Rahbar: Bedakan Tujuan dan Hasil dari Kebangkitan Asyura!


 

Rahbar selain memerikan gerakan pencerahan Imam Husein as, juga menjelaskan tujuan dari kebangkitan Asyura. Beliau mengatakan, “Mereka ingin mengatakan bahwa Imam Husein as bertujuan menggulingkan pemerintahan despotik Yazid dan beliau sendiri ingin mendirikan sebuah pemerintahan. Ucapan seperti ini hanya setengahnya yang benar. Saya tidak mengatakan ucapan ini salah. Bila tujuan dari ucapan ini adalah Imam Husein as bangkit untuk membentuk pemerintah, ketika beliau tidak mampu merealisasikannya, maka beliau akan mengatakan tidak bisa dan kita kembali saja. Ini tidak benar!

Benar, siapa yang bergerak untuk meraih kekuasaan, ia akan berjalan pada satu batas, ketika melihatnya dapat direalisasikan. Tapi ketika ia melihat bahwa tidak mungkin mewujudkannya, maka kewajibannya adalah kembali. Bila tujuan hanya membentuk pemerintahan, maka manusia diperbolehkan berjalan hingga dapat dilakukan, tapi ketika tidak bisa, maka ia harus kembali.

Bila seseorang mengatakan bahwa tujuan Imam Husein as dari kebangkitan ini adalah mendirikan pemerintahan Alawi, maka ini tidak benar. Karena keseluruhan dari gerakan Imam Husein as tidak menunjukkan ingin merealisasikan tujuan ini. Sebaliknya, harus dikatakan bahwa apa maksud anda dengan pemerintahan? Karena Imam Husein as tahu tidak akan dapat mendirikan pemerintahan, bahkan beliau pada prinsipnya datang untuk terbunuh, untuk syahid. Ucapan ini sempat tersebar cukup lama. Sebagian dengan ungkapan indah dan puitis menjelaskan masalah ini. Saya bahkan melihat sebagian ulama besar kita berpendapat sepert ini. Ucapan bahwa Imam Husein as bangkit agar syahid bukan pendapat yang baru. Mereka mengatakan bahwa, karena tidak mungkin lagi untuk tinggal, Imam Husein as harus melakukan sesuatu dan pergi untuk syahid!

Ungkapan sepert ini tidak punya bukti dalam Islam, dimana seorang diperintahkan untuk pergi dan membiarkan dirinya terbunuh. Kita tidak punya ajaran Islam sepert ini. Syahadah yang kita kenal dalam syariat Islam dan dalam riwayat dan ayat al-Quran bermakna manusia mencari tujuan suci, baik itu wajib atau sunnah dan di jalan itu ia tewas. Ini adalah makna syahadah yang benar dalam Islam. Tapi bila dikatakan seseorang pergi untuk terbunuh atau dengan ungkapan puitis “darahku akan melengserkan pondasi kezaliman”, ini tidak mungkin memiliki hubungan dengan peristiwa seagung Karbala. Dalam penjelasan ini, sebagian hakikat telah disampaikan, tapi tujuan inti Imam Husein as bukan ini.” (Khutbah Rahbar di khutbah Jumat 19 Khordad 1374 Hs)

Menurut Rahbar, tujuan Imam Husein as dari kebangkitan Asyura bukan kekuasaan dan bukan syahadah, tapi tujuan yang lebih tinggi lagi. Rahbar mengatakan, “Mereka yang mengatakan bahwa tujuan adalah kekuasaan atau syahadah, rancu dalam melihat tujuan dan hasil. Tidak. Tujuan bukan keduanya. Imam Husein as memiliki tujuan lain, selain kedua itu. Hanya saja untuk mencapai tujuan lain itu membutuhkan gerakan yang hasilnya hanya dua; kekuasaan atau syahadah.

Tentu saja bahwa Imam Husein as telah menyiapkan dirinya untuk keduanya ini. Beliau telah mempersiapkan segalanya untuk membentuk pemerintahan, begitu juga beliau telah menyiapkan diri untuk syahadah. Kedua-duanya ada dan benar keduanya, tidak ada masalah. Namun kedua-duanya bukan tujuan, tapi hasil. Tujuan Imam Husein as adalah hal lain. Lalu apa tujuan Imam Husein as? Bila kita ingin menjelaskan tujuan Imam Husein as, maka kita harus menjelaskannya demikian bahwa tujuan beliau adalah melaksanakan kewajiban agung dari kewajiban agama. Sebuah kewajiban agung yang belum pernah dilakukan seorangpun sebelum Imam Husein as, bahkan Nabi Saw juga tidak.

