ALL ABOUT FILARIASIS


NYAMUK

Filariasis limfatik merupakan penyakit yang disebabkan oleh parasit filaria yang menyerang kelenjar dan pembuluh getah bening.

Di Indonesia filariasis limfatik disebabkan oleh Wuchereria bancrofti (filariasis bancrofti) serta Brugia malayi dan Brugia timori (filariasis brugia) dan dikenal umum sebagai penyakit kaki gajah atau demam kaki gajah.

Diagnosis pasti ditegakkan dengan ditemukan mikrofilaria dalam peredaran darah. W.bancrofti dan B. timori hanya ditemukan pada manusia. Berdasarkan sifat biologic B. malayi di Indonesia didapatkan dua bentuk yaitu bentuk zoophilic dan anthropophilic. Periodisitas mikrofilaria diperedaran darah pada jenis infeksi yang hanya ditemukan pada manusia bersifat noktumal, sedangkan yang ditemukan pada manusia dan hewan (kera dan kucing) dapat aperiodik, subperiodik atau periodik. Filariasis ditularkan melalui vektor nyamuk Culex quinquefasciatus di daerah perkotaan dan oleh Anopheles spp., Aedes spp.dan Mansonia spp. di daerah pedesaan.

Di dalam nyamuk, mikrofilaria yang terisap bersama darah berkembang menjadi Larva infektif. Larva infektif masuk secara aktif ke dalam tubuh hospes waktu nyamuk menggigit hospes dan berkembang menjadi dewasa yang melepaskan mikrofilaria ke dalam peredaran darah.

Filariasis ditemukan di berbagai daerah dataran rendah yang berawa dengan hutan-hutan belukar yang umumnya didapat di pedesaan di luar Jawa­&Bali. Filariasis brugia hanya ditemukan di pedesaan sedangkan filariasis bancrofti didapatkan juga di perkotaan. Prevalensi filariasis bervariasi antara 2% sampai 70% pada tahun 1987.

GEJALA KLINIS

Gejala klinis filariasis disebabkan oleh cacing dewasa pada sistem limfatik dan oleh reaksi hiperresponsif berupa occult filariasis. Dalam perjalanan penyakit, filariasis bermula dengan adenolimfangitis akuta berulang dan berakhir dengan terjadinya obstruksi menahun dari sistem limfatik.

Perjalanan penyakit tidak jelas dari satu stadium ke stadium berikutnya tetapi bila diurut dari masa inkubasi maka dapat dibagi menjadi :

1) Masa prepaten : Masa prepaten, masa antara masuknya larva infektif sampai terjadinya mikrofilaremia berkisar antara 3­7 bulan. Hanya sebagian saja dari penduduk di daerah endemik yang menjadi mikrofilaremik, dan dari kelompok mikrofilaremik inipun tidak semua kemudian menunjukkan gejala klinis. Terlihat bahwa kelompok ini termasuk kelompok yang asimtomatik amikrofilaremik dan asimtomatik mikrofilaremik.

2) Masa inkubasi

Masa inkubasi, masa antara masuknya larva infektif sampai terjadinya gejala klinis berkisar antara 8-­16 bulan.

3) Gejala klinik akut

Gejala klinik akut merupakan limfadenitis dan limfangitis disertai panas dan malaise. Kelenjar yang terkena biasanya unilateral. Penderita dengan gejala klinis akut dapat amikrofilaremik maupun mikrofilaremik.

­ Filariasis bancrofti: Pembuluh limfe alat kelamin laki-laki sering terkena disusul funikulitis, epididimitis dan orchids. Adenolimfangitis inguinal atau aksila, sering bersama dengan limfangitis retrograd yang umumnya sembuh sendiri dalam 3­15 hari dan serangan terjadi beberapa kali dalam setahun.

Filariasis brugia: Limfadenitis paling sering mengenai kelenjar inguinal, sering terjadi setelah bekerja keras. Kadang-kadang disertai limfangitis retrograd. Pembuluh limfe menjadi keras dan nyeri dan sering terjadi limfedema pada pergelangan tangan dan kaki. Penderita tidak mampu bekerja selama beberapa hari. Serangan dapat terjadi 1­2 X/tahun sampai beberapa kali perbulan. Kelenjar limfe yang terkena dapat menjadi abses, memecah, membentuk ulkus dan meninggalkan parut yang khas, setelah 3 minggu ­ 3 bulan.

KAKI GAJAH

4) Gejala menahun

Gejala menahun terjadi 10­-15 tahun setelah serangan akut pertama. Mikrofilaria jarang ditemukan pada stadium ini, sedangkan adenolimfangitis masih dapat terjadi. Gejala menahun ini menyebabkan terjadinya cacat yang mengganggu aktivitas penderita serta membebani keluarganya.

