Tasawuf yang Menyimpang


Rabu, 2013 Agustus 21

Oleh: Muhammad Ma’ruf

Irfan adalah dimensi esoteris (batin) ajaran Islam yang bersumber dari Al-Quran dan Hadist. Dalam tradisi di Indonesia biasanya disebut dengan ilmu Tasawuf atau Mistisisme. Tradisi ini marak diprakekkan dalam berbagai aliran tarekat atau amalan-amalan komunitas tertentu. Biasanya ajaran tasawuf  lebih banyak dipraktekkan dibanding diwacanakan oleh kalangan tradisi NU, ataupun tradisi Islam lain yang terkadang menyatu dengan budaya lokal. Tasawuf seringkali dicap oleh kelompok tertentu sebagai bidah ataupun khurafat.

Kemudian timbul pertanyaan, apa ukuran tasawuf dikategorikan menyimpang atau tidak, benarkan ada tasawuf yang ajarannya menyimpang? Bukankan tasawuf adalah ajaran yang pada dasarnya sudah benar. Beberapa waktu lalu saya menemukan makalah unik dari Prof. Dr. Sayyed Hoseini Kouhsari, Direktur ICAS-Jakarta. Menariknya, makalah ini mencoba mengidentifikasi substansi tasawuf Islam dengan cara meneliti penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam berbagai aliran Mistisisme, baik di masa lalu maupun masa modern. Pelajaran yang bisa dipetik bagi pelaku tasawuf adalah bisa untuk mengidentifikasi apakah kita atau orang di sekitar kita sudah dalam “track” tasawuf yang benar. Beberapa temuan penyimpangan berhasil diidentifikasi oleh Sayyed Kouhsari di antaranya;

1.       Mistisisme tanpa Tuhan

Aliran ini mengindentifikasi sebagai Mistisisme akan tetapi tidak mempunyai keyakinan terhadap Tuhan. Termasuk kategori ini adalah Mistisisme yang meyakini Tuhan tetapi dalam prespektif yang salah. Mistisime ini telah kehilangan iman pada Allah, artinya kehilangan fondasi pokok agama sehingga masuk daftar mistisisme yang menyimpang.

2.       Mistisisme Natural

Mistisisme ini menganggap alam telah menggantikan Tuhan. Kelompok ini berkembang di Barat yang terkadang membawa pengaruh ke dalam syair, film dan novel. Kelompok ini biasanya memuja dan memuji alam. Alam adalah tujuan final pencarian mereka.

3.       Mistisisme Panteisme

Mistisme ini menganggap alam=Tuhan dan Tuhan=alam. Meski secara lahiriah alam itu bukan Tuhan tetapi jika menempuh jalan spiritual, maka mereka mengklaim alam itu adalah Tuhan sendiri. Dalam tradisi filsafat Barat, pencetusnya adalah Spinoza, yang tekenal dengan aliran monisme. Sebagian kalangan menganggap panteisme sama dengan wahdatul wujud.

4.       Mistisisme non-Tauhid

Mistisisme ini meniscayakan Tuhan yang banyak, karena secara teologis menisbahkan sifat-sifat Tuhan yang banyak kepada zat-Nya. Fenomena ini juga terdapat dalam doktrin trinitas Kristen. Termasuk juga dalam kalangan Islam terjadi jika, pelaku suluk mendewakan peran seorang mursyid yang wajib ditaati. Posisi “Qutb” diletakan di atas syariat. Juga termasuk sufi yang hanya fokus pada Tuhan dan mengabaikan peran Rasulullah Saw dan para wali.

5.       Mistisisme tanpa Agama

Fenomena ini ada jika seorang sufi mengabaikan peran wahyu, Al-Quran dan sunnah. Mereka mengingkari kenabian dan mengandalkan akal sebagi alat untuk memilah masalah yang maslahat dan yang mafsadat. Termasuk paham deisme di Barat yang menganggap Tuhan berhenti bertugas setelah menciptakan alam semesta. Nasib alam kemudian bergantung pada hukum alam.

6.       Mistisme tanpa Akal

Kelompok ini menganggap akal tidak sejalan dengan mistisisme. Mistisisme yang benar adalah akal dapat menjustifikasi kebenaran Mistisisme. Akal bernilai dan penting, karena tanpa akal tidak tercapai sebuah pengetahuan.

7.       Mistisisme tanpa Kehidupan Sosial

Kelompok ini biasanya mengisolasi hidupnya dari masyarakat sosial. Pengikut aliran ini menganggap puncak pencapaian spiritual akhir ketika mereka hanya bersama Tuhan minus masyarakat.

8.       Mistisisme tanpa Ahlak

Kelompok ini menganggap diri mereka dan Tuhan saja yang ada. Mereka mendahulukan hubungan vertikal dengan menghancurkan hubungan horizontal. Sufi jenis ini hanya ingin menyempurnakan kualitas hubungan dengan Tuhan saja dan absen menyempurnakan ahlak terhadap sesama.

Pedoman Tasawuf

Kesembilan identifikasi mistisisme yang menyimpang ini dapat kita jadikan pedoman atau rambu-rambu untuk mengukur seberapa besar kadar kualitas sebuah ajaran tasawuf yang benar secara teoritis. Bagi pelaku suluk (pejalan spiritual) dapat menjadi pembanding dan refleksi, siapa tahu yang sudah “kadung” kita yakini sebagai hal yang benar ternyata masih menyimpang. Gejala menyimpang ini sebenarnya banyak kita temukan dalam masyarakat; sufi yang mengisolasi diri dari masyarakat, sufi yang gagal memisahkan alam dan Tuhan, sufi yang masih kacau pemahamannya antara zat dan sifat Tuhan, sufi yang anti syariat, dan sufi yang kehilangan Iman pada Tuhan. Semoga saja kita masuk kategori tasawuf yang secara teori benar sehingga dapat menjadi pesuluk sejati. (IRIB Indonesia/PH)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s