Nabi Muhammad Saw tidak melakukan kewajiban itu, tidak juga Imam Ali dan Imam Hasan as. Sebuah kewajiban membangun sistem pemikiran, nilai dan amal Islam. Imam Husein as bangkit untuk melaksanakan kewajiban besar, yaitu memperbaharui bangunan sistem dan masyarakat Islam atau bangkit melawan penyelewengan besar di tengah masyarakat Islam. Kewajiban sangat penting ini belum pernah ada hingga sebelum masa Imam Husein as. Saya ingin jelaskan mengapa belum pernah dilaksanakan dan mengapa Imam Husein as yang harus melaksanakannya, sehingga menjadi pelajaran bagi semua sejarah. Nah, sekarang mengapa Imam Husein as harus melakukan kewajiban ini? Karena situasi dan kondisinya hanya ada pada masa Imam Husein as. (Khutbah Rahbar di khutbah Jumat 19 Khordad 1374 Hs)

Rahbar kemudian membandingkan kewajiban ini dengan kewajiban yang berada di pundak Imam Khomeini ra. Beliau mengatakan, “Mereka juga mengatakan kepada Imam, ‘Imam! Sangat berbahaya bila engkau berhadap-hadapan dengan Shah!’ Apakah Imam Khomeini ra tidak tahu ada bahaya!? Apakah Imam tidak tahu SAVAK dengan mudah menangkap orang, lalu menyiksa dan membunuhnya? Mereka membunuh teman seseorang dan mengasingkan lainnya. Apakah Imam Khomeini ra tidak tahu semua ini? Apa yang dilakukan di masa Imam Husein as, miniaturnya telah terjadi di masa Imam Khomeini ra. Bedanya, di sana hasilnya adalah syahadah dan di sini hasilnya kekuasaan. Keduanya sama, tidak ada bedanya. Tujuan Imam Husein as dan tujuan Imam Khomeini ra sama dan satu. Masalah ini menjadi pondasi pemikiran Imam Husein as. Makrifat Huseini, merupakan bagian agung dari makrifat Syiah. Ini pondasi penting dan ini sendiri menjadi satu dari  pondasi Islam.

Dengan demikian, tujuan adalah mengembalikan masyarakat Islam ke jalur yang benar. Kapan itu terjadi? Ketika jalur telah menyimpang dan berubah. Ketika kebodohan, kezaliman, penindasan dan pengkhianatan telah menyimpangkan umat Islam, sementara sarana dan kondisi juga ada. Tentu saja dalam pelbagai periode waktunya berbeda-beda. Terkadang syarat-syarat sudah terpenuhi, tapi tidak ada pencerahan dan informasi. Masa Imam Husein as telah siap, di masa kita juga begitu, makanya Imam Khomeini ra melakukan kewajibannya. Tujuan satu. Hanya saja ketika manusia berusaha merealisasikan tujuan ini dan bangkit melawan pemerintah dan pusat kebatilan, untuk mengembalikan Islam, masyarakat dan nilai-nilai Islam kepada intinya yang benar. Terkadang ketika manusia bangkit, ia mencapai kekuasaan. Ini satu bentuk dari kebangkitan itu.

Di masa kita, Alhamdulillah seperti yang ada. Tapi terkadang kebangkitan tidak berujung pada kekuasaan, tapi syahadah. Apakah dalam bentuk ini, tidak ada kewajiban bagi kita? Ingat, kewajiban tetap ada, sekalipun hasilnya adalah syahadah. Apakah ketika sampai pada syahadah, kebangkitan tidak bermanfaat sedikitpun? Tetap bermanfaat dan tidak ada bedanya antara meraih kekuasaan dan syahadah. Kebangkitan ini dalam dua bentuknya tetap memiliki manfaat, apakah itu syahadah atau kekuasaan, hanya saja setiap hasil ini memiliki faedahnya sendiri. Ini yang telah dilakukan oleh Imam Husein as. (Khutbah Rahbar di khutbah Jumat 19 Khordad 1374 Hs) (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s