MEMULIAKAN RAKYAT DENGAN OTONOMI DAERAH


Sejauh ini kita masih banyak membahas tentang pemegang tampuk kekuasaan di pusat hingga daerah sebagai Penguasa alam setempat. Yang terdiri dari bumi, air, udara, dari empat penjuru mata angin di tambah atas dan bawah. Manusianya pun yang hidup dan mati dalam wilayah tersebut di bawah titah penguasa. Sebenar-benarnya, kasar kalau menyebut pemegang tampuk kekuasaan disamakan dengan pemegang amanah rakyat seperti yang dijanjikan sebelumnya bahkan telah diatur dalam undang-undang yang dibuat bersama atas nama rakyat atau atas nama Tuhan.

Tidak mungkin untuk dipungkiri bahwa dana sebagian besar dari bangsa kita ini, berada di pusat. Hal itu tentu sangat wajar karena aturan perundang-undangan melegalisasi hal tersebut. Demikian halnya dengan kebijakan dan pengambilan keputusan banyak di tentukan oleh pusat sebagai lumbungnya Negara. Idealnya terbentuk perimbangan keuangan dan kebijakan yang saling mengisi dan memberdayakan. Hal ini perlu, karena tidak semua kemampuan terutama sdm kita menyebar secara merata di negeri ini. Belum lagi kalau kita melihatnya dalam pembahasan mengenai karakter dan perilaku berbangsa yang saling menghargai dan memuliakan. Cukuplah menjadi bukti nyata yang banyak kita saksikan dewasa ini, bahwa antara slogan dan penampilan sering bertolak belakang dengan sikap sebenarnya dari para pelakon di negeri tercinta kita. Menggunakan kesempatan seluas-luasnya untuk meraup kekayaan hasil jerih payah rakyat bukan lagi masalah besar. Tidak ada satupun yang dapat menghentikannya, karena mereka lebih lihai memanfaatkan peluang yang memang selalu ada. Akhirnya, semua harus dikembalikan kepada nurani masing-masing, karena kita tidak ingin menjadi manusia yang berjalan tanpa hati nurani.

Tanpa harus menyebut otonomi daerah sebagai batasan dari berbagai dimensi kewilayahan, kekuasaan pusatpun tentu tak akan sanggup untuk mengurusi hingga mengawasi seluruh wilayah Indonesia yang teramat luas ini. Pusat boleh berpesta pora menikmati upeti atau apalah namanya yang mengalir setiap tahun, bulan , minggu, hari, jam, menit, dan detik tanpa dibatasi ruang dan waktu dari daerah yang mungkin dan pasti orang di pusat pemerintahan ini tidak pernah menjamah dan melihatnya sekalipun. Kita sudah seperti prinsip orang Prancis;” Menikmati tanpa terlibat samasekali”.

Bukan rahasia umum lagi. Semakin banyak orang yang merasa dirinya sangat berjasa dan menentukan nasib bangsa ini. Kerling matanya saja di anggap mempengaruhi harga saham! Mempengaruhi kebijakan fiskal Negara. Merasa bahwa ide-ide dan pemikirannya membawa keberkahan dimana-mana! Itu bisa berbentuk apa saja dari setiap profesi di negeri ini. Mulai dari penyusun undang-undang, pengambil kebijakan, penceramah, calo, dan lainnya.

Sistem yang berjalan dewasa ini  menimbulkan perubahan besar terhadap nilai, perilaku, dan interaksi dalam masyarakat. Sistem ini memberikan kebebasan dengan dalil demokrasi yang seringkali mengarahkan kepada setiap orang atau kelompok untuk mengejar dan memenuhi kepentingannya sendiri. Kesalehan sosial adalah sesuatu yang sulit ditemui wujudnya. Sehingga ketidakadilan, ketidakpedulian antarsesama, kekerasan, KKN, menjadi perilaku yang menggurita hingga menggunakan dalil-dalil agama dan kesucian!

Sehingga dapat dipastikan! Kemulian tidak akan digapai oleh siapapun penyelenggara Negara saat ini dari pusat hingga pelosok. Hidupnya tidak akan damai! Karena setiap saat apa yang mereka nikmati dari ujung rambut hingga telapak kaki merupakan kucuran airmata dan keringat masyarakat kita semua hingga perbatasan yang sangat jauh.

Memang banyak dari kita tidak akan peduli, karena batasan hati dan pendidikan belum memungkinkan untuk mencerahkannya. Tapi Allah SWT maha melihat.

“ Ya Allah! Ampunilah dan kasihanilah kami yang turut menikmati kekacauan ini. Selamatkan  dan maafkan segala kesalahan pribadi dan kesalahan sosial kami di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Pembangunan yang berorientasi “MEMULIAKAN RAKYAT”.

