Dalam Naungan Penghambaan


Membaca Quran

Dalam riwayat disebutkan bahwa di bulan Ramadhan Allah membelenggu syaitan. Dengan kata lain, ibadah puasa memperkuat pertahanan kaum mukminin dalam melawan bisikan syaitan dan hawa nafsu. Al-Qur’an mengajarkan kepada kita untuk memohon perlindungan Allah dari bisikan dan godaan syaitan.

وَقُل رَّبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ / وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَن يَحْضُرُونِ

“Katakanlah, Tuhanku, aku berlindung kepadaMu dari bisikan syaitan dan aku berlindung kepadaMu dari kehadirannya pada diriku.” (Q.S. al-Mu’minun 97-98)

Penderitaan dan Kenikmatan
Rasa penderitaan dan kenikmatan adalah masalah alamiah yang terjadi pada diri manusia. Secara alamiah, manusia merasakan kenikmatan akan beberapa hal dan menderita karena beberapa hal yang lain. Berada di lingkungan yang buruk atau kondisi kejiwaan yang tidak baik sangat menyiksa manusia. Sebaliknya, ia akan menikmati kondisi saat berada di lingkungan yang baik. Dengan kekuatan akal dan pikirannya manusia bisa menciptakan kondisi yang membuatnya senang dan menjauhkan diri dari apa yang menyiksanya. Terkadang orang siap menanggung derita dan kesusahan sementara demi meraih kesenangan mendatang. Misalnya, seorang ilmuan dengan senang hati menanggung derita kesusahan dalam belajar dan meneliti untuk bisa menikmati hasilnya di kemudian hari.

Sebagian kenikmatan dan kesenangan berasal dari masalah spiritual dan non materi. Secara alamiah, manusia menikmati perbuatan baik dan amal saleh walaupun terkadang dibarengi dengan kesulitan dan derita. Puasa yang diwajibkan di bulan Ramadhan adalah salah satu contoh dari amalan yang disertai dengan derita dalam bentuk rasa lapar dan dahaga. Akan tetapi kaum mukminin dengan senang hati melaksanakannya karena kenikmatan maknawiyah yang mereka raih di balik amalan ini. Sebab mereka meyakini bahwa puasa membuat mereka dekat dengan Allah dan membuat manusia bisa peduli dengan nasib sesama.

Memaafkan
Memaafkan kesalahan orang lain termasuk kemuliaan dan kesempurnaan akhlak manusia. Di bulan Ramadhan kita mesti berlatih memaafkan kesalahan orang terhadap kita supaya Allah Swt dengan kemurahan dan rahmatNya yang luas mau memaafkan kesalahan kita dan menghapuskan dosa-dosa kita. Memaafkan akan membersihkan jiwa dan hati manusia dari kotoran dan membuatnya berkilau bak permata. Memaafkan adalah perbuatan yang sangat indah bagi jiwa manusia selain juga mempererat tali hubungan sosial. Imam Ali (as) dalam sebuah riwayat berkata, “Perbuatan paling mulia bagi manusia adalah memaafkan kesalahan orang lain.” Dalam riwayat yang lain Rasulullah Saw mengimbau umatnya yang berpuasa untuk lebih bisa memaafkan kesalahan orang.

Berdoa

Amalan di Bulan Ramadhan
Doa, munajat dan istighfar adalah amalan yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan di bulan Ramadhan. Amalan ini memberikan kenikmatan spiritual tersendiri bagi kaum mukminin. Doa-doa yang diajarkan di bulan ini sarat dengan ungkapan munajat dan permohonan ampun dari Allah atas dosa-dosa yang pernah kita lakukan. Salah satu contohnya adalah doa yang dibaca di malam ke 23 bulan Ramadhan. “Ya Allah bersihkanlah dosa-dosa kami dan sucikan kami dari seluruh aib dan cela.”Memohon ampunan dan taubat akan mengangkat beban berat dosa yang ada di pundak manusia. Sejatinya, taubat adalah ungkapan penyesalan atas perbuatan dosa. Dalam arti, orang yang bertaubat setelah mengakui kesalahan berjanji untuk memperbaiki diri dan tidak kembali ke dosa yang sama. Kepada mereka yang bertaubat, Allah Swt berjanji akan memaafkan dosa-dosa dan kesalahan mereka. Mengharap kemurahan dan ampunan Ilahi saat bertaubat akan memberikan kenikmatan jiwa yang sulit diungkapkan.

