Jejak-Jejak Pahlawan Karbala, Abul Fahdl Abbas


 

Kebangkitan Imam Husein as di hari Asyura pada tahun 61 Hq memuat pengertian-pengertian akan nilai, keyakinan dan realita dalam bentuknya yang paling tinggi. Kebangkitan Imam Husein as menggambarkan peta jalan yang mampu membawa manusia ke puncak kemuliaan di dunia dan di akhirat. Salah satu nilai yang ditampilkan dalam bentuknya yang paling indah di Karbala adalah pengorbanan. Karbala mampu mendemonstrasikan bentuk pengorbanan dalam bentuknya yang paling indah, dimana seseorang menepis segala bentuk kecenderungan pribadinya demi cita-cita yang agung.

Dalam tradisi kekesatriaan, membuang segala bentuk kecenderungan pribadi disebut sebagai pengorbanan. Seseorang yang mengorbankan dirinya dalam budaya Islam adalah orang yang siap untuk mengorbankan dirinya bagi agama Allah. Ia akan mengenyahkan segala keinginan pribadinya demi kerelaan Allah Swt. Allah dalam al-Quran surat al-Hasyr ayat 9 saat menggambarkan pengorbanan warga Madinah di masa Nabi menerima muhajirin Mekah berfirman:

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan…

Itsar yang artinya pengorbanan ini punya akar pada keagungan ruh dan keindahan perilaku manusi itu sendiri. Karbala merupakan kisah manusia yang melakukan pengorbanan di jalan Imam Husein as demi meraih kerelaan Allah. Dalam pelbagai peristiwa sejarah Islam, dapat ditemukan banyak contoh mengenai pengorbanan. Namun setiap pejuang Islam tidak pernah mampu menyamai para sahabat Imam Husein as. Karena para sahabatnya di saat shalat Zuhur menjadikan dirinya perisai ketika musuh berusaha memanah beliau yang tengah melaksanakan shalat.

Usai melaksanakan shalat, Imam Husein mendapatkan seorang sahabatnya bernama Said bin Abdullah yang terkulai di atas tanah dan syahid dengan 13 anak panak yang menancap di tubuhnya. Di antara sahabat Imam Husein as ada seorang pribadi yang tampil memukau dengan pengorbanan heroiknya. Ia adalah Abul Fadhl Abbas, saudara lain ibu Imam Husein as.

Abbas adalah anak Imam Ali as dari ibu bernama Ummul Banin. Sekalipun usianya lebih muda 20 tahun dari Imam Husein as, namun ia sangat akrab dengan Imam. Sebaliknya, Imam Husein as juga sangat menyayanginya. Ketika masih kecil, terkadang Imam mendekati ayunannya dan perlahan-lahan menciumnya. Abbas membuka matanya sambil tersenyum dan akhirnya keduanya tersenyum. Husein kemudian menggendongnya dan mencium kedua tangannya seperti yang dilakukan oleh ayahnya, Imam Ali as.

Suatu hari Ummul Banin bertanya kepada Imam Ali as , “Wahai tuanku, mengapa engaku melihat kedua tangan anak kita seperti itu dan kemudian menciumnya?” Dengan suara sedih, Imam berkata, “Kedua tangannya akan terlepas dari badan Abbas di jalan Allah.”

Abbas dengan cepat tumbuh besar. Ketika muncul fitnah besar yang menutupi langit Islam, Abbas mencari jalan keselamatan dan hakikat dengan mengikuti ayahnya, Imam Ali as. Setelah itu menaati kedua saudaranya, Imam Hasan dan Husein as. Abbas terkenal orang yang serius dalam mencari ilmu dan keutamaan akhlak. Karena itu ia diberi julukan Abul Fadhl yang berarti ayah keutamaan. Abbas dikenal semua orang karena akhlak dan keindahan perilakunya.

Bagi Imam Husein as, wajah Abbas mampu mengenyahkan kesedihan di hatinya. Setiap kali melihat wajah Abbas, segala masalah yang dihadapinya hilang begitu saja. Waktu itu, Husein memutuskan untuk keluar dari Madinah. Abbas saat itu berusia 34 tahun dan seperti laron yang senantiasa mengitari keberadaan Imam Husein as. Abbas menggendong anak-anaknya sebagai petanda ingin meninggalkan mereka. Dengan penuh kasih sayang, ia berkata kepada mereka, “Aku akan pergi demi kerelaan Allah dan aku menyerahkan kalian kepada-Nya. Apa yang diinginkan Allah, pasti itu yang terjadi. Janganlah kalian menangis agar hati paman kalian Husein tidak bersedih. Ingatlah bahwa mengingat Allah dapat menenangkan hati.”

