Teror di Sekitar Kita


Penembakan beruntun akhir-akhir ini menunjukkan aksi teror tak pernah hilang. Tak hanya peledakan vihara di Tanjung Duren, Jakarta Barat, pelaku teror juga membunuh dua polisi di Ciputat, petugas penjara di Yogyakarta, dan melakukan serentetan penembakan di Jawa Tengah. Semua terjadi dalam sebulan terakhir. Publik pun cemas karena penembakan dan pengeboman itu tak diketahui apa motif dan siapa pelakunya.

Melihat pola dan jejak bukti, rangkaian teror itu tak ada kaitannya antara satu dan lainnya. Hanya, semuanya memiliki kesamaan, yaitu tak ada motif tradisional seperti perampokan atau perampasan. Menelusuri riwayat para korban juga tak menghasilkan petunjuk bahwa penembakan itu bermotif pribadi. Justru misteri itulah yang menimbulkan kecemasan masyarakat.

Masyarakat ketakutan karena lingkunganya tidak aman. Teror bisa saja menimpa mereka tanpa alasan yang jelas. Ihwal dua penembakan di Jakarta dan Yogyakarta, semua berlangsung di kompleks perumahan, saat sebagian besar penghuninya mudik merayakan Lebaran di kampung halaman. Dan kecemasan kian menjadi karena para korban adalah polisi, mereka yang bertugas menjaga rasa aman publik. Jika para penjaga keamanan saja tewas ditembak, apalagi warga sipil yang tak dibekali alat penjagaan diri.

Pesan para teroris itu jelas: mereka bisa melumpuhkan petugas keamanan dan mengejek dengan telak ketidakbecusan intelijen serta polisi untuk mencegahnya. Analisis Badan Intelijen Negara mengukuhkannya melalui pernyataan bosnya, Marciano Norman, bahwa ancaman terorisme nyata di sekitar kita. Para pelaku tak hanya membawa bahan peledak yang menyasar tempat ibadah, tapi juga pistol yang bisa diletuskan di mana saja ke arah siapa saja.

Serangan teror secara acak ini sesungguhnya tak kalah berbahaya ketimbang terorisme yang terpusat pada sasaran tertentu, seperti aksi kelompok Noor Din M. Top sebelum ia tewas. Kelompok ini punya sasaran tempat yang berbau Amerika atau Barat, sehingga bisa dibaca arah dan geraknya. Kini, setelah pentolan kelompok teror itu habis, aksi teror berubah bentuk menjadi aksi di tempat-tempat tak terduga: pinggir jalan, gang rumah, dan vihara.

Sebermula sasarannya memang markas polisi, seperti di Yogyakarta tiga tahun lalu. Tahun-tahun berikutnya, sasaran pun masih anggota polisi. Namun tahun ini target sasaran meluas ke warga sipil, meski tak sampai ada korban jiwa. Semua modus teror itu adalah penembakan dari jarak dekat.

Maka dugaan sementara adalah balas dendam jaringan teroris kepada polisi yang berhasil mematikan gembongnya, yakni Imam Samudera, Noor Din M. Top, dan Azahari. Apalagi di banyak tempat polisi bisa melumpuhkan mereka yang diduga sebagai anggota jaringan teror asal Poso, Sulawesi Tengah. Misalnya, penyergapan dua “calon pengantin” di Tulungagung, Jawa Timur, sebulan lalu.

Namun semua analisis ini tak menyurutkan kecemasan publik. Hari ini polisi menjadi korban, besok bisa siapa saja. Tujuan terorisme adalah menimbulkan kecemasan yang meluas terhadap rapuhnya keamanan banyak orang. Apalagi hingga kini polisi gagal mengungkap motif dan menangkap pelaku pencurian dua truk dinamit di jalan tol Jakarta-Bogor. Untuk mengembalikan rasa aman, polisi tak punya pilihan selain segera menangkap siapa di balik semua aksi kekerasan ini. (IRIB Indonesia/Opini Tempo)

 

JK: Diteror, Polri Jangan Sampai Surut!

