Terasing di Bumi, Tapi Tenar di Langit!


 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh: Emi Nur Hayati

Akhir tahun 1392 HS, TV2 IRIB dalam acara “Bist va Si” menayangkan berita tentang seorang talabeh muda basiji (santri muda basiji) yang berbaring di rumahnya menanggung derita luka akibat bacokan pisau di lehernya oleh lima sampai enam berandalan. Ia tak dapat mengeluarkan suara apalagi berbicara.

Beberapa hari kemudian, di saat-saat liburan tahun baru 1393 HS disiarkan di televisi bahwa talabeh muda basiji ini telah meneguk cawan syahadah.

Alkisah, pada 25 Tir 1390 HS,  Ali Khalili yang saat itu berusia 19 tahun sedang mengantarkan pulang dua sampai tiga orang anak buahnya dari acara Nisfu Sya’ban. Acara pesta ulang tahun hari lahirnya Imam Zaman af. Malam itu acara agak terlambat bubar dan ia tidak tenang bila membiarkan anak buahnya yang masih remaja pulang sendirian dan tidak aman di jalan. Ali mengantarkan anak buahnya dengan motor salah satu kawan seperjuangannya. Namun ketika di pertengahan jalan kira-kira pukul dua belas malam, ia bersama anak-anak bimbingannya menyaksikan kejadian ada lima sampai enam berandalan sedang mengganggu dan memaksa dua perempuan untuk naik dan masuk ke dalam mobil mereka.

Dua perempuan itu berteriak meminta tolong. Melihat pemandangan seperti itu Ali tidak bisa diam. Ia segera turun tangan dan melakukan amar makruf dan nahi mungkar menegur para berandalan. Karena ia menilai membela kesucian adalah kewajiban agama. Anak-anak bimbingannya tidak maju karena usia mereka yang masih terlalu muda, mereka masih kelas 3 SMP. Ali maju menegur para berandalan itu. Tapi para berandalan itu mengeroyok Ali dan melukai lehernya. Para anak bimbingan Ali juga mendapatkan pukulan dari para berandalan itu.

Para berandalan itu melukai pembuluh darah bagian leher Ali. Alipun jatuh terkapar bergelimang darah. Sekitar setengah jam ia terkapar pingsan dan bergelimang darah di jalan. Para berandalan melarikan diri dan salah satu anak buahnya yang bisa mengendarai motor mengejar dan berhasil mencatat plat mobil para berandalan itu.

Kemudian ada mobil lewat berhenti dan membawa Ali ke rumah sakit. Karena saking parahnya beberapa rumah sakit tidak mau menerimanya, akhirnya dengan syarat membayar uang muka lima puluh juta riyal dari biaya enam puluh juta riyal, sebuah rumah sakit swasta mau menerima Ali dan mengoperasinya. Ali kehabisan darah sehingga menyebabkan otaknya tidak bekerja dan koma selama seminggu. Dalam jangka dua tahun menderita sakit, Ali mengalami mati otak selama tiga kali.

Ali tidak menyebut tindakannya malam itu sebagai amar makruf dan nahi mungkar tapi menyebutnya membela kesucian. “Membela kesucian muslim wajib bagi setiap muslim,” kata Ali. Ia mengatakan, ‘Aku tidak melakukan amar makruf tapi aku membela kesucian Muslim.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s