DIFTERI


Difteri adalah infeksi akut yang disebabkan oleh Corynebacterium Diphteriae.Infeksi biasanya terdapat pada faring, laring, hidung dan kadang pada kulit,konjungtiva, genitalia dan telinga. Infeksi ini menyebabkan gejala-gejala lokal dan sistemik, efek sistemik terutama karena eksotoksin yang dikeluarkan oleh mikroorganisme pada tempat infeksi.

Difteri didapat melalui kontak dengan karier atau seseorang yang sedangmenderita difteri. Bakteri dapat disebarkan melalui tetesan air liur akibat batuk, bersin atau berbicara. Beberapa laporan menduga bahwa infeksi difteri pada kulit merupakan predisposisi kolonisasi pada saluran nafas.

Penyebab difteri adalah Corynebacterium diphteriae (basilKle bs-Loeffler)merupakan basil gram positif tidak teratur, tidak bergerak, tidak membentuk spora dan berbentuk batang pleomorfis. Organisme tersebut paling mudah ditemukan padamedia yang mengandung penghambat tertentu yang memperlambat pertumbuhanmikroorganisme lain(Tellurite). Koloni-koloni Corynebacterium diphteriae berwarnaputih kelabu pada medium Loeffler.

Pada mediaTellurite dapat dibedakan 3 tipe koloni :
a.koloni mitis yang halus, berwarna hitam dan cembung
b.koloni gravis yang berwarna kelabu dan setengah kasar
c.koloni intermedius berukuran kecil, halus serta memiliki pusat berwarna hitam.

Penyebab tonsilitis difteri ialah kuman Corynebacterium diphteriae, kuman yangtermasuk Gram positif dan hidung di saluran nafas bagian atas yaitu hidung, faringdan laring. Tidak semua orang yang terinfeksi oleh kuman ini akan menjadi sakit.Keadaan ini tergantung pada titer anti toksin dalam darah seseorang. Titer anti toksinsebesar 0,03 satuan per cc darah dapat dianggap cukup memberikan dasar imunitas.Hal inilah yang dipakai pada tes Schick.

Tanda-tanda dan gejala difteri tergantung pada fokus infeksi, status kekebalan danapakah toksin yang dikeluarkan itu telah memasuki peredaran darah atau belum.Masa inkubasi difteri biasanya 2-5 hari, walaupun dapat singkat hanya satu hari dan lama8 hari bahkan sampai 4 minggu. Biasanya serangan penyakit agak terselubung, misalnyahanya sakit tenggorokan yang ringan, panas yang tidak tinggi, berkisar antara 37,8oC ±38,9oC. Pada mulanya tenggorok hanya hiperemis saja tetapi kebanyakan sudah terjadimembran putih/keabu-abuan.

Dalam 24 jam membran dapat menjalar dan menutupi tonsil, palatum molle, uvula.Mula-mula membran tipis, putih dan berselaput yang segera menjadi tebal., abu-abu/hitamtergantung jumlah kapiler yang berdilatasi dan masuknya darah ke dalam eksudat.Membran mempunyai batas-batas jelas dan melekat dengan jaringan dibawahnya.Sehingga sukar untuk diangkat, sehingga bila diangkat secara paksa menimbulkanperdarahan. Jaringan yang tidak ada membran biasanya tidak membengkak.Pada difteri sedang biasanya proses yang terjadi akan menurun pada hari-hari 5-6,walaupun antitoksin tidak diberikan.

Gejala lokal dan sistemik secara bertahap menghilang dan membran akanmenghilang. Dan perubahan ini akn lebih cepat bila diberikan antitoksin.Difteri berat akan lebih berat pada anak yang lebih muda. Bentuk difteri antara lain bentukBullneck atau maglinant difteri. Bentuk ini timbul dengan gejala-gejala yang lebih beratdan membran menyebar secrara cepat menutupi faring dan dapat menjalar ke hidung.Udema tonsil dan uvula dapat pula timbul. Kadang-kadang udema disertai nekrose.Pembengkakan kelenjer leher, infiltrat ke dalam jaringan sel-sel leher, dari telinga satu ketelinga yang lain. Dan mengisi dibawah mandibula sehingga memberi gambaran bullneck.

