dr. Lukman: Relawan Kemanusiaan di Negeri Konflik


Salah satu Advance Team ke negeri bergolak Mesir, dalam Tim Sympathy of Solidarity (SOS) Egypt 1 ACT yang saat ini telah di berangkatkan ACT adalah dr. Lukman Hakim. Pria Lajang, alumnus Fakultas Kedokteran Universitas  Hasanuddin  Makassar  ini, masuk menjadi relawan memenuhi call volunteer di media sosial @ACTforhumanity.

Apa komentarnya tentang kerelawanan? Menurut pria yang lahir tepat di hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 1981 di Pontianak ini, relawan merupakan bentuk sikap, pemikiran, perbuatan dan perkataan untuk bisa peduli dengan orang lain. Menjadi relawan berarti peduli dan bersedia membantu orang lain yang membutuhkan.

 

“Saya sangat termotivasi menjadi relawan, karena sejak kuliah saya sering turun menjadi tim medis dan bencana, mulai dari yang simple menyelamatkan korban yang tenggelam hingga memberikan pertolongan medis. Saya tertarik dan berminat untuk berkecimpung di dunia kemanusiaan. Minat  saya kuat untuk itu. Bagi saya, dunia kemanusiaan sangat menarik,” kata dokter yang ingin mendalami manajemen penanggulangan bencana ini.

Lukman Hakim terlibat sebagai tim medis ACT ke luar negeri, saat merespon panggilan kerelawanan untuk korban perang saudara di Suriah. “Saat itu saya sangat bersemangat menyambut peluang menjadi relawan. Apalagi setelah mendengarkan briefing dari presiden ACT pak Ahyudin, saya makin siap menghadapi medan.  Saya menerima semangat yang lebih besar. Kemanusiaan itu bentuk penghargaan kita kepada sesama manusia. Kita memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan,” ungkapnya.

Menurut Lukman, kedermawanan tidak berbeda jauh dengan kerelawanan. “Kita rela dengan apa yang kita miliki kepada orang lain. Banyak yang berpikir, bederma identik dengan materi. Sebenarnya kita pun bisa berderma degan skill, ilmu dan apa yang kita bisa,” ujarnya.

Sebagai orang muda, masih bujangan pula, bagaimana sikap keluarganya saat tahu Lukman terjun ke kawasan bergolak? Alhamdulillah, katanya, orangtua mendukungnya. “Pesan mereka hanya, saya harus menjaga diri baik-baik,” kata Lukman. “Saya percaya, apa yang kita lakukan kepada orang lain akan kembali pada diri kita. Jika kita ingin diperlakukan dengan baik, perlakukanlah orang lain dengan baik,” ujar dokter yang merasakan bekerja di musim dingin di Kamp Zaatari, Jordania ini. Saat itu, ia bersama tiga tenaga medis yang tergabung dalam SOS Syiria-ACT, melayani sampai 600-an pasien sehari.

Kini, krisis Mesir memanggil. Lukman Hakim segera meresponnya, tanpa banyak bertanya. Saat pelepasan di Masjid Agung Al Azhar, Jumat 16 Agustus 2013, dengan bersahaja ia malah nimbrung di tengah jamaah jumatan, tidak menyatu dengan tim yang akan dilepas. Segera saja, ia diminta mengenakan rompi ACT dan bergabung menerima jabatan tangan dan doa jamaah. Selamat berjuang, Dok! Selamat mengharumkan nama bangsa, berkontribusi di kancah kemanusiaan di Mesir dan kembali ke Tanah Air dalam keadaan selamat.

Redaktur: Shabra Syatila Sumber: act.or.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s