Tak Bisakah Ormas Islam Bersatu?


Perbedaan waktu puasa kembali mewarnai negeri ini. Sebagian umat muslim di Indonesia memulai ibadah puasa besok Sabtu (21/7/2012), lantaran mengikuti keputusan pemerintah. Sementara beberapa ormas Islam seperti Muhammadiyah dan Front Pembela Islam (FPI) menetapkan awal puasa jatuh pada hari ini, Jumat (20/7/2012). Karena itu, tadi malam ada sebagian warga muslim yang menunaikan Salat Tarawih, lainnya menunda hingga besok malam.

Pemerintah memutuskan awal Ramadan tersebut setelah melangsungkan sidang isbat di kantor Kementerian Agama (Kemenag) tadi malam. ”Kami memutuskan dan menetapkan bahwa 1 Ramadan jatuh pada hari Sabtu tanggal 21 Juli 2012,” ujar Menteri Agama Suryadharma Ali.

Keputusan itu lahir setelah mendengarkan tanggapan dari sejumlah ormas Islam. Di antaranya, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU), Dewan Masjid Indonesia, Dewan Dakwah Indonesia, Perhimpunan Al Irsyad, Lajnah Falakiyah PB NU, Wahdah Islamiyah, dan Persatuan Umat Islam. Mayoritas ormas Islam yang hadir bersepakat dengan penetapan awal Ramadan oleh pemerintah. Berdasar pemantauan hilal oleh pemerintah, 38 kantor wilayah menyatakan tidak melihat hilal.

Sementara itu, Muhammadiyah, FPI, dan An-Najat memutuskan memulai puasa hari ini. Wakil FPI Habib Muhsin Ahmad Alattas menegaskan, pihaknya tidak memakai metode Ephemeris seperti yang digunakan pemerintah dan sejumlah ormas lainnya.

FPI menggunakan metode Sulam an-Nayyirain. Nah, berdasar metode tersebut, FPI mendapat laporan bahwa ada yang melihat hilal pada pukul 17.53 WIB kemarin. Lokasinya di Pesantren Al-Husainiah, Cakung, Jakarta Timur. ”FPI menghargai perbedaan. Tapi, kami tetap akan berpuasa mulai Jumat (hari ini, Red),” katanya.

Namun Ketua Lajnah Falakiyah PB NU A. Ghazalie Masroeri meragukan keabsahan hilal yang disaksikan FPI. Pihaknya bahkan meminta Kemenag meninjau lokasi pemantauan hilal yang diklaim FPI. Dia menyatakan, ada beberapa hal yang meragukan. Pertama, hilal tersebut terlihat pada pukul 17.53 WIB.

Padahal, saat itu belum masuk waktu magrib. Selain itu, kondisi cuaca di Jakarta sedang mendung, sehingga tidak memungkinkan untuk melihat hilal dengan jelas. “Mereka mengatakan hilal dilihat dari gedung berlantai tiga. Padahal, kami yang memiliki 120 tempat, dengan dua tempat di DKI Jakarta, salah satunya bahkan berlantai 13, tidak ada yang melihat hilal. Dari Kemenag, perlu mengadakan tinjauan apakah layak Cakung itu digunakan untuk rukyat,” tegas Ghazalie.

Suryadharma Ali menyayangkan adanya perbedaan dalam penetapan awal Ramadan 1433 Hijriah. Menurut dia, puasa Ramadan merupakan ibadah kolektif yang melibatkan masyarakat banyak, seyogyanya dapat ditentukan satu waktu. “Dari tahun ke tahun ada perbedaan. Ini sebetulnya memalukan. Islam memang tidak menutup perbedaan tapi lebih mengutamakan kebersamaan,” katanya di kantor Kemenag, Kamis malam, 19 Juli 2012.

Ke depan, Suryadharma berharap semua ormas Islam dapat memberikan mandat kepada pemerintah untuk mempersatukan perbedaan-perbedaan. Salah satunya perbedaan terkait penentuan awal Ramadan dan Hari Raya Islam. “Ibadah puasa ini adalah ibadah kolektif. Karenanya sangat bijak kalau perbedaan itu kemudian dipersatukan oleh pemerintah,” ujarnya.

 

Namun, meski ada yang berbeda, Suryadharma meminta tetap dihormati. “Tetap kita hormati buat mereka yang memutuskan puasa dimulai besok,” katanya. Menag tidak ingin mempertajam perbedaan. “Biarkan Muhammadiyah menjalankan puasa sesuai keyakinannya. Kita hormati mereka yang memutuskan puasa dimulai besok (hari ini),” tambahnya.

