Kasih Sayang, Rahasia Penguasaan Hati


Minggu, 2013 September 15 16:35

Cinta kasih merupakan perasaan paling panas dari bias sifat kasih sayang Allah Swt yang mengalir dalam sendi-sendi kehidupan makhluk hidup. Sifat Maha Pengasih Allah Swt ini juga menjadi cikal bakal kehidupan dari tiada menjadi ada. Allah Swt adalah sumber tak terbatas kasih sayang yang menjadi modal utama dan mengalir dalam kehidupan umat manusia sehingga sifat kemanusiaan akan muncul dalam diri makhluk unggul ini. Mereka yang memiliki sifat kasih sayang pada hakekatnya telah beribadah kepada Allah dan menyembah-Nya dengan segenap wujudnya. Manusia pertama kali merasakan dan belajar kasih sayang saat berada di dalam keluarga. Sang bayi pun menerima hadiah kasih sayang saat dibelai pertama kali oleh ibu dan anak bergembira ketika menyaksikan tatapan penuh kasih sayang sang ayah. Sejatinya tubuh manusia berkembang dengan makanan dan jiwanya tumbuh dengan kasih sayang.

Kasih sayang dan cinta kasih merupakan wacana dan kata terindah dalam kehidupan manusia. Menyintai adalah tuntutan semua manusia. Sejatinya rakyat sangat terpesona dengan kasih sayang dan perbuatan baik. Karakter manusia adalah kecenderungan untuk memuji pemberi nikmat dan ia mudah menyerahkan hatinya kepada mereka yang telah memberi kebaikan kepadanya. Dalam diri manusia juga tumbuh kecintaan kepada mereka yang berbuat baik. Oleh karena itu, merekah yang memiliki sifat kasih sayang dan dermawan dicintai oleh masyarakat.

Di sisi lain, kecintaan juga akan menumbuhkan kecintaan yang lain. Seseorang yang memberikan kecintaan dan persahabatannya kepada orang lain, maka pihak yang lainbakal mencintainya pula. Imam Ali as berkata, “Kecintaan akan terbentuk dari kasih sayang.” Mereka yang menanam persabahatan akan memetih hasilnya berupa kasih sayang dan kecintaan. Hal ini dikarenakan kasih sayang akan menguasai hati manusia. Sebaliknya mereka yang lebih mencintai dirinya sendiri dan memperioritaskan kenikmatan hidupnya dari orang lain tidak akan mendapat tempat di hati orang lain.

Allah Swt Yang Maha Pengasih sangat mencintai hamba-Nya dan orang-orang yang meluangkan waktunya untuk berkhidmat serta  mengasihi sesamanya. Meluluhkan hati orang lain juga akan berhasil dengan kasih sayang dan perbuatan baik. Mereka yang menjadikan hatinya sebagai rumah kasih sayang dan kecintaan orang lain akan mampu menguasai hati sesamanya. Bukti nyata dalam hal ini cukup kita dapatkan dari perkataan terkenal dari Harun al-Rashid, khalifah Bani Abbas ketika ditanya mengapa dirinya takut terhadap Musa bin Jakfar as, cucu dan keturunan Rasulllah Saw. Harun menjawab, “Aku adalah pemimpin badan dan fisik rakyat, adapun Imam Musa bin Jakfar adalah penguasa hati-hati manusia.”

Benar Imam Musa Kadhim as seperti kakek-kakeknya menguasai hati manusia dengan kekuatan iman dan kecintaannya kepada sesama. Namun Harun al-Rashid dengan kekuatan dan kekuasaannya yang besar serta didukung tentara yang besar sangat ketakutan terhadap manusia yang tidak memiliki senjata dan fasilitas besar seperti dirinya. Hal ini disebabkan Imam Musa Kadhim as adalah penguasa hati manusia. Kemuliaan ini diraih Imam dengan keimanan, penghambaan kepada Allah serta kasih sayang kepada sesamanya. Oleh karena itu, khalifah zalim ini karena tidak mampu melucuti Imam Musa terpaksa memenjarakan manusia suci ini serta memisahkannya dari para pengikut setia beliau. Tak hanya itu, Harun yang menyaksikan kecintaan pengikut Imam Musa masih tetap besar meski terpisah dari imamnya, terpaksa meracun keturunan Rasulullah Saw tersebut.

Akseptabilitas massa dan kecintaan masyarakat berakar pada khidmat dan kejujuran. Manusia yang baik, merakyat dan suka membantu orang lain sangat dicintai oleh sesamanya  dan namanya senantisa diingat dan disebut. Terkait hal ini Rasulullah Saw bersabda, “Pemimpin rakyat adalah pembantu umat.” Artinya persahabatan dan berkhidmat secara jujur kepada sesama dapat membuat seseorang dicintai oleh orang lain. Bahkan orang lain akan mengangkatnya sebagai pemimpin dan mencintainya.

Mayoritas kaum intelektual dan dengan klaim besar seperti pembela hak asasi manusia tidak peduli dengan penderitaan dan kesulitan sesamanya, karena yang penting bagi mereka adalah kesejahteraan dan kenikmatan diri mereka sendiri. Bahkan bagi mereka nyawa serta harta warga tidak penting dan dengan mudah serta dengan tuduhan tak berdasar mereka membantai sesamanya. Sementara itu, rakyat akan memberi hatinya kepada mereka memahami penderitaanya dan berusaha mengabdikan hidupnya demi  membantu sesamanya. Oleh karena itu, jika para pembohong, penimbun harta dan penguasa memiliki tempat di hati rakyat maka sifatnya hanya sementara dan cepat hilang karena tidak mendapat tempat di dalam lubuk hati yang paling dalam manusia.

