Agama dan Keluarga yang Sehat, Asah Tingkat Kepekaan dan Emosi Anak!


 

Anak-anak adalah hadiah dari Allah Swt, mereka terlahir ke dunia dengan fitrah yang bersih. Karena mereka terlahir dengan fitrah yang bersih, tugas orang tua dan para pendidik untuk membimbing mereka dengan benar agar terhindar dari penyimpangan. Sebelumnya telah kami singgung bahwa sikap lembut dan ramah dengan anak berpengaruh penting bagi pendidikan dan perkembangan segala potensi mereka. Anak-anak dalam berbagai usia membutuhkan perhatian dan penghargaan dari orang sekitarnya, oleh sebab itu, orang tua dengan teliti harus memenuhi kebutuhan mereka. Anak-anak sangat mudah tersinggung dengan perilaku yang tidak dipertimbangkan secara matang, hal ini karena jiwa lembut dan perasaan sensitif mereka.

Oleh karena itu, orang tua harus menjauhi segala bentuk pengkerdilan, penghinaan, atau membuka borok mereka di tempat umum. Dikisahkan, suatu hari seorang pria menyebut-nyebut sikap buruk anaknya di hadapan Rasul Saw, Rasul Saw tidak senang mendengar hal ini, kemudia beliau Saw bersabda, “Anakmu adalah laksana anak panah yang engkau miliki.” Maksudnya, anakmu adalah investasi dan tabungan masa depanmu, menghina kepribadian mereka sama artinya engkau mengucilkan dirimu sendiri, dan melecehkan seorang individu yang akan menjadi penolongmu di masa depan. Rasul Saw dalam sebuah hadis bersabda: “Hormatilah anak-anakmu, hingga engkau memperoleh pengampunan dari Allah”.

Salah satu ajaran dalam Islam adalah memperlakukan anak-anak dengan kasih sayang dan memceriakan mereka. Hal-hal yang dapat menggembirakan anak-anak antara lain; bermain bersama mereka, membeli pakaian yang sesuai untuk mereka, memberi hadiah, atau bercerita untuk mereka saat beranjak tidur. Dalam perspektif Islam, tanggungjawab orang tua tidak terbatas pada mengatur kehidupan materi anak atau memenuhi kebutuhan fisik mereka saja, tapi juga memenuhi kebutuhan emosional, mental, dan juga memperhatikan dimensi pendidikan mereka. Tugas dan tanggungjawab orang tua terhadap anak sangat berat, sampai Imam Sajjad as meminta bantuan kepada Allah Swt agar membantunya dalam menjalankan tugas ini.

Imam Sajjad as berkata, “Ya Allah! Bantulah aku dalam mendidik mereka (anak-anakku).” Jika orang tua dapat membina hubungan baik dengan anaknya sejak usia kecil, tentunya orang tua akan berhasil dalam memenuhi kebutuhan emosional dan mental mereka. Dan tidak diragukan lagi, hal ini akan mendorong terjalinnya hubungan baik antara orang tua dan anak pada masa remaja dan muda mereka.

Sebagaimana tugas dan tanggungjawab orang tua adalah mengembangkan potensi anak, Islam sangat mendukung setiap langkah positif untuk tujuan ini, dan meminta orang tua mewujudkan peluang pengembangan potensi ini. Di antara hal yang dapat mengembangkan potensi anak adalah bermain dan memakai alat-alat mainan. Di samping itu juga memberi kesempatan kepada anak, karena hal ini akan menguatkan karekter fisik, emosional, sosial, dan moralnya.

Fenomena kejiwaaan, sosial, dan kehidupan yang bernama “mainan” sebagai alat menghibur atau melenturkan otot sudah ada sejak dulu hingga sekarang dalam kehidupan manusia terlebih anak-anak. Menurut keyakinan para psikolog dan antropolog, bermain dan alat-alat mainan berpengaruh besar terhadap kejiwaan dan karakter anak. Anak-anak dan remaja mempelajari berbagai peran sosial lewat mainan. Lewat jalan ini pula, mereka mengenal teladan, norma-norma budaya dan sosial masyarakat.

Berdasarkan penelitian psikologis yang dilakukan oleh para psikolog seperti Jean Piaget mengatakan, anak menambah pengetahuannya ketika sedang bermain dan pengetahuan tersebut berpengaruh terhadap perkembangan wawasan dan emosionalnya. Permainan merupakan metode dasar mengajari anak-anak. Oleh sebab itu, melalui perencanaan sebelumnya, permainan dapat menjadi sarana untuk mempelajari berbagai macam disiplin ilmu, keahlian dalam bidang sosial, dan prinsip-prinsip moral.

Permainan adalah kebutuhan alamiah bagi seorang anak, tanpa memperhatikan hal ini, seorang anak tidak akan memiliki perkembangan yang baik. Permainan berpengaruh penting terhadap perkembabangan berbagai potensi dan keahlian anak, lewat cara ini, anak juga dapat memenuhi sederetan kebutuhan dasarnya. Anak-anak yang penuh semangat dan energik perlu menyalurkan stamina dan energi ini dalam sebuah bentuk kegiatan. Jika di dalam ranah kehidupan anak tidak terdapat sarana untuk menyalurkan stamina dan energi ini, maka akan terjadi kegelisahan dan penyimpangan terhadap norma-norma dalam diri anak. Akan tetapi, jika stamina dan energi ini digunakan semestinya, maka dalam diri anak seperti sebuah generator aktif yang sedang memproduksi kembali stamina dan energi. Dan hal ini akan berdampak pada berkembangnya tingkat kreatifitas anak.

