Kejumudan dan Pencerahan Pemikiran dalam Perspektif Muthahhari


 

 

 

 

 

 

 

 

Syahid Murtadha Muthahhari adalah cendekiawan Islam yang cemerlang, yang pemikiran-pemikirannya terus relevan dengan masa kini. Ia dilahirkan pada tanggal 2 Februari 1919 di Khurasan, Iran. Ayahnya, Muhammad Husain Muthahhari adalah seorang ulama yang terhormat. Awalnya Syahid Muthahhari menuntut ilmu agama di hauzah ilmiah di kota Qom dan menjadi murid dari Ayatullah Burujerdi dan Ayatullah Al-Imam Khomeini.

Sejak masih pelajar di Qom, ia sudah menunjukkan minatnya pada filsafat dan ilmu pengetahuan modern. Pada usia relatif muda, Muthahhari sudah mengajar logika, filsafat, dan fiqih di Fakultas Teologi Universitas Teheran. Kepada mahasiswanya, Muthahhari mengajarkan pemahaman Islam yang benar dan konsekuensi ketauhidan, yaitu penentangan terhadap thagut atau pemerintah yang zalim. Ia aktif dalam politik dan berjuang bersama Imam Khomeini dalam menentang rezim Shah Pahlevi yang despotik.

Pada tahun 1963, Muthahhari dipenjara bersama Imam Khomeini. Setelah Imam Khomeini dibuang ke Turki, ia mengambil alih kepemimpinan gerakan revolusi Islam dan menggerakkan para ulama mujahid untuk meneruskan semangat perjuangan sang Imam. Pada bulan Februari tahun 1979, perjuangan inipun mencapai hasilnya dengan kemenangan revolusi Islam Iran. Namun beberapa bulan kemudian, tanggal 2 Mei 1979, beliau ditembak oleh kelompok teroris dan gugur syahid.

Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei dalam salah satu khutbah beliau menyatakan bahwa Syahid Muthahhari adalah salah satu tiang pendiri Republik Islam Iran, salah satu pembawa bendera pandangan Islam modern, kunci pembuka gudang harta karun budaya Islam, dan murid yang dicintai Imam Khomeini. Syahid Muthahhari selalu mengingatkan kita pada kehidupan revolusi, alam berpikir, dan filsafat ketauhidan.

Menurut Ayatullah Khamenei, salah satu poin penting dari karya-karya dan pemikiran Syahid Muthahhari adalah bahwa ia mengenali topik dan masalah yang dibutuhkan oleh masyarakat, lalu dengan teliti dan mendalam, ia menganalisis masalah-masalah tersebut serta mencari jawabannya. Pidato-pidato Syahid Muthahhari penuh dengan puluhan topik yang semuanya merupakan bagian dari topik-topik pemikiran yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat dan mengandung nilai-nilai yang sangat berharga.

Ayatullah Khamenei selanjutnya menilai bahwa salah satu sisi terpenting dari kepribadian Syahid Muthahhari adalah bahwa ijtihad atau pengambilan kesimpulan yang beliau lakukan selalu berdasarkan kepada sumber-sumber Islam yang asli dan valid. Hal ini jelas berlawanan dengan sebagian pemikir dan cendikiawan di masa lalu dan masa kini yang gemar mengambil ijtihad yang tidak berdasar. Syahid Muthahhari sangat menentang ijtihad yang didasarkan pada istihsan atau ijtihad yang didasarkan pada perbandingan hukum dengan mazhab atau agama-agama lain, atau ijtihad yang didasarkan pada kejumudan dan penyelewengan.

Sementara itu, Ayatullah Khomeini, pendiri Republik Islam Iran, bertepatan dengan gugur syahidnya Allamah Muthahhari mengatakan, “Saya telah kehilangan anak yang paling kusayangi yang merupakan buah dan didikan seumur hidupku. Islam telah kehilangan ulama dan cendikiawan besar ini dan tidak ada yang dapat menggantikannya.”

Ucapan Imam Khomeini yang memuji murid kesayangannya ini bukannya tanpa sebab. Kapasitas keilmuan dan kepribadian besar yang ditunjukkan Allamah Muthahhari membuatnya unggul di antara yang lain. Karya-karya besar pemikir Islam ini seperti Ketauhidan, Keadilan Ilahi, Kenabian, Manusia Sempurna, Hak-hak Perempuan dalam Islam serta yang lainnya terus menyedot perhatian mereka yang haus ilmu dan pencerahan.

