Al-Quran Buah Bulan RamadhanYang Terus Bisa Dipetik


Oleh: Suparno Sutrisno

Ketika menyebut Bulan Ramadhan terasa tidak sopan ketika menyebutnya tanpa menyebutkan kata Bulan Ramadhan yakni hanya dengan menyebutnya dengan Ramadhan, seperti dalam al-Quran disebutnya bukan hanya ramadhan tapi dengan kata “Syahru Ramadhan”

Dalam sebuah hadis Imam Ali as berkata

اميرالمؤمنين(ع) قال:

لَا تَقُولُوا رَمَضَانُ وَ لَكِنْ قُولُوا شَهْرُ رَمَضَان فَإِنَّكُمْ لَا تَدْرُونَ مَا رَمَضَانُ

 angan kalian sebut Ramadhan tapi sebutlah dengan bulan Ramadhan. Sesungguhnya kalian berkata demikian karena kalian tidak memahami apa itu Ramadhan.

Mengapa demikian? Ketika kita telusuri akan kita dapati alasan tersebut, alasan yang tertuang dalam kelanjutan ayat yang menyatakan allazi unzila fihil quran الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ, mengapa disebut dengan ucapan penghormatan dengan menyebut kata “bulan” sebelum menyebut kata “Ramadhan” Tidak menyebut langsung dengan kata Ramadhan, dikarenakan di bulan inilah Allah menurunkan al-Quran, sebuah anugrah terbesar Allah melalui Nabi Muhammad Saw. Mengapa al-Quran? Karena kitab ini adalah kitab yang menjadi petunjuk dan penjelas serta pembeda jalan menuju keridhaan Allah dari jalan yang menjauhkan manusia dari ridha-Nya, petunjuk bagi manusia yang merupakan seorang musafir abadi, makhluk Allah yang didaulat untuk melakukan perjalanan dari alam Ruh dan akhirnya sampai di dunia fana, dan kehidupan abadi setelah meninggalkan dunia fana yakni alam akhirat, memang ada alam lain yang harus dilewati yakni alam barzah.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ”

Untuk melakukan perjalanan panjang manusia butuh dengan cahaya penerang yang menunjukkan jalan-jalan yang harus ditempuh dan jalan-jalan yang harus dihindari. Al-Quranlah cahaya yang dibutuhkan oleh manusia sehingga bisa selamat sampai tujuan dan harapan.

Disebutkan dalam sebuah hadis dari Imam Ali as disebutkan

رَحِمَ اللّهُ اِمْرَاً عَلِمَ مِن أینَ وَفی أینَ وَ إلی أینَ

Rahmat dari Allah bagi orang yang mengetahui dia dari mana, sedang ada dimana, dan hendak pergi kemana.

Dari mana berasal, sedang ada di alam mana, dan hendak pergi ke alam mana dan apa yang harus dipersiapkan sebelum ke alam ini.

Dengan al-Quranlah manusia bisa mencapai kondisi seperti yang disebutkan oleh Imam Ali ini. Seperti sudah disebutkan sebelumnya al-Quran adalah pembeda dan kitab petunjuk. Bahkan al-Quran juga disebut dengan تبیان لکلی شیء Penjelas untuk segala sesuatu yang dibutuhkan manusia untuk mendapatkan petunjuk menuju jalan yang sudah Allah tentukan.

Selain itu juga disebutkan perintah kepada seluruh umat manusia dengan penekanan untuk berpegangan pada kitabillah dan Itrah Nabi.

Al-Quran adalah sebuah media pemberi petunjuk namun ketika tidak tahu cara pakainya maka manusia tidak akan mendapatkan apa yang seharusnya didapatkan. Pemegang wewenang untuk menjelaskan cara pakai kitab Allah ini setelah jaman Nabi hanya Itrah Rasulallah. Karena alasan inilah mengapa kata kitabillah disandingkan dengan Itrah Nabi.

Kitab Allah ada dua ada yang shamit dan ada yang natiq, kitab Allah yang shamit adalah kitab al-Quran yang sering kita baca dirumah sedang kitab Allah yang natiqyakni Itrah Nabi, al-Quran natiq secara istilah bisa kita sebut dengan al-Quran berjalan, karena merekalah manusia-manusia yang mengaplikasikan al-Quran dalam kehidupan mereka secara sempurna. Dengan melihat perilaku mereka manusia bisa memahami tafsiran dari ayat-ayat Quran, sebab semua amal perbuatan mereka tidak ada yang bertentangan dengan isi al-Quran.

Terkait bulan dimana diwaktu itulah al-Quran diturunkan Allah berfirman:

“فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ”

“Barangsiapa mendapati bulan Ramadhan maka berpuasalah”

Tidak ada perbedaan pendapat dalam hal wajibnya berpuasa di bulan Ramadhan bagi mukalaf yang memenuhi syarat dan tidak berhalangan.

Sekarang mari kita lihat apa hukum bagi yang sengaja meninggalkan ibadah ini. Disebutkan,barangsiapa sengaja berbuka puasa disiang hari bulan Ramadhan maka harus memerdekakan budak atau memberi makan 60 fakir miskin atau berpuasa selama 2 bulan berturut-turut. Hukuman setimpal ini jelas menunjukkan keagungan bulan Ramadhan, bisa kita kalkualasi jika ada orang yang selama sebulan penuh tidak mengerjakan amal ibadah ini, betapa besar tanggungan yang ia miliki?

