Menjadi Manusia Merdeka


Sabtu, 2013 September

Setelah melewati serangkaian pergulatan dan perjuangan hidup, dalam diri setiap orang terdapat archetype: the innocent. Yaitu ingin menemukan kembali serta menjaga suasana batin semasa kanak-kanak yang merasa bersih, terbebas dari beban dosa dan salah. Bukankah yang khas dan indah pada anak-anak adalah keceriaan, spontanitas dan kelugasan menjalani hidup?

Dalam konteks orang dewasa dan orangtua, istilah innocent lebih tepat diganti dengan ungkapan bagaimana meraih hidup akuntabel (accountable life). Hidup yang tidak merasa dikejar dosa dan utang serta merdeka dari berbagai tekanan, ancaman dan intimidasi.

Jika dikaitkan dengan sikap altruisme, jauh akan lebih melegakan dan membahagikan hidup kalau seseorang berderma benar-benar diambil dari harta yang halal, bukan berderma dari  harta haram dengan maksud mencuci dosa atau kamuflase sosial padahal dia seorang koruptor. Artinya akuntabilitas harta dan perilaku keseharian itu sesungguhnya menjadi dambaan setiap orang sehingga dalam dirinya melekat archetype: the innocent.

Oleh karenanya, kita selalu memandang sedih, ikut bersimpati dan campur kesal ketika melihat beberapa mantan pejabat tinggi yang sudah purna tugas masih berurusan dengan polisi atau Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena terbukti melakukan korupsi di masa lalu.

Siapapun orangnya, ketika menapaki hari tua ingin hidup tenang, bahagia, terbebaskan dari perkara perdata dan pidana. Anak-anaknya pun ingin sekali melihat orang tua mereka hidup bahagia, menikmati hari senja setelah sebelumnya bekerja keras membesarkan mereka. Kini giliran anaknya mengasuh orangtuanya.

Namun, sesungguhnya naluri orang tua selalu saja ingin memberi dan melindungi anak-anaknya sampai kapan pun. Di sinilah kekuatan cinta kasih yang tulus dalam hubungan keluarga. Masing-masing, baik anak maupun orang tua, ingin saling memberi dan melayani terhadap yang lain.

Kembali pada anugerah kemerdekaan hidup, ada doa yang diajarkan Rasulullah: “Ya Allah, aku berlindung kepada-MU dari jeratan utang dan cengkeraman orang.” (Allahumma inni a’dzubika min ghalabatiddain, wa qahrirrijaal). Siapapun sepakat, hidup  terjerat  utang akan merampas kebahagiaan. Begitu pun hidup dibuntuti ancaman dan tekanan akan merampas ketenangan. Ini berlaku dalam konteks pribadi, keluarga, institusi maupun negara.

Berbahagialah masyarakat dan negara yang hidup terbebas dari berbagai ancaman utang luar negeri, syukur-syukur malah jadi negara donor. Beruntunglah masyarakat dan negara yang tidak memiliki ancaman musuh baik di dalam maupun luar negeri.

Untuk meraih status hidup akuntabel sungguh merupakan agenda perjuangan yang tak pernah henti. Mungkin saja seseorang terbebas utang-piutang secara materi. Namun setiap orang pasti memiliki utang moral terhadap banyak pihak. Misalnya saja pada orang tua, guru, dan  orang-orang yang pernah menjadi bagian dari hidupnya.

Dalam ajaran agama, salah satu jalan untuk melunasi utang-utang moral adalah dengan mendoakan mereka dan menjaga silaturahim. Dalam jalinan silaturahim yang sehat, yang muncul suasana saling mensupport, mendoakan dan berbagi sehingga hidup menjadi lebih terasa ringan dan riang dijalani.

Utang kita yang lebih banyak justru terhadap Tuhan. Begitu melimpah anugerah hidup dengan segala fasilitasnya namun kita kurang pandai mensyukuri dan memanfaatkan semuanya secara optimal di jalan yang benar dan baik. Jadi, jika ingin meraih hidup merdeka, mari kita lunasi utang-utang baik yang bersifat vertikal maupun horisontal.

Yang menarik direnungkan, utang vertikal pada Tuhan dalam hal cacat dalam beribadah, misalnya utang berpuasa, bisa disubsidi silang dengan amal sosial-horisontal, menyantuni anak-yatim piatu yang miskin. Tetapi utang yang bersifat horisonal, urusan perdata dan pidana, mesti dilunasi melalui jalur hukum  sosial. Betapapun orang rajin berhaji, umrah dan shalat tak menjamin membuat putih dosa-dosa sosialnya selama utang-utangnya belum dilunasi. Hak anak Adam mesti diselesaikan sesama anak Adam.

Tuhan sendiri tentu tidak memerlukan pertolongan manusia. Apakah manusia akan mengimani dan menyembah-Nya ataukah akan mengingkari dan melawan-Nya, kebesaran Tuhan tidak akan terpengaruh. Namun jika diperhatikan firman-Nya dalam kitab suci, siapa yang akan membayar kebaikan Tuhan, maka hendaknya diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang tengah dalam kesusahan.

Jadi, jika utang sesama manusia harus dibayarkan kepada manusia, tetapi bayaran utang kepada Tuhan dianjurkan untuk ditransformasikan menjadi cinta kasih dan kepedulian serta pertolongan yang diterima dan dirasakan oleh hamba-hamba-Nya. Begitulah jalan yang dibentangkan Tuhan untuk meraih status innocent and accountable life salah satu struktur mental yang selalu muncul dalam diri manusia dan menuntut pemenuhan. (Komaruddin Hidayat, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta.)