­ Filariasis bancrofti : Hidrokel paling banyak ditemukan. Di dalam cairan hidrokel ditemukan mikrofilaria. Limfedema dan elefantiasis terjadi di seluruh tungkai atas, tungkai bawah, skrotum, vulva atau buah dada, dan ukuran pembesaran di tungkai dapat 3 kali dari ukuran asalnya. Chyluria terjadi tanpa keluhan, tetapi pada beberapa penderita menyebabkan penurunan berat badan dan kelelahan.

Filariasis brugia: Elefantiasis terjadi di tungkai bawah di bawah lutut dan lengan bawah, sedang ukuran pembesaran ektremitas tidak lebih dari 2 kali ukuran asalnya.

OCCULT FILARIASIS

Tropical Pulmonary Eosinofilia: Bentuk ini terjadi oleh karena terjadinya hipersensitivitas terhadap mikrofilaria; ditandai dengan hipereosinofilia, IgE terhadap filaria tinggi, gejala limfadenopati serta asma bronkial. Gejala cepat menghilang dengan pemberian Dietilkarbamasin. Beberapa keadaan klinis lain seperti arthritis, tenosynovitis, fibrosis endomiokardial, glomerulonephritis kadang-kadang merupakan manifestasi dari occult filariasis. Dari perjalanan penyakitnya filariasis menunjukkan spektrum luas dari manifestasi klinik, sehingga pada suatu daerah endemik terlihat individu dengan berbagai bentuk status klinik, yaitu :

1. Amikrofilaremik asimtomatik

2. Amikrofilaremik simtomatik

3. Mikrofilaremik asimtomatik

4. Mikrofilaremik simtomatik

Gejala klinik menahun hidrokel, elefantiasis, chyluria.

DIAGNOSIS

1) Diagnosis Klinik

Ditegakkan melalui anamnesis dan pemeriksaan klinik. Diagnosis klinik penting dalam menentukan angka kesakitan akut dan menahun (Acute and Chronic Disease Rate).Pada keadaan amikrofilaremik, gejala klinis yang mendukung dalam diagnosis filariasis adalah : gejala dan pengalaman limfadenitis retrograd, limfadenitis berulang dan gejala  menahun.

2) Diagnosis Parasitologik

Ditemukan mikrofilaria pada pemeriksaan darah jari pada  malam hari. Pemeriksaan dapat dilakukan siang hari, 30 menit setelah diberi dietilkarbamasin 100 mg. Dari mikrofilaria secara

morfologis dapat ditentukan species cacing filaria.  Pada keadaan amikrofilaremia seperti pada keadaan prepaten, inkubasi, amikrofilaremia dengan gejala menahun, occult filariasis, maka deteksi antibodi dan/atau antigen dengan cara immunodiagnosis diharapkan dapat menunjang diagnosis. Adanya antibodi tidak menunjukkan korelasi positif dengan  mikrofilaremi, tidak membedakan infeksi dini dan infeksi lama. Deteksi antigen merupakan deteksi metabolit, ekskresi dan sekresi  parasit tersebut, sehingga lebih mendekati diagnosis parasitologik. Gib 13, antibodi monokional terhadap O. gibsoni menunjukkan korelasi yang cukup baik dengan mikrofilaremia W. bancrofti di Papua New Guinea.

3) Diagnosis Epidemiologik

Endemisitas filariasis suatu daerah ditentukan dengan  menentukan microfilarial rate (mf rate), Acute Disease Rate (ADR) dan Chronic Disease Rate (CDR) dengan memeriksa  sedikitnya 10% dari jumlah penduduk. nPendekatan praktis untuk menentukan daerah endemis filariasis dapat melalui penemuan penderita elefantiasis.  Dengan ditemukannya satu penderitaelefantiasis di antara 1000 penduduk, dapat diperkirakan ada 10 penderita klinis akut dan 100 yang mikrofilaremik.

