Apa Dosa Syiah?


Menurut Jalaludin Rahmat, penduduk Indonesia yang mayoritas Sunni menganggap Syiah berbeda dengan Islam pada umumnya. Atas dasar inilah, dialog ilmiah secara nasional diperlukan agar masyarakat faham bahwa Syiah tidak berbeda dengan Islam yang dianut mayoritas rakyat Indonesia.

Smith Alhadar

 

Pada 29 Desember lalu, warga Sunni di Sampang, Madura, membakar sebuah pesantren, satu masjid, dan tiga rumah milik penganut Syiah. Setelah tiga ratusan penganut Syiah dievakuasi, warga Sunni pun menjarah harta milik pemeluk Syiah. Dikatakan, persoalan berawal dari perselishan antara kakak beradik, yakni KH Tajul Muluk dan Roisul Hukamah. Keduanya, awalnya adalah penganut Syiah. Karena berselisih, Roisul pindah ke kelompok Sunni dan dengan kelompoknya meneyarng kelompok Syiah yang dipimpin Tajul.

Menurut Jalalulldin Rahmat, tokoh Syiah Indonesia pendiri IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia), penduduk Indonesia yang mayoritas Sunni menganggap Syiah berbeda dengan Islam pada umumnya. Syiah disebutkan memiliki al-Qur’an tersendiri, memiliki adzan yang berbeda, dan memperbolehkan kawin mut’ah (kawin kontrak). Padahal, hal-hal ini tidak sepenuhnya benar.

Kaum Syiah punya rukun Islam seperti kaum Sunni, membaca syahadat bahwa Allah itu Esa, Ahad, tidak ada Tuhan selain Dia, dan Muhammad SAW adalah Rasul terakhir. Mereka juga mendirikan shalat menghadap ke Baitullah lima kali sehari, mengelaurkan zakat, puasa wajib di bulan Ramadhan dan berhaji bagi yang mampu. Juga mereka punya rukun Imam seperti kita, mereka percaya pada Allah yang Esa, para malaikat, Kitab-kitan yang diturunkan Allah untuk Nabi-nabinya mulia, percaya akan Rasul-rasulnya, hari kemudian dan takdir Allah.

Yang membedakannya adalah keyakinan Syiah terhadap kepemimpinan ahlul bait. Syiah percaya bahwa setelah Rasulullah wafat, Ali bin Abi Thalib dan sebelas keturunannya harus mengambil alih kememimpinan. Namun, ternyata Abu Bakar as-Sidiq, Umar bin Khaththab, dan Usman bin Affan yang telah menmgambil tongkat kepemimpinan Rasulullah. Mereka ini dipercaya telah melakukan persekongkolan untuk tidak membiarkan tongkat kepemimpinan jatuh ke tangan Bani Hasyim. Sebagai konsekuensinya, mereka menganggap kepemimpinan tiga Khulafah ur-Rasyidin itu tidak valid. Karena itu, ketiga tokoh besar Islam ini dianggap telah merampok kepemimpinan Ali yang didukung oleh ayat-ayat al-Qur’an secara implisit dan hadis-hadis Nabi.

Syiah menganggap mestinya kaum Muslim dipimpin oleh orang-orang yang ma’sum (tidak pernah berdosa), yaitu 12 Imam yang dimulai dari Ali bin Abi Thlaib dan ditutup oleh Imam Mahdi yang sedang ghaib.Mereka ma’sum  karena mendapat ilham dari Allah, disucikan Allah, saleh, tidak mencuri, berzinah, membunuh orang yang tidak berdosa, yang menjalankan perintah Allah, dan menjauhi larangan-Nya. Allah SWT berfirman: Allah hanya membersihkan (segala) kenistaan daripadamu ahlul bait Rasulullah dan mensucikan kamu sesuci-secinya (Surah al-Ahzab: 33). Yang dimaksud Allah adalah Ali, Fatimah, Hasan dan Husain di samping Rasulullah sendiri.

