Kemukjizatan al-Quran (1)


 

Al-Quran dari sisi kriteria khasnya termasuk kefasihan dan balaghahsangat istimewa dan tiada padanannya. Argumentatif dan juga keindahan kandungan maknanya, membuat al-Quran dengan cepat mampu menyerap perhatian Arab kaum Arab yang sangat kritis di bidang kefasihan danbalaghah.

 

Al-Quran diturunkan sebagai mukjizat Rasulullah Saw. Masalah ini telah dijelaskan dalam banyak ayat dalam al-Quran. Namun dalam al-Quran tidak disebutkan kata “mukjizat”, melainkan al-Quran adalah termasuk dari keajaiban yang dibawa oleh Rasulullaha Saw dalam membuktikan kebenarannya. Dalam al-Quran, mukjizat disebuakan dengan istilah «آیه»  dalam surat al-Raad ayat 38, «بینه» dalam surat al-Hadid ayat 25, «برهان» dalam surat al-Qishas, ayat 32, atau  «سلطان» dalam surat Ibrahim ayat 10.

 

Dalil dari penggunaan istilah-istilah tersebut dalam al-Quran adalah bahwa keajaiban yang dibawa para nabi bukan bertujuan membuat para penentang mereka tidak mampu sehingga istilah mukjizat yakni hal yang melumpuhkan termasuk dalam makna tersebut. Melainkan tujuannya adalah untuk menunjukkan bukti-bukti kebenaran para nabi dan meyakinkan masyarakat atas kebenaran risalah yang mereka bawa. Oleh karena itu, dalam al-Quran, mukjizat disebutkan dengan istilah lain seperti yang telah disebutkan di atas.

 

Akan tetapi, dari sisi mana kemukjizatan al-Quran? Ini merupakan pertanyaan yang selama berabad-abad menyibukkan benak para ilmuwan dan yang melahirkan banyak pandangan. Hingga kini ada 10 poin yang disebutkan para peneliti tentang sisi kemukjizatan al-Quran. Di antara 10 poin tersebut, kefasihan dan balaghah memiliki posisi penting karena pada setiap masa para ilmuwan dan cendikiawan, khususnya para ulama ahli bahasa, kefasihan dan balaghah  selalu menjadi perhatian. Akan tetapi apa hubungan antara kefasihan danbalaghah al-Quran dengan sisi kemukjizatannya?

 

Dapat dikatakan bahwa masalah ini, di satu sisi, berkaitan dengan pengingkaran kemukjizatan al-Quran yang dikemukakan oleh kaum musyrik, dan di sisi lain, berkaitan dengan pemikiran sejumlah kelompok Muslim yang menilai al-Quran dari sisi argumentasi dan metode penggunaan istilah, adalah ucapan manusia.

 

Kelahiran dan perluasan ilmu balaghah, adalah dalam rangka pembuktikan bahwa al-Quran bukan merupakan ucapan manusia. Ilmu tersebut semakin berkembang pada abad ketiga hingga keenam.

 

Pewahyuan Al-Quran dan Pembuktiannya Kepada Masyarakat

 

Sejarah membuktikan bahwa diturunkannya al-Quran untuk masyarakat Arab dan penyampaiannya oleh Rasulullah Saw di hadapan kaum musyrikin, menimbulkan dua reaksi yang berbeda di kalangan Arab. Kedua reaksi tersebut adalah daya tarik yang sangat kuat kepada al-Quran dan daya tolak dari sebagian kaum musyrik terhadap al-Quran.

 

Penjelasannya, al-Quran dari sisi kriteria khasnya termasuk kefasihan dan balaghah sangat istimewa dan tiada padanannya. Argumentatif dan juga keindahan kandungan maknanya, membuat al-Quran dengan cepat mampu menyerap perhatian Arab kaum Arab yang sangat kritis di bidang kefasihan dan balaghah. Sedemikian indah ayat-ayat al-Quran itu sehingga menurut Ibnu Hisyam, banyak dari kaum kufar yang secara sembunyi-sembunyi mendengarkan lantunan ayat-ayat suci al-Quran yang dibaca oleh Rasulullah. Termasuk di antara yang mendengarkan secara sembunyi-sembunyi itu adalah tiga pembesar Quraisy yaitu Abu Sufyan, Abu Jahl, dan Akhnas bin Syariq. Mereka selama tiga hari berturut-turut berkeliling di sekitar rumah Rasulullah Saw.

