Kisah George dan Idul Adha: Sanggahan bagi yang-turut serta dalam perayaan non muslim


Kategori: ,

9  Komentar // 31 Desember 2012

Mohon dibaca dan direnungi berdasarkan realita kita dengan  seksama…

George (50 th) tinggal bersama istri, dan dua orang anaknya (Tony &  Julia) di Washington. Menjelang datangnya bulan Dzul Hijjah,  George dan istri serta anak-anaknya mengikuti berita-berita seputar  penentuan tanggal 1 Dzul Hijjah.

George aktif menyimak berita di radio. Istrinya menyimak lewat televisi.  Sedangkan Tony rajin searching di internet.

Ketika pengumuman tanggal 1 Dzul Hijjah diumumkan, George  sekeluarga bersiap-siap untuk menyambut Iedul Adha yang bertepatan dengan  tanggal 10 Dzul Hijjah, setelah acara wukuf di Arafah tanggal 9-nya.

Keesokannya, mereka sekeluarga pergi ke desa untuk membeli domba sesuai  kriteria syari untuk dijadikan hewan kurban (udhiyyah), yaitu: tidak boleh  buta sebelah, pincang, atau terlalu kurus. Mereka berniat menyembelihnya  begitu hari raya tiba.

Domba pun mereka bawa dengan pick-up sambil terus mengembik di  perjalanan…

Adapun Julia yang baru berusia 5 tahun, asyik berceloteh dan mengatakan,  “Ayah… alangkah indahnya hari raya Iedul Adha! Aku akan pakai gaun baru,  dapat THR, dan bisa membeli boneka baru… aku akan pergi bersama  teman-temanku ke TOY CITY untuk bermain sepuasnya di sana… Duh, alangkah  indahnya saat-saat hari raya”, katanya. “Andai aja semua hari adalah hari  raya” lanjutnya.

Begitu mobil tiba di rumah, istri George berbisik, “Wahai  suamiku tercinta… Kamu tahu khan, bahwa disunnahkan membagi daging  korban menjadi tiga: sepertiga kita makan sendiri untuk beberapa hari  ke depan, sepertiga kita sedekahkan ke fakir miskin, dan sepertiga  lagi kita hadiahkan ke tetangga kita David, Elizabeth, dan Monica”.

Begitu Iedul Adha tiba, George dan istrinya bingung di manakah  arah kiblat, karena mereka hendak menghadapkan domba kurban ke  kiblat. Setelah menebak-nebak, mereka memutuskan menghadapkan kurban ke  arah Saudi Arabia, dan ini sudah cukup.

Setelah mengasah pisau, George menghadapkan dombanya ke kiblat  lalu menyembelihnya. Ia kemudian menguliti dan memotong-motong  dagingnya. Adapun istrinya membaginya menjadi tiga bagian sesuai sunnah.  Namun tiba-tiba George berteriak mengatakan, “Waduh, kita terlambat  ke gereja… sebab ini hari Minggu dan kita akan terlambat  menghadiri misa!”. George konon tidak pernah ketinggalan misa di Gereja  setiap hari Minggu. Ia bahkan rajin membawa istri dan anak-anaknya ke  gereja.

Sampai di sini, pengisah mengakhiri kisahnya tentang  George.

Salah satu yg hadir bertanya: “Waduh, kamu membingungkan kami  dengan kisah ini !!! George ini seorang muslim ataukah Kristen??”.

Pengisah menjawab: “George dan keluarganya adalah penganut  Kristen. Mereka tidak meyakini kemahaesaan Allah, namun menganggapnya  salah satu dari Tuhan yang  tiga (trinitas). Mereka juga tidak percaya  bahwa Muhammad adalah penutup para nabi dan rasul” jelasnya.

Majelis pun geger mendengar penjelasan tersebut. lalu salah satu yang di  majelis berseru, “Hai Ahmad, kamu jangan membohongi kami. Siapa yang  percaya kalau George dan keluarganya melakukan itu semua? Mana mungkin  seorang Nasrani menerapkan syiar-syiar Islam… mana mungkin mereka  membuang-buang waktu untuk menyimak radio, televisi, dan internet sekedar  untuk mengetahui kapan hari raya Iedul Adha tiba?? Mana mungkin mereka rela  merogoh koceknya untuk membeli hewan kurban, lalu menyembelih dan  membagi-baginya… dst!!!” kata si penanya.

