Agama dan Keluarga yang Sehat, Saatnya Berjiwa Besar


Berjiwa besar dan mulia sebagai sebuah sifat manusiawi mengggambarkan perwujudan akhlak terindah. Masalah ini, terlibat aktif dalam berbagai momen sosial terlebih dalam kehidupan bersama. Suami-istri harus saling memiliki jiwa besar lebih dari komunitas lain. Salah satu ciri mulia dan berjiwa besar adalah sikap pemaaf dan toleransi antarsesama. Kehidupan bersama dimana suami-istri secara alamiah saling mengetahui kondisi jiwa, mental, dan kekurangan masing-masing.

Akan tetapi, masalah ini bukan alasan untuk saling membuka aib dan mencela. Karena akan mengusir keceriaan dan kegirangan dalam ranah kehidupan, akhirnya pola pikir negatif dan kekerasan akan mendominasi kehidupan. Toleransi dan pemaaf akan memaksa kita untuk menutup kekurangan sang istri ketimbang membukanya, begitu juga sebaliknya. Terkadang, sikap pura-pura lupa dapat kita jadikan sebagai model interaksi, yaitu bersikap tidak tahu akan kesalahan pasangan.

Untuk lebih mendekatkan masalah ini akan dipaparkan sebuah masalah lewat sebuah surat pendengar sebuah radio. Pendengar tersebut menuliskan masalah yang sedang dihadapinya demikian:

“Dengan sebuah dunia impian, saya memulai kehidupan bersama dengan suami. Semua berjalan lancar hingga pada sebuah jamuan, saya mengutarakan sebagian masalah yang kami hadapi. Kebetulan dalam jamuan itu, suami saya juga hadir di situ dan saya mengkritik sikap diamnya. Saya berkata: “suami saya tidak banyak bicara. Akan tetapi, dia siap bercengkrama dengan ibunya selama berjam-jam. Suami saya tersinggung dan keberatan dengan ucapan saya.

Sejak itu, ia mulai berlaku kasar dengan saya meskipun saya menerima, mengaku salah dan meminta maaf padanya. Akan tetapi, berulang kali ia membuat saya pesimis dan sama sekali tidak bersedia memaafkan saya. Pertanyaan saya adalah karena sebuah kesalahan, manusia musti membayar berapa besar akibatnya?

Saya berusaha sebisa mungkin untuk menata hidup, tapi belum berhasil. Apa tidak bisa suami saya dengan sikap pemaaf, lapang dada, dan berjiwa besar memaafkan saya, dan memberi sebuah kesempatan kepada saya untuk menebus kesalahan?”

Akhirnya, kami meminta bimbingan dari Dr. Syarafi sebagai nara sumber acara ini. Ia mengatakan, “Bukan sikap benar, jika ibu muda ini pada awal kehidupan keluarganya menceritakan sebagian masalah internal rumahya pada orang lain. Karena masalah internal keluarga tidak boleh dibicarakan pada orang lain. Dan bukan berarti, ibu ini telah melakukan kesalahan besar yang tidak bisa dimaafkan. Untuk menebus kesalahan ini, cukup dengan meminta maaf dan berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Secara lahiriah, ibu ini telah melakukannya. Akan tetapi sikap tidak melunak suami dan menutup semua jalan untuk damai. Perlu diperhatikan bahwa sikap seperti ini berpotensi hadirnya kesalahan-kesalahan berikutnya, dan kesalahan berikutnya terjadi karena kesalahan sebelumnya. Karena dengan menolak permintaan maaf, akan membuat pesimis sang istri dari kehidupan, suami, dan masa depan. Pada ujungnya akan menyeret pada kesalahan-kesalahan lain. Rasa bangga tidak pada tempatnya sebagian pasangan telah menggoyahkan prinsip kesepahaman. Karena untuk membangun landasan kokoh sebuah keluarga membutuhkan sikap pemaaf dan berjiwa besar.”

Dr. Syarafi dalam analisanya menambahkan, “Berlanjutnya amarah dan ketidakcocokan antara suami-istri sama sekali tidak menguntungkan kedua pihak. Hal ini akan menyulitkan mereka untuk kembali pada kehidupan yang hangat dan ideal. Suami ibu ini dengan tidak memaafkan, pada kenyataannya sedang menunjukkan rasa tidak percaya terhadap istrinya. Pada akhirnya, bagaimana ia akan menanti pemberian maaf dari istrinya suatu hari nanti?”

Terkadang kita berlebihan dalam melihat sisi positif yang kita miliki dibanding orang lain, dan merasa sangat sedikit kekurangan bahkan lebih sedikit dari yang ada. Hal ini akan mengurangi perhatian kita terhadap sisi-sisi positif orang lain. Masalah ini akan mencederai hubungan sosial terlebih hubungan rumah tangga. Imam Ali as berkata, “Beruntunglah orang-orang yang memperhatikan kekurangannya, dan mencegahnya dari memperhatikan kekurangan orang lain.”

Para psikolog menjelaskan manfaat sikap pemaaf dan toleransi dalam rumah tangga, mereka mengatakan, “Dengan menutup mata terhadap kekurangan pasangan, telah memberi kesempatan kepadanya untuk memperbaiki perilakunya. Saat hempasan kritikan dan celaan menimpa dirinya, segala bentuk keinginan dan keberanian untuk menebus menjadi berkurang. Menutup mata dari kesalahan ringan pasangan berpotensi mewujudkan kesepahaman dalam keluarga.

Tetapi, pertanyaan penting adalah sampai dimana batasan memaafkan? Terkadang toleransi dan sikap pemaaf dapat menimbulkan masalah. Ali Husein Zadeh seorang pakar masalah pendidikan mengatakan, “Terkadang toleransi berpotensi terhadap meningkatnya perilaku menyimpang. Untuk memberantasi masalah ini, diperlukan strategi dan mukaddimah. Toleransi terhadap perilaku menyimpang adalah kiat yang dapat memberi ketenangan dalam hubungan keluarga. Keberlangsungan hal ini dalam waktu yang lama juga berdampak positif dan berpotensi lahirnya perilaku positif.

Oleh karena itu untuk sampai pada tujuan-tujuan ini, perlu dipikirkan strateginya. Jangan menunjukkan sikap kasar, rasa tidak senang terhadap perilaku negatif pasangan, dan berusaha agar potensi lahirnya perilaku positif segera terwujud. Dengan menjaga sikap dan perilaku Anda, paling tidak Anda sudah menunjukkan sikap tidak senang terhadap perilakunya yang salah.

Terkadang toleransi kita terhadap pasangan disertai dengan sikap diam yang pernuh arti, hal ini akan membebani pasangan dan berusaha mengubah perilakunya. Bagaimana pun juga, setiap orang dengan melihat tipe kepribadiannya dan emosional pasangannya, dapat menjadi contoh yang tepat dalam memberantasi segala bentuk kesalahan. Dengan syarat, sikap seperti ini harus berdampak memperkuat perilaku positif pada pasangan Anda. (IRIB Indonesia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s