Ke-ma’sum-an para Imam keturunan Ali bin Thalib ini merupakan keniscayaan. Sebab kalau mereka tidak ma’sum, sementara mereka memimpin kaum muslimin, maka terbuka kemungkinan mereka dapat berbuat salah. Logikanya, kalau mereka dapat berbuat salah, maka mereka dapat menyesatkan umat yang mereka pimpin. Hal ini tidak boleh terjadi karena Islam akan rusak di bawah pimpinan orang-orang yang tidak ma’sum.

Menjalankan taqiyah adalah suatu kebolehan dalam Islam, berdasarkan nash. Seorang Muslim yang lemah dan tertindas boleh menyangkal keimanannya bila nyawanya terancam seperti yang dialami Ammar bin Yasir. Ulama Syiah kontemporer Allamah Tabataba’i, misalnya, membolehkan seseorang menyangkal keimanannya dalam keadaan terpaksa, untuk menyelamatakan nyawanya, kehormatan perempuan, atau hartanya yang bila dirampas ia tidak dapat memberi nafkah kepada anak-isterinya. Tapi kenyataannya memang ada orang Syiah yang melakukan taqiyah padahal nyawa dan harta mereka tidak sedang terancam. Hal inilah yang dipandang kaum Sunni sebagai tindakan munafik.

Al-Qur’an kaum Syiah dan Sunni sama dan itu-itu juga, silakan memasuki masjid-masjid kaum Syiah di Saudi Arabia, Lebanon, Iran, Irak, Bahrain, Bahrain dan di mana saja orang Syiah berada. Kita tidak akan menemukan al-Qur’an yang lain. Jangan berkata sesuatu by hearsay. Alangkah mudah kita menyurati kedutaan kita di negeri-negeri tersebut dan memohon mereka untuk membeli sebuah al-Qur’an. Lihatlah isinya, apakah ada perbedaan dengan al-Qur’an terbitan Kementerian Agama kita?

Kaum Syiah telah membantah tuduhan-tuduhan yang tak berguna ini, termasuk Nurcholish Madjid. Memang ada buku Syiah yang mengatakan seperti itu. Tapi jangan membicarakan Syiah yang fanatik, kaum ghulat, karena pengecualian tidak dapat mewakili golongan terbanyak. Annadir la yu’tabar. Kaum Syiah Itsna Asyariyah atau Syiah Ja’fariyah yang dipeluk mayoritas kaum Syiah di seluruh dunia juga menolak anggapan kaum Syiah fanatik, kaum ghulat ini. Kaum Syiah menganggap bahwa barang siapa saja yang meyakini al-Qur’an kita telah berubah, maka ia telah meragukan kekuasaan Allah SWT telah berfirman: “Sesungguhnya, Kamilah yang menurunkan al-Qur’an dan Kamilah yang menjaganya (Surah al-Hijr: 9).

Kita juga tidak perlu keberatan dengan kawin mut’ah karena hal ini memang dipraktekkan di zaman Nabi. Salah satu sahabat besar Rasulullah, Zubair bin Awwam, orang yang terkenal keberaniannya, kawin mut’ah dengan Asma putri Abu Bakar, khalifah pertama. Dari perkawinan mereka lahir Abdullah dan Urwah bin Zubair. Juga banyak sahabat yang lain, sebagaimana tercatat dalam buku-buku tarikh Sunni. Mengapa kita tidak sekalian mengeritik Rasul Karen mengizinkan perkawinan mut’ah tersebut.

Kawin mut’ah secara teoritis oleh Syiah dibenarkan. Tapi dalam prakteknya hampir tidak ada orang Iran yang melakukan ini. Kaum Sunni antikawin mut’ah karena Umar bin Khaththab melarangnya. Tetapi larangan Umar ini tidak dapat dipegang karena perkawinan mut’ah terdapat dalam al-Qur’an (An-Nisa: 24, Shahih Bukhari jilid 7, bab Kitab an-Nikah; Shahih Muslim, Jilid 1, hlm 535). Islam tidak mengajarkan kita untuk mengawini tiap wanita yang kita temui di jalan, kawin biasa, kawin sirri, atau kawin mut’ah. Saya pernah tinggal di Iran selama dua tahun (1984-1986), tapi tidak pernah menemukan adanya pasangan yang melakukan kawin mut’ah.

