalah kedudukan wanita di tengah masyarakat. (1/3/1390) (IRIB Indonesia / Emi Nur Hayati)