Cahaya Ramadhan (1)‎


Musim demi musim terus berganti. Malam dan pagi pun terus berputar, dan kini ‎kidung surgawi menyambut kedatangan bulan penuh rahmah mulai terdengar ‎membahana. Perlahan bulan Syaban pun beranjak pergi dan Ramadhan pun mulai ‎datang menyapa. ‎

Ramadhan adalah bulan penuh berkah. Ia datang laksana hujan rahmat di musim ‎semi yang membasahi tandusnya padang pasir. Maka sambutlah hujan rahmat ini ‎untuk membasahi kalbu dan jiwa-jiwa kering yang menantikan siraman air ‎kehidupan setelah lama terpapar oleh letihnya rutinitas duniawi. ‎

Ramadhan adalah kesempatan emas bagi seorang hamba untuk meraih lompatan ‎spiritual menuju peringkat yang paling sempurna. Kesempatan ini mengingatkan ‎dan mempererat kembali janji setia seorang hamba dengan Tuhannya. ‎

Ramadhan adalah masa-masa yang penuh dengan keindahan. Setiap detiknya ‎begitu berkesan dan tak mudah untuk dilukiskan dengan kata-kata. Ramadhan ‎adalah penyuci jiwa-jiwa yang telah kelam olen noda dosa, menganugerahkan ‎cahaya taubah hingga membawa manusia untuk kembali kepada fitrahnya. Siang ‎dan malam Ramadhan datang menghampiri dan perlahan berjalan meninggalkan ‎kita. Masa-masa sahur dan iftaar yang penuh dengan berkah, detik-detik penuh ‎isyarat dan misteri sebelum fajar, semuanya itu menyiratkan belahan waktu yang ‎penuh dengan cahaya spiritual hingga membawa kita untuk menyelami ‎pengalaman maknawi yang penuh dengan keindahan. ‎

Salam bagimu wahai Ramadhan, bulan penuh rahmah. Salam bagimu Ramadhan, ‎bulan penuh maghfirah. Salam bagimu Ramadhan, bulan yang lebih mulia ‎ketimbang seribu bulan. ‎

Ilahi aku datang kepada-Mu bersimpuh berdoa mengharap limpahan rahmat-Mu. ‎Jangan biarkan aku kembali dengan tangan kosong. Ilahi, aku tengadahkan ‎tanganku meminta apapun yang terbaik sesuai dengan kerelaanmu, memohon ‎ampunan dan nikmatnya ibadah di bulan Ramadhan yang mulia ini. ‎

Marilah kita awali hari pertama bulan Ramadhan tahun ini dengan menyimak ‎sebuah hadis suci dari Rasulullah Saw. Menjelang Ramadhan, Rasulullah ‎berpesan kepada umatnya: ‎

‎”Wahai umat manusia, sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan ‎membawa berkah, rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia di sisi Allah. ‎Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-‎malam yang paling utama. Detik demi detiknya adalah detik-detik yg paling utama.‎

Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tetamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. ‎Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu adalah ibadah, amal-amalmu ‎diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat ‎yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan puasa ‎dan membaca Kitab-Nya. Sungguh celakalah orang yang tidak mendapat ampunan ‎Allah di bulan yang agung ini.”‎

Di dunia yang penuh dengan riuh keramaian ini, terkadang kita memerlukan ‎keheningan dan menghindar sejenak dari putaran rutinitas kehidupan duniawi. Kita ‎perlu merenung dan menyelami kedalaman diri dan memikirkan hakikat ‎penciptaan. Sebagaimana kita ketahui bersama, selain materi manusia juga ‎memerlukan asupan spiritual. Jika tuntutan ukhrawi itu diabaikan niscaya manusia ‎akan mengalami krisis spiritual dan moral yang akut. ‎

Salah satu tujuan disyariahkannya puasa Ramadhan adalah untuk membebaskan ‎manusia dari jeratan kehidupan duniawi. Bulan Ramadhan laksana madrasah yang ‎mengajarkan kita bagaimana menghadapi pikiran dan perbuatan yang bisa ‎menyesetkan kita ke jalan yang menyimpang. Dengan seluruh potensinya, bulan ‎yang penuh rahmat ini memberikan kita kesempatan untuk merasakan kehadiran ‎Tuhan kapanpun dan di manapun. ‎

