Ketika Setiap Muslim Dianggap Teroris


Meski mendapat penentangan luas dari kelompok-kelompok muslim dan pelbagai organisasi madani di AS, namun dewan perwakilan rakyat AS, kemarin (Kamis, 10/3) akhirnya tetap menggelar juga sidang dengar pendapat yang sarat akan nuansa anti-Islam. Sidang dengar pendapat yang mengusung tema “Penyebaran Radikalisme di Kalangan Komunitas Muslim AS dan Respon Mereka terhadap Radikalisme” itu diprakarsai oleh Peter King, seorang legislator dari kubu Republik.Tentu saja pertemuan semacam itu bukan hal baru di lingkungan Kongres AS.
Apalagi asumsi mendasar yang selalu dipakai selama ini adalah anggapan bahwa Islam merupakan landasan ideologis terorisme. Munculnya ajakan pembakaran al-Quran di AS pada September tahun lalu juga dibagun atas dasar asumsi batil seperti itu.

Peter King mengklaim, Al-Qaeda sudah frustasi untuk menghancurkan AS dari luar negeri. Karena itu, mereka berusaha memanfaatkan warga muslim AS untuk merealisasikan ambisinya tersebut. Sepintas saja melihat dakwaan tersebut, jelas sudah bahwa klaim yang diajukan politisi Republikan itu dibangun atas dasar asumsi bahwa setiap teroris adalah muslim. Sebuah dugaan rapuh yang membuat pemerintah AS mengalami kesalahan fatal dalam menyingkap pelaku pengemboman Gedung Federal Oklahoma. Kala itu, kelompok-kelompok muslim dituding sebagai pelakunya. Namun setelah dilakukan pengusutan lebih mendalam ternyata pelakunya adalah kelompok-kelompok sayap kanan radikal di AS.

Terlepas dari itu, bila kita tengok kembali pihak-pihak yang diundang dalam sidang dengar pendapat DPR AS Kamis (10/3) lalu, jelas sudah bagaimana rendahnya obyektifitas pertemuan tersebut. Dalam sidang itu, tak ada satupun pihak atau kelompok dari kalangan muslim yang sengaja diundang untuk menangkis klaim-klaim tak berdasar Peter King terhadap Islam. Hanya segilintar saja kalangan muslim yang hadir saat itu, salah satunya adalah seorang dokter muslim dari kubu Republik yang menegaskan bahwa masyarakat muslim AS dianggap radikal hanya karena menentang perang Afghanistan dan Irak.

Tak hanya itu, Peter King juga menuding organisasi-organisasi Islam di AS dan para pimpinannya telah menghambat dan menghalang-halangi penyelidikan polisi mengenai terorisme. Namun kali ini pun, King bersikap sepihak dan tak juga mengundang perwakilan dari pihak kepolisian AS yang bisa membuktikan atau pun membantah klaimnya tersebut.

Dalam pembelaannya mengenai urgensi penyelenggaran sidang dengar pendapat yang digagasnya itu, Peter King berdalih bahwa sidang tersebut bertujuan untuk mencegah penyebaran terorisme. Namun demikian banyak pihak yang beranggapan, penyelanggaraan sidang seperti itu hanya akan memperlemah sikap-sikap toleransi antarumat beragama di kalangan masyarakat multikultural AS. Bahkan disinyalir bisa meningkatkan potensi konflik berbau SARA.

Tak heran jika lantas Dennis McDonough, Wakil Penasehat Keamanan Nasional Presiden AS, segera berusaha menangkis efek domino dari tudingan anti-Islam yang dilontarkan Peter King. McDonough menyatakan, Pemerintahan Obama membedakan antara seorang yang melakukan kriminalitas dengan komunitas tempatnya berasal. Namun nyatanya, pengambilan sidik jari setiap muslim di bandara-bandara AS membuktikan bahwa setiap muslim tetap dipandang sebagai teroris. (IRIB/LV)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s