Ramadhan, Musim Semi Penghambaan (1)


Puji syukur kepada Allah Swt yang telah memberikan kesempatan kepada kita untuk menikmati musim semi penghambaan di bulan Ramadhan. Seperti biasa, Ramadhan datang menyambut, perlahan namun pasti, untuk memberikan kesempatan kepada para hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt dan mendulang rahmat-Nya di bulan mulia ini. Ramadhan telah tiba dan menghembuskan semerbak aroma penghambaan yang keindahannya hanya dapat dinalar oleh hati-hati yang mengharapkan rahmat. Sungguh, betapa kita menanti kesempatan ini.

Mari di bulan ini, kita bersama-sama membersihkan hati dari karat-karat dosa serta melambungkan jiwa kita di langit rahmat Allah Swt. Puji syukur kepada Allah Swt atas kesempatan mulia ini. Salam wahai Ramadhan, salam wahai bulan penuh kecintaan.

Doa Makarimul Akhlak adalah termasuk di antara doa terkenal dan indah Imam Sajjad as, putra Imam Husein as, yang penuh dengan kandungan akhlak mulia dan hkmah agama. Imam Sajjad as pasca tragedi Karbala, menghadapi berbagai macam penyimpangan dalam masyarakat, namun pada saat yang sama aktivitas beliau juga sangat dibatasi oleh rezim penguasa saat itu. Oleh karena itu beliau menilai doa sebagai cara terbaik untuk menjelaskan makrifat murni agama Islam. Doa-doa Imam Sajjad as yang penuh dengan doa dan ratapan manusia dengan Tuhannya, akan tetapi jika direnungi lebih mendalam, maka akan dipahami bahwa doa-doa Imam Sajjad as bukan hanya sekedar munajat seseorang kepada Allah Swt saja. Namun di sela-sela doa tersebut tersimpan pesan-pesan politik-sosial Islam yang sangat luas.

Doa Makarimul Akhlak terdiri dari 30 bagian yang setiap bagiannya dimulai dengan salam dan shalat kepada Rasulullah Saw dan Ahlul Baitnya kemudian disusul dengan munajat-munajat yang masing-masingnya merupakan jalan mencapai akhlak yang mulia.

Salam dan shalawat kepada Rasulullah Saw dan Ahlul Baitnya di awal doa adalah untuk pengabulan seluruh doa yang menyusul. Meski demikian, tidak semua doa dapat terkabulkan karena banyak faktor, karena bertentangan dengan ketentuan dan qadha’ yang ditetapkan Allah Swt. Misalnya jika seseorang berdoa, “Ya Allah! Aku ingin hidup selamanya dan tidak pernah mati!” Yang pasti doa ini tidak akan terkabulkan, karena semua makhluk hidup akan mati. Sama seper jika seseorang berdoa, “Ya Allah! Aku ingin muda selamanya dan tidak pernah menua!” Doa seperti tersebut tidak akan terkabulkan karena bertentangan dengan qadha’ yang telah ditentukan Allah, atau dengan ungkapan yang lebih sederhana, ini semua adalah hukum alam yang tidak bisa dilanggar.

 

Terkadang sebagian orang yang berdoa meminta sesuatu yang bertentangan hukum alam, namun ini disebabkan karena ketidaktahuannya. Para imam maksum as memperingatkan mereka untuk tidak berdoa seperti itu dan peringatan itu disampaikan dalam hadis. Oleh karena itu, doa yang bertentangan dengan hukum alam dan qadha’ Allah Swt, tidak akan terkabulkan. Ada satu doa yang pasti akan terkabulkan yaitu salam dan shalawat kepada Rasulullah Saw dan Ahlul Baitnya;

اَللّهُّمَ صَلِّ عَلَی مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ

 

Salam dan shalawat kepada Rasulullah Saw dan Ahlul Baitnya pasti akan terangkat ke langit dan terkabulkan. Oleh karena itu dianjurkan untuk bershalawat di awal doa sebelum mengemukakan permintaan lain. Imam Ja’far As-Shadiq as berkata, “Ketika salah satu di antara kalian berdoa kepada Allah, pastikan untuk memulai permintaannya dengan terlebih dahulu bershalawat, karena shalawat diterima Allah Swt, dan Allah Swt tidak berbuat demikian bahwa doa yang terdiri dari beberapa bagian hanya menerima bagian pertama (shalawat) dan menolak bagian lainnya.”

 

Pada suatu hari, Rasulullah Saw bertanya kepada para sahabatnya: “Siapa di antara kalian yang selalu berpuasa?”

Salam Al-Farsi menjawab, “Aku wahai Rasulullah (Saw).”