Suatu ketika Rasulullah Saw ditanya mengenai perbuatan apa yang terbaik untuk ‎dilakukan di bulan Ramadhan. Beliau menjawab, “Sebaik-baik perbuatan adalah ‎menjauhi segala yang diharamkan Allah Swt. Yaitu menghindari apapun yang ‎dilarang oleh Allah Swt”. ‎

Kini dengan kedatangan Ramadhan, kita diberi kesempatan baru untuk menengok ‎ulang dan mengubah pemikiran, perbuatan, dan perasaan kita. Karena itu dalam ‎kesempatan kali ini kami mengajak Anda untuk melihat kembali bagaimana ‎pandangan al-Quran tentang model manusia yang sempurna. ‎

Al-Quran sebagai kitab suci ilahi yag paling sempurna dan luhur merupakan ‎pedoman hidup bagi umat manusia. Karena itu di dalamnya banyak terdapat ‎keterangan yang menjelaskan bagaimana pribadi dan ciri manusia yang saleh dan ‎beriman, sebagai tolak ukur bagi kita untuk meraih kebahagiaan ilahi. Salah satu ‎ciri utama dari manusia yang saleh adalah keimanan mereka yang begitu kokoh ‎kepada Allah Swt yang Maha Pengasih dan Bijaksana. Allah Swt dalam surat al-‎Ankabut, ayat 9 berfirman, “Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal ‎saleh benar-benar akan Kami masukkan mereka ke dalam (golongan) orang-orang ‎yang saleh.”‎

Di mata al-Quran, orang-orang mukmin yang sejati adalah mereka yang memiliki ‎kalbu yang penuh dengan kecintaan terhadap Allah Swt dan selalu mengingat ‎keagungan-Nya. Mereka merasa menjadi tenang dan damai ketika berlindung ‎kepada kekuatan iman yang kokoh. Keimanan mereka seperti benteng yang ‎melindungi mereka dari segala penyakit jiwa dan moral. Oleh sebab itu, mental dan ‎psikologi orang-orang mukmin selalu sehat dan stabil. Pengalaman membuktikan, ‎keyakinan kepada Allah swt bisa memberikan rasa damai dan tenang bagi jiwa ‎manusia. ‎

Dalam pandangan orang-orang beriman, dunia bukanlah sehimpun kehidupan ‎yang tidak beraturan. Bagi mereka, dunia adalah sistem kehidupan yang memiliki ‎tujuan dan makna. Sementara bagi kalangan yang tidak meyakini keberadaan ‎Tuhan, niscaya bakal mengalami kehampaan dan krisis spiritual sehingga ‎berpengaruh terhadap pemikiran, emosi, dan perilakunya. ‎

Sebaliknya, manusia beriman memandang positif keberadaan dunia sehingga ‎memberikannya keceriaan dan kebahagiaan dalam menjalani kehidupan. Di mata ‎mereka, Tuhan adalah sumber segala keindahan dan kebaikan di alam semesta ‎ini. Mereka meyakini Tuhan sebagai wujud yang maha pengasih dan begitu dekat ‎dengan hamba-hamba-Nya, yang selalu mendengar dan mengabulkan doa-doa ‎mereka. Keyakinan semacam inilah yang membuat jiwa manusia menjadi sehat ‎dan tahan cobaan dalam mengarungi pasang-surut kehidupan. ‎

Filosof muslim kontemporer Iran, Ayatollah Syahid Muthahhari menuturkan, “Bila ‎keimanan seorang insan beragama semakin kuat dan kokoh, maka ia pun kian ‎kebal dari gangguan penyakit jiwa. Salah satu pengaruh positif keimanan religi ‎adalah hadirnya ketenangan jiwa. Imam mampu menghapus kebimbangan dan ‎rasa gundah kelana dalam diri manusia dan menganugerahkannya ketenangan ‎kalbu”.(IRIB/LV/SL)‎

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s