Syiah menganggap shalat Jumat tidak wajib sampai kedatangan Imam Mahdi. Dalam al-Qur’an jelas-jelas dikatakan shalat Jumat itu wajib. Tapi Syiah tidak menganggapnya sebagai shalat wajib mungkin dikarenakan mereka khawatir akan dibunuh para penguasa Umayah dan Abbasiyah bila  ketahuan mereka Syiah karena Syiah memiliki sedikit perbedaan dalam shalat, yaitu mereka tidak melipat tangan dan mereka menggunakan turbah, tempat menyandarkan dahi ketika sujud. Pada zaman Syah Muhammad Reza Pahlevi yang dijatuhkan oleh revolusi pimpinan Ayatullah Ruhullah Khomeini tahun 1979 shalat Jumat tidak dijalankan. Tapi setelah berdiri Republik Islam, shalat Jumat didirikan. Shalat ini disebut juga sebagai shalat siasah. Ketika penulis berada di Iran selama dua tahun, penulis menyaksikan muslim Iran berbondong-bondong ke masjid pada hari Jumat. Rupanya shalat Jumat mulai dianjurkan – tapi tetap tidak diwajibkan – oleh Imam Khomeini setelah Republik Islam Iran berdiri.

Dalam mazhab Syiah, hadis terbuka lebar untuk disortir dengan metode-metode yang ada. Berbeda dengan pandangan Sunni terhadap hadisnya, kaum Syiah tidak mengklaim semua hadis dalam kitab-kitab mereka sebagai hadis shahih. Misalnya, Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini, yang mengumpulkan hadisnya dalam sebuah kitab hadis berjudul al-Kafi Fi’l Ilm ad-Din. Ia mengumpulkan hadis dari para perawi dari pengikut salah satu dari para Imam. Di dalamnya banyak kemasukan hadis yang meriwayatkan mukjizat para Imam yang berasal dari para pengikut orang Kufa yang ekstrem, yang disebut kaum ghulat. Tetapi dalam hadis-hadis ini juga terdapat penolakan Imam Ja’far Shadiq (Imam Keenam) dan Imam Baqir (Imam Kelima) yang menunjukkan kemarahannya kepada kaum ghulat atau semi ghulat.

Karena itu, orang Syiah tidak menganggap seluruh hadis mereka sebagai hadis shahih. Meminjam kata-kata Sayyid Hasyim Ma’ruf Hasani: “Para pendahulu tidak pernah bersepakat bahwa semua hadis dalam al-Kafi adalah shahih, baik secara umum maupun terperinci. Hadis-hadis dalam al-Kafi mencapai 16.199 hadis, yang dianggap shahih adalah 5.072 hadis.

Kita sering salah pandang tentang kedudukan hadis di kalangan Syiah yang dianggap serupa dengan pandangan Sunni terhadap hadis-hadis Sunni. Beberapa ulama yang ingin kengkafirkan Syiah sering membawa kitab hadis ke mana-mana dan membacakan hadis-hadis mereka di hadapan umum yang justru ditolak oleh kaum Syiah sendiri. Perlu dicatat bahwa Kaum Syiah  mengambil hadis hanya yang berasal dari para Imam. Mereka menolak hadis-hadis Sunni yang tidak berasal dari para pemuka Syiah, apalagi mengambil hadis dari Abu Bakar, Umar, dan Usman.

Tapi mereka juga kritis terhadap hadis-hadis yang dikatakan berasal dari para Imam. Kaum Kufah ekstrem yang mula-mula mendukung Muhammad bin al-Hanafiyah dan anaknya Abu Hasyim Abdullah, sebagai Imam Mahdi, setelah kedua orang ini meninggal, sebagian beralih mendukung Imam-Imam Syiah. Mereka bergabung mendukung Imam Kelima Muhammad al-Baqir dan kemudian Imam Keenam Ja’far Shadiq yang tinggal di Madinah. Yang terkenal dari mereka adalah Hamzah bin Umarah, al-Buraidi, Bayan bin Sim’an, Said bin Nahdi, Mughirah bin Sa’id, Miqlas bin Abi’i Khaththab. Mereka, misalnya, menyebarkan berita bahwa para Imam tersebut adalah inkranasi Tuhan, mengetahui yang ghaib, dan mengetahui peristiwa yang akan datang, dan bahwa Nur Ilahi berada pada diri Ali seperti nyala dari sebuah lampu.

