PANEN


Panen! Semua Petani tentu sangat mendambakan waktu atau masa-masa  panen. Jerih payah sekian hari atau bulan terasa terbayarkan jika waktu tersebut telah tiba. Waktu panen tentu berbeda-beda sesuai dengan komuditas tanaman yang di tanam. Kalau tanaman padi sekitar 2,5 sampai 3 bulan lamanya.

Saat atau waktu panen di sebagian wilayah di negeri kita Indonesia dijadikan sebagai waktu untuk berpesta. Disebutnyalah Pesta Panen. Bahkan di luar negeri istilah pesta panen juga dilaksanakan. Terutama untuk negara-negara agraris seperti indonesia.

Dibeberapa daerah di Indonesia Pesta Panen dijadikan juga sebagai media Silaturahmi Massal dan ada juga untuk penolak Bala seperti di daerah Monconloe Sulawesi selatan dengan cara memukul lesung.

Bagaimana dengan perhitungan keuntungan yang didapatkan oleh para petani kita setelah mereka memanen tanamannya? Dalam ekonomi pertanian, hasil usaha tani, hasil panen, atau sangat sering disingkat hasil saja, adalah besaran yang menggambarkan banyaknya produk panen usaha tani yang diperoleh dalam satu luasan lahan dalam satu siklus produksi. Satuan hasil biasanya adalah bobot (massa) per satuan luas, seperti kg per hektare (= kg/ha atau kg.ha-1), kuintal (desiton, dt) per hektare, dan (metrik-)ton per hektare.

Wujud fisik hasil berbeda-beda tergantung komoditi. Untuk tanaman penghasil biji-bijian (serealia dan legum) hasil yang dihitung adalah bulir atau biji yang telah dikeringkan. Pada berbagai tanaman sayuran hasil yang dihitung adalah buah atau daun atau seluruh bagian di atas permukaan tanah. Sisa panen di bagian atas permukaan tanah yang tidak dihitung sebagai hasil usaha tani diberi istilah brangkasan.

Hasil membantu menggambarkan tingkat nisbah/rasio keuntungan yang diperoleh dari pemberian masukan terhadap lahan untuk usaha tani. Dalam praktek, hasil sering kali dikonversi menjadi nilai ekonomi (nilai jual) per satuan luas untuk membantu perhitungan keuntungan ekonomi.

Untuk suatu lahan yang luas atau dalam kondisi keterbatasan instrumen untuk mengukur, pendugaan hasil dilakukan dengan mengambil luasan contoh, yang dikenal sebagai petak ubinan. Untuk pertanaman padi dan palawija tertentu, ukuran petak ubinan adalah 14 m2.

Di daerah Pontianak, ribuan warga memadati halaman rumah panjang atau rumah betang khas Suku Dayak di pedalaman Kalimantan Barat. Mereka mendatangi pesta panen atau yang dikenal dengan nama ritual naik dango dengan berpakaian adat Dayak. Ini merupakan ritual ungkapan rasa syukur masyarakat Dayak Kanayan kepada nek jubata atau sang pencipta untuk segala hasil panen mereka.

Perwakilan Dayak dari setiap kampung membawa miniatur rumah panjang sebagai tempat sesajen mereka. Persembahan itu berisi kepala kambing atau kepala babi dan diarak dari kampung kaki. Diiringi dengan tarian khas Suku Dayak Kanayant mereka mendatangi rumah betang tersebut.

Pesta naik dango ini merupakan pesta panen tahunan bagi warga Suku Dayak Kanayant. Dalam pesta ini digelar pula berbagai kegiatan budaya Dayak, antara lain membuat kue ketan khas Dayak dan lomba khas Dayak pedalaman. Kegiatan ini diharapkan dapat melestarikan berbagai seni kebudayaan Dayak yang memang memiliki pesona dalam bingkai kekayaan budaya nusantara.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s