Abbas dengan penuh kepastian mengikuti Husein dalam sebuah perjalanan yang tidak mengenal kata kembali. Abbas tidak pernah sedikitpun lupa mengawal saudaranya Husein. Seperti biasa, akhlak yang diajarkan ayahnya Imam Ali as, Abbas senantiasa berjalan di belakang Imam Husein as, namun dalam perjalan kali ini, terkadang Abbas terpaksa mendahului beliau untuk melihat kondisi. Karena tugas Abbas adalah melindungi saudaranya Imam Husein as.

Kafilah telah sampai di Karbala. Daerah yang telah menanti sebuah peristiwa agung. Mereka harus tinggal di Karbala. Kepada rombongannya, Imam Husein as berkata, “Semua harus berhenti di sini, dan jangan ada yang pergi lebih dari daerah ini. Pasang kemah untuk tinggal di sini. Bila memasang kemah, jarak antara satu kemah dengan yang lainnya harus hanya tiga langkah. Tenda Abbas berada bersisian dengan kemah Imam Husein as. Di malam hari, Abbas mengelilingi kemah guna mengawasi jangan sampai ada bahaya yang mengancam jiwa Imam Husein as dan keluarganya. Beberapa hari berlalu, blokade yang dilakukan semakin dipersempit. Musuh tidak membiarkan Imam Husein as, keluarga dan robongannya untuk minum air. Rasa haus telah menyiksa anak-anak. Terkadang mereka meminta air kepada bibi, ayah dan pamannya.

Akhirnya Imam Husein as memanggil Abbas dan berkata, “Aku sebagai tebusanmu, wahai saudaraku. Para penghuni kemah sudah pada kehausan.” Abbas yang selama ini menanti izin dari Imam. Mendapat perintah seperti itu, tanpa menunggu lebih lama, Abbas bangkit mengambil tempat air dari kulit dan mengajak beberapa penunggang kuda melesat ke sungai Furat. Sungai itu dijaga oleh sekitar 500 orang penunggang kuda. Abbas terus merangsek maju mendekat sungai. Musuh mengetahui pergerakan Abbas, tapi sebelum mereka dapat bergerak, Abbas telah menjejakkan kakinya di tepi sungai.

Seorang sahabat Imam Husein as mengancam musuh, bila mereka melakukan sedikit saja gerakan, maka nyawa mereka tidak akan aman. Ketegaran Abbas di hadapan musuh membuat mereka hanya terpaku di tempat. Dengan cepat Abbas memenuhi tempat air dari kulit yang dibawanya dan segera menuju kemah.

Akhirnya anak-anak mendapat air untuk menghilangkan rasa haus yang mendera mereka selama ini dan malam itu mereka dapat tidur dengan nyenyak. Hati Abbas juga menjadi tenang. Imam Husein as memeluk saudaranya yang menjadi pemberi minum Karbala dan mengucapkan terima kasih atas usahanya. Abbas kembali melakukan tugasnya mengelilingi kemah Imam Husein as. Suara langkahnya memberi ketenangan ekstra kepada anak-anak dan perempuan. Imam memerintahkannya menjadi pelindung kemah-kemah yang ada. Terkadang Abbas menengok ke dalam kemah. Anak-anak yang masih terbangun, begitu melihatnya langsung melambaikan senyuman. Terkadang ia duduk di samping ayunan Ali Asghar dan terkadang mengelus kepala Ruqayyah.

Hari kesepuluh bulan Muharram 61 Hq. Para sahabat Imam Husein dengan penuh semangat menanti perintah Imamnya. Terlihat mereka yang lebih tua lebih semangat dari mereka yang usianya masih muda. Sebagai panglima tertinggi pasukan Imam Husein as, Abbas berdiri di tengah-tengah pasukan. Di tangannya ada bendera berwarna hitam. Keberanian Abbas menguatkan hati para sahabat. Tiba-tiba musuh mulai melepaskan anak panahnya. Abbas menggerakkan kudanya menyerang ke barisan musuh. Kekuatan ayunan pedangnya sangat menakutkan musuh. Setiap kali satu dari sahabat Imam Husein dikepung oleh musuh, dengan gagah berani Abbas menerobos dan membongkar kepungan itu. Diriwayatkan Abbas berhasil membongkar kepungan musuh sebanyak 12 kali.