 

Sebagian orang musyrik juga tidak dapat menyembunyikan keheranan mereka atas keindahan, kefasihan, dan balaghah ayat-ayat al-Quran seperti yang dilakukan oleh Walid bin Mughirah yang merupakan seorang ahli sastra pada masa itu, dia mengatakan, “Ucapan Muhamamd (Saw) bukan dari jenis ucapan manusia dan juga bukan dari jenis ucapan jin… ucapannya bak sebuah pohon yang di atasnya terdapat buah-buah yang manis, lebat, serta yang serat dan akarnya segar dan menyegarkan, ucapan tersebut melebihi seluruh ucapan dan tidak ada ucapan yang menandinginya. Al-Quran menggilas segala jenis ucapan lain. (Tabarsi 10,538, Ibnu Katsir 4, 470, Fakhru Razi 30, 201).

 

Namun sedemikian menarik dan indah kefasihan dan balaghah al-Quran bagi orang Arab, bukti-bukti lainnya juga menunjukkan penolakan hebat sebuah kaum Arab terhadap al-Quran. Alasannya adalah karena dengan sastra yang fasihnya, al-Quran menafikan seluruh keyakinan menyimpang kaum musyrik, dan al-Quran tidak menunjukkan toleransi sedikit pun terhadap kaum musyrik.

 

Selain itu, al-Quran juga menantang kaum kafir dan musyrik Arab untuk menyusun ucapan dan kalimat seperti al-Quran jika mereka meragukan bahwa ucapan dalam kitab suci itu datang dari langit. Ayat-ayat itu disebutkan dalam al-Tur 34, al-Isra’ 88, Hud 13, dan surat Yunis 38). Akan tetapi mereka tidak dapat memenuhi tantangan tersebut. Hasilnya, al-Quran terus menekankan kemukjizatannya, dan menafikan keyakinan kaum musyrik. Oleh karena itu, pada masa wahyu al-Quran, kelompok Arab terbagi menjadi dua:

 

1-     Banyak orang yang akhirnya menjawab seruan al-Quran dan beriman kepada Rasulullah Saw.

2-     Banyak pula orang-orang musyrik yang tetap menolak dan karena mereka tidak mampu menjawab tantangan al-Quran, mereka akhirnya menggulirkan propaganda terhadap umat Islam dan terjadilah perang-perang besar antara kaum musyrik dan umat Islam.

 

Pada masa itu, belum ada parameter kefasihan dan balaghah yang dapat digunakan untuk mengukur kefasihan dan balaghan dalam al-Quran. Maka yang digunakan untuk mengukur kefasihan tersebut adalah malakah atau hafalan kaum Arab. Mereka sendiri menyadari akan kemukjizatan al-Quran dan mengakuinya. Adapun ayat:

 

«فَإِن لَّمْ تَفْعَلُواْ وَلَن تَفْعَلُواْ فَاتَّقُواْ النَّارَ الَّتِی وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْکَافِرِینَ» (البقره، 24)

Merupakan bukti terkuat dari kesadaran masyarakat atas kemukjizatan al-Quran. Pada masa risalah Rasulullah Saw, tidak ada orang yang mengingkari kemukjizatan al-Quran. Setelah wafatnya Rasulullah, muncul segelintir orang yang mengaku sebagai nabi dan berusaha meniru ayat-ayat al-Quran yang tidak memiliki hasil apapun kecuali menjadi bahan tertawaan, cemooh, dan ejekan masyarakat. (IRIB Indonesia/MZ)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s