Signifikansi Budaya dalam Pertumbuhan Ekonomi


Senin, 2014 Mei 12 15:14

image_gallery
Kebudayaan adalah elemen inti dalam setiap masyarakat dan peradaban, yang memiliki pengaruh besar di setiap dimensi kehidupan termasuk perkembangan ekonomi. Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, beberapa waktu lalu menekankan elemen budaya dalam pengembangan ekonomi. Beliau menekankan pentingnya memperhatikan masalah budaya di samping aktivitas ekonomi, sebagai peta jalan mencapai perkembangan ekonomi tanpa ketergantungan. Yaitu, sektor perekonomian yang mengandalkan kemampuan dan kapasitas dalam negeri dengan berporos pada sentra ilmu pengetahuan dan interaksi proprosional dengan dunia luar. Dengan pedoman tersebut diharapkan bangsa Iran dapat mencapai tujuan-tujuan mulia Revolusi Islam.

Masalah ini telah ditekankan sejak awal Revolusi Islam Iran pada 1979, bahwa meski revolusi berasaskan pada perspektif Islam, akan tetapi ekonomi juga merupakan sebuah anasir penting dalam kelanjutan hidup setiap bangsa. Oleh karena itu dalam beberapa tahun terakhir, Rahbar di awal setiap tahun selalu menekankan masalah independensi, pengembangan ekonomi serta berlanjutnya program-program komprehensif di jalur ini.

Mencapai perekonomian yang transparan dan aktif menuntut tekad besar, semangat jihad dan kerja keras berkesinambungan. Masalah ini tidak mungkin terwujud tanpa perubahan dalam keyakinan budaya masyarakat. Di sinilah peran budaya sebagai sebuah prinsip di samping aktivitas ekonomi. Selama bertahun-tahun perekonomian dunia didorong menuju konsumerisme oleh media-media berpengaruh dunia melalui perubahan perspektif budaya dalam masyarakat negara-negara pengimpor produk. Upaya tersebut mengubah perilaku ekonomi masyarakat negara-negara target. Bukti menunjukkan bahwa sebagian besar negara dunia ketiga tidak mampu menggapai pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Kini muncul sebuah perspektif relatif bahwa salah satu faktor kegagalan tersebut adalah kelalaian terhadap budaya dalam negeri.

Interaksi budaya dan ekonomi penting mengingat setiap bangsa memiliki ideologi dan cara pandang yang berbeda terkait dunia, manusia dan kehidupan. Pondasi-pondasi itu harus senantiasa diperhatikan dalam proses pertumbuhan ekonomi, karena jika tidak maka derasnya impor dari luar negeri akan merusak tatanan sosial dan kebudayaan masyarakat. Inilah nasib buruk yang dialami banyak negara berkembang, bahkan negara-negara Muslim. Sebagian masyarakat Islam untuk mencapai pertumbuhan di tingkat global, melangkah tergesa-gesa dan akibatnya banyak tatanan budaya mereka yang berubah atau goyah. Oleh sebab itu, poin-poin unggul dalam budaya di sejumlah masyarakat terlupakan atau dinilai menyimpang seiring dengan berlalunya masa dan juga friksi politik-sosial yang ada. Termasuk di antaranya yang terpenting adalah rasa percaya diri bangsa-bangsa untuk mengandalkan kemampuan dalam negeri di bidang pertumbuhan ekonomi.

Penting untuk memperhatikan poin ini bahwa pertumbuhan ekonomi, sebelum sebagai masalah yang seutuhnya ekonomi atau teknis dan berkaitan dengan teknologi, merupakan sebuah proses pengambilan keputusan, tekad nasional dan pilihan masyarakat. Pilihan dan pengambilan keputusan itu yang membentuk gaya konsumsi dan produksi masyarakat. Keyakinan, kepercayaan diri dan budaya yang diterima sebuah masyarakat, merupakan faktor determinan utama dalam pengambilan keputusan, perekonomian dan pembangunan. Dengan kata lain, elemen budaya tidak boleh dilupakan dalam setiap aktivitas ekonomi.

Untuk menjelaskan interaksi budaya dan ekonomi, terlebih dahulu harus ada definisi jelas tentang budaya dan pertumbuhan ekonomi. Budaya adalah akumulasi keyakinan dan adat yang diterima manusia melalui jalur pendidikan resmi atau tidak resmi. Adapun tentang pertumbuhan ekonomi, Michael Todaro, seorang ekonom Amerika Serikat mendefinisikannya dengan, “Sebuah proses multidimensinal melibatkan perubahan besar dalam struktur sosial, perilaku rakyat dan lembaga-lembaga nasional, begitu juga akselerasi pertumbuhan ekonomi, reduksi ketidakseimbangan dan pemusnahan kemiskinan absolut.”

Pertumbuhan ekonomi adalah tentang kondisi ekonomi yang memungkinkan akses lebih banyak manusia pada produk dan jasa untuk kesejahteraan lebih besar. Ini menuntut lebih banyak produksi sementara peningkatan produksi menuntut penggunaan metode ilmiah, teknis serta pemanfaatan teknologi. Oleh karena itu pertumbuhan ekonomi berarti penciptaan kondisi bagi masyarakat untuk memanfaatkan lebih baik dan lebih banyak pada sumber alam, tambang dan seluruh fasilitas.