 

Jika seseorang ingin populer di tengah rakyat maka ia harus mempersiapkan diri. Persabahatan, pengorbanan, membantu sesamanya dan mereka yang membutuhkan merupakan pendahuluan untuk menciptakan popularitas di tengah masyarakat. Pengorbanan adalah kata-kata indah namun sangat susah untuk dilaksanakan serta membutuhkan keberanian yang besar. Pekerjaan besar ini hanya mungkin dilakukan melalui jiwa yang bersih dan besar pula. Orang yang rela berkorban adalah orang yang mendahulukan kepentingan orang lain, ketimbang kepentingan pribadinya. Meski dirinya telah lelah, namun ia tetap siap menanggung pekerjaan yang sulit dan karena mencari ridha Allah Swt ia berkorban serta mendahulukan kepentingan orang lain.

Menjadi perantara perbuatan baik juga jalur lain untuk menguasai hati manusia. Karena membantu perbuatan baik dan amal saleh merupakan anugerah besar Tuhan yang hanya diberikan kepada hamba-hamba pilihan. Rasulullah Saw bersabda, “Sebaik-baiknya manusia adalah yang dapat memberi manfaat kepada orang lain.” Berbuat baik kepada orang lain sangat luas ruang lingkupnya. Dari riwayat Imam Shadiq as disebutkan, “Demi Allah dan Rasul-Nya, bukan termasuk orang beriman mereka yang tertawa saat didatangi saudaranya yang tengah membutuhkan. Jika ia memiliki kemampuan untuk membantu, maka ia harus segera melaksanakannya dan jika tidak mampu maka sebaiknya ia merujuk kepada orang lain untuk membantu kesulitan saudaranya tersebut.”

Instiusi keluarga juga membutuhkan kasih sayang untuk melanjutkan eksistensiny. Sebuah keluarga yang penuh kehangatan dan kasih sayang mampu mendidik anak yang memiliki kepercayaan diri tinggi dan penuh semangat. Hal ini dikarenakan tidak ada kelezatan bagi seorang anak kecuali kelezatan kasih sayang. Keluarga jika menjadi sumber kasih sayang maka akan mampu memenuhi dahaga manusia. Namun jika sumber ini kering, dahaga kasih sayang manusia akan menuju ke sumber yang terpolusi. Kasih sayang, pondasi dan dasar pendidikan anak dan tanpanya setiap upaya dalam mendidik anak akan sia-sia.

Manusia yang tidak mendapat kasih sayang dari ayah atau ibu, atau keduanya maka kekosongan ini tidak dapat dipenuhi dari tempat lain. Oleh karena itu, orang seperti ini akan tertimpa kekurangan kasih sayang. Suatu hari Rasulullah Saw mencium kedua cucunya, Imam Hasan dan Husein as. Salah seorang sahabat yang hadir dalam pertemuan tersebut berkata kepada Rasulullah, “Saya memiliki sepuluh anak dan sampai saat ini belum pernah saya mencium mereka.” Rasulullah kemudian bersabda, “Jika Allah mengambil perasaan dan kasih sayang dari hatimu, bagiku tidak ada pengaruhnya?” Dalam riwayat lain disebutkan, Rasul saat menjawab sahabatnya ini bersabda, “Orang yang tidak memilki kasih sayang kepada orang lain tidak akan mendapat rahmat Allah Swt.”

Aura kasih sayang dalam pandangan sosial merupakan kekuatan besar dan berpengaruh. Masyarakat terbaik adalah masyarakat yang dikelola dengan kekuatan kasih sayang, karena antara kecintaan dan ketaatan memiliki hubungan langsung. Seiring dengan tumbuhnya kasih sayang maka ketaatan akan menemukan warna tersendiri dan kepatuhan seseorang bukan disebabkan karena terpaksa, namun timbul dari kecintaan kepada pemimpin.

Malik bin Auf Nasri, musuh utama Nabi. Pada tahun kedelapan hijriah ia mengobarkan perang Hunain dengan menghasut Bani Tsaqif dan Hawazin. Namun dengan bantuan Allah tentara muslim menang di peperangan tersebut. Di peperangan ini umat muslim meraih banyak ghanimah (rampasan perang) dan tawanan perang. Malik bin Auf, provokator utama perang Hunain berlindung kepada Bani Taif. Saat itu pula Malik mulai memikirkan Nabi beserta ajaran Ilahinya dan perilaku beliau. Akhirnya ia datang ke Madinah dan menyatakan memeluk Islam.

Nabi yang menyaksikan keislaman Malik kemudian membebaskan keluarganya yang menjadi tawanan. Menyaksikan kecintaan dan kasih sayang Nabi, Malik bin Auf menafkahkan kekayaannya di Taif untuk kemajuan Islam. Dihadapan kebesaran dan keagungan Rasulullah, dengan penuh rendah diri, Malik bin Auf berkata, “Di antara seluruh penduduk bumi, aku tidak pernah menyaksikan sosok seperti Muhammad atau mendengar sifat-sifat yang dimiliki oleh beliau.”(IRIB Indonesia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s