CURUGNEUKTEK: KAMPUNG YANG FENOMENAL SEKALIGUS BERSAHAJA


Saya menyempatkan diri berkunjung di sebuah kampung wilayah Desa Barumekar di daerah Tasikmalaya yang menurut saya sangat fenomenal dan bersahaja. Tepatnya di Kecamatan Parungponteng, terisolir karena sarana transportasi yang sangat minim atau terbatas apalagi pada musim hujan kiranya hanya ojeg yang bisa tembus ke sana.

Dari sudut pandang mana sehingga saya menganggap Kampung Curugneuktek ini fenomenal? Ada sedikit data atau informasi yang membantu kita memahami atau memberi arti daerah ini: 1. Dari segi jarak letak kampung ini dari Kota Tasikmalaya hanya sekitar 30 km. 2. Dari Ibukota Negara kita hanya berjarak sekitar 300 km. 2. Senagian besar pemuda atau mereka yang berusia produktif bekerja sebagai buruh di kota atau merantau ke bandung, Jakarta, daerah sekitar Tasikmalaya, propinsi lain di Pulau Jawa, bahkan ke luar Pulau Jawa. 3. Yang tersisa adalah Ibu Rumah Tangga, anak usia sekolah, pedagang kecil, buruh tani, petani tradisional, peternak rumahan/kebunan,  hampir sebagian yang  sangat kecil bersatus Guru/ PNS, sungguh lebih sangat sedikit lagi hampir menjadi Pejabat di Daerah ini dan di negara Indonesia Merdeka.

Tetapi jangan ditanya, mereka semua sangat berperan penting dalam memberikan kontribusi menjaga kekeluargaan, kegotongroyongan, kepedulian terhadap lingkungan, menjaga kelestarian budaya yang religius, dan menjadi penghubung antara berbagai pola perilaku di masyarakat yang terkadang menafikan eksistensi mereka.

Berangkat dengan menggunakan ojeg, sambil membawa kamera untuk hunting, ternyata dengan menggunakan motor sekalipun perjalanan kami sangat berat. Karena jalannya sudah sangat rusak berat.

Memasuki wilayah Curugneuktek, kami wajib melalui sebuah jembatan kecil yang terbuat dari bambu dengan kawat yang membentang memisahkan wilayah kampung Ciruda dengan Curugneuktek. Ojek yang membawa saya sudah sangat berpengalamam, jembatan yang sempit dan bergoyang jika dilewati bagi Sang Ojeg sepertinya biasa saja. Saya tidak dibiarkan turun atau membawa motornya gak pelan, malah dibawanya agak kencang denga alasan mengurangi beban jembatan bambu tersebut.

Memasuki wilayah Curugneuktek, kami melalui sebuah tanjakan yang sangat curam dan panjang dengan jalannya yang licin. Setelah melalui perjuangan yang mendebarkan layaknya cross country, akhirnya sampailah saya di Kampung Curugneuktek yang sangat elok, hijau dan damai. Pintu gerbang kampung di jaga oleh 3 ekor sapi yang sedang merumput sebebasnya. Ternyata jalan di kampung ini selain tidak terpola juga masih berupa jalan tanah yang berumput, sehingga masih perlu ekstra hati-hati untuk melaluinya.

Seperti kampung lainnya yang letaknya terisolir, Kampung Curugneuktek memiliki  sebuah Masjid yang cukup untuk kegiatan peribadatan sehari-hari yang dikelola oleh DKM (Dewan Kesejahteraan Masjid). Termasuk pelaksanaan Sholat Idul Fitri dilaksankan dengan penuh hikmah di Masjid tersebut. Kegiatan lainya adalah pengumpulan Zakat, Sholat Taraweh, pengajian, dan kegiatan lainnya yang dikasudkan utnk meningkat peribadatan.

Di sini juga telah ada sebuah SD yang cukup representatif walaupun jumlah muridnya sangat sedikit.

Dengan segala keterbatasan yang dimiliki, warga masyarakat Curugneuktek menjalani kehidupannya yang penuh dengan semangat, dinamis, gairah kebersamaan,  toleransi, meslipun di tengah situasi yang serba terbatas.Inilah sebagian dari  berbagai potret kehidupan masyarakat yang tetap setia mengibarkan Sang Saka Merah Putih dengan tiang bambu muda tanpa harus mempersoalkan ukuran dan bahan kain benderanya sendiri. Sebuah Fenomena?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s