Dewasa ini, manusia memiliki dua peran dalam proses pertumbuhan ekonomi. Pertama bahwa manusia sebagai tenaga penggerak proses pertumbuhan ekonomi dan kedua sebagai target seluruh dimensi pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu manusia berperan signifikan dalam pertumbuhan ekonomi. Todaro juga menyinggung perubahan pandangan masyarakat yang terpengaruh budaya dan keyakinan mereka. Karena budaya dan keyakinan-lah yang membangun manusia ideal untuk pertumbuhan ekonomi.

Menurut pandangan agama, perkembangan dan pertumbuhan ekonomi harus sesuai dengan kesempurnaan manusia. Adapun pertumbuhan yang ideal harus dilaksanakan di semua dimensi sosial, budaya dan ekonomi. Mengingat poros perkembangan itu adalah manusia, maka tujuannya juga harus menjawab seluruh tuntutan materi dan spiritualnya. Jelas bahwa hanya memfokuskan pada tuntutan materi tanpa memperhatikan dimensi spiritual, akan menciptakan ketidakseimbangan. Di sisi lain, harus dikatakan bahwa pertumbuhan ekonomi di setiap masyarakat harus sesuai dengan tatanan normal dan diterima masyarakat itu sendiri.

Islam dengan memperhatikan tuntutan individu dan sosial masyarakat, menawarkan jalan kemajuan dan perkembangan untuk manusia. Akan tetapi pertumbuhan ekonomi yang proporsional menurut Islam—sama seperti di seluruh dimensi kehidupan—memiliki kerangka jelas sehingga pada proses pencapaian pertumbuhan materi, tidak terjebak kerakusan, ketamakan, israf atau bahkan perilaku zalim dan jahat. Dunia dan seluruh sumbernya, tidak membawa berkah ketika manusia terjerumus dalam kebodohan, kesesatan dan kezaliman demi mendapatkannya.

Ayatullah Sayid Muhammad Baqir Sadr, ulama dan cendikiawan Irak yang menulis sebuah buku berjudul “Ekonomi Kita” dalam hal ini berpendapat, “Peningkatan kekayaan atau pertumbuhan merupakan tujuan penting akan tetapi bukan tujuan akhir. Artinya, seorang Muslim harus menggunakannya sebagai sarana untuk melaksanakan tugasnya sebagai khalifah Allah Swt dan membangun keutamaan dirinya. Ketika itu, peningkatan kekayaan, akan menjadi sarana bantu yang efektif untuk keselamatan di akhirat. Akan tetapi jika kekayaan menjadi tujuan akhir aktivitas manusia, maka ini akan menjadi sumber semua kekeliruan dan kejauhan manusia dari Allah Swt. Individu Muslim harus berusaha untuk mendapatkan kekayaan dan perluasan, namun itu tidak berarti harus kalah di hadapannya. Melainkan dia harus mampu mengontrol kekayaan dan dengan (kekayaan) itu membangun pribadinya dan mengejar tujuan-tujuan luhur.”

Dengan demikian kita memahami bahwa pertumbuhan dan perkembangan ekonomi dalam Islam harus sesuai dengan nilai-nilai dan demi pertumbuhan manusia. Jelas pula peran penting nilai-nilai agama dan budaya dalam pertumbuhan ekonomi. Dapat dikatakan bahwa pertumbuhan ekonomi mengacu pada kondisi yang di dalamnya manusia terlatih untuk memanfaatkan teknologi dan sumber daya alam yang ada secara efisien, serta mampu menyusun program komprehensif untuk kesejahteraan masyarakat dan membuka peluang yang sesuai untuk mencapai kesempurnaan manusia bagi semua.

Nilai dan keyakinan budaya dalam masyarakat serta ideologi dan prinsip akan menjadi landasan perilaku ekonomi setiap individu dalam proses pembangunan. Meski teknologi dan pertumbuhan ekonomi pada prinsipnya tidak membawa keburukan, akan tetapi mengingat watak dan fakta pada diri manusia, jika dia tidak terkontrol oleh nilai-nilai spiritualitas, maka terbuka lebar kemungkinan baginya untuk cenderung menyalahgunakan teknologi dan pertumbuhan ekonomi yang akan berdampak negatif pada dirinya dan masyarakat.

Oleh karena itu, sesuai dengan Islam dan nilai-nilai akhlak di dalamnya, sistem ekonomi yang ideal adalah yang mengangkat spiritualitas manusia. Pertumbuhan ekonomi ideal menurut Islam harus mampu mencegah manusia dari ketamakan, kerakusan, israf, kezaliman dan kejahatan. Pertumbuhan ekonomi itu sendiri merupakan sebuah tujuan penting akan tetapi yang lebih penting lagi harus dapat menjadi sarana untuk mengantarkan manusia pada keutamaan keutaman akhlak dalam perjalanan menuju kesempurnaan. (IRIB Indonesia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s