Tawassul dan Memohon Syafa’at Bukanlah Perbuatan Syirik


Ayatullah Ja'far Subhani

Ayatullah al Uzhma Ja’far Subhani berkenaan dengan beberapa syubhat yang menyebutkan memohon syafaat melalui para Wali Allah atau yang dikenal dengan istilah bertawassul adalah perbuatan syirik dan sia-sia, memberikan bantahan dan penjelasannya.

Berikut teks lengkap tanya-jawab tersebut.

Pertanyaan:

Bagaimana anda mengatakan, bahwa ucapan, “Wahai Imam yang mulia, berikanlah kesembuhan pada anakku”, sementara kesembuhan sendiri berasal dari Allah yang merupakan Zat Maha Penyembuh, apakah ucapan tersebut tidak terkategori sebagai bentuk kesyirikan?

Jawaban:

Kami telah memberikan penjelasan mengenai hal ini berkali-kali. Bahwa yang menentukan suatu amalan berupa aplikasi dari tauhid atau merupakan bentuk kesyirikan bukan ditangan kita. Melainkan wewenang sepenuhnya Allah SWT. Akan kami jelaskan secara sederhana sebagai berikut:

Didalam al-Qur’an al Karim disebutkan perintah untuk mentadabburi dan mempelajari ayat-ayat Al-Qur’an dengan mengamati secara keseluruhan dan tidak parsial dengan hanya mengambil pesan dari satu ayat dan mengabaikan ayat yang lain. Misalnya, dalam sejumlah ayat, Allah SWT menyampaikan bahwa Dialah yang Maha Mengatur segala urusan. Seperti dalam surah Yunus ayat  3 dan 31, ar Ra’ad ayat 2 dan As Sajdah ayat 5. Dalam ayat-ayat tersebut disebutkan Allahlah yang Maha Mengatur segala urusan. Namun jika kita memperhatikan pada surah an Naziat ayat 5 justru berbunyi, ”dan (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia). Melihat sekilas, maka kita bisa berkesimpulan ayat-ayat tersebut bertentangan. Namun sesungguhnya dalam Al-Qur’an tidak terdapat satupun ayat yang bertentangan sebagaimana firman Allah SWT, ”Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” Qs. An Nisa: 82. Maka dapat dikatakan, bahwa maksud ayat yang pertama adalah bahwa kendali sepenuhnya berkenaan dengan pengaturan urusan dunia adalah Allah SWT, namun karena urusan dunia tidak bisa lepas dari proses sebab-akibat , maka dibutuhkan pengatur-pengatur perantara yang tetap dalam kontrol dan kendali Allah sepenuhnya yang berbuat untuk mengatur urusan dunia melalui izin Allah. Misalnya untuk urusan menurunkan rezeki, mengatur hujan, maka yang melakukan pekerjaan tersebut adalah kelompok malaikat yang mendapat perintah dan izin dari Allah SWT. Dan para malaikat yang mengatur urusan dunia tersebut tidak bisa bertindak sendiri dan berlepas dari kendali Allah SWT.

Contoh lainnya. Meskipun kita menemukan ayat yang bercerita mengenai Nabi Ibrahim as yang menyebutkan Allah SWT adalah Zat yang Maha Penyembuh, dengan berkata, “ dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku,” [Qs. Asy Syu’araa’: 80] namun, kita juga tidak bisa memungkiri, bahwa Allah SWT menyampaikan bahwa pada perut lebah terdapat obat yang dapat menyembuhkan penyakit, sebagaimana terdapat dalam surah An Nahl ayat 69, begitu pula pada surah Ali Imran ayat 49 yang menceritakan kisah mengenai Nabi Isa as yang dapat menyembuhkan penyakit dan menghidupkan orang mati dengan seizin Allah SWT. Oleh karena itu logika Al-Qur’an adalah kesembuhan, atau bahkan menghidupkan orang yang sudah mati dapat dilakukan oleh siapapun yang telah mendapat izin dari Allah SWT. Karenanya, memohon syafaat pada Wali-wali Allah, bukan hanya bukan berupa kesyirikan melainkan termasuk dalam bagian tauhid, yang percaya dan yakin bahwa Allah SWT memiliki kuasa penuh untuk memberikan kesembuhan melalui perantara orang-orang yang dicintaiNya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s