 

Malahayati, Laksamana Wanita Pertama di Dunia

Indonesia patut berbangga karena ternyata kaya dengan deretan pahlawan perempuan, yang tak hanya unggul di tingkat lokal, tetapi kiprah dan kepiawaiannya juga diakui dunia.

Malahayati salah satunya. Perempuan kelahiran Nanggroe Aceh Darussalam 1875 M/1254 H itu disebut-sebut sebagai laksamana armada laut pertama di dunia. Karier sosok yang bernama asli Keumalahayati telah dirintis sejak belia. Putri dari Laksamana Mahmud Syah yang merupakan keturunan Kesultanan Aceh Darussalam ini menjatuhkan pilihan belajar di Angkatan Laut Akademi Militer Mahad Baitul Makdis. Ia ingin mengikuti jejak karier ayah dan kakeknya.

Cucu dari Laksamana Muhammad Said Syah ini terbilang istimewa. Keleluasaannya memilih jenjang pendidikan itu dilandasi atas kecerdasan yang dimiliki.

Meski demikian, karena lahir dari lingkungan masyarakat yang agamis, Malahayati mengenyam pendidikan agama terlebih dahulu di Meunasah, Rangkang, dan Dayah.

Prestasi Malahayati tersebar di lingkungan istana. Sultan Alauddin Riayat Syah al-Mukammil pada masa pemerintahan 1589 M–1604 M mengangkat Malahayati sebagai komandan protokol Istana Darud-Dunia di Kesultanan Aceh Darussalam.

Jabatan ini menuntutnya piawai menguasai wawasan etika dan keprotokolan. Selang berapa lama dari pengangkatan, ia pun menikah dengan seniornya di akademi angkatan laut. Sayang, identitas suaminya tidak terlalu terungkap di berbagai manuskrip.

 

Sebagai seorang laksamana angkatan laut, peran Malahayati sangat krusial. Debut pertempuran perdananya ialah melawan Portugis di perairan Selat Malaka. Meski menang, ia kehilangan dua laksamana dan ribuan prajurit. Salah

satu laksamana yang gugur ialah sang suami.

Peristiwa itu memukul diri Malahayati. Ia pun berjanji menuntut balas dengan membentuk Armada Aceh. Formasi pasukannya terdiri dari para janda prajurit yang gugur di Perang Teluk Haru.

Kesultanan merestui dan muncullah nama armada tersebut, yakni Armada Inong Balee. Ia didaulat sebagai laksamana. Sejak itulah gelar laksamana angkatan laut perempuan pertama ia sandang.

Kekuataan armada Inong Balee awalnya hanya 1000 orang, lalu bertambah menjadi dua ribu orang. Ia mendirikan Pangkalan Armada Teluk Lamreh Krueng Raya.

Tak jauh dari pangkalan militer tersebut, Malahayati juga membangun Benteng Inong Balee. Kekuatan armada pimpinan Malahayati terbilang luar biasa. Ini terbukti dengan sepak terjangnya selama mengawasi Pelabuhan Syahbandar.

Peran Malahayati berlangsung hingga masa perlawanan Belanda. Peristiwa penyerangan terhadap Cornelis de Houtman dan Frederick de Houtman dalam pendaratan perdana mereka di ibu kota Kesultanan Aceh Darussalam menunjukkan kemampuan perang Malahayati. Dalam serangan itu, Cornelis de Houtman terbunuh.

Juru runding

Perempuan yang menjabat pula sebagai komandan Pasukan Wanita Pengawal Istana itu terkenal piawai berdiplomasi.

Kemampuan lobi yang ia miliki tampak saat ia berhasil melobi delegasi Belanda yang datang pada 23 Agustus 1601. Rombongan itu dipimpin oleh Komisaris Gerard de Roy dan Laksamana Laurens Bicker. Mereka datang dengan membawa surat untuk sultan.

Kedatangan rombongan tersebut dilatarbelakangi oleh memburuknya situasi dan hubungan Aceh-Belanda. Ini menyusul penenggelaman kapal dagang Aceh oleh Paulus van Caerden pada 21 November 1600 dan memicu ketegangan.

Pada 31 Juni 1601, Laksamana Malahayati menyerang kapal Belanda yang dipimpin oleh Laksamana Yacob van Neck pada 31 Juni 1601. Berkat diplomasi Malahayati dengan Komisaris Gerard de Roy dan Laksamana Laurens Bicker, kedua belah pihak sepakat berdamai dengan syarat Frederick de Houtman dibebaskan dan Belanda siap membayar kerugian pembajakan sebelumnya sebesar 50 ribu gulden.

Terobosan Malahayati yaitu memperbaiki hubungan antara Kesultanan Aceh dan Belanda ini ditandai pula dengan layatan tiga utusan Aceh menghadap Pangeran Maurits.

Sebagai fungsi diplomatik, Keumalahayati juga menjadi juru runding saat Inggris ingin menjalin hubungan dagang. Ini tampak ketika Malahayati berunding dengan James Lancaster, utusan Ratu Elizabeth I.

Di bawah Sultan Iskandar Muda (1607 M–1636 M), Aceh mencapai puncak kejayaannya bersama Laksamana Keumalahayati, sang pahlawan wanita tiga zaman.

Ketika negara-negara maju berkoar masalah kesetaraan gender terutama terhadap negara berkembang dewasa ini, wilayah nusantara telah lama mempunyai pahlawan gender yang luar biasa. Laksamana perang wanita pertama di dunia.

Nama Malahayati saat ini terserak di mana-mana, sebagai nama jalan, pelabuhan, rumah sakit, perguruan tinggi dan tentu saja nama kapal perang. KRI Malahayati, satu dari tiga fregat berpeluru kendali MM-38 Exocet kelas Fatahillah. (IRIB Indonesia/Metrotvnews/ROL)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s