Tafsir Al-Quran, Surat Yunus Ayat 1-4


Selasa, 2013 September 17

Setelah sebelumnya telah menyelesaikan pembahasan dan pengkajian surat at-Taubah, maka kita akan mulai membahas dan mengulas surat ke 10 dalam kitab suci al-Quran yaitu surat Yunus. Surat ini diturunkan di Mekah mulai dari ayat pertama sampai dengan ayat ke 4. Nabi Yunus adalah salah seorang Nabi utusan Allah Swt. Beliau datang setelah Nabi Nuh dan Musa as. Karena itu surat ini diberi nama dengan nama beliau.

Ayat ke 1-2

 

الر تِلْكَ آَيَاتُ الْكِتَابِ الْحَكِيمِ (1) أَكَانَ لِلنَّاسِ عَجَبًا أَنْ أَوْحَيْنَا إِلَى رَجُلٍ مِنْهُمْ أَنْ أَنْذِرِ النَّاسَ وَبَشِّرِ الَّذِينَ آَمَنُوا أَنَّ لَهُمْ قَدَمَ صِدْقٍ عِنْدَ رَبِّهِمْ قَالَ الْكَافِرُونَ إِنَّ هَذَا لَسَاحِرٌ مُبِينٌ (2)

Artinya:

Alif laam raa. Inilah ayat-ayat Al Quran yang mengandung hikmah. (10: 1)

Patutkah menjadi keheranan bagi manusia bahwa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara mereka: “Berilah peringatan kepada manusia dan gembirakanlah orang-orang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Tuhan mereka”. Orang-orang kafir berkata: “Sesungguhnya orang ini (Muhammad) benar-benar adalah tukang sihir yang nyata”. (10: 2)

Sebagaimana telah disebutkan dalam permulaan surat al-Baqarah, 29 surat dari 114 surat al-Quran dimulai dengan huruf-huruf muqattha’ah yakni huruf-huruf terpenggal, yang merupakan suatu rumus bagi Allah dan Nabi-Nya, namun hingga saat ini rumus dan huruf-huruf tunggal tersebut belum tersingkap. Biasanya setelah huruf-huruf ini diiringi dengan pernyataan kebesaran al-Quran. Sebagian mufassir menyebut bahwa huruf-huruf itu sebagai hujjah terhadap para penentang, dalam artian meski Allah Swt menurunkan al-Quran dengan huruf-huruf alfabet, namun kalian tidak akan bisa mendatangkan kitab yang sepertinya. Salah satu dari sifat Allah yang tersebut dalam al-Quran ialah “Hakim”, karena kalimat “Ahkam” yang tersebut dalam kitab suci ini dibangun pada dasar yang kokoh, sedang poin yang dikandung didalamnya mengajarkan kebijaksanaan dan hikmah.

Setelah menjelaskan posisi dan kedudukan al-Quran, Allah Swt pada ayat kedua menyinggung posisi Nabi-Nya Muhammad Saw, dengan mengatakan, “Masyarakat selalu menunggu bahwa Allah telah mengirimkan malaikat-Nya untuk memberi petunjuk kepada umat manusia. Sudah jelas para nabi itu haruslah berasal dari jenis manusia, bangsa dan bahkan satu bahasa, sehingga pernyataan mereka dapat menjadi suri teladan bagi mereka. Selain itu para nabi dalam melaksanakan seruan dan dakwahnya tidak menginginkan sesuatu. Karena jika mereka menginginkan sesuatu, pastilah manusia akan menjauhkan diri. Pekerjaan para nabi adalah memberi berita gembira kepada orang-orang yang berbuat baik dan saleh, serta memberi peringatan kepada para pendosa dan pelaku kejahatan. Adapun ketika nabi mengeluarkan mukjizatnya, disebabkan sebagian orang telah menuduh kepada para nabi tersebut sebagai telah menyihir dan memperdaya mereka.

Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. al-Quran adalah sebuah kitab suci yang kokoh, lestari dan abadi, nilai dan kedudukan kitab suci ini tidak akan pernah berkurang dengan berlalunya zaman.