Ahmad pun menjawab dengan senyum dan sedikit heran,  “Wahai saudara-saudaraku tercinta, tentu kalian tidak mempercayai  ceritaku. Kalian tidak akan membenarkan jika ada sebuah keluarga Kristen  yang melakukan hal tersebut. Akan tetapi, kita yang berada di  negeri-negeri muslim: Abdullah, Muhammad, Khalid, Khadijah, Fatimah, dan  nama-nama muslim lainnya dengan santai turut merayakan hari raya kaum  Nasrani dan Yahudi. Kita turut merayakan tahun baru Masehi (Masehi  nisbat kepada Isa Al Masih/Yesus), mengucapkan selamat Natal,  merayakan Valentine’s Day, April Mop, Paskah, ulang tahun, hari raya ini…  dan itu…?”.

“Mestinya, kita tidak perlu mengingkari bila George melakukan hal  itu. Namun kita harus mengingkari diri dan keluarga kita sendiri”.  kemudian dengan nada serius Ahmad melanjutkan, “Aku pernah tinggal di  Amerika lebih dari 10 tahun, namun demi Allah, aku tak pernah  sekalipun melihat seorang Kristen maupun Yahudi yang merayakan salah satu  hari raya kita kaum muslimin. Aku juga tidak pernah mendapati  seseorang dari mereka menanyakan tentang acara atau pesta yang kita  rayakan. Sampai-sampai ketika aku berhari-raya di apartemenku, tidak  ada seorang pun yang memenuhi undanganku setelah mereka tahu bahwa  yang kurayakan adalah hari raya Islam. Aku menyaksikan itu semua selama  aku tinggal di Barat, namun sekembaliku ke negeri muslim, ternyata  kita merayakan hari raya merekafalaa haulaa  walaa quwwata illa billaahil azhiem.

Kisah ini ditulis oleh Syaikh Abdul Malik Al Qasim dengan judul (جورج  والعيد).

Mengucapkan Selamat Natal dan Selamat Hari Raya kepada orang  kafir hukumnya haram berdasarkan ijma’ ulama. Ibnul Qayyim  rahimahullah mengatakan, “Mengucapkan selamat atas hari raya yang menjadi  ciri khas orang kafir hukumnya haram berdasarkan kesepakatan ulama.  Seperti mengucapkan selamat atas hari raya mereka, atau puasa mereka  dengan mengatakan, “Selamat Natal dan Tahun Baru Masehi… (Selamat  Paskah, Selamat Waisak, Selamat Nyepi, dsm”). Kalau pun yang mengatakan  tidak sampai jatuh kepada kekafiran, tetap saja itu merupakan  perbuatan haram yang setara dengan mengucapkan selamat kepada seseorang  karena sujud kepada salib; bahkan ucapan selamat tadi lebih besar dosanya  di sisi Allah dan lebih dimurkaiNya, daripada mengucapkan selamat  kepada orang yang minum khamer atau membunuh orang lain, atau berzina,  dan semisalnya. Namun banyak kalangan yang tidak menghargai  agamanya, terjerumus dalam perbuatan yang sangat ‘menjijikkan’ tersebut  tanpa disadari… Sebab barangsiapa mengucapkan selamat kepada seseorang  yang berbuat maksiat, bid’ah, atau kekafiran; berarti menjerumuskan  dirinya kepada murka dan amarah Allah” (Disadur dari kitab: Ahkaam  Ahlidz Dzimmah).

Dari artikel ‘Kisah George dan Idul Adha (Sanggahan bagi yang Turut Serta dalam Perayaan Non Muslim) — Muslim.Or.Id

http://muslim.or.id/aqidah/kisah-george-dan-idul-adha-sanggahan-bagi-yang-turut-serta-dalam-perayaan-non-muslim.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s