PENGOBATAN

Dietilkarbamasin adalah satu-satunya obat filariasis yang  ampuh baik untuk filariasis bancrofti maupun malayi, bersifat  makrofilarisidal dan mikrofilarisidal. ()bat ini ampuh, aman dan murah, tidak ada resistensi obat, tetapi memberikan reaksi samping sistemik dan lokal yang bersifat sementara dan mudah  diatasi dengan obat simtomatik. Dietilkarbamasin tidak dapat dipakai untuk khemoprofilaksis. Pengobatan diberikan oral sesudah makan malam, diserap cepat, mencapai konsentrasi puncak dalam darah dalam 3 jam, dan diekskresi melalui air kemih. Dietilkarbamasin tidak diberikanpada anak berumur kurang  dari 2 tabula, ibu hamil/menyusui, dan penderita sakit berat atau  dalam keadaan lemah.  Pada filariasis bancrofti, Dietilkarbamasin diberikan selama 12 hari sebanyak 6 mg/kg berat badan, sedangkan untuk filariasis  malayi diberikan 5 mg/kg berat badan selama 10 hari. Pada  occult filariasis dipakai dosis 5 mg/kg BB selama 2­3 minggu. Pengobatan sangat baik hasilnya pada penderita dengan

mikrofilaremia, gejala akut, limfedema, chyluria dan elephantiasis dini. Sering diperlukan pengobatan lebih dari 1 kali untuk  mendapatkan penyembuhan sempurna. Elephantiasis dan

hydrocele memerlukan penanganan ahli bedah.  Reaksi samping Dietilkarbamasin sistemik berupa demam,  sakit kepala, sakit pada otot dan persendian, mual, muntah, menggigil, urtikaria, gejala asma bronkial sedangkan gejala lokal  berupa limfadenitis, limfangitis, abses, ulkus, funikulitis, epididimitis, orchitis dan limfedema. Reaksi samping sistemik terjadi

beberapa jam setelah dosis pertama, hilang spontan setelah 2­5 hari dan lebih sering terjadi pada penderita mikrofilaremik.  Reaksi samping lokal terjadi beberapa hari setelah pemberian  dosis pertama, hilang spontan setelah beberapa hari sampai beberapa minggu dan sering ditemukan pada penderita dengan gejala klinis. Reaksi samping mudah diobati dengan obat simptomatik.

Reaksi samping ditemukan lebih berat pada pengobatan filariasis brugia, sehingga dianjurkan untuk menurunkan dosis harian sampai dicapai dosis total standar, atau diberikan tiap

minggu atau tiap bulan. Karena reaksi samping Dietilkarbamasin sering menyebabkan penderita menghentikan pengobatan, maim diharapkan dapat dikembangkan obat lain (seperti Ivermectin) yang tidak/ kurang memberi efek samping sehingga lebih mudah diterima oleh penderita.

PEMBERANTASAN FILARIASIS

Pemberantasan filariasis ditujukan pada pemutusan rantai  penularan dengan cara pengobatan untuk menurunkan morbiditas dan mengurangi transmissi. Pemberantasan filariasis di Indonesia dilaksanakan oleh  Puskesmas dengan tujuan :

–          ­Menurunkan Acute Disease Rate (ADR) menjadi 0%

­

–          Menurunkan nf rate menjadi < 5%

­

–          Mempertahankan Chronic Disease Rate (CDR)

Sasaran pemberantasan adalah daerah endemis lama yang  potensial masih ada penularan dan endemis baru. Prioritas ditujukan pada :

­

Daerah endemis lama dengan mf rate > 5%. Daerah endemis lama dan baru yang merupakan daerah  pembangunan, transmigrasi, pariwisata dan perbatasan.  Kegiatan pemberantasan meliputi pengobatan, pemberantasan nyamuk dan penyuluhan. Pengobatan merupakan kegiatan

utama dalam pemberantasan filariasis, yang akan menurunkan  ADR dan mf rate.

Di suatu daerah yang diperkirakan endemik filariasis, 10%  dari penduduknya perlu diperiksa untuk menentukan Acute Disease Rate dan mf rate.

Pengobatan massal dilakukan bila :

ADR > 0%, dan mf rate > 5%; pengobatan selektif dilakukan  bila : ADR = 0%, dan mf rate < 5%. Dalam pelaksanaan pemberantasan dengan pengobatan  menggunakan DEC ada beberapa cara yaitu dosis standard,  dosis bertahap dan dosis rendah. Dianjurkan Puskesmas  menggunakan dosis rendah yang mampu menurunkan mf rate sampai < 1%. Pelaksanaan melalui peran serta masyarakat  dengan prinsip dasa wisma. Penduduk usia < 2 tahun, hamil,  menyusui dan sakit berat ditunda pengobatannya. DEC diberikan  setelah makan dan dalam keadaan istirahat.

1) Dosis standar

Dosis tunggal 5 mg/kgBB; untuk filariasis bancrofti selama  15 hari, dan untuk filariasis brugia selama 10 hari.

Sumber: Liliana Kurniawan.Depkes.Cermin Dunia Kedokteran No. 96, 1994 7

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s