Women-Trafficking, Runtuhnya Nilai Kemanusiaan


Dewasa ini, mungkin sesuatu yang dapat dikategorikan sebagai kemajuan pasca era pembangunan global, industrialisasi, penetapan konvensi yang berkaitan dengan perempuan, adalah relatf membaiknya kondisi kaum hawa dari berbagai sisi. Namun sayangnya meski telah diporpagandakan secara meluas, namun fakta yang terjadi di dunia modern saat ini sangat bertentangan dengan hal tersebut. Kaum perempuan saat ini didera berbagai masalah yang sangat pelik. Kini muncul fenomena penyelundupan perempuan dari telah melampaui trans-nasional dan merambah ke tingkat global.Fenomena penyelundupan perempuan saat ini telah menduduki posisi ketiga setelah penyelundupan senjata dan narkotika, dan menjadi bisnis haram yang memberikan keuntungan besar. Sama seperti penyelundupan senjata dan narkotika, penyelundupan perempuan juga dikategorikan sebagai tindak kriminal terorganisasi. Bisnis haram ini, setiap tahunnya menjanjikan laba sebesar 12 milyar dolar hanya melalui penyelundupan perempuan dan remaja putri. Meski demikian angka sebenarnya melampaui jumlah tersebut. Berdasarkan laporan Lembaga Tenaga Kerja Internasional (ILO), kehadiran dan aktivitas korban di negara-negara tujuan setiap tahunnya menghasilkan 32 milyar dolar yang separuhnya adalah milik negara-negara maju.

Dewasa ini, perdagangan perempuan sebagai produk seksual telah mencapai titik yang sangat memprihatinkan. Dalam bisnis haram ini, kaum hawa dijadikan pekerja rumah, budak seks, atau sebagai produk ekspor, yang mendatangkan keuntungan milyaran dolar. Masalah penyelundupan perempuan atau women-trafficking ini sebenarnya sudah terjadi sejak dahulu. Namun sejak awal dekade 1990 khususnya pasca tumbangnya Uni Soviet dan runtuhnya Blok Timur, fenomena penyelundupan perempuan ini melonjak secara drastis. Saat ini, di sebagian besar negara-negara Barat, impor perempuan sebagai produk atau pekerja seks, sudah menjadi fenomena yang tidak lagi mengherankan.

Penyelundupan perempuan merupakan salah satu kendala serius yang dihadapi dunia dewasa ini. Banyak faktor yang menyebabkan munculnya fenomena ini antara lain kemiskinan, pengangguran, ketidaktahuan kaum perempuan, penipuan, runtuhnya ikatan keluarga, serta melemahnya unsur maknawi dan etika. Sebagian besar perempuan korban penyelundupan dipaksa untuk menjadi penjaja seksual, produk pariwisata seks, atau pernikahan komersial, di negara-negara tujuan. Sebagian lainnya, dipekerjakan secara paksa dengan kedok sebagai pembantu, perkerja perkebunan, pegawai salon kecantikan, atau bahkan pelayan restaurant. Mereka terjerat jebakan jaringan penyelundup manusia dan menjadi mangsa penyalahgunaan seksual.

Dewan Eropa pada tahun 2004 menyatakan, dewasa ini di abad ke-21, masih terjadi perbudakan di Eropa. Budak-budak tersebut kebanyakan adalah kaum perempuan. Pada tahap awal mereka memasuki negara-negara tujuan sebagai pengantin yang telah dipesan melalui email, kemudian diselundupkan ke negara ketiga untuk dijadikan budak seks.

Menurut para pengamat, sangat sulit untuk memberikan angka dan data pasti tentang penyelundupan perempuan dan gadis remaja, karena jaringan penyelundupan tersebut beroperasi bak siluman. Berdasarkan laporan ILO dalam beberapa tahun terakhir, diperkirakan sekitar 1.2 juta orang menjadi korban jaringan penyelundupan perempuan dan anak-anak. Di Eropa Barat, setiap tahunnya 500 ribu perempuan dan anak-anak diselundupkan dan dijadikan budak seks. 60 persen dari jumlah tersebut berasal dari Asia Selatan dan Eropa Timur. Perempuan-perempuan yang diselundupkan ke AS juga mengalami penderitaan yang sangat tragis. Sebab mereka bukan hanya dijadikan budak seks melainkan juga menjadi sasaran aksi penyiksaan fisik.

Maulina seorang korban penyelundupan manusia yang setelah beberapa tahun lamanya dijadikan budak seks dan berhasil melarikan diri mengatakan, ia diiming-imingi pekerjaan dan asrama gratis di AS. Dikatakannya, “Saya datang ke AS dengan setumpuk impian. Namun impian itu sirna setelah saya menginjakkan kaki ke AS. Saya sadar bahwa selama saya membiarkan diri saya dieksploitasi, selain saya tidak dipandang sebagai manusia, saya juga akan diperlakukan seperti hewan”. Majikannya pernah berkata, “Lakukan apa saja semaumu, tapi perlu kau tahu bahwa hak anjing-anjing di AS lebih besar daripada hak-hakmu”. Maulina berhasil bebas dari cengkeraman jaringan penyelundupan manusia dan kini ia bekerja sebagai kasir sebuah toko.

Pemerintah AS mengkonfirmasikan bahwa setiap tahunnya 100 ribu perempuan dan remaja putri dari negara-negara persemakmuran Uni Soviet, 75 ribu dari Eropa Timur, dan 50 ribu dari Afrika, diselundupkan ke AS. Adapun jumlah perempuan yang diselundupkan dari Amerika Latin dan Karibia ke AS mencapai 100 ribu pertahun. Secara keseluruhan, para korban itu diselundupkan dari 50 negara dunia. Sebagiannya dipekerjakan di toko-toko baju di pinggiran Los Angeles, rumah-rumah bordil di San Fransisco, bar-bar di New Jersey, atau diperbudak di perusahaan pertanian Florida. Diperkirakan, angka penyelundupan perempuan dari Asia Tenggara dan Amerika Latin pertahunnya mencapai 150 hingga 225 ribu. Tak kurang dari 70 ribu perempuan asal Brazil dan Thailand diselundupkan ke Jepang dan Spanyol sebagai produk seks. Hanya sebagian kecil saja yang mendapatkan perawatan medis dan banyak yang terjangkit virus HIV/AIDS atau mati karena kecanduan narkotika.

Fenomena ini berlangsung di saat dunia terus memperjuangkan hak perempuan dan anak-anak. Dalam laporan tahunan NEED, sebuah lembaga yang beraktivitas di bidang HAM kaum perempuan di Perancis menyebutkan, para pengelola bisnis kotor ini memiliki cara khusus untuk membinasakan perlawananan para korban yaitu dengan cara yang disebut dengan ‘hunting’. Caranya adalah dengan mengurung korban dalam sebuah ruang selama 24 jam, selama itu pula korban diperkosa oleh 60 sampai 70 orang. Dalam waktu sesingkat itu mental korban akan tercabik-cabik dan ia akan berubah menjadi orang yang mematuhi perintah majikannya.

Sudah saatnya para politisi dan cendikiawan dunia merumuskan solusi tepat untuk mengakhiri penyelundupan perempuan ini. Di satu sisi, setiap pemerintah bertugas menentukan undang-undang yang mendukung hak-hak kaum hawa khususnya terhadap mereka yang menjadi korban penyelundupan dan di sisi lain, juga menetapkan sanksi yang seberat-beratnya bagi para kriminal bisnis haram ini. (IRIB)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s