Otonomi daerah membuat pelaksanaan pengabdian kita sebenarnya menjadi lebih mudah. Wilayah dibagi menjadi lebih teratur dan manajemen yang lebih kecil, sehingga lebih fokus dalam mewujudkan visi dan misinya. Kalau saja semua sadar bahwa apa yang kita lakukan manfaat dan akibatnya semua kembali kepada kita sebagai satu keluarga besar, hal-hal yang bersifat merugikan tentu dapat diminimalisir. Mengambil uang rakyat atau dana daerah walaupun sedikit itu sama saja mencopet kantong kita sendiri. Memang miris, orang yang telah dititipkan segala maksud begitu mudahnya berkhianat. Dan tragisnya, hal itu dilakukan dihadapan diri, keluarga, wilayah mereka sendiri. Kucuran keringat tetangga yang nasibnya kurang beruntung juga termasuk didalamnya. Ini bukan saja sekedar menelan ludah, tetapi memakan kotoran sendiri yang dianggap sebuah kenikmatan!

Kita tidak perlu mengurusi penghasilan segelintir orang dengan penghasilan sangat tinggi. Karena mereka juga hanya memilki 2 tangan, satu mulut dan lubangnya, 2 kaki dan satu perut. Justru mereka akan lebih susah mempertangungjawabkan harta yang berlebihan itu. Boleh jadi kebanyakan dari masyarakat kita dari aspek keuangan masuk kategori miskin, namun dari aspek spiritual masuk kategori sangat kaya dan bahagia. Kita hanya perlu berdoa agar yang kaya bahagia dengan keberkahan  Allah SWT karena harta yang halal, dan yang masih pas-pasan bahkan miskin diberi keberkahan pula dengan kesabaran dan semangat kerja untuk keluar dari masalahnya.

Mengapa Kemuliaan?

Apalah artinya usaha-usaha kita selamanya ini dalam hidup bernegara kalau hanya membuat rakyat semakin jauh dari Tuhan dan semakin merusak tatanan kehidupan manusia dan lingkungan? Pembangunan wajibnya mengangkat harkat dan martabat kemanusiaan masyarakatnya. Kita bisa hidup dalam gelimang harta atau pas-pasan dengan yang melekat ditubuh dan terasa ditenggorokan saja, tapi bagaimana dengan keindahan interaksi dengan Allah SWT. Keindahan menikmati alam sekitar dan keikhlasan  berhubungan dengan sesama makluk?

Pembangunan terkadang melupakan dimensi kemuliaan umat manusia. Kita membangun jalan, pengairan, perkantoran, lapangan, dan sarana sosial lainnya, dalam waktu bersamaan kita harus berorientasi bahwa semua itu untuk memudahkan setiap yang menggunakannya semakin mendapatkan kemuliaannya sebagai mahluk sempurna. Kemulian menjadi tawaran untuk membebaskan kita dari segala hal bentuk keterbelakangan kemanusiaan.

Kemuliaan merupakan bahasa yang memiliki arti dan persepsi universal. Tidak dibatasi oleh ajaran agama, sosial kebudayaan, dan strata sosial dalam masyarakat. Menjadi harapan dan acuan yang mengilhami manusia dimanapun mereka berada. Kemuliaan memiliki perpektif yang memiliki  nilai-nilai universal bukan saja pada ranah etika tetapi jauh melampaui doktrin-doktrin spiritual, karena bisa menjadi lebih sederhana untuk dihadirkan dalam setiap situasi dan tempat. Mengapa? Karena secara hakikat bersumber dari Kitab Suci, keteladanan Rasulullah dan Nabi,  kajian tasawuf para ulama dan cendekia,  ajaran dan pemikiran tokoh, hingga nilai-nilai kearifan yang dianut dan berkembang  dalam masyarakat. Semua sumber-sumber tersebut, seterusnya akan berkembang menjadi etika religius yang menginspirasi secara personal dan institusional warga negara.

Dimensi kemuliaan memungkinkan kita mengorientasikan segala gerak sinergi dengan berbagai cara yang lebih baik. Masyarakat atau kumpulan manusia tidak lagi sekedar sebagai pangsa pasar yang hanya bernilai ekonomi belaka. Lingkungan hidup apalagi, ekploitasinya tidak sekedar untuk mendatangkan pundi-pundi bagi semua yang terlibat didalamnya. Penyusunan dan pembuatan peraturan dan teknis pelaksanaannya semua berjalan dalam satu koridor yaitu menambah kemulian pembuat, pelaksana, pengawas, dan penikmatnya. Disini dan di situ ada nilai kesalehan dalam bekerja. Sehingga semua mengarah pada satu Visi yaitu memuliakan manusia dan kemanusiaan.

Karena setiap manusia adalah Khalifah!!! Siapa yang tidak ingin mulia dan dimuliakan. Kemulian memang hanya milik Allah SWT. Ada baiknya saya mengajak untuk menyimak dan mencermati do’a Imam ‘Ali bin Abi Thalib, yang akan mendekatkan kita kepada makna kemulian hidup yang sesungguhnya: “ Ya Allah, jadikan aku bersama Muhammad dan keluarga Muhammad pada setiap senang dan susah, jadikan aku bersama Muhammad dan keluarga Muhammmad pada setiap tempat dan keadaan. Ya Allah, jadikan hidupku seperti hidup mereka dan kematianku seperti kematian mereka, dan jadikan aku bersama mereka pada tempat seluruhnya, dan jangan kau pisahkan aku  dari mereka, sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu.” Amin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s