Rasulullah kembali bertanya, “Siapa di antara kalian yang selalu shalat malam?”

Salman Al-Farsi kembali menjawab, “Aku wahai Rasulullah (Saw).”

Rasulullah bertanya, “Siapa di antara kalian yang setiap hari meng-khatam Al-Quran?”

Salman Al-Farsi kembali memberikan jawaban positif. Ketika itu salah satu dari sahabat Rasulullah Saw, geram mereaksi jawaban Salman itu dan berkata, “Wahai Rasulullah (Saw)! Salman adalah orang Persia dan dia ingin menyombongkan diri di hadapan kami orang-orang Quraisy! Aku sering melihat dia makan pada siang hari dan tidur di malam hari, bagaimana mungkin dia khatam Al-Quran setiap hari, padahal aku melihat dia hampir setiap hari diam?”

Rasulullah Saw berkata, “Tenanglah kamu. Sekarang tanyalah darinya agar dia menjelaskannya.”

 

Sahabat Rasulullah itu kemudian bertanya kepada Salman dan dia menjawab, “Tidak seperti yang kau pahami! Aku berpuasa di awal, pertengahan dan akhir setiap bulan, dan Allah Swt berfirman, barang siapa yang melakukan satu perbuatan baik, dia akan menerima pahala sepuluh kali lipat. Aku setiap bulan berpuasa seperti ini dan pahalanya sama seperti dia selalu berpuasa. Namun aku mendengar dari kekasih-Nya, Rasulullah Saw bahwa barang siapa yang bersuci (wudhu atau tayammum) sebelum dia tidur, maka dia sama seperti beribadah sepanjang malam dan aku tidur setiap malam dengan keadaan suci. Juga aku mendengar dari Rasulullah Saw bahwa Ali as berkata, barang siapa setiap hari membaca surat At-Tauhid maka dia telah membaca sepertiga Al-Quran dan yang dua kali membacanya maka dia telah membaca duapertiga Al-Quran dan yang membacanya tiga kali, maka dia telah membaca seluruh Al-Quran.”

Kemudian Salman Al-Farsi mengatakan, “Aku setiap hari membaca tiga kali surat At-Tauhid dan demikian aku telah khatam Al-Quran.”

Wasiat Imam Ali as kepada putranya Imam Hasan as, merupakan salah satu wasiat beliau yang terpenting. Setelah dari Perang Siffin, Imam Ali as menyampaikan pesan kepada putranya Imam Hasan as yang menjadi perhatian oleh baik kaum Syiah atau Sunni. Audiens Imam Ali as dalam wasiatnya bukan hanya putranya melainkan hikmah bagi seluruh insan pencari kebenaran.

Dalam surat 31 di Nahjul Balaghah disebutkan, “Wasiat dan nasehatku kepadamu adalah bertakwa kepada Allah Swt dan mematuhi perintah-Nya, membangun hatimu dengan mengingat-Nya, berpegang teguh kepada-Nya.”

Wasiat terpenting Imam Ali as kepada putranya adalah ketakwaan kepada Allah Swt. Posisi penting ketakwaan untuk manusia khususnya di masa muda diketahui melalui fokus kecenderungan dan afeksinya di masa-masa tersebut. Pada masa itu, ketakwaan sama seperti benteng dan dinding yang kokoh yang menjaganya dari serangan musuh jiwanya, dan seperti perisai yang menjaganya dari anak panah setan yang beracun.

Seperti yang kita ketahui, manusia selalu berada di depan sebuah persimpangan yang jalurnya saling bertentangan. Di satu sisi, persimpangan yang menyerunya kepada kebaikan dan di sisi lain, persimpangan yang menyerunya untuk menuruti hawa nafsu dan hasutan setan. Dalam pertempuran batin ini, hanya manusia-manusia yang telah mempersenjatai dirinya dengan iman dan ketakwaan kepada Allah dan yang telah membangun jiwanya di masa muda yang mampu keluar dengan selamat dari pertempuran antara akal dan hawa nafsu serta antara kebaikan dan kefasadan ini.

Berkat ketakwaan dan keimanan itulah, Nabi Yusuf as mampu melewati ujian berat Allah Swt dan mencapai derajat tertinggi kemuliaan. Ketakwaan dan kepatuhannya kepada perintah Allah Swt yang telah diwasiatkan Imam Ali as kepada putranya ini, merupakan dua kunci utama untuk membuka semua khazanah kebahagiaan di dua dunia. Insya Allah kita semua mampu membangun jiwa kita di bulan penuh  berkah Ramadhan ini, hingga kebaikan dan kesalehan menjadi malakah jiwa kita.(IRIB Indonesia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s