ILC, Otak Takfiri dan Gerakan Tamarud


Apa yang terjadi di program Indonesia Lawyers Club 25 Juni lalu sebenarnya sudah keluar dari pakem. Ada garis batas yang terlanggar di sana: segelintir orang–sebagaimana yang ditegaskan oleh Kyai Sampang Ja’far Shodiq di acara tersebut–dapat mengungkapkan isi hati dan mengabarkan peristiwa yang sebenarnya.
Dalam pikiran kelompok intoleran, situasi itu sendiri haram hukumnya. Insting pembasmi yang primitif menuntut mangsa merinding ketakutan dan tak melawan. Ketika korban mulai mendapat sedikit ruang untuk melawan, maka si predator bakal kebakaran jenggot dan kehilangan kedamaian neurotiknya.

 Dalam acara itu kita dan pemirsa menyaksikan sekelompok korban kekerasan yang diberi waktu dan tempat untuk bebas berbicara, mengungkapkan isi hati dan jalan pikiran mereka sendiri. Dan tentu semua itu suatu kemewahan yang tak layak diraih oleh “segelintir orang” yang telah disesatkan dan dikafirkan; suatu kemuliaan yang haram mereka peroleh. Itulah mengapa kita melihat, di sisi lain, para “kyai” yang mewakili mayoritas pun bersungut-sungut; mengumbar ancaman dan kemarahan.
Kemudian setelah acara berakhir, kru ILC mendapat sumpah serapah dan kecaman. Dan keputusan akhir mereka: segalanya telah direkayasa dan dibayar untuk memenangkan segelintir orang yang tak layak hidup tersebut.
Tentu banyak orang yang terheran-heran melihat bagaimana sejumlah kyai yang mengatasnamakan NU itu dapat berperilaku sedemikian garang dan gahar menghadapi segelintir warga negara yang berbeda mazhab? Di sinilah substansi masalahnya. Mereka merasa mewakili dunia seisinya plus agama dan segenap kesuciannya.
Perasaan ini begitu mengganggu struktur berpikir dan sendi kewarasan sejumlah kyai itu sehingga membuat mereka begitu tak kuasa melihat segelintir korbannya masih mampu berbicara dan diberi ruang untuk berekspresi layaknya manusia pada umumnya. Dalam pikiran orang-orang yang merasa mewakili Allah di bumi, semua musuh yang telah dikutuk dengan kekafiran dan kesesatan harus dimusnahkan dan haram diberi kesempatan untuk membela diri.
Dan semua itu telah menjadi keputusan langit yang menjadi hak prerogatif mereka.
Nah, bila karena satu dan lain alasan, segelintir korban itu mampu berkelit dan bernafas dalam udara bebas untuk sejenak menyuarakan versi mereka dari kenyataan, maka hanya murka yang lebih besar dan ancaman lebih keras yang layak mereka terima. Bahkan, siapa saja yang telah “berkolaborasi” untuk mewujudkan ruang bagi segelintir korban itu untuk bersuara patut dikutuk, dihujat, disumpahi, dan dianggap sebagai makhluk hina yang dibayar atau dibeli.
Jadi bagaimana cara menghadapi sekelompok orang seperti ini? Akankah mereka kita biarkan untuk mewakili agama Islam yang suci ini dan berbicara dengan lisan Allah dan Rasul-Nya yang penuh rahmat? Tentu tidak mudah menjawab pertanyaan ini, terutama di dunia yang sudah semakin kehilangan kewarasan dan akal sehat. Namun, yang pasti, bila insting keberingasan atas nama Allah ini tidak dicegah, maka ia akan berubah menjadi api yang akan membakar semua.
Rakyat Mesir menyadari gejala serupa dan bersama-sama bangkit memadamkan api kebencian atas nama agama itu untuk sekali dan selamanya. Mereka menyebut gerakan yang dimotori para pemuda itu dengan Tamarud (Pemberontakan). Puluhan juta orang turun ke jalanan untuk menolak rezim Ikhwanul Muslimin.
Tapi mengapa? Mengapa setelah mampu bertahan menerima penghinaan dan penindasan Mubarak selama 30 tahun, ternyata rakyat Mesir tak kuasa menahan api kebencian dan kekerasan atas nama Islam yang dikobarkan Ikhwanul Muslimin–ormas dan parpol terbesar di Mesir–meskipun hanya kurang dari dua tahun? Mengapa? Karena mereka sadar bahwa kekejaman rezim Mubarak tak pernah menggunakan dalil-dalil agama sebagai dasar pembenaran, sehingga setiap saat seluruh dalil itu dapat disanggah dan dibantah.
Tetapi, masalahnya akan sangat berbeda bila para pelaku kekerasan sudah merasa mendapat mandat dari langit dan melakukannya dengan sepenuh hati dan ketenangan.
Kekerasan atas nama agama ini sedemikian berbahaya bagi masyarakat karena—bahkan jika mereka gagal melaksanakan aksi-aksi kekejamannya—mereka merasa bakal mendapat ganjaran surga dan bidadari di akhirat kelak.
Itulah salah satu alasan pokok yang melecut puluhan juta rakyat Mesir untuk turun bersama-sama 30 Juni silam–sebuah gerakan terbesar sepanjang sejarah Mesir. Bagaimana dengan kita rakyat Indonesia? Maukah kita terus menerima aksi-aksi brutal yang berkedok dalil-dalil agama, sehingga tak ada jalan untuk membantahnya? Sebagai ilustrasi, di Suriah hari-hari ini ada aksi kekerasan yang dilatari dalil-dalil agama. Akibatnya, tak ada cara untuk melawannya kecuali dengan pertumpahan darah yang mengerikan.
Menurut sebuah sumber, ada sekitar 2000 faksi bersenjata di Suriah yang “berjihad” di bawah komando seorang amir yang merasa mendapat perintah langsung dari Allah untuk sebanyak mungkin menumpahkan darah. Darah siapa? Siapa saja yang tidak taat pada sang amir, baik dari kelompok yang mendukung Assad atau tidak. Pokoknya siapa saja yang tidak taat pada perintah Allah yang datang pada si amir. Nah, inikah masa depan yang kita inginkan untuk Indonesia? Tentu tidak.
Tapi, bila kita tidak memulai dari sekarang, kekerasan atas nama agama itu akan menyebar bak candu yang susah untuk dihilangkan. Dan celakanya, kita tak pernah tahu dari mana mulainya penyebaran itu sebelum kita benar-benar sudah berada dalam wabah yang melanda seluruh elemen masyarakat Indonesia yang dikenal religius. [IT/MK]

sumber: islamtimes

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s