Sebaliknya, Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan itu juga meminta kepada umat muslim yang menjalankan ibadah puasa besok dapat menghormati bagi yang berpuasa pada Sabtu lusa. “Kita saling menghormati saja ya,” ujarnya.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsudin berharap masyarakat saling menghormati dan menghargai apabila terjadi perbedaan dalam menentukan awal puasa Ramadhan di antara umat Islam. “Perbedaan awal puasa Ramadhan tersebut tidak perlu dibesar-besarkan. Puasa adalah ibadah yang dilakukan atas dasar keyakinan dari masing-masing umat,” katanya.

Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi massa Islam telah menetapkan awal puasa pada 20 Juli (Jumat) sesuai perhitungan hisab karena pada Kamis (19/7/2012) ketinggian hilal telah mencapai 1,36 derajat. Din mengatakan, saat ketinggian hilal 0,5 derajat, maka saat itu sudah dihitung sebagai awal bulan baru. “Perhitungan yang dilakukan Muhammadiyah mengacu pada pendekatan ilmiah. Perhitungan dengan dasar hisab pun sudah dilakukan sejak dulu,” katanya. Selain menetapkan awal puasa pada 20 Juli, Muhammadiyah juga telah menetapkan 1 Syawal atau Lebaran pada 19 Agustus.

Absennya wakil Muhammadiyah dalam sidang isbat (penetapan) awal Ramadhan yang digelar Kementerian Agama, katA Din, untuk mengurangi ketegangan dan untuk kebaikan bersama. “Pemerintah sebenarnya tidak perlu menetapkan awal puasa dan 1 Syawal atau Idul Fitri karena semuanya menyangkut keyakinan dari tiap-tiap umat. Pemerintah hanya perlu memfasilitasi terkait penetapan hari libur bersama yang dibuat beberapa hari untuk mengayomi semua pihak,” tegasnya.

Perbedaan memang harus dihormati. Tetapi jauh lebih indah jika ormas Islam di negeri ini bersatu agar umat tidak bingun menentukan dalam beribadah.

Sementara itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bogor, Jawa Barat, mengimbau masyarakat agar tidak mempersoalkan perbedaan awal pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan tahun ini.

 

“Perbedaan itu rahmat, ketika ada orang lain atau organisasi masyarakat yang berbeda jadwal puasanya, sikapi dengan bijak. Tidak boleh mencela, mencaci maupun memaki,” kata Ketua VI MUI Kota Bogor, Fachrudi Soekarno, di Bogor, Kamis (19/7).

Menurut Facrudin, Muhammadiyah yang melaksanakan ibadah puasa lebih dulu karena memiliki dasar yang diyakini olehnya. Demikian juga pemerintah yang dengan ahli serta ulama-ulama yang berembuk dalam Sidang Isbat tentunya memiliki perhitungan tersediri.

“Sehingga masyarakat muslim yang lainnya tidak boleh menyikapi perbedaan jadwal dengan menghina ataupun mencaci perbedaan tersebut,” katanya.

Fachrudin mengatakan, perbedaan jadwal puasa sudah terjadi sejak tahun-tahun sebelumnya. Perbedaan tersebut hadir untuk mengajarkan umat muslim agar saling menghormati satu sama lain.

Menghadapi perbedaan tersebut, lajut Fachrudin, bagi masyarakat umum yang hendaknya mengikuti petunjuk yang telah ditetapkan oleh pemerintah, sehingga masyarakat tidak khawatir dengan perbedaan.

“Sesuai dengan pepatah Taati Tuhan-Mu, taati Rasul-Mu dan Ulil amri atau pemimpin. Salah satu cara untuk tetap khusus menjalani ibadah puasa adalah dengan mentaati pemimpin kita yang sudah menetapkan jadwal sesuai dengan keyakinannya,” kata Facrudin.

Sementara itu, sejumlah masyarakat dibuat bingung dengan penetapan Ramadhan oleh pemerintah yang diumumkan setelah Sidang Isbat yang dilakukan malam ini.

Sejumlah masyarakat menunggu keputusan pemerintah untuk menetapkan jatuhnya Ramadhan pada hari Jumat atau Sabtu.

“Kami masih bingung apa malam ini taraweh atau besok malam. Karena masih menunggu putusan pemerintah,” kata Wati warga Kelurahan Menteng.

Hal serupa juga disampaikan Deny warga Tanah Sareal, yang ragu untuk puasa pada Jumat atau Sabtu.

“Saya lihat nanti kalau di mesjid depan rumah Shalat Taraweh berarti besok saya puasa. Tapi kalau tidak saya ikut puasanya Sabtu,” katanya.

Sementara itu, Sidang Isbat Kementerian Agama menetapkan 1 Ramadhan jatuh pada Sabtu (21/7). (IRIB Indonesia/Gatra)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s