Dunia Lisan: Bicara Sia-Sia


Bicara sia-sia pada hakikatnya menyia-nyiakan lisan. Lisan adalah nikmat ilahi sebagaimana nikmat-nikmat lainnya, tidak boleh disia-siakan begitu saja tanpa batas-batas yang jelas.

Yang merusak bingkai dan batasan lisan adalah bicara sia-sia. Al-Quran menyebutnya dengan istilah “Laghwun“. Al-Quran menganjurkan agar manusia menjauhi sifat itu:

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. Yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang sia-sia.” (QS. Mukminun: 1-3)

Imam Ali dalam khutbahnya berkali-kali menganjurkan hal ini:

Yaa Ayyuhannaasu! Ittaqullaaha! Fama Khuliqa Imru’un ‘Abatsan Fayalhuwa, Wa Laa Turika Sudan Fayalghuwa…

“Hai orang-orang! Bertakwalah kepada Allah! Tidak seorangpun diciptakan sia-sia, sehingga bermain-main dan tidak juga ia dibiarkan sehingga menyibukkan diri dengan hal-hal yang sia-sia.” (Nahjul Balaghah, kata-kata hikmah 370)

Dalam hadis yang lain, Imam Ali as berkata, “Semua ucapan yang tidak mengingat Allah adalah sia-sia.” (Muntakhab Mizan al-Hikmah, 502) (IRIB Indonesia / Emi Nur Hayati)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s