2. Tujuan para nabi ialah memberikan kemuliaan kepada umat manusia, dan mengangkat dan memuliakan kedudukan mereka.

Ayat ke 3

 

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مَا مِنْ شَفِيعٍ إِلَّا مِنْ بَعْدِ إِذْنِهِ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ (3)

Artinya:

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran? (10: 3)

Salah satu Sunnatullah dari penciptaan alam semesta ini dilakukan secara bertahap. Meski Allah Swt Maha Berkuasa untuk menciptakan semua isi alam semesta ini dalam sebuah tahap, namun langit-langit dan bumi dibangun dalam jangka waktu 6 masa (putaran) yang berbeda. Perkembangan dan penyempurnaan semua makhluk alam semesta ini, juga sejak saat diciptakannya hingga mencapai kesempurnaan mengalami perkembangan secara bertahap. Bayi akan berada di dalam kandungan ibunya selama 9 bulan 10 hari, sehingga sampai pada tahap yang menjadikan bayi tersebut bisa hidup di dunia ini. Padahal Allah Swt dapat melaksanakan semua ciptaannya tersebut dalam satu masa. Dari situlah orang-orang Musyrik baik yang hidup tempo dulu maupun sekarang meski menerima Tuhan sebagai pencipta alam semesta ini, namun mereka mengatakan bahwa Tuhan memiliki sekutu dalam mengatur jagat raya ini.

Karena itu lanjutan ayat-ayat ini mengatakan, “Segala urusan jagat raya ini di tangan Allah Swt dan seluruh pekerjaan itu dilakukan atas perintah-Nya. Karena itu tiada satupun yang dapat menjadi perantara dalam mengatur dan mengelola jagat raya ini, bahkan para malaikat pun dalam mengatur segala sesuatu di alam raya ini, selalu di bawah kehendak dan perintah Allah. Para wali Allah juga dengan ijin-Nya memiliki kemungkinan untuk menguasai dan menundukkan undang-undang alam.

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Penciptaan alam dilakukan dengan program yang telah terkaji sebelumnya, dan dengan perhitungan waktu yang tepat. Karena itu penciptaan alam semesta ini bukan perkara yang kebetulan, artinya tanpa rancangan sebelumnya.

2. Alam semesta ini berjalan sesuai dengan undang-undang dan tujuan. Karena itu pencipta alam semesta ini adalah satu-satunya zat yang mengatur ciptaan-Nya.

Ayat ke 4

 

إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا وَعْدَ اللَّهِ حَقًّا إِنَّهُ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ لِيَجْزِيَ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ بِالْقِسْطِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا لَهُمْ شَرَابٌ مِنْ حَمِيمٍ وَعَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْفُرُونَ (4)

Artinya:

Hanya kepada-Nya-lah kamu semuanya akan kembali; sebagai janji yang benar daripada Allah, sesungguhnya Allah menciptakan makhluk pada permulaannya kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali (sesudah berbangkit), agar Dia memberi pembalasan kepada orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan amal saleh dengan adil. Dan untuk orang-orang kafir disediakan minuman air yang panas dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka. (10: 4)

Ayat sebelumnya telah menyinggung ke-Maha Kuasaan Allah Swt dalam menciptakan langit dan bumi. Ayat ini juga menyinggung mengenai penciptaan kembali alam raya pada Hari Kiamat, sekaligus untuk menghapus segala bentuk syak dan keraguan, mengatakan, “Ini adalah janji Allah yang pasti. Dia akan memberi pahala kepada orang-orang yang berbuat kebajikan, sedang terhadap orang-orang Kafir Allah akan memberi balasan siksa dan azab. Memang Tuhan telah membuka pintu bagi manusia untuk melakukan apa saja termasuk dosa dan kejahatan, sehingga hari demi hari manusia yang mengumbar perbuatan dosa dan kejahatan itu akan semakin tenggelam dalam fasad dan dosa. Dan kelak pada Hari Kiamat Allah Swt akan menyediakan makanan dan minuman bagi manusia-manusia pendosa ini dengan api neraka.

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Filsafat hari kebangkitan atau Ma’ad merupakan manifestasi keadilan Ilahi. Karena itulah dunia bukan menjadi tempat pemberian pahala atau siksaan secara keseluruhan dari amal perbuatan manusia.

2. Sebagaimana kita ketahui di dunia, maka seluruh yang ada di jagat raya ini diciptakan untuk umat manusia. Kemudian kelak di akhirat alam semesta ini akan diciptakan kembali untuk memberikan pahala dan siksa bagi umat manusia. (IRIB Indonesia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s