Namun itu semua bukanlah alasan untuk mengatakan bahwa Allah itu tidak Karim, dan tidak Rahim seperti kita tahu

“وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ “

“Barangsiapa sakit atau sedang bermusafir maka dia harus menggantinya dihari-hari yang lain”

Allah memberi keringanan bagi orang sakit dan orang yang sedang musafir. Mereka bisa tidak berpuasa namun harus mengqadha puasa itu dihari-hari lain selepas bulan Ramadhan, bagi masyarakat yang tinggal dikawasan 4 musim dan puasa Ramadhan bertepatan dengan musim panas hal itu mungkin sangat berat bagi sekelompok masyarakat karena siang hari di musim panas lebih panjang dibanding dengan musim-musim yang lain, nah mereka bisa bepergian dengan sarat-sarat tertentu (bisa dikaji lebih jauh dikitab-kitab fikih) lalu menggantinya dimusim semi, atau bahkan dimusim dingin yang mana siang hari lebih pendek dibanding hari-hari yang lain. Ini jelas bahwa Allah tidak pernah berkehendak mempersulit hamba-Nya.

Selain itu bagi yang belum baligh atau sudah tua dan tidak mampu berpuasa, mereka tidak dikenai kewajiban berpuasa.

Selain bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya al-Quran, dibulan ini juga ada hari-hari istimewa, dibulan penuh berkah ini lahir Imam Hasan Mujtab as, Imam Ali as dan Sayidah Khadijah,istri Nabi Saw meninggal dunia.

Bulan Ramadhan adalah bulan dihidupkannya malam untuk beribadah.

Ramadhan yang berasal dari kata رمض  arti leksikal dari kata ini adalah hujan di awal musim semi, sehingga pantaslah kalau bulan ini disebut sebagai bulan pensucian. Sebagaimana kita tahu bulan Ramadhan adalah bulan taubat dan ampunan, pintu Allah terbuka lebar bagi yang memohon ampun dan maaf, dan pantaslah kalau bulan suci ini disebut bulan pensucian dari dosa. Ibadah puasa membakar dosa dan kesalahan seorang hamba.

Nabi Saw bersabada”

ان سمی رمضان لأنه یرمض ذنوب

Sesungguhnya bulan ramadhan dinamakan Ramadhan karena ia menghapuskan dosa

Sebuah tujuan yang dituang dalam ayat 185 al-Baqarah adalah agar manusia bertaqwa.

Bertaqwa yakni mentaati Allah, menjalankan yang diperintahkan dan menjauhi yang dilarang. Orang yang berpuasa dan menjalankan seluruh ketentuan yang ada di dalamnya sejatinya sedang mendidik diri untuk menjauhi berbagai hal sebagai bentuk penguasaan diri, banyak hal-hal halal seperti makan, minun, berhubungan dengan istri yang harus ditinggalkan oleh orang yang sedang berpuasa. Ketika manusia mampu menahan diri atas hal-hal yang halal tentu dia akan mampu menahan diri dari yang diharamkan.

Perintah berpuasa adalah perintah untuk menghindari berbeda dengan berbagai ibadah yang lain yang memerintahkan manusia untuk melakukan suatu perbuatan.

Manfaat Puasa

Selain manfaat-manfaat yang sudah kami sebutkan diatas dari analisa yang ada puasa merupakan amalan yang sangat bermanfaat bagi tubuh manusia, manusia dalam setahun tidak pernah diwajibkan untuk berpuasa lalu ketika tiba bulan suci Ramadhan mereka diwajibkan menjalankan ibadah ini, hal ini seperti sebuah mesin yang setahun secara terus menerus dipakai lalu dalam waktu tertentu diistirahatkan, diservis dengan baik, hasilnya jelas untuk kebaikan mesin tadi, untuk kebaikan tubuh manusia.

Dengan puasa manusia bisa mengurangi kolesterol, puasa membangun jasmani manusia. Dan dalam sejarah tidak ada orang yang meninggal gara-gara mengerjakan puasa seharian.

Ketika seseorang puasa kondisi tubuhnya lebih lemah, untuk bermaksiat manusia butuh kekuatan, karena kekuatan tidak ada atau sangat minim akhirnya perbuatan maksiat pun ditinggalkan. Selain itu puasa membuat manusia ingat pada Allah, orang yang ingat pada Allah maka dia akan semakin takut untuk melanggar perintah-perintah-Nya.

Puasa menjadikan orang bertakwa, barangsiapa bertaqwa dia akan mendapatkan furqan, mendapatkan media untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Terkait manfaat puasa bahkan masyarakat India ada yang melakukan puasa untuk tazkiatun Nafs. Puasa dalam islam pun kurang lebih sama, mengajarkan manusia untuk mentazkiat ruhnya.

Ramadhan adalah bulan perjamuan diamana Allah sendiri yang menjadi tuan rumah, Allah tidak akan pernah mengecewakan para tamu yang ia undang, dan tidak ada tamu yang lebih bahagia dari tamu-tamu yang datang menghadiri undangan dari Allah Swt.

Selamat menjalankan ibadah puasa. (IRIB Indonesia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s