2011Segera! Tujuh Miliar Jiwa di Dunia


gallery

Pada 2045, penduduk Bumi diperkirakan mencapai sembilan miliar jiwa. Sanggupkah Bumi menyangga beban seberat itu?

Pada suatu hari musim gugur 1677 di Delft, Belanda, Antoni van Leeuwenhoek, saudagar kain yang konon berperan sebagai model berambut panjang bagi dua lukisan karya Johannes Vermeer—lukisan “Ahli Astronomi” dan “Ahli Geografi”—mendadak berhenti mencumbui istrinya dan tergesa menuju meja kerjanya. Kain memang bidang usaha Leeuwenhoek, tetapi mikroskopi adalah minatnya.

Dia sudah punya lima anak dari istri pertamanya (meskipun yang empat orang meninggal saat masih bayi), dan bukan soal menjadi ayah yang memenuhi pikirannya. “Sebelum enam kali denyutan,” (begitu yang dia tulis kemudian kepada Royal Society of London) Leeuwenhoek memeriksa sampel air maninya sendiri—zat yang mudah rusak itu—melalui kaca pembesar yang kecil ukurannya. Lensanya, yang tidak lebih besar daripada setetes kecil air hujan, dapat memperbesar benda sampai ratusan kali. Kaca pembesar itu juga dia buat sendiri dan saat itu tak seorang pun yang memiliki lensa sekuat lensa miliknya.

Pada masa itu, para cendekiawan di London masih berusaha meneliti keabsahan klaim Leeuwenhoek sebelumnya yang menyatakan bahwa jutaan “animalkul” (animalcules, istilah Leewenhoek bagi mikroorganisma) yang tidak kasat mata hidup dalam setetes air danau dan bahkan dalam setetes anggur Prancis. Di hari itulah Leewenhoek memiliki satu hal lain yang lebih rumit untuk dilaporkan. Yaitu, air mani manusia juga mengandung animalkul. “Kadang lebih dari seribu dalam sejumput materi yang ukurannya sebesar satu butir pasir,” tulis Leewenhoek.

Sambil menempelkan kaca pembesar ke matanya seperti seorang pandai perhiasan, Leeuwenhoek melihat animalkul miliknya berenang-renang sambil mengibas-ngibaskan ekornya yang panjang. Bayangkan cahaya matahari menerobos melalui kerai kaca jendela, berlabuh di wajah yang tercenung, seperti pada lukisan Vermeers. Sungguh kasihan sang istri.

Setelah itu, Leeuwenhoek menjadi agak terobsesi. Lubang intipnya yang sangat kecil itu memberi Leewenhoek hak istimewa dalam mengakses dunia mikroskopik yang belum pernah dilihat orang lain dan dia menghabiskan banyak sekali waktu mengamati spermatozoa, itulah nama yang kita gunakan sekarang. Namun yang sungguh terasa ganjil, justru cairan mani yang dia peras dari seekor ikan cod-lah yang kemudian mengilhaminya untuk menaksir, hampir secara sambil lalu, berapa banyak manusia bisa menghuni Bumi.

Tidak seorang pun paham apa yang Leewenhoek maksudkan, antara lain karena belum banyak sensus dilakukan pada waktu itu. Leeuwenhoek memulainya dengan taksiran bahwa sekitar satu juta orang tinggal di Belanda. Dengan menggunakan peta dan sedikit ilmu geometri bidang lengkung,  dia menghitung bahwa kawasan daratan yang berpenghumi di Bumi luasnya 13.385 kali luas Belanda. Waktu itu sungguh sulit membayangkan Bumi yang seluruhnya sepadat negeri Belanda, yang bahkan di masa itu pun sepertinya sudah sangat padat.

Jadi, Leeuwenhoek menyimpulkan dengan penuh rasa kemenangan, Bumi tidak mungkin dihuni lebih dari 13.385 miliar orang—jumlah yang kecil jika dibandingkan dengan 150 miliar sel sperma yang menghuni seekor ikan cod! Hasil perhitungan yang riang gembira tersebut, begitu tulis ahli biologi populasi Joel Cohen dalam bukunya How Many People Can the Earth Support?, mungkin merupakan upaya pertama yang memberikan jawaban kuantitatif terhadap pertanyaan yang kini kian mengecilkan hati jika dibandingkan pada masa abad ke-17. Pasalnya, kebanyakan jawaban di masa sekarang ini sama sekali tidak menggembirakan.

Kini para ahli sejarah memperkirakan bahwa di masa Leeuwenhoek hanya ada sekitar setengah miliar manusia di Bumi. Saat itu, jumlah manusia baru saja melesat setelah peningkatan yang sangat lambat selama ribuan tahun. Satu setengah abad kemudian, ketika penemuan sel telur manusia dilaporkan,  penduduk dunia telah bertambah lebih dari dua kali lipat menjadi lebih dari satu miliar jiwa. Satu abad setelah itu, sekitar 1930, jumlah manusia kembali berlipat dua menjadi dua miliar. Akselerasi pertambahan sejak itu sungguh mencengangkan. Sebelum abad ke-20, belum pernah ada manusia yang di  masa hidupnya menyaksikan penduduk Bumi bertambah dua kali lipat, padahal banyak orang yang hidup sekarang menyaksikan jumlah manusia bertambah sampai tiga kali lipat. Kelak di akhir 2011, menurut Divisi Populasi PBB, akan ada tujuh miliar manusia.
Sumber: NGI

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s