Abu Bakr al-Baghdadi


Sabtu, 2 Agustus 2014 22:58 WITA
Abu Bakr al-Baghdadi Terosesi menjadi Khalifah Baru
Tribunnews
Foto ini diambil dari sebuah video propaganda yang diunggah ke internet pada 8 Juni 2014 oleh kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) memperlihatkan para pejuang kelompok itu menaiki kendaraan bak terbuka di dekat kota Tikrit, Irak, Rabu (11/6/2014). Pasukan ISIS berkonvoi setelah sebelumnya merebut kota Mosul dari tangan pasukan pemerintah Irak.
 

POS KUPANG.COM--Abu Bakr al-Baghdadi alias Khalifah Ibrahim memperlihatkan wajahnya untuk pertama kalinya pada khotbah hari Jumat di Mosul, Irak, 5 Juli 2014 silam. Abu Bakar merupakan pemimpin Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang memprokamirkan diri sebagai khalifah baru, wakil atau pengganti Nabi Muhammad saw. setelah Nabi wafat untuk mewujudkan pan-Islamisme.

Empat tahun lalu, Abu Bakr memproklamirkan kelompok Negara Islami Jihadis Irak. Nama kelompok ini belakangan berubah menjadi Negara Islam Irak dan Suriah. Dan selama empat tahun itu, dia tidak pernah muncul ke permukaan.

Sebelum April 2013, Abu Bakr al-Baghdadi tidak terlalu banyak mengeluarkan pesan audio. Pernyataan tertulis pertamanya adalah sambutannya terhadap tewasnya Osama bin Laden, Mei 2011. Pesan audio pertamanya dikeluarkan Juli 2012, berisi ramalan kemenangan Negara Islam di masa depan.

Sejak kemunculan kelompok tersebut, 15 bulan lalu, informasi tentang Baghdadi yang disediakan untuk media meningkat. Jumlah informasi khusus tentang latar belakangnya juga bertambah.

Juli 2013, ahli ideologi asal Bahrain, Turki al-Binali, yang menggunakan nama Abu Humam Bakr bin Abd al-Aziz al-Athari, menulis biografi Abu Bakr Baghdadi terutama untuk menggarisbawahi sejarah keluarganya. Abu Human menyatakan Baghdadi memang keturunan Nabi Muhammad, salah satu persyaratan kunci dalam sejarah Islam untuk menjadi khalifah atau pemimpin semua warga Muslim.

Baghdadi dikatakan berasal dari suku al-Bu Badri, sebagian besar berada di Samarra dan Diyala, Baghdad utara dan timur. Secara historis penduduknya dikenal sebagai keturunan Nabi Muhammad.

Turki al-Binali menyebut sebelum invasi Amerika Serikat terhadap Irak, Baghdadi menerima gelar doktor dari Universitas Islami Baghdad, yang memusatkan kajian pada kebudayaan, sejarah, hukum, dan yurisprudensi Islam. Baghdadi sempat berkhotbah di Masjid Imam Ahmad ibn Hanbal di Samarra.

Dia memang tidak memiliki gelar dari lembaga keagamaan Sunni seperti Universitas al-Azhar di Kairo atau Universitas Islami Madinah di Arab Saudi. Meskipun demikian dia lebih memiliki pengalaman pendidikan Islam tradisional dibandingkan pemimpin Al Qaeda, Osama bin Laden dan Aymen Al Zawahiri, yang keduanya adalah orang biasa, insinyur, dan dokter.
Karena silsilah itulah Baghdadi menerima pujian dan legitimasi yang lebih tinggi di antara pendukungnya.

Setelah invasi AS terhadap Irak tahun 2003, Baghdadi dan beberapa rekannya mendirikan Jamaat Jaysh Ahl al-Sunnah wa-l-Jamaah (JJASJ), Angkatan Bersenjata Kelompok Warga Sunni, yang beroperasi dari Samarra, Diyala, dan Baghdad.

Dalam kelompok ini, Baghdadi menjadi pemimpin dewan hukum. Pasukan pimpinan AS menahannya dari Februari-Desember 2004, tetapi membebaskannya karena Baghdadi tidak dianggap sebagai ancaman tingkat tinggi.

Mengikuti jejak Al Qaeda di Tanah Dua Sungai mengubah nama menjadi Majlis Shura al-Mujahidin (Dewan Syura Mujahidin) pada awal 2006, sejumlah pemimpin JJASJ menyatakan dukungannya dan penggabungan diri.

Dalam struktur baru, Baghdadi bergabung dalam dewan hukum, tetapi tidak lama kemudian organisasi mengumumkan perubahan nama kembali pada akhir tahun 2006 menjadi Negara Islam Irak (ISI). Baghdadi menjadi pengurus umum dewan hukum provinsi di dalam “negara” baru di samping anggota dewan penasehat senior ISI.

Ketika pimpinan ISI, Abu Umar al-Baghdadi, meninggal pada April 2010, Abu Bakr al-Baghdadi menggantikannya.

Incar Minyak
Sejak menjadi pemimpin Negara Islam, Baghdadi membangun dan membangkitkan kembali organisasi yang berantakan karena kebangkitan kesukuan Sunni yang menolaknya. Pada saat yang sama kekuatan militer AS juga meningkat.

Dibandingkan dengan usaha pertama Negara Islam untuk berkuasa dalam sepuluh tahun terakhir, sejauh ini, walaupun masih menggunakan kekerasan, mereka dipandang lebih berhasil, tetap timbul pertanyaan tentang kelangsungannya dalam jangka panjang.

Keberhasilan ini sebagian karena mereka menggabungkan penerapan hukum keras dengan layanan sosial, di samping juga strategi pemberian umpan.
Jika ditelaah, ISIS menargetkan wilayah di sepanjang Sungai Efrat dan Tigris di samping daerah yang memiliki minyak di Irak dan Suriah.

Baghdadi dan pemimpin ISIS lain menyadari monopoli atas energi dan peningkatan kekuatan militer akan memudahkan penghimpunan kekuatan.
Tidak bisa diramalkan secara persis nasib ISIS pada masa mendatang, tetapi Baghdadi jelas membuat organisasinya menjadi lebih dikenal dunia. (bbc/kompas.com)

Editor: benny_dasman
Sumber: Tribunnews

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s