Bagaimanapun, secara keseluruhan, Haji Abdul Malik Karim Amarullah (HAMKA)  mengatakan, dalam beberapa ranting yang mengenai kepercayaan, terdapat perbedaan sedikit-sedikit antara Sunni dan Syiah. H. Abubakar Aceh dalam bukunya “Syi’ah, Rasionalisme dalam Islam” membenarkan pendapat banyak ulama bahwa mazhab Syafii yang dianut mayoritas muslim di Indonesia lebih dekat ke mazhab Syi’ah daripada mazhab Hanafi. Demikian pula H. Abdullah bin Nuh, seorang ulama besar yang banyak mempelajari Syiah. Penulis ini bukan saja sangat menghormati mazhab Syiah, tetapi malah berpendapat bahwa penyebar Islam di Indonesia kebanyakan adalah orang Syiah dan banyak orang Iran tinggal di kota-kota Indonesia. Memang pembela Syiah belum tentu menganut faham Syiah, seperti KH Abdurrahman Wahid, Nurcholish Madjid, Amien Rais, Din Syamusddin, Said Aqil Siradj, dll. Mereka membela karena banyak membaca sejarah, punya rasa keadilan serta tidak menyetujui pengafiran terhadap lebih dari dua ratus juta kaum Syiah secara serampangan.

Syiaisme, bagi banyak orang Indonesia, tidak saja merupakan masalah agama, tapi juga untuk sementara orang merupakan masalah politik. Demikian kata Nucholish Madjid dalam kata pengantar “Awal dan Sejarah Berkembangnya Islam Syiah, dari Saqifah sampai Imamah” oleh Sayyid M. Jafri, terjemahan Meth Kieraha, Pustaka Hidayah, 1989, hlm 6). Sementara Ahmad Amien berkata: “Kepentingan politik dan ketamakan pribadi tidak menginginkan kecuali menghembuskan fitnah, membuat tipu daya dan menghancurkan ukhuwah (Prof Allamah Ahmad Amin, guru besar Fakultas Sastra Universitas Mesir, dalam pengantar buku “Wawasan Baru Tarikh al-Qur’an” oleh Abu Abdullah Az-Zanjani, penerbit Mizan, cetakan ketiga, 1993, hlm 11).

Maka bisa jadi serbuan mereka yang mengatasnamakan kelompok Sunni terhadap pesantren, masjid, dan rumah kaum Syiah di Sampang, Madura, baru-baru ini bermotifkan politik. Ada mastermind di balik insiden ini untuk tujuan politiknya. Maka kita perlu berhati-hati melihat masalah ini. Pengurus IJABI, terkait dengan masalah ini, meminta dialog ilmiah secara nasional antara pengikut Syiah dan Sunni di Indonesia. Dialog diperlukan agar pengikut Sunni yang mayoritas di Indonesia tidak salah faham memandang aliran Syiah yang minoritas sehingga ke depan, Syiah tidak lagi dianggap sebagai ajaran sesat.

Menurut Jalaludin Rahmat, penduduk Indonesia yang mayoritas Sunni menganggap Syiah berbeda dengan Islam pada umumnya. Atas dasar inilah, dialog ilmiah secara nasional diperlukan agar masyarakat faham bahwa Syiah tidak berbeda dengan Islam yang dianut mayoritas rakyat Indonesia. Jika ada perbedaan, sifatnya tidak fundamental. Ketua Badan Pembelaan Hukum dan Hak Asasi Manusia IJABI Maheswara Prabandono menambahkan, tanpa adanya dialog ilmiah nasional antara Sunni dan Syiah, perselisihan keduanya di tingkat akar rumput akan terus terjadi. Perselisihan tidak terjadi di level atas.

[Sumber: http://www.faktapos.com%5D

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s