KEARIFAN LOKAL DI PARUNGPONTENG


Nilai-nilai budaya dan kearifan lokal mengalir begitu derasnya di Desa Parungponteng, Kabupaten Tasikmalaya. Modal budaya tersebut sangat berharga untuk dijadikan sebagai acuan dalam pengkajian  kearifan lokal berikutnya yang akan menambah khasanah kelimuan  mendalam dengan atmospere berbeda dengan daerah lainnya . Budaya dalam hal ini adalah satu wujud yang diterima secara implisist oleh masyarakat yang akan menentukan bagaimana mereka merasakan, memikirkan, dan bereaksi tehadap lingkungannya.  Budaya juga merupakan nilai dan keyakinan bersama yang mendasari identitas atau kekhasan masyarakat Parungponteng pada umumnya.

Ada tiga karakteristik budaya dan kearifan lokal yang menjadi ciri khas masyarakat Parungponteng, yang mungkin memiliki kesamaan dengan daerah lainnya, yaitu:

  1. Budaya yang berkembang diturunkan secara inheren dalam perkembangan masyarakat Parungponteng itu sendiri dan mungkin melalui sosialisasi yang mencontoh di tengah-tengah kehidupan umumnya. Secara eksklusif pengaruh budaya tersebut tertanam begitu kuat dan indahnya dalam pergaulan sehari-hari warganya. Hal kecil yang terlihat nyata adalah komitmen dan konsistensi dalam menjalankannya dengan begitu tulus dan bersahaja.
  2. Budaya atau kearifan local tersebut sangat mempengaruhi perilaku mereka dalam berinteraksi terhadap sesama warga dan terhadap masyarakat luar.
  3. Ada kemampuan untuk bertahan atau melestarikan nilai-nilai tersebut secara maksimal  melalui proses eksistensi di tengah-tengah lingkungan Parungponteng dan di tempat domisili mereka.

Secara umum saya melihat dan mencermati dua hal yang menjadi sorotan dewasa ini yang berkenaan dengan budaya dan kearifan local di Parungponteng, yaitu pertama: Budaya dan kearifan local yang terjaga atau lestari dan hidup ditengah-tengah denyut nadi kehidupan para anggota dalam masyarakat. Kedua: Bagaimana potensi dan realita kehidupan  yang disebut kearifan local mampu menggerakkan sendi-sendi kehidupan, termasuk social, budaya, ekonomi, dan pengaruh pola politik praktis dalam  masyarakat yang disebut Eksistensi Kerakyatan.

Terkadang saya sendiri atau banyak dari kita berpikir sangat sederhana dengan mengaitkan budaya local dengan pengembangan pariwisata yang dimanipulasi.  Kebanyakan berpendapat bahwa pelestarian budaya  hanya  melalui pelestarian seni budaya tradisional dan benda-benda cagar budaya, salah satunya dengan gelar karya seni dan kreatifitas budaya atau melalui museum dan pameran budaya. Padahal budaya dan kearifan local merupakan mata rantai yang tidak akan terputus dari  waktu ke waktu sepanjang manusia itu eksis di permukaan bumi ini. Dalam perjalanan panjangnya budaya atau kearifan local akan banyak bergesekan atau mengalami simbiosis dengan pengaruh kehidupan manusia dan lingkungan lainnya. Hal ini tentu tidak menghilangkan arti sebenarnya budaya local tersebut, tetapi menjadi bagian terpenting dalam evolusi sejarah atau perubahan manusia secara luas.

Ada beberapa instrumen budaya dan kearifan lokal yang menjadi landasan atau pondasi pelakunya untuk terus dapat bertahan atau berkembang, yaitu:

  1. Karakter budaya: merupakan manifestasi dari apa yang diterima dan diyakini untuk dilaksanakan dalam kegiatan sehari-hari.
  2. Bahasa lokal atau daerah. Termasuk logat dan bahasa-bahasa yang dicipta sendiri yang secara sadar hanya dipakai di lingkungan nya sendiri.
  3. Semangat kekeluargaan. Terlihat jelas dalam aktifitas sehari-hari terutama pada kegiatan yang sifatnya gotong-royong atau kegiatan sosial keagamaan lainnya
  4. Pernikahan. Secara umum mengikuti budaya Sunda secara umum sangat dipengaruhi oleh aktifitas ke-Islam-an sebagai agama yang di anut seratus persen , namun terlihat beberapa hal yang merupakan hasil kreasi dari warga masyarakat sendiri yang memperkaya corak dan warna pernikahan atau pesta pernikahan mereka
  5. Lagu dan tarian. Termasuk beberapa alat musik yang masih dipertahankan keberadaan dan eksistensinya, seperti Rebana, angklung, dan alat music lainnya.
  6. Toleransi Berakhlak.
  7. Perangkat komunikasi. Mengunakan kentongan dari bambu atau kayu untuk memberikan informasi, peringatan, dan sinyal untuk beberapa kegiatan tertentu.
  8. Transportasi.
  9. Pemilu/Pemilukada

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s