PARUNGPONTENG MENGGUGAT: PERSPEKTIF KORUPTOR DAN HASIL KORUPSINYA


Ada yang saya ingin munculkan kepermukaan atau di tengah kita, yaitu bagaimana sebenarnya  sang koruptor dengan hasil korupsinya dalam perspektif?

Karena betapa bedanya ketika kita memahami dengan hal yang berbeda bahwa ternyata seorang koruptor telah mengawali rancangan kehidupannya dengan berusaha menahan segala nafsu duniawinya dengan perbuatan korupsi. Mungkin Anda sedikit mengerutkan dahi, mekanisme apa sebenarnya gera ngan yang tengah berjalan?

Sederhana, sangat sederhana! Saya mencoba menganalisanya dengan menyodorkan atmosfir            dalam suasana kejiwaan, sebagai berikut:

1. Seorang koruptor yang mengeruk kekayaan Negara memiliki begitu besar dana yang tersimpan. Entah bagaimana caranya yang penting dipikiran mereka dana tersebut tidak diketahui atau tidak tersentuh oleh orang lain yang mereka anggap bakal  merugikannya baik dari aspek keuangan maupun hukum. Tentu ini merupakan cara primitive yang dilakukan oleh manusia sepanjang sejarah. Menyimpan sejumlah dana (hasil korupsi) dalam bentuk aslinya ke suatu tempat atau cara yang sangat primitive, seperti di dalam tanah, dibawah bantal, atau bahkan di dalam lemari mungkin.

Di sinilah pergulatan hawa nafsu mulai bergejolak, karena seorang koruptor pastilah sangat mengerti bahwa menyimpan sejumlah dana tertentu dalam bentuk demikian sangatlah tidak menguntungkan. Tidak akan seperti dengan membeli sejumlah saham atau bentuk investasi yang sedikit menguntungkan dalam kondisi normal di jaman ini. Bahkan bisa saja akan mengalami kerusakan secara fisik atau kadaluarsa karena peredarannya telah di batasi oleh otoritas keuangan Negara (Bank of Indonesia). Sebuah pergulatan penting, dimana akal sehat harus dikalahkan dengan begitu mudahnya oleh sifat primitive manusia (PRIMITISER). Apa yang harus kita katakan dengan hal tersebut, atau ada diantara kita mencoba untuk memberikan saran untuk menghindarinya?. Bagiaman dengan membagi-bagikannya kepada keluarga, kolega, dan kepada penyelenggara kegiatan amal! Saya tetap memasukkannya dalam golongan primitive pula. Karena itu juga masih dalam metode  penyimpanan dana yang mengabaikan prinsip-prinsip investasi yang menguntungkan. Kecuali kalau kita ingin mengatakan sebuah kegatan amal yang dilumuri oleh kebejatan pula.

2. Sejumlah uang, harta, aset, atau yang semacamnya sebagai hasil korupsi, yang oleh sang koruptor atau keluarganya, atau koleganya yang turut terlibat tentu ingin menikmati hasil jerih payah tersebut. Apa hanya untuk disimpan atau dijadikan hiasan mata secara sembunyi-sembunyi? Ya, tentu tidak! Selalu timbul keinginan untuk melaksanakan hajat sebagai latarbelakang sang koruptor melakukan perbuatan tersebut. Berbagai bukti tertangkapnya  koruptor justru pada saat hasil korupsi digunakan dengan membeli sejumlah barang mewah seperti kendaraan, rumah atau apartemen, tanah, dan sejumlah bentuk aset lainnya. Saya sangat ingin mengatakan bahwa sang koruptor adalah mereka yang sangat mampu untuk hidup dalam kesederhanaan di tengah melimpahnya kekayaan! Sebuah pergulatan hawa nafsu yang sangat sengit dengan kepemilikan harta benda yang melimpah ruah sementara hanya bisa dinikmati dengan sebuah kesederhanaan yang sangat menyakitkan! Sayapun  memberinya istilah: “ SIMPLISER”. Sungguh! Hidup sepi ditengah hingar bingar godaan syahwat, harta, dan imajinasi lainnya. Kesederhanaan itupula dipermak lagi dengan tampil bak ratu adil. Tampil sebagai manusia setengah sempurna dengan mengumpar kata-kata bijak dan penentangan terhadap kezaliman bahkan korupsi, kolusi dan nepotisme.

3. Bagaimana dengan kondisi kejiwaan keluarga, kolega, atau sahabat mereka yang sangat tahu dan memahami dan bahkan turut menerima hasil korupsi  dari sang koruptor? Mereka tentu hampir sama dengan kondisi sang koruptor, Primitisasi dan Simplisasi menjadi bukan jalan yang terbaik yang mereka terpaksa harus lakukan. Mereka berada dalam sebuah jaringan yang sangat rapuh dan muncul diantara mereka sebuah pesan mendasar untuk saling mengingatkan untuk selalu waspada, selalu menjaga tingkahlaku atau perbuatan yang mungkin saja mengundang kecurigaan orang-orang yang merugikan mereka. Mereka semua serta merta menjadi penasehat Dalam kondisi demikian terciptalah sebuah jalinan kasih yang saya ingin sebutkan dengan istilah: “  LOVITISER”. Sebuah perspektif cinta yang dibungkus dengan kesetiaan untuk saling menjaga dan membentengi diri dari serangan KPK dan jaringan anti korupsi lainnya.

4. Situasi sekarang adalah kalau salah satu dari mereka benar-benar telah terbukti dan di vonis sebagai koruptor dengan berbagai macam kelas. Bagaimana nasib keluarga besar mereka. Di sinilah ujian yang cukup besar! Seorang koruptor berada dalam persimpangan yang sangat riskan. Betapa tidak, aset yang dikumpulkan dengan suka cita harus diserahkan dengan duka cita pula. Pergulatan batin akan terus berkecamuk dalam pikiran mereka. Bagaimana harus mempertanggungjawakan sebuah perbuatan yang  melibatkan dan dinikmati oleh banyak pihak sementara harus ditanggung sendiri? Memilih menjadi tumbal atau kembali kealam kejujuran yang berbuah malapetaka. Bagaimana bisa tenang dalam kondisi yang tidak menentu atau dalam situasi yang emergensi ini? Jangan lupa bahwa pada situasi tertentu terkadang seseorang atau kolega secara sadar atau tidak digiring untuk turut menikmati hasil korupsi dari sang koruptor. Cepat  atau lambat mereka akan tersadarkan dan tentu terjebak dalam situasi seprti yang saya sebutkan sebelumnya: PRIMITISER, SIMPLISER, DAN LOVITISER. Tapi tunggu dulu! Sebelumnya saya mohon maaf karena uraian  terakhir juga memiliki istilah yang menyedihkan, ya “ DEHUMANISER”.

5. Makanya orang-orang yang masuk dalam golongan koruptor tentu berada dalam situasi yang sangat menyedihkan! Mari bersama-sama mengajak mereka untuk kembali menjadi manusia yang terhormat (HUMANISER)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s