Amalan Shalih, Untuk Siapa?


Allah Subhanahu Wa ta’ala berfirman,

مَّنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ  فَعَلَيْهَا ۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ

Barangsiapa melakukan amal salih maka demi kebaikan dirinya sendiri. Dan  barangsiapa yang melakukan keburukan maka hal itu akan merugikan dirinya  sendiri. Dan tidaklah Rabbmu berbuat zalim kepada hamba.” (QS. Fushshilat:  46)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Artinya; barangsiapa  yang melakukan suatu amal salih maka sesungguhnya kemanfaatan amalnya itu akan  kembali kepada dirinya sendiri. Karena sesungguhnya Allah maha kaya sehingga  tidak membutuhkan perbuatan hamba. Meskipun mereka semuanya berada dalam keadaan  sebagaimana orang yang hatinya paling bertakwa, maka hal itu pun tidak akan  menambah apa-apa terhadap keagungan kerajaan-Nya barang sedikit pun.”  (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [6/264] cet. Dar Thaibah)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

وَمَن جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ ۚ إِنَّ  اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

Barangsiapa yang bersungguh-sungguh maka hanya saja [manfaat] hal itu  [juga] demi kepentingan dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar maha  kaya sehingga tidak membutuhkan alam semesta.” (QS. al-’Ankabut: 6)

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Sesungguhnya bisa  jadi ada seorang yang senantiasa berjihad walaupun tidak pernah menyabetkan  pedang -di medan perang- suatu hari pun.” (lihat Tafsir al-Qur’an  al-’Azhim [6/264] cet. Dar Thaibah)

Hidup di dunia tidaklah sepi dari ujian dan cobaan. Oleh sebab itu hendaknya  setiap diri berjuang dan bersungguh-sungguh dalam berupaya menyelamatkan dirinya  dari kebinasaan dan demi menggapai kebahagiaan.  Allah ta’ala berfirman,

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ  الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ

Apakah kalian mengira bahwa kalian akan begitu saja masuk surga  sedangkan Allah belum mengetahui [melihat] siapakah orang-orang yang  bersungguh-sungguh diantara kalian dan  untuk mengetahui siapakah  orang-orang yang sabar?” (QS. Ali ‘Imran: 142)

Dengan ujian inilah akan tampak siapakah orang yang benar keimanannya dengan  orang yang hanya berpura-pura. Allah ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن  قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا  وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka benar-benar  Allah akan mengetahui [membuktikan] siapakah orang-orang yang jujur dan akan  mengetahui siapakah orang-orang yang dusta.” (QS. al-’Ankabut: 3)

Oleh sebab itu semestinya setiap hamba yang takut akan perjumpaan dirinya  dengan Allah dalam keadaan hina untuk mengisi waktunya dengan amal salih dan  nilai-nilai keimanan serta menghadapi berbagai fitnah dengan kesabaran.  Allah ta’ala berfirman,

مَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ  لَآتٍ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Barangsiapa yang berharap bertemu dengan Allah, maka sesungguhnya  ketetapan ajal dari Allah itu pasti datang, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha  Mengetahui.” (QS. al-’Ankabut: 5)

Imam al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan maksud ayat ini,  “Para ulama ahli tafsir sepakat bahwa maksud ayat ini adalah; barangsiapa yang  merasa takut akan kematian hendaklah dia melakukan amal salih karena  sesungguhnya kematian itu pasti akan mendatanginya.” (lihat al-Jami’ li  Ahkam al-Qur’an [16/338-339])

Kematian tidak bisa dielakkan. Tidak ada yang bisa berlari untuk menghindar  darinya. Oleh sebab itu -wahai saudaraku- membekali diri untuk menyambutnya  adalah sebuah keniscayaan. Allah ta’ala telah menegaskan,

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ  مُلَاقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ  وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Katakanlah: Sesungguhnya kematian yang kalian senantiasa berusaha lari  darinya, sesungguhnya ia pasti datang menemui kalian. Kemudian kalian akan  dikembalikan kepada Dzat yang mengetahui perkara yang gaib dan yang tampak, lalu  Allah akan mengabarkan kepada kalian dengan apa yang dahulu kalian  kerjakan.” (QS. Al-Jumu’ah: 8)

Membekali diri dengan keimanan, meninggalkan segala bentuk kemaksiatan, dan  berjuang di jalan Allah. Membekali diri dengan sabar dan syukur. Membekali diri  dengan tauhid dan amal salih. Membekali diri dengan pundi-pundi ketakwaan.  Inilah jalan orang-orang yang merindukan rahmat dan ampunan-Nya.  Allah ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ  اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ  رَّحِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berhijrah  serta berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Dan  Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 218)

Dikisahkan, bahwa suatu hari Abud  Darda’ radhiyallahu’anhu melihat seorang lelaki ketika  menghadiri jenazah. Lelaki itu berkata, “Jenazah siapakah ini?”. Maka Abud  Darda’ berkata, “Inilah dirimu, inilah dirimu.  Allah ta’ala berfirman,

إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ

Sesungguhnya engkau pasti mati dan mereka pun pasti akan mati.”  (QS. Az-Zumar: 30) (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i karya Abdul  Malik al-Qasim, hal. 110)

Dikisahkan bahwa Muhammad bin  al-Munkadir rahimahullah menangis sejadi-jadinya menjelang  kematiannya. Lalu ada orang yang bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu  menangis?”. Maka beliau mengangkat pandangan matanya ke langit seraya berkata,  “Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah memerintah dan melarang kepadaku lalu aku  justru berbuat durhaka. Jika Engkau mengampuni [diriku] sungguh Engkau telah  memberikan anugerah [kepadaku]. Dan apabila Engkau menghukum [aku], sungguh  Engkau tidak melakukan kezaliman [kepadaku].” (lihat Aina Nahnu min  Haa’ulaa’i, hal. 94)

Allah ta’ala berfirman,

تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ  عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ  لِلْمُتَّقِينَ

Itulah negeri akhirat yang Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak  menginginkan ketinggian [keangkuhan] di atas muka bumi dan berbuat kerusakan.  Dan sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang  bertakwa.” (QS. Al-Qashash: 83)

al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Masuk ke alam  dunia ini adalah sesuatu yang ringan/mudah. Akan tetapi keluar darinya -dengan  sukses dan selamat, pent- adalah sesuatu yang berat/tidak sederhana.”  (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 94)

Abud Darda radhiyallahu’anhu berkata, “Jika disebut  nama-nama orang yang sudah mati maka anggaplah keadaan dirimu seperti halnya  salah satu diantara mereka.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal.  68)

Semoga Allah menganugerahkan kepada kita kesudahan yang baik di alam dunia  ini dan menjadikan kita sebagai penghuni surga-Nya. Allahul  musta’aan.

Penulis: Ari Wahyudi Artikel Muslim.Or.Id

Dari artikel ‘Amalan Shalih, Untuk Siapa? — Muslim.Or.Id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s