Dunia Kesehatan indonesia Hanya Milik Dokter


 

Dunia Kesehatan indonesia Hanya Milik Dokter

Dalam tubuh yang kuat  terdapat jiwa yang sehat. Hak dasar semua rakyat Indonesia  diatur  dalam Pembukaan UUD 1945. Masih terbesik di benak kita kasus puyer pada tahun 2007 silam yang menewaskan seorang bayi. Saat itu, dokter angkat bicara soal puyer padahal itu buka ranah dokter, farmasislah yang mempunyai wewenang. Penulisan resep oleh dokter yang dinilai sebagai perampasan profesi oleh apoteker memberikan gambaran buruk tentang dunia kesehatan di Indonesia. Pada tahun 2007 silam, Menteri Kesehatan Siti Fadila Supari menggagas konsep farmaceutical care. Semua stockholder kesehatan diminta berpegang teguh pada profesinya masing masing. Untuk menyembuhkan seorang pasien,maka diperlukan kerja sama elemen kesehatan seperti dokter, apoteker, perawat, bidan, dan analisis kesehatan. Dokter bertugas mendiagnosa. Apoteker yang meresepkan obat. Perawat yang merawat pasien itu hingga sembuh. Tapi apa yang terjadii di negeri ini? Dokter menulis resep, memberi resep, dan sebagainya sehingga muncul paradigma baru di masyarakat bahwa apoteker dan perawat adalah “babu dokter”. Apoteker dan perawat tenggelam di antara jubah putih para dokter. Perawat bekerja 24 jam menjaga pasien hingga sembuh, dokter hanya punya waktu tiga jam di rumah sakit. Setelah mengecek kesehatan pasien, dokter seenaknya saja mengambil tasnya, menaiki mobilnya, lalu pindah ke klinik yang dia tempati bekerja selain rumah sakit. Wajar saja jika perawat menjerit meminta keadilan lewat pengesahan UU keperawatan. Wajar saja jika farmasis memintah kesetaraan profesi. Realitas yang terjadi di lapangan, hasil survei adanya keganjalan pada profesi dokter yang mengambil alih kerja kerja farmasi. Bulan Juni lalu, KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) menegur keserakahan dokter yang menjual obat. Praktik transaksi yang dilakukan oknum dokter menambah pundi-pundi literatur bahwa memang dokter sang penguasa dunia kesehatan di Indonesia. Nominal Rupiah “Kami menyadari kesemuanya ini terjadi dikarenakan dnia pendidikan ksehatan Idonesia yang semakin mahal. Mau jadi dokter siapkan modal minimal Rp 200 juta. Dunia kesehatan didominasi oleh kerja kedokteran sehingga melupakan esensi stockholder kesehatan yang lain. Apa yang dituntut apoteker dan perawat itu sah karena perilaku dokter yang tidak bekerja profesional dan merampas hak profesi lain. Tentu masyarakat pernah melihat iklan obat. Di akhir iklan ada tulisan “jika sakit berlanjut hubungi dokter”. Jika kita sadar konteks, maka iklan tersebut mempertegas kalau di negara ini dunia kesehatan hanya milik dokter. Padahal jika sakit kita berlanjut dan ketika harus ke dokter, akan menambah beban biaya lagi buat pasien. Mahalnya biaya pendidikan kedokteran di Indonesia membuat para dokter menghilangkan esensi UUD Negara ini yaitu memberikan rasa keadilan sosial untuk semua masyarakat tanpa terkecuali. Pahaman masyarakat juga harus diubah. Kesehatan Gratis Pejabat di Indonesia sudah merumuskan konsep kesehatan gratis dengan hitungan matematika yang pas. Sulawesi Selatan menjadi percontohan konsep ini. Tapi defenisi gratis di pahaman pejabat tidak sejalan dengan definisi pahaman awam. Buktinya, rumah sakit di Makassar milik pemerintah masih saja membuyarkan harapan masyarakat miskin. Adanya dikotonomi jabatan strategis lembaga kesehatan di Indonesia seperti menteri kesehatan, dinas kesehatan, Balai POM (Pemeriksaan Obat dan Makanan) pusat bahkan daerah, serta rumah sakit rumah masih 90 persen  dikepalai lulusan fakultas kedokteran. Bukan persoalan kompetisi atau kapasitas, tapi ini adalah persoalan sistem yang sengaja terbangun untuk memperkuat asumsi dunia kesehatan  Indonesia. Bagi mereka, dokter adalah satu-satunya profesi yang  dieluh-eluhkan. Bagi mereka, dokter tidak lebih dari sepenggal tangan Tuhan untuk meringankan rasa derita bahkan menyembuhkan suatu penyakit. Bagi mereka, profesi menjadi profesi akan menguntungkan tujuh turunan.  Bagi mereka, profesi dokter menjadi ikon kesehatan di Indonesia. Tapi bagi kami, dokter tidak lebih dari profesi kesehatan lainnya yang bertugas melayani kepentingan orang banyak. Bagi kami, dokter bukan tangan Tuhan yang bekerja sendiri tanpa membutuhkan profesi kesehatan lainnya sebagai founding. Bagi kami, pendidikan kedokteran sangat mahal. Tugas negara, memberikan rasa aman buat profesi kesehatan lainnya.(*)

Oleh; Muh Irwan Alumni Fakultas FARMASI UIT/Penasihat GAM (Gerakan Aktivis Mahasiswa) Mantan Staf Ahli Kaderisasi ISMAFARSI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s