Spiritualitas Perkotaan (Opini)


Muh. Anis

Istilah urban sufism menjadi popular setelah Julia Day Howell (2003) menggunakannya dalam satu kajian antropologi tentang gerakan spiritual yang marak di wilayah perkotaan di Indonesia, terutama kelompok-kelompok zikir dan sejenisnya.

Spiritualisme memang tidak pernah mati. Bukan hanya karena dia terus diwariskan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi lainnya dari kalangan masyarakat yang masih memegang tradisi ini, melainkan juga muncul di pusat budaya yang sesungguhnya sedang kencang menuju ke arah yang sama sekali berbeda dengannya. Secara tak terduga dia justru me­nyembul di sana-sini, di tengah materialisme modern perkotaan.

Kemakmuran, kemajuan teknologi, kemudahan dalam penyelenggaraan kehidupan sehari-hari, dan kompetisi yang makin ketat telah melahirkan tekanan yang terkadang tidak terta­hankan. Gaya hidup instan dan serba cepat-termasuk konsumsi makanan-yang tidak sehat, kekurangan waktu untuk memelihara kebersamaan dengan keluarga dan bersosialisasi, kerusakan ekologis, dan sebagainya justru mengakibatkan manusia modern teralienasi dari diri mereka sendiri.

Hal tersebut dideskripsikan secara apik oleh Albert Camus, yang menyebutnya sebagai fenomena absurditas dalam potret masyarakat modern, di mana manusia merasa asing di alam ini. Sebagaimana legenda Sisyphus yang dihukum oleh para dewa untuk mendorong batu ke atas gunung, namun ketika hampir mencapai puncak, batu tersebut menggelinding ke bawah, dan begitu seterusnya. Akibatnya, Sisyphus hanya terlibat dalam pekerjaan sia-sia seumur hidupnya. Hukuman Sisyphus ini merupakan metafora kehidupan modern, di mana manusia hanya menghabiskan usianya untuk siklus aktivitas sia-sia, yang justru menggiringnya ke arah ketidakseimbangan diri.

Akibatnya, sebagian dari mereka memilih jalan pintas untuk keluar dari tekanan tersebut melalui cara-cara deviatif, seperti narkoba, minuman keras, dan bahkan bunuh diri. Namun demikian, tidak jarang dari mereka yang memilih jalan spiritualitas, termasuk mendirikan atau bergabung dengan paguyuban spiritual dan agama baru. Ini yang oleh Naisbitt disebut sebagai gejala high-tech high-touch. Menurutnya, kebangkitan tersebut merupakan gejala yang tidak bisa dihindarkan lagi pada masyarakat yang telah mengalami proses modernisasi, sebagai reaksi terhadap kehidupan yang semakin sekular.

Komaruddin Hidayat menjelaskan setidaknya ada empat cara pandang mengapa sufisme semakin berkembang di kota-kota besar. Pertama, sufisme diminati oleh masyarakat perkotaan karena menjadi sarana pencarian makna hidup. Kedua, sufisme menjadi sarana pergulatan dan pencerahan intelektual. Ketiga, sufisme sebagai sarana terapi psikologis. Keempat, sufisme sebagai sarana untuk mengikuti trend dan perkembangan wacana keagamaan.

Tentu saja fenomena spiritualitas perkotaan ini menggembirakan. Tetapi, di sisi lain bisa mengkhawatirkan juga, karena tidak sedikit yang memandangnya sebatas media penenang hati yang sumpek. Sufisme dan spiritualitas dianggap eskapisme semata. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila para koruptor juga aktif dalam kegiatan spiritual, bahkan mampu menangis tersedu-sedu. Ini justru berbahaya, karena mereka menganggap bahwa dengan seperti itu dosa-dosa mereka telah bersih, sehingga setelah itu tetap korupsi lagi. Pasalnya, sekali lagi, tujuan mereka mengikuti kegiatan spiritual bukan untuk memperbaiki diri, melainkan semata-mata menenangkan hati.

Kekhawatiran lainnya adalah terkait keberadaan kelas-kelas spiritual tersebut di lingkungan masyarakat metropolis yang semakin kuat dipengaruhi posmodernitas. Ini dikarenakan posmodern sering dianggap sebagai budaya yang sarat paradoks dan kontradiksi diri (self-contradiction), yang dapat menggiring pada paradoks spiritualitas itu sendiri.

Di satu sisi, wacana spiritualitas dapat menjadi penjaga gawang “kesucian jiwa” di tengah masyarakat yang sarat gejolak pelepasan hasrat tak terbatas. Namun di sisi lain, spiritualitas juga dikhawatirkan dapat terperangkap dalam mekanisme “mesin-mesin hasrat” masyarakat posmodern. Sebab, tidak mustahil, menjamurnya paguyuban rohani tersebut justru tidak lebih dari sekadar komersialisasi dan kapitalisasi spiritualitas belaka. Meskipun, semua ini tentu memerlukan penelitian lebih lanjut. Wallahu A’lam.[IRIB]

*) Kandidat doktor pemikiran Islam UIN Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s