Di bulan Ramadhan, kita juga diimbau untuk menjalin silaturrahim atau menyambung hubungan kekerabatan. Islam, lewat ayat-ayat suci al-Qur’an dan hadis sangat menekankan masalah silaturrahim dan mencela pemutusan hubungan keluarga. Nabi Saw dalam sebuah riwayat bersabda yang artinya, “Jalinlah tali hubungan dengan kerabat dan keluarga dekatmu.” Sudah menjadi tradisi kaum muslimin untuk membuka jamuan hidangan buka puasa bersama. Jamuan ini tentu menjadi salah satu kesempatan untuk mempererat jalinan silaturrahim. Mengenai pahala menggelar jamuan buka puasa, Imam Shadiq (as) berkata, “Barang siapa memberi jamuan buka puasa kepada orang yang berpuasa maka ia berhak mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa itu.” Berbekal hadis ini dan hadis-hadis lainnya dapat disimpulkan bahwa silaturrahim jika dibarengi dengan upaya membantu mengatasi kesulitan sanak famili akan memiliki nilai yang lebih tinggi.

Amalan berikutnya yang ditekankan untuk dilaksanakan lebih banyak dalam bulan yang penuh berkah ini adalah membantu mengatasi masalah dan kesulitan orang. Amalan ini akan membuat orang yang melaksanakannya memperoleh kedudukan yang tinggi di sisi Allah Swt apalagi jika dilakukan saat berpuasa. Sebaliknya, menutup mata dari kesulitan orang lain akan membuat orang terjauhkan dari inayah dan rahmat Ilahi. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Imam Husain (as) berkata, “Tak diragukan bahwa kebutuhan masyarakat kepada kalian adalah salah satu bentuk anugerah Ilahi kepada kalian. Karena itu, jangan pernah merasa letih dalam mengulurkan bantuan kepada mereka. Sebab jika tidak kenikmatan itu akan berpindah ke orang lain.”

Kisah Menarik Imam Ja’far Sadiq (as)
Di bagian akhir acara ini kami mengajak Anda untuk menyimak satu kisah menarik. Diriwayatkan bahwa kebutuhan belanja Imam Jafar Shadiq (as) semakin membengkak. Untuk itu beliau berpikir mencari tambahan pendapatan lewat perniagaan supaya bisa memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Imam lantas menyerahkan uang sebesar seribu dinar sebagai modal usaha kepada pembantunya yang bernama Musadif. Beliau berkata, “Ambillah seribu dinar ini dan berdaganglah ke Mesir. Musadif pun bangkit membawa uang itu lalu berbelanja barang-barang untuk dijual di Mesir dan bergabung dengan kafilah dagang. Para pedagang yang lain juga membawa barang dagangan yang sama. Kafilah bergerak menuju Mesir.

Mendekati Mesir, kafilah dagang tersebut berpapasan dengan kafilah lain yang baru meninggalkan negeri itu. Terjadi percakapan diantara mereka. Kafilah yang baru tiba menanyakan kondisi Mesir kepada kafilah yang mereka jumpai. Dari percakapan itu diketahui bahwa barang dagangan yang dibawa Musadif dan kafilahnya adalah jenis barang langka di Mesir dan tentunya bakal terjual laris dan diminati. Berita itu membuat gembira Musadif dan rekan-rekan seperjalanannya. Sebab, nasib baik sedang berpihak kepada mereka, dan warga di kota tujuan sangat memerlukan barang yang mereka bawa sehingga siap membelinya dengan harga berapapun juga. Merekapun sepakat untuk tidak menjual barang dagangan itu kecuali dengan keuntungan seratus persen.

Setibanya di Mesir, Musadif dan kafilahnya membuka barang dagangan mereka. Masing-masing memegang teguh kesepakatan yang mereka buat. Akibatnya lahirlah pasar gelap yang memperdagangkan barang tersebut yang dijual dengan harga dua kali lipat. Setelah barang dagangan berhasil dijual, Musadif kembali ke Madinah dengan membawa dua pundi uang yang masing-masing berisi seribu dinar. Kedua kantung itu dia letakkan di depan Imam Shadiq (as). Beliau lantas bertanya, “Apa ini?”

Musadif menjawab, “Salah satunya adalah modal yang engkau berikan kepadaku dan yang satu lagi adalah keuntungan yang nilainya sama dengan modal.”
Imam tertegun dan berkata, “Ini keuntungan yang sangat besar. Coba ceritakan apa yang terjadi dalam perjalanan dagangmu dan mengapa sampai bisa memperoleh keuntungan sebesar ini?”

Musadif pun menceritakan apa yang terjadi dan kesepakatan yang dibuatnya bersama rekan-rekan seperjalanan untuk menjual barang dagangan yang dibutuhkan warga Mesir dengan harga dua kali lipat dari nilai modal.
Imam Shadiq (as) berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari tindakan kalian yang membuat pasar gelap dan menjual barang dengan harga dua kali lipat ini seperti ini. Aku tidak mau menerima keuntungan ini.”

Beliau lantas mengambil satu kantung yang berisi seribu dinar sambil berkata, “Ini adalah uangku dan aku tidak mau menerima kantung yang satu ini.”(IRIB)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s