Gambaran klinik dibagi dalam 3 golongan yaitu :

a.gejala umum, seperti juga gejala infeksi lainnya yaitu kenaikan suhu tubuh biasanyasubfebris, nyeri kepala, tidak nafsu makan, badan lemah, nadi lambat, serta keluhannyeri menelan

b.gejala lokal, yang tampak berupa tonsil membengkak ditutupi bercak putih kotor yangmakin lama makin meluas dan bersatu membentuk semu. Membran ini dapat meluaske palatum molle, uvula, nasofaring, laring, trakea dan bronkus dan dapat menyumbatsaluran nafas. Membran semu ini melekat erat pada dasarnya, sehingga bila diangkatakan mudah berdarah. Pada perkembangan penyakit ini bila infeksinya berjalan terus,kelenjar limfa leher akan membengkak sedemikian besarnya sehingga lehermenyerupai sapi(bullne c k) atau disebut juga Burgermeester¶s hals.

c.gejala akibat eksotoksin, yang dikeluarkan oleh kuman difteri ini akan menimbulkankerusakan jaringan tubuh yaitu pada jantung dapat terjadi miokarditis sampaidecompensatio cordis, mengenai saraf kranial menyebabkan kelumpuhan otot palatumdan otot-otot pernafasan dan pada ginjal menimbulkan albuminoria.

Diagnosis

Harus dibuat atas dasar pemeriksaan klinis oleh karena penundaan pengobatan akanmembahayakan jiwa penderita. Penentuan kuman diphtheria dengan sediaan langsungkurang dapat dipercaya. Cara yang lebih akurat adalah dengan identifikasi secara

fluorescent antibody technique, namun untuk ini diperlukan seorang ahli. Diagnosis pasti
dengan isolasi C, diphtheriae dengan pembiakan pada media Loeffler dilanjutkan dengan
tes toksinogenesitas secara vivo (marmut) dan vitro (tes Elek). Cara Polymerase Chain
Reaction (PCR) dapat membantu menegakkan diagnosis difteri dengan cepat, namun
pemeriksaan ini mahal dan masih memerlukan penjajagan lebih lanjut untuk penggunaan
secara luas.

Diagnosis tonsilitis difteri ditegakkan berdasarkan gambaran klinik dan pemeriksaan preparat langsung kuman yang diambil dari permukaan bawah membran semu dan didapatkan kuman Corynebacterum diphteriae.

Penatalaksanaan
1. Isolasi dan Karantina

Penderita diisolasi sampai biakan negatif 3 kali berturut-turut setelah masa akutterlampaui. Kontak penderita diisolasi sampai tindakan-tindakan berikut terlaksana :

a. biakan hidung dan tenggorok
b. seyogyanya dilakukan tes Schick (tes kerentanan terhadap diphtheria)
c. diikuti gejala klinis setiap hari sampai masa tunas terlewati.

Anak yang telah mendapat imunisasi dasar diberikan booster dengan toksoid

diphtheria.
Bila kultur (-)/Schick test (-) : bebas isolasi
Bila kultur (+)/Schick test (-) :pengobatan carrier
Bila kultur (+)/Schick test (+)/gejala (-) : anti toksin diphtheria + penisilin
Bila kultur (-)/Shick test (+) : toksoid (imunisasi aktif).3

2. Pengobatan

Tujuan mengobati penderita diphtheria adalah menginaktivasi toksin yang belumterikat secepatnya, mencegah dan mengusahakan agar penyulit yang terjadiminimal, mengeliminasi C. diphtheriae untuk mencegah penularan sertamengobati infeksi penyerta dan penyulit diphtheria.3

2.1. Umum

Istirahat mutlak selama kurang lebih 2 minggu, pemberian cairan serta diityang adekwat. Khusus pada diphtheria laring dijaga agar nafas tetap bebasserta dijaga kelembaban udara dengan menggunakan nebulizer. Bila tampakkegelisahan, iritabilitas serta gangguan pernafasan yang progresif hal-haltersebut merupakan indikasi tindakan trakeostomi.3