Karakteristik unggul Allamah Muthahhari adalah sensitifitasnya terhadap isu-isu sosial dan gerakan pemikiran, khususnya keraguan (syubhat) pemikiran generasi muda. Pemikir besar Islam ini terkenal sangat sensitif terhadap penyelewengan pemikiran dan menilainya sebagai faktor kemunduran masyarakat Islam. Oleh karena itu, Syahid Muthahhari menghabiskan usianya untuk menyadarkan masyarakat Islam dari penyelewengan pemikiran.

Syahid Muthahhari berkata, “Manusia memiliki perasaan yang terkadang menurut hayalannya ingin tunduk lebih besar terhadap agama, maka saat ini ia akan terjerumus pada ketundukan yang berlebihan terhadap agama, padahal agama sendiri melarangnya. Artinya saat itu, manusia meninggalkan akalnya dan pada akhirnya ia sendiri tersesat serta semakin jauh dari agama.”

Berbagai ayat al-Quran dan hadis nabi juga menunjukkan bahwa berpikir dan menggunakan akal memiliki posisi yang sangat tinggi. Dalam sebuah riwayat dari Nabi disebutkan, “Satu jam berpikir, lebih baik dari ibadah selama 70 tahun.” Riwayat ini sama sekali tidak meremehkan nilai dari ibadah, karena berdasarkan ayat al-Quran, sebab penciptaan manusia adalah ibadah serta penghambaan. Tujuan dari sabda Nabi tersebut adalah penekanan terhadap urgensitas ibadah dan penghambaan yang sadar dan berpikir serta merenungkan ajaran agama. Nabi dengan sabdanya ini juga ingin memperjelas bahwa Islam adalah agama yang mengedepankan berpikir, kritik dan dialog.

Seruan berpikir ini meliputi berbagai dimensi seperti memikirkan filsafat penciptaan manusia, ayat-ayat al-Quran, langit dan sifat-sifat Ilahi, riwayat, sunnah Nabi dan Ahlul Bait serta berbagai dimensi lain. Dengan demikian kebodohan, kejumudan akal dan menerima sesuatu yang zahir ditolak oleh Islam. Syahid Muthahhari menilai kebodohan dan kejumudan (kekolotan) akal sebagai dua penyakit berbahaya bagi manusia. Dua penyakit ini juga menghalangi manusia untuk mencapai kemajuan dan pada akhirnya akan menyeretnya pada penyelewengan serta kehancuran.

Syahid Muthahhari meyakini kebodohan akan membuat seseorang menyeleweng karena secara tidak sadar ia terlena dengan kehidupan non-agamis dan meninggalkan nilai-nilai sejati agama dengan alasan pembaharuan. Selain itu, kebodohan juga akan menyeret seseorang pada kejumudan akal dan menilai sesuatu yang baru pasti anti-agama. Faktor dan penyulut dari ideologi kaku dan fanatisme yang tidak pada tempatnya adalah kebodohan.

Syahid Muthahhari mengingatkan cikal bakal munculnya kelompok Khawarij di abad permulaan Islam untuk menjelaskan ancaman dan bahaya kejumudan akal serta kebodohan. Di perang Siffin, ketika tentara Imam Ali as hampir berhasil mengalahkan pasukan Muawiyah bin Abu Sufyan, Amr bin Ash, komandan pasukan Muawiyah mulai tampildan dengan kecerdikannya ia mulai menebar makarnya. Ia memerintahkan pasukannya meletakkan al-Quran di ujung tombak dan mengangkatnya tinggi-tinggi.

Mayoritas tentara Imam Ali as tertipu karena kejumudan pemikiran dan kebodohan mereka. Mereka ramai-ramai meneriakkan slogan La Hukma Illa Allah dan pada akhirnya mereka menolak kepemimpinan Imam Ali as. Mereka ini sejatinya terjebak pada penafsiran zahir pada surat al-Anaam ayat 57, “…Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah…” Mereka menyangka bahwa masyarakat Islam tidak membutuhkan pemimpin, padahal tanpa adanya pemimpin, hukum Allah juga tidak dapat terealiasasi dengan sempurna.