Hari semakin siang dan panas matahari semakin menyengat. Semua didera rasa haus yang luar biasa. Para sahabat Imam Husein as bahkan mendengar tangisan dan suara anak-anak yang kehausan dari kemah-kemah yang berada di belakang mereka. Siapa yang akan membawa air kepada anak-anak yang lagi kehausan itu? Siapa yang mampu melewati hujanan anak panah dan pukulan pedang untuk membawa air? Semua melihat Abbas. Imam Husein as menangis melihat Abbas. Sementara anak-anak berteriak memanggil-manggil pamannya Abbas. Semua hanya berharap kepada Abbas. Saudaranya Husein as berkata dengan suara letih, “Saudaraku Abbas, para penghuni kemah sudah kehausan. Tolong bawakan sedikit air untuk mereka.”

Abbas menggerakkan kudanya ke arah kemah dan mengambil tempat air dari kulit yang telah kosong. Melihat pamannya, anak-anak mulai tenang. Namun tidak ada yang mengetahui betapa tergoncangnya hati Imam Husein as.

Abbas membawa tempat air dari kulit di punggungnya, sementara pedangnya terayun-ayun menebas siapa saja yang berada di dekatnya. Abbas terus bergerak maju hingga mendekati sungai. Tanpa menunggu lebih lama, ia berusaha membasahi bibirnya yang kering dengan air yang telah berada di depan matanya. Tangannya dicelupkan ke dalam air dan dengan merapatkan kedua telapak tangannya, ia ingin meminum air. Wajahnya dapat merasakan segar dan dinginnnya air. Namun, … Husein kehausan. Anak-anak Husein juga kehausan. Ali Asghar juga kehausan. Semua menantinya kembali dengan membawa air.

Abbas sejenak berpikir dan memutuskan tidak jadi minum. Menurutnya bila ia minum sementara yang lain kehausan, bukan sebuah sifat kesatria. Abbas menuangkan kembali air yang berada di telapak tangannya. Dengan segera ia memenuhi tempat air dari kulit yang dibawanya dengan air sungai yang jernih dan segar. Semangat Abbas muncul. Kini yang dipikirkannya adalah bagaimana segera sampai ke kemah dan memberi minum anak-anak yang sedang kehausan.

Ketika hendak bergerak kembali ke kemah, Abbas harus melewati hujanan anak panah, sementara musuh bersembunyi menanti waktu yang tepat untuk menghentikan langkah Abbas. Tempat air yang terbuat dari kulit itu menghalangi kegesitan Abbas untuk bertempur. Akibatnya sebuah ayunan pedang menebas tangan kanannya dari pangkalnya. Tangan kanannya terlepas dari badannya, namun keberanian Abbas tidak berkurang. Bagaimana mungkin menggambarkan keberanian dan pengorbanan semacam ini?

Panglima yang kehausan, terluka dan hanya memegang bendera dengan tangan kirinya dan tempat air di punggung. Tapi pada saat yang sama Abbas berkata, “Demi Allah, bila tangan kananku kalian putuskan, saya tetap akan melindungi kesucian agamaku dan Imam yang benar, anak Nabi.” Pada waktu itu sebuah tebasan pedang lainnya memisahkan tangan kiri Abbas dari tubuhnya. Abbas menggigit tempat air dan dengan penuh keberanian tetap berusaha membawanya ke kemah. Akhirnya musuh memerintahkan untuk menghujaninya dengan anak panah. Untuk pertama kalinya Abbas menitikkan air mata, karena tidak mampu membawa air untuk mereka yang kehausan. Sebuah panah mengenai matanya dan Abbas terjatuh dari kudanya.

Beberapa saat berlalu, Imam Husein as mendekati tempat jatuhnya saudaranya Abbas. Imam Husein as hanya sempat mendengar ucapan terakhir Abbas yang berkata, “Wahai saudaraku Husein, tolong bersihkan darah yang menutupi mataku, agar aku masih bisa melihat wajah indahmu. Maafkan aku yang sudah tidak punya tangan, sehingga aku tidak mampu menepuk dadaku sebagai tradisi ketika bertemu denganmu.” Kini anak-anak sudah tidak menginginkan air lagi. Mereka lebih haus untuk melihat pamannya. Syahadah Abbas membuat Karbala menjadi sedih dan dipenuhi tangisan. (IRIB Indonesia/SL/NA)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s