Lembaga Amnesti Internasional Minta Pengikut Syiah di Indonesia Dilindungi


Lembaga Amnesti Internasional meminta kepada Pemerintah Indonesia untuk melindungi ratusan pengikut Syiah di Desa Nangkrenang, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang, Pulau Madura, yang diserang massa anti-Syiah.

 

Lembaga Amnesti Internasional Minta Pengikut Syiah di Indonesia DilindungiMenurut Kantor Berita ABNA, Lembaga Amnesti Internasional meminta kepada Pemerintah Indonesia untuk melindungi ratusan pengikut Syiah di Desa Nangkrenang, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang, Pulau Madura, yang diserang massa anti-Syiah.
Direktur Asia Pasifik Amnesti Internasional, Sam Zarifi mengatakan, pihaknya khawatir dengan kondisi desa, apalagi banyak pengikut Syiah tersebut yang sudah tidak memiliki tempat tinggal. Pengungsi Syiah akan kembali jika polisi memberi perlindungan yang memadai dan mengadili penyerang mereka dibawa ke pengadilan. “Pertanyaan serius tentang kesediaan polisi untuk melindungi komunitas ini dari serangan berbasis agama di masa depan atau untuk menahan para pelaku,” kata Sam dalam siaran persnya, Sabtu (14/1).
Menurut Sam, pada 12 Januari 2012, pemerintah setempat dengan menggunakan truk memaksa 335 pengungsi Syiah, di antaranya 107 anak-anak untuk kembali ke desanya di Nangkrenang. Sam menilai, Pemerintah Kabupaten Sampang telah memaksa pengungsi kembali ke tempat yang tidak aman, tanpa perlindungan yang jelas atau penawaran tempat relokasi alternatif, melanggar prinsip-prinsip yang disepakati secara internasional tentang hak-hak orang pengungsi internal.
Nasib pengikut Syiah di penampuangan sementara setelah serangan baru-baru ini juga memprihatinkan karena dilaporkan kekurangan air bersih dan sanitasi memadai. Amnesti International menyesalkan serangan kelompok anti-Syiah terhadap sebuah madrasah, tempat ibadah dan rumah komunitas Syiah di Nangkrenang, Sampang, Pulau Madura pada 29 Desember 2011.

Apalagi, aparat hanya diam saat terjadinya penyerangan yang dilakukan sekitar 500 orang dengan beberapa di antaranya membawa senjata tajam. “Meskipun aparat keamanan tahu tentang serangan pada hari sebelumnya, mereka tidak mengambil langkah-langkah untuk mencegah atau melindungi pengikut Syiah, tapi merekam penyerangan menggunakan kamera ponsel atau menonton serangan,” kata Sam.
Serangan tersebut, lanjutnya, bukan kali pertama dialami para pengikut Syiah. Syiah di Madura telah menghadapi intimidasi dan serangan sejak 2006.
Sam menambahkan, Amnesti Internasional telah mendokumentasikan banyak kasus intimidasi dan kekerasan terhadap kelompok agama minoritas di Indonesia oleh kelompok-kelompok Islam radikal. Salah satunya kekerasan terhadap komunitas Ahmadiyah.
Hak untuk kebebasan agama atau kepercayaan dijamin dalam Pasal 18 (1) Konvensi Internasional Tentang Hak Sipil dan Politik (ICCPR), di mana Indonesia telah meratifikasinya dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005. “Di bawah ICCPR, Indonesia harus menjamin hak untuk hidup, keamanan dan kebebasan dari penyiksaan dan perlakuan buruk lainnya. Perlindungan tersebut harus diberikan tanpa diskriminasi, termasuk atas dasar agama,” kata Sam.

 

Share

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s