Kebodohan tersebut akhirnya melahirkan kelompok Khawarij yang menyangka dirinya sebagai satu-satunya pewaris ajaran murni Islam dan menilai orang lain, bahkanImam Ali as telah keliru dalam memahami Islam. Kelompok ini meyakini, mereka yang telah berbuat dosa besar telah keluar dari Islam dan kafir. Ideologi ini kemudian mengakibatkan kerusakan berat di Dunia Islam. Mereka yang mengaku sebagai wakil dari Islam dengan semena-mena mengkafirkan umat muslim lain yang tidak seakidah dan sepemikiran dengan mereka. Tak hanya itu, mereka juga menghalalkan darah umat Muslim yang tidak sealiran dengan mereka. Salah satu contohnya adalah peristiwa tragis yang menimpa sahabat Nabi, Abdullah bin Khabab yang dibantai secara sadis oleh Khawarij beserta istrinya yang tengah hamil gara-gara berkata kepada mereka bahwa Ali bin Abi Thalib as lebih pandai dalam urusan agama dari pada kalian (Khawarij).

Ideologi Khawarij yang menjauhi akal telah bersemi dalam masyarakat Islam sepanjang sejarah dalam bentuknya yang beragam. Syahid Muthahhari berkata, “Sejarah Khawarij menakjubkan dan patut menjadi pelajaran. Apa yang bakal terjadi ketika ajaran agama dipahami dengan kebodohan dan dibarengi dengan fanatisme. Khawarij adalah sekelompok orang yang dahi dan lututnya menghitam karena beribadah serta siap mengorbankan jiwanya demi Islam, namun dikarenakan mereka tidak menggunakan akalnya maka pemikiran mereka sangat picik dan merusak Islam. Kelompok ini juga telah menebar trauma dan ketakutan, sampai-sampai setiap orang yang mendengar kalimat La Hukma Illa Allah  dari mulut mereka, langsung ketakutan.”

Untuk membuktikan kebatilan ideologi Khawarij, Syahid Muthahhari bersandar pada perkataan Imam Ali as dan berkata, “Sayidina Ali saat menepis klaim dan keyakinan Khawarij bersabda, Rasulullah mengukum mati para penjahat dan kemudian menshalati jenazah mereka. Jika pelaku dosa besar dianggap kafir maka Rasullullah tidak boleh menshalati jenazah mereka, karena berdasarkan al-Quran, shalat jenazah terhadap orang kafir tidak diperkenankan. Begitu pula orang yang suka bermabuk-mabukan layak mendapat hukuman cambuk, namun saham mereka dari Baitul Mal tidak diputus.”

Sementara itu, kondisi saat ini juga membutuhkan kesadaran umat Islam seperti yang telah diupayakan oleh Syahid Muthahhari sebelumnya guna menyadarkan masyarakat Islam. Munculnya fenomena takfiri baik secara perilaku maupun ideologi persis seperti yang telah terjadi di awal abad Islam ketika kelompok Khawarij terbentuk. Saat itu, kejumudan akal dan kebodohan menimpa sejumlah umat Islam. Mereka ini tak ubahnya seperti Khawarij menganggap dirinya sebagai pengikut ajaran murni Islam. Siapa saja yang berbeda dan menentang mereka, pasti dibantai dengan cara yang sangat sadis.

Salah satu bahaya laten dari kejumudan akal bagi umat Muslim adalah rakyat yang kurang tercerahkan akan mengalami keraguan dalam membedakan antara front kebenaran dan kebatilan. Syahid Muthahhari seraya mengisyaratkan bahwa gerakan pemikiran menyimpang seperti ini harus secepatnya dibongkar, juga menjelaskan strategi Imam Ali as dalam menghadapi kelompok Khawarij. Syahid Muthahhari berkata, “Salah satu keunikan sejarah hidup Imam Ali as adalah langkah berani beliau dalam memerangi kelompok yang menganggap dirinya suci, bodoh dan fanatik buta. Ali as memerangi mereka dan menyamakan kondisi kelompok ini seperti penyakit rabies (anjing gila). Seperti anjing gila yang tidak bisa diapa-apakan dan suka menyerang orang serta menyebar penyakitnya, ideologi menyimpang dan jumud ini sedikit demi sedikit merusak umat Islam dan menghancurkan sendi-sendi agama Samawi ini. Rasulullah Saw bersabda, “Dua kelompok yang merusak pinggangku (jerih payahku), pertama orang bodoh yang fanatik dan kedua ulama yang tidak peduli.” (IRIB Indonesia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s