Ramadhan Momentum Mencapai Derajat Muslim Sejati


“Kita harus intropeksi diri apakah tanda-tanda keimanan  ada pada diri kita atau tidak. Jika tidak ada, maka mari kita manfaatkan keberadaan bulan yang agung ini untuk memaksimalkan semua waktu dan tenaga kita untuk meraih keimanan yang sejati. Bulan ini pahala dari semua amal kebajikan dilipat gandakan sehingga menjadi momentum yang tepat untuk mencapai derajat muslim yang sejati.”  

405373

Menurut Kantor Berita ABNA, Ayatullah al Uzhma Makarim Shirazi dalam lanjutan kelas tafsirnya di Haram Muthahar Ma’sumah (sa) menyatakan, “Allah SWT pada ayat 24 dan 26 surah Ibrahim memperumpamakan keburukan itu ibarat pohon yang tercabut akar-akarnya dari bumi sehingga tidak bisa berdiri tegak sementara kalimat-kalimat yang baik ibarat pohon yang akarnya menghujam keperut bumi sehingga bisa berdiri tegak dan kokoh. Para ulama tafsir memberikan tafsir yang bermacam-macam berkenaan dengan Kalimatan Tayyibah dan Khabitsah pada kedua ayat tersebut. Dan sebaik-baik penafsiran Kalimatan Tayyibah (perkataan yang baik) adalah berkenaan dengan Islam dan keimanan sementara Khabitsah berkaitan dengan kekufuran.”

 

Ulama besar Hauzah Ilmiah Qom Iran tersebut melanjutkan, “Islam sebagai kalimat tayyibah maka ibarat sebuah pohon yang memiliki tiga unsur yang penting, akar, batang dan buah. Akar Islam adalah akidah yang kuat yang tersirami air wahyu. Batang dan daunnya yang menjulang kelangit menggambarkan amalan Islam yang terangkum dalam furu’ agama. Sementara buahnya adalah akhlak dan perlakuan yang baik pada sesama yang dihasilkan dari akidah dan amalan fiqhnya. Buah adalah gambaran utuh dari baiknya kualitas akar dan batang dari sebuah pohon.”

 

“Sebagaimana pohon, Islam memiliki tiga rukun, aqidah yang bersih, amalan saleh dan akhlak yang baik. Jika pada diri seorang muslim memiliki ketiga hal tersebut, maka ia adalah muslim yang sejati.” Lanjut penulis kitab tafsir al ‘Amtsal tersebut.

 

“Muslim yang menyatakan  bahwa ia cukup memiliki akhlak yang baik dan tidak peduli dengan persoalan aqidah maka ia cacat sebagai muslim. Begitupula yang mencukupkan dirinya dengan amalan-amalan fiqh Islam namun berakhlak buruk dalam berinteraksi dan bersosial maka ia bukan muslim yang sebenarnya.” Lanjutnya lagi.

 

Pada bagian lain ceramahnya berkenaan dengan surah al Ahzab ayat 29 yang berbunyi: “Dan jika kamu sekalian menghendaki (keredhaan) Allah dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar.” Ayatullah Makarim Shirazi mengatakan, “Meskipun secara lahiriah ayat tersebut berkaitan dengan istri-istri Nabi Muhammad Saw dan firman Allah tersebut ditujukan kepada mereka namun pada hakikatnya pesan tersebut untuk semua manusia. Bahwa barangsiapa yang berbuat baik, beramal saleh, bertakwa dan ikhlas dalam mencari keridhaan Allah maka ia akan mendapat balasan yang baik. Karena itu barangsiapa yang misalnya ikut dalam majelis duka Imam Husain as dengan alasan cinta kepada imam Husain as namun ia tidak becus dalam menjalankan amalan ibadah yang diwajibkan baginya maka itu akan menjadi penyebab ia tidak memiliki hubungan dan keterikatan apapun dengan imam as.”

 

“Muslim itu banyak macamnya. Ada muslim geografis, yaitu ia menjadi muslim karena hidup didaerah dan wilayah yang mayoritas berpenduduk muslim, sehingga iapun terkondisikan untuk menjadi muslim. Ada juga muslim karena lahir dilingkungan keluarga muslim, ayah dan ibunya seorang muslim sehingga iapun menjadi muslim. Ada juga Islam KTP, islam hanya sekedar pelengkap identitas di kartu pengenalnya, dan memiliki informasi yang sangat minim tentang Islam. Islam yang sejati adalah Islam yang berlandaskan iman yang kokoh. Iman bukan hanya sekedar mengatakan bahwa saya orang beriman, melainkan sesuatu yang telah merasuk dan mengujam kedalam kalbu seorang insan. Dan kelakuannya akan membenarkan keberadaan iman dalam hatinya itu. Aplikasi dari keimanan hanya akan terwujud, jika seseorang dalam setiap aktivitasnya melakkannya karena Allah. Ia mencintai sesuatu karena Allah begitupun  ia membenci sesuatu karena Allah.”

 

“Rasulullah Saw bersabda, bukti keimanan adalah perkataan yang jujur. Imam Ja’far Shadiq as mengingatkan, tanda dari keimanan adalah mendahulukan memikirkan akibat baik buruknya suatu amalan sebelum melakukannya. Sementara Imam Ali as mengatakan, iman adalah keikhlasan dalam beramal.”

 

Diakhir ceramahnya, Ayatullah Makarim Shirazi menyampaikan, “Kita harus intropeksi diri apakah tanda-tanda keimanan tersebut ada pada diri kita atau tidak. Jika tidak ada, maka mari kita manfaatkan keberadaan bulan yang agung ini untuk memaksimalkan semua waktu dan tenaga kita untuk meraih keimanan yang sejati. Bulan ini pahala dari semua amal kebajikan dilipat gandakan sehingga menjadi momentum yang tepat untuk mencapai derajat muslim yang sejati.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s