Cinta Kasih Allah Kepada Mereka yang Tidak Melalaikan Shalat


Shalat adalah ungkapan syahdu yang kenikmatannya hanya dirasakan para pendiri shalat. Pada pagi hari buta, para pendiri shalat dengan rasa rindu bersedia bangkit dari tidurnnya dan menjauhkan kelalaiannya dengan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Mereka memulai aktivitas mereka di pagi hari dengan menyingkirkan segala was-was yang meliputi dirinya dengan mendirikan shalat dan meraih ketenangan spritual di balik ibadah kepada Allah Swt. Ibadah semacam inilah yang akan mempersembahkan kekuatan dan hasil bagi manusia serta menghasilkan kematangan dan kearifan diri.

Seorang sejarawan tersohor asal Amerika, Will Durant mengkaji sejarah peradaban Islam dan memuji spritual ummat Islam, khususnya dalam ibadah shalat. Ia sangat mengagumi barisan rapi dan kekompakan luar biasa ummat Islam dalam menegakkan shalat, dan mengatakan, “Sungguh mulia dan kokoh seruan shalat ini yang membangkitkan manusia dari tidurnya sebelum terbit matahari . Sungguh mulia panggilan shalat di siang hari yang dapat menghentikan manusia di tengah kerja untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Sungguh agung suara azan yang terdengar di telinga muslim dan non muslim dari ribuan menara masjid. Panggilan azan itu menyerukan jiwa-jiwa yang terpenjara untuk mendekatkan diri kepada Allah yang menciptakan akal dan kehidupan.”

Pernah disinggung mengenai pahala para pendiri shalat yang dijanjikan oleh Allah Swt.  Shalat dan ibadah merupakan sarana penting untuk menjauhkan jiwa manusia dari karakter buruk dan  mencapai kebahagiaan sejati. Dalam surat al-Araaf ayat 170, Allah Swt berfirman,”Dan orang-orang berpegang teguh dengan Al-Kitab (Taurat) serta mendirikan shalat. (akan diberi pahala) karena sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan.

Cinta kasih Allah Swt kepada para hamba dan petunjuk-Nya ke jalan yang lurus adalah di antara pahala orang-orang yang tidak melalaikan shalat. Dengan ungkapan lain, seseorang dengan mendirikan shalat, dapat meraih ketenangan dan kecintaan kepada Allah Swt. Allah Yang Maha Pengasih kepada salah satu utusan-Nya berfirman, “Di tengah hamba-hamba-Ku ada yang mencintai-Ku dan Aku mencintai mereka. Mereka merindukan-Ku dan Akupun merindukan mereka. Mereka mengingat-Ku dan Aku mengingat mereka. Mereka menaruh perhatian pada-Ku dan Akupun menaruh perhatian kepada mereka.”

Utusan Allah itu bertanya, “Ya Allah, apakah ciri-ciri mereka? Allah Swt berfirman, “…mereka menanti penghujung hari. Ketika matahari tenggelam, mereka benar-benar merasakan kerinduan bak burung-burung yang kembali ke sarang. Ketika malam sudah tiba, tembikar dibentangkan dan para pecinta pun berkhalwat dengan kekasihnya. Mereka berdiri di sisi-Ku dan menghadap kepada-Ku dengan bersujud, ruku dan bermunajat, bahkan terkadang meratap dan menangis… mereka sepanjang malam selalu berada dalam duduk, berdiri, ruku atau sujud…”

Ibnu Masud kepada Rasulullah Saw bertanya, “Apakah pekerjaan termulia di samping Allah Swt? Rasulullah  menjawab, “Shalat pada waktunya.” Untuk itu, setiap hamba sepatutnya melakukan shalat di awal waktu. Para pakar agama mempunyai perumpamaan tepat terkait shalat pada waktunya. Jika seseorang sakit dan kemudian berobat, dokter akan memberikan obat sesuai dengan takaran dan waktu yang ditentukan. Berdasarkan anjuran dokter, pasien harus mengkonsumsi obat itu tapat waktu. Tanpa waktu yang tepat, obat yang diberikan dokter tidak akan bekerja dengan baik. Shalat pun dapat diibaratkan dengan obat dokter yang harus dikonsumsi tepat waktu. Jika tidak dikerjakan tepat waktu, khasiat shalat kurang dirasakan. Rasulullah Saw memberikan kabar gembira bahwa para pendiri shalat mempunyai wajah bercahaya di hari akhir kelak. Rasulullah bersabda, “Ya Allah, berikanlah cahaya bagi orang-orang yang mengerjakan shalat wajib setiap malam di masjid-masjid.”

Dalam ayat lain al-Quran, para pendiri shalat akan mendapatkan posisi terpuji dan kenikmatan luar biasa ilahi. Surat al-Maarij ayat 19 hingga 23 menyebutkan, “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat  kebaikan ia amat kikir keculai orang-orang yang mengerjakaan shalat yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya.

Allah Swt menciptakan naluri dan kekuatan pada diri manusia yang dapat dijadikan sebagai sarana untuk mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan sejati. Akan tetapi bila kekuatan itu menyimpang dari jalur yang semestinya, akan menyebabkan kehancuran bagi manusia. Pada dasarnya, ayat-ayat surat al-Maarij tersebut menjelaskan bahwa manusia dengan berkat shalat, dapat mengalahkan hawa nafsu yang merupakan biang kerakusan dan kesesatan bagi manusia. Kerakusan adalah sebuah kekuatan yang mendorong manusia selalu tidak puas. Jika kekuatan rakus itu diarahkan ke jalan yang benar seperti menuntut ilmu dan berbuat baik kepada orang lain, tak diragukan lagi manusia dengan kekuatan itu, akan meraih kesempurnaan. Namun jika tidak dikontrol, kekuatan rakus akan mengarah pada hal-hal negatif seperti kikir dan dengki yang tentunya akan menghancurkan kepribadian manusia.”

Al-Quran tidak memasukkan kelompok pendiri shalat dari orang-orang yang teruji. Sebab, shalat berperan luar biasa dalam memberangus kemunkaran dan karakter tercela seperti rakus pada hal-hal yang buruk. Pada intinya, menjaga shalat sama halnya dengan mencegah penyimpangan kekuatan internal ke sifat-sifat buruk dan tercela. Para pendiri shalat mempunyai naluri ilahi dalam menjalani kehidupan ini. Dengan demikian, orang-orang yang kontinyu mengerjakan shalat, akan terjaga dari kerakusan negatif dan terjamin masuk surga. (IRIB Indonesia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s