Permainan adalah sarana terbaik dalam mengasah tingkat kepekaan dan emosional anak. Sambil bermain, seorang anak akan mempelajari cara meluapkan, mengontrol, dan memenuhi perasaan emosional. Anak-anak yang aktif bermain secara berkelompok akan terlihat rasa kekompakan dan kebersamaan yang luar biasa di tengah mereka. Dari segi fisik, permainan juga dapat menyelaraskan anggota badan dan otot. Anak yang aktif bermain juga akan tampak gembira dan riang, mereka juga lebih siap menghadapi tantangan hidup. Anak-anak akan punya perasaan lebih baik terhadap orang-orang yang menyediakan saranan permainan bagi mereka. Dan jika orang tua menyiapkan segala sarana hiburan dan kenyamanan bagi anak, maka mereka akan lebih merasa tenang dan nyaman.

Membiarkan anak bermain secara bebas termasuk masalah yang diterima oleh Islam dan ilmu psikologi. Akan tetapi kebebasan ini bukan berarti tanpa aturan. Sebab, permainan dan hiburan bagi anak harus terencana dan terprogram dengan baik. Terkadang, intervensi orang dewasa dalam dunia anak-anak telah menyebabkan rasa tidak nyaman bagi mereka. Memaksakan permainan tertentu bagi anak, akan menjadikannya sebagai orang yang tidak percaya diri dan selalu tergantung pada orang lain di masa yang akan datang.

Rasul Saw bersabda, “Biarkan anak-anak kalian bermain dengan bebas hingga berusia tujuh tahun.” Rasul Saw bahkan mendorong anak-anak pada usia di atas tujuh tahun untuk bermain. Sekarang, pada psikolog memaparkan bahwa permainan secara mengejutkan berpengaruh penting terhadap perkembangan fisik dan IQ anak, juga terhadap pembentukan karakternya. Menurut perspektif mayoritas psikolog, dasar dan landasan karakter orang dewasa berhubungan erat dengan permainan di masa kecilnya.

Imam Muhammad Ghazali berkata, “Bermain tidak terbatas pada masa kecil, tapi di masa remaja setelah belajar, juga bisa bermain, hingga rasa lelah saat belajar hilang. Mewajibkan anak untuk belajar secara terus-menarus akan menyebabkan menurunnya daya pikir mereka. Oleh sebab itu, anak-anak enggan untuk belajar”. Para psikolog berkeyakinan bahwa melarang anak dari bermain akan berdampak terganggunya pertumbuhan, musnahnya naluri, dan munculnya berbagai penyakit jiwa. Akan tetapi sebagaimana yang pernah kami katakan, permainan anak juga harus proposional dan sesuai dengan usia mereka.

Hal penting ketika bermain dan bergaul dengan anak adalah mensejajarkan diri dengan mereka hingga mereka lebih mengerti kita. Dalam sejarah Rasul Saw kita juga bisa melihat bahwa beliau sangat akrab dengan anak kecil bahkan ikut bermain bersama mereka. Rasul Saw sangat ramah dan rendah diri, setiap kali anak-anak melihat beliau, mereka tidak akan membiarkan beliau melintas begitu saja kecuali bersedia bermain beberapa saat dengan mereka.

Kita akan mengakhiri kajian kali ini dengan membawakan sebuah kisah tentang perilaku lembut Rasul Saw dengan anak kecil.

Suatu hari ketika Rasul Saw berangkat ke masjid, di tengah jalan, beliau bertemu dengan sekelompok anak kecil yang sedang asyik bermain. Ketika anak-anak melihat beliau, mereka langsung mengerumuninya dan sambil merengek meminta Rasul Saw untuk ikut bermain bersama mereka. Dari satu sisi, Rasul Saw tidak ingin menyakiti mereka, di sisi lain, beliau juga harus segera menuju ke masjid untuk menunaikan shalat. Akhirnya beliau Saw memutuskan untuk bermain bersama anak kecil dalam beberapa menit guna membersarkan hati mereka. Saat itu, Bilal bin Rabbah keluar dari masjid untuk mencari Rasul, tatkala sang Bilal melihat Rasul ada di tengah anak kecil, akhirnya ia pun memahami sebab keterlambatan Rasul. Bilal bermaksud memarahi mereka, tapi Rasul melarang Bilal untuk melakukan hal itu. Rasul Saw bersabda kepada Bilal, “Pergilah ke rumah dan bawalah korma dan walnut kepada anak-anak ini. Bilal pun berbuat demikian. Bilal membagikan korma dan walnut kepada anak-anak hingga mereka gembira dan Rasul pun bisa meninggalkan mereka dan berangkat ke masjid”. (IRIB Indonesia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s