2.2.Khusus :
2.2.1. Antitoksin : serum anti diphtheria (ADS)

Antitoksin harus diberikan segera setelah dibuat diagnosis diphtheria.Sebelumnya harus dilakukan tes kulit atau tes konjungtiva dahulu. Olehkarena pada pemberian ADS terdapat kemungkinan terjadinya reaksianafilaktik, maka harus tersedia larutan Adrenalin 1 : 1000 dalam semprit.3

Tes kulit dilakukan dengan penyuntikan 0,1 ml ADS dalam larutan garamfisiologis 1 : 1000 secara intrakutan. Tes positif bila dalam 20 menit terjadiindurasi > 10 mm.

Tes konjungtiva dilakukan dengan meneteskan 1 tetes larutan serum 1 : 10dalam garam faali. Pada mata yang lain diteteskan garam faali. Tes positif biladalam 20 menit tampak gejala konjungtivitis dan lakrimasi.

Bila tes kulit/konjungtiva positif, ADS diberikan dengan cara desensitisasi(Besredka). Bila tes hipersensitivitas tersebut di atas negatif, ADS harusdiberikan sekaligus secara tetesan intravena.

Dosis serum anti diphtheria ditentukan secara empiris berdasarkan beratpenyakit, tidak tergantung pada berat badan penderita, dan berkisar antara20.000-120.000 KI.

Dosis ADS di ruang Menular Anak RSUD Dr. Soetomo disesuaikan menurut
derajat berat penyakit sebagai berikut :
¿ 20.000 KI i.m. untuk diphtheria ringan (hidung, kulit, konjungtiva).
¿40.000 KI i.v. untuk diphtheria sedang (pseudomembran terbatas pada
tonsil, diphtheria laring).
¿ 100.000 KI i.v. untuk diphtheria berat (pseudomembran meluas ke luar
tonsil, keadaan anak yang toksik; disertai “bullneck”, disertai penyulit akibat
efek toksin).

Pemberian ADS secara intravena dilakukan secara tetesan dalam larutan 200ml dalam waktu kira-kira 4-8 jam. Pengamatan terhadap kemungkinan efeksamping obat/reaksi sakal dilakukan selama pemberian antitoksin dan selama2 jam berikutnya. Demikian pula perlu dimonitor terjadinya reaksihipersensitivitas lambat (serum sickness).3

2.2.2. Antimikrobial

Bukan sebagai pengganti antitoksin, melainkan untuk menghentikanproduksi toksin. Penisilin prokain 50.000-100.000 KI/BB/hari selama 7-10hari, bila alergi bisa diberikan eritromisin 40 mg/kg/hari.3

2.2.3.Kortikosteroid

Belum terdapat persamaan pendapat mengenai kegunaan obat ini padadiphtheria. Di Ruang Menular Anak RSUD Dr. Soetomo kortikosteroiddiberikan kepada penderita dengan gejala obstruksi saluran nafas bagian atasdan bila terdapat penyulit miokardiopati toksik.

2.2.4. Pengobatan penyulit

Pengobatan terutama ditujukan terhadap menjaga agar hemodinamikapenderita tetap baik oleh karena penyulit yang disebabkan oleh toksin padaumumnya reversibel.

2.2.5. PengobatanCarrie r
Carrier adalah mereka yang tidak menunjukkan keluhan, mempunyai
reaksiSc hic k negatif tetapi mengandung basil diphtheria dalam nasofaringnya.
Pengobatan yang dapat diberikan adalah penisilin oral atau suntikan, atau
eritromisin selama satu
minggu. Mungkin diperlukan tindakan
tonsilektomi/adenoidektomi.
III.10. Pencegahan
III.10.1 Umum

Kebersihan dan pengetahuan tentang bahaya penyakit ini bagi anak-anak. Pada umumnya setelah menderita penyakit difteri kekebalan penderitaterhadap penyakit ini sangat rendah sehingga perlu imunisasi.

III.10.2.Khusus
Terdiri dari imunisasi DPT dan pengobatanc arrie r.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s