 

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla alias JK mengaku prihatin atas rentetan teror terhadap aparat negara, khususnya kepolisian. JK berharap teror tersebut tidak menyurutkan semangat jajaran Polri.

 

“Bagaimanapun jangan karena itu menyurutkan semangat Polri untuk menjaga keamanan,” kata JK di sela-sela acara Open House Hari Raya Idul Fitri 1434 H di kediamannya di Jakarta Selatan.

 

JK mengatakan, aparat keamanan yang bertugas di manapun pasti mempunyai resiko tugas. Menurut dia, keamanan tergantung situasi umum dan bagaimana pimpinan Polri menanganinya.

 

Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono berpendapat, teror belakangan ini dikendalikan oleh orang lama. Hanya, para eksekutor lapangan diduga orang baru.

 

“Kita harus buka file lama supaya kita tahu pengendalinya siapa. Pelaksananya itu baru. Tapi pengendalinya lama. Mudah-mudahan terungkap,” kata Hendro.

 

Seperti diberitakan, terjadi dua penembakan polisi di daerah Ciputat, Tangerang Selatan. Selain itu, petugas Lembaga Permasyarakatan Wirogunan, Yogyakarta juga ditembak hingga tewas. Kepolisian masih menyelidiki kasus tersebut.

Senjata Api Beredar Bebas

Maraknya penembakan di sejumlah daerah menjadi bukti senjata api, termasuk senjata api rakitan dan airsoft gun, beredar bebas di masyarakat. Kepolisian Negara Republik Indonesia tak menyangkal peredaran itu sehingga membentuk tim untuk mengusut beberapa kasus penembakan itu dan menggelar razia senjata api.

“Untuk pengusutan, sudah dibentuk tim,” kata Inspektur Jenderal Badrodin Haiti, Asisten Kepala Polri Bidang Operasi, di Jakarta, Senin (12/8/2013).

Badrodin tidak menyebutkan jumlah senjata api, termasuk airsoft gun, yang kini diperkirakan berada di masyarakat. Pendataan kepemilikan senjata api, termasuk airsoft gun, dilakukan Badan Intelijen Keamanan (Intelkam) Polri.

Wakil Kepala Polri Komisaris Jenderal Oegroseno mengakui, terkait kepemilikan airsoft gun, juga senjata api rakitan, tak ada wadah resmi yang mewadahi pemiliknya. Selain itu, belum ada aturan teknis terkait kepemilikan dan penggunaan airsoft gun.

Airsoft gun tercatat dipakai orang tak dikenal melakukan teror penembakan di Yogyakarta sepekan terakhir. Penembakan dengan jenis senjata itu pun terjadi di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, pada masa angkutan Lebaran, pekan lalu. Tembakan itu merusak sebuah mobil travel.

Jika ada aturan yang jelas, seperti larangan membawa airsoft gun ke mana-mana, lanjut Oegroseno, penindakan bisa dilakukan. Dalam upaya mencegah kejahatan bersenjata api, kepolisian segera menggelar razia khusus senjata api.

Pengamat kepolisian Bambang Widodo Umar mengatakan, ada dua kemungkinan dalam kasus penembakan yang dilakukan orang tidak dikenal belakangan ini, terutama terhadap aparat. Pertama, hal itu adalah balas dendam dari kelompok tertentu terhadap aparat. Kelompok itu menilai tindakan aparat, terutama polisi, tidak manusiawi terhadap kelompok tertentu itu.

Kedua, penembakan itu adalah peringatan kepada Polri agar bekerja lebih cermat dan lebih baik. Polisi harus bekerja lebih profesional. Namun, memperingatkan dengan penembakan itu tidak benar karena bisa membahayakan masyarakat.

Bambang juga tak menyangkal banyaknya senjata api yang beredar di masyarakat, dan digunakan orang tak dikenal. Hal ini juga mencerminkan kerja Polri yang kurang profesional. “Ini menunjukkan deteksi intelijen polisi yang lemah,” ujarnya. (IRIB Indonesia/Kompas)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s