Cahaya Ramadhan (3)


Memulai Cahaya Ramadhan bagian ketiga ini ada baiknya bila dibuka dengan mengutip sebuah hadis dari Rasulullah Saw. Beliau bersabda:“Barang siapa yang berpuasa hanya karena Allah di tengah teriknya hari hingga membuatnya kehausan, maka Allah Swt akan mengirim kepadanya seribu malaikat untuk mengusap mukanya. Mereka memberikan kabar gembira hingga waktu berbuka puasa tiba. Lantas Allah Swt berfirman, ‘Wahai para malaikatku, saksikanlah bahwa aku mengampuninya’.”

Islam mengajarkan kepada umatnya suatu amalan yang bisa mengantarkan seorang hamba untuk memperoleh keridhaan Allah Swt. Salah satu dari amalan tersebut adalah ibadah puasa di bulan Ramadhan. Saat berpuasa, Allah meminta manusia untuk menahan lapar dan dahaga, mulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.

Kendati secara lahiriah, puasa adalah menahan lapar dan dahaga serta menahan diri dari beragam kelezetan materi selama masa tertentu, namun hakikat dari puasa melampaui ihwal tersebut. Pada dasarnya, tujuan sejati puasa adalah untuk menyucikan diri manusia dari berbagai noda dan dosa. Ketika seorang berpuasa dengan seutuhnya, niscaya dalam dirinya akan muncul suasana spiritual yang bisa mendekatkannya kepada Sang Khaliq. Tentu saja, untuk bisa mendekatkan diri kepada Allah Swt terdapat banyak syarat dan prasyarat yang mesti dilewati.

Berpuasa selama sebulan penuh di bulan Ramadhan merupakan latihan bagi manusia untuk menahan diri dari godaan hawa nafsu. Karena itu, puasa bisa menyucikan dan melembutkan jiwa manusia dan mereka yang menempuh suluk spiritual ini akan bisa memperoleh keutamaan dan kesempurnaan.

Terkait hal ini, Rasulullah Saw bersabda, “Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dan bermaksud mendekatkan diri kepada Allah Swt, menjauhkan mata, telinga, dan anggota tubuhnya dari hal-hal yang diharamkan serta tidak berbohong dan menggunjing orang lain, niscaya Allah Swt akan mendekatkan hambanya itu kepada diri-Nya”.

Berpuasa merupakan sebuah kenikmatan dan ibadah yang mendekatkan manusia dengan Sang Pencipta. Masalah terpenting dalam bulan Ramadhan adalah pemahaman benar tentang keutamaan dan kemuliaan bulan ini. Karena seorang mukmin yang mengetahui keutamaan bulan ini, sebenarnya ia tengah mempersiapkan dirinya untuk menerima siraman rahmat, nikmat, dan ampunan Allah Swt. Artinya, luasnya pemahaman seseorang terhadap bulan Ramadhan akan mempengaruhi besarnya manfaat yang didapatkannya di bulan Ramadhan.

Oleh karena itu, seorang mukmin yang benar-benar memahami hal ini, akan selalu waspada untuk tak melewatkan sedetik pun pada bulan Ramadhan ini untuk melakukan hal yang sia-sia. Seperti yang disampaikan Rasulullah, jika seorang hamba mengetahui seluruh keutamaan bulan Ramadhan, maka ia akan berharap seluruh bulan dalam setahun adalah bulan Ramadhan.

Para psikolog berpendapat bahwa manusia era kini sesekali waktu memerlukan kesempatan untuk menyelami dirinya lebih dalam. Saat itulah, seseorang dapat terbebaskan dari rutinitas dan melihat kembali nilai-nilai dalam dirinya. Bukankah manusia adalah makhluk terbaik? Lalu apakan ia diciptakan hanya untuk menjalani kehidupan materi yang fana ini? Tentu tidak demikian. Pengalaman membuktikan bahwa sejauh apapun dunia ini sejalan dengan keinginan seseorang, maka ia takkan pernah merasakan kepuasan dalam hatinya. Karena ia masih akan terus berusaha mendapatkan lebih dari yang telah dimilikinya.

Salah satu tujuan puasa adalah melepaskan manusia dari jeratan kehidupan materi dan mengantarkannya pada hakikat. Berpuasa pada bulan Ramadhan mengajak manusia terbang mengarungi keindahan spiritual dan merasakan kenikmatan abadi. Ini merupakan fakta yang tak dapat dipungkiri, karena sesungguhnya manusia memiliki tuntutan spiritual di samping tuntutan materinya. Melupakan tuntutan spiritual akan mengakibatkan kerugian besar bagi manusia. Salah satu cara untuk memenuhi tuntutan tersebut adalah dengan menunaikan shalat dan berpuasa. Shalat dan puasa adalah tahap persiapan bagi manusia untuk menggapai tujuan-tujuan mulia.

Puasa merupakan latihan agar manusia siap menempuh jalannya menuju penyempurnaan spiritual. Dalam berpuasa, seseorang harus berjuang melawan hawa nafsu dan keinginan yang justru akan menjerumuskannya ke jurang kesesatan. Berpuasa pada bulan Ramadhan merupakan kesempatan bagi manusia untuk mendekatkan diri dengan Allah swt dan menyirami jiwanya dengan rahmat-Nya. Saat itulah, seorang hamba tidak akan bersedia menukar kenikmatan ini dengan kenikmatan dunia apapun. Seperti yang telah dikatakan Rasulullah bahwa jika manusia mengetahui hakikat Ramadhan maka ia akan berharap seluruh bulan dalam setahun adalah bulan Ramadhan.

Kini kami akan mengutip sebuah cerita menarik untuk Anda. Pengalaman seorang gadis bernama Efleen asal Inggris. Efleen banyak menghabiskan masa kecilnya di Aljazair karena ayahnya bekerja di sana. Keberadaannya di Aljazair merupakan titik awal perubahan besar pada diri Efleen. Ia menceritakan kisahnya sebagai berikut:

“Aku tak bisa melupakan masa-masa itu. Saat aku bermain dengan teman sebayaku yang beragama muslim dengan penuh keceriaan. Aku dapat melihat keakraban dan ketulusan dari mata mereka tanpa ada rasa canggung karena aku adalah keturunan asing. Tak jarang pula mereka mengajakku ke rumah mereka. Aku ingat mereka juga sering mengajakku pergi ke masjid. Bagiku masjid memiliki nuansa spiritual yang sangat khas. Terkadang masjid memberikan keheningan penuh makna. Ketika aku masuk masjid, aku merasa memasuki tempat kesucian.

Meski usiaku masih kanak-kanak, namun aku dapat merasakan spiritualitas dalam masjid dan aku pun terpesona olehnya. Aku bahkan ingin duduk dalam masjid dan menyaksikan gerakan orang-orang yang sedang menunaikan shalat. Ketertiban dan keselarasan mereka dalam shalat sangat menarik bagiku. Aku juga menikmati ketika mereka duduk membuat lingkaran dan membaca al-Quran secara bergantian. Setelah aku dewasa, aku menyadari bahwa antara aku dan Islam ada ikatan yang tak dapat kujelaskan. Cahaya Islam yang aku saksikan pada masa kecilku menuntunku menuju dunia baru yang penuh keindahan. Namun pesona Islam tidak menghalangiku untuk menelaah lebih dalam tentang Islam. Kini aku menyadari bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang dapat memberikan penjelasan soal filsafat alam penciptaan dan bahwa Islam adalah agama yang mengantarkan manusia pada perdamaian dan ketentraman.”(IRIB/LV/SL)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s