Ziarah dan Syirik


 rahbarziarahOleh  Ust  Husein Al Kaff

Sudah menjadi bagian dari budaya bangsa selama berabad abad, dan menjadi kajian ilmu tersendiri, yang tertuang di banyak kitab kitab ulama yang terserak di bumi nusantara, perihal keutamaan keutamaan yang terdapat di dalam tradisi ziarah. Tradisi ziarah yang di bawa oleh para pedagang Islam seiring dengan misi yang mereka emban, yakni penyebaran Islam di negeri ini, mendapatkan tempat di hati penduduk bumi putra. Ziarah yang merupakan salah satu dari etika Islam, rupanya selaras dengan jiwa luhur yang di miliki, bangsa yang mendiami negeri kepulauan ini. Dan seiring berjalannya waktu, kearifan budaya setempat mempersilahkan terjadinya akulturasi yang mutualis antara muatan nilai ziarah dengan kebudayaan lokal. Maka terciptalah tradisi ziarah sebagai bentuk budaya baru yang sarat dengan ajaran Islam. Dari perspektif sejarah inilah, di mulailah perjalanan syiar agama Islam hingga ke pelosok pelosok Indonesia. Hikmah dari hadirnya Islam di Tanah air kita, kemudian menjadi perekat perbedaan budaya yang ada serta menjadi Identitas bersama bangsa ini

Tradisi ziarah kubur, bukanlah sesuatu yang baru atau mengada ada, tetapi berakar jauh pada masa awal Islam, sebagai bentuk kecintaan dan penghormatan sahabat kepada Rasulullah saw, baik sewaktu beliau masih hidup maupun setelah wafatnya. Banyak sekali puji pujian yang Allah tujukan kepada beliau beserta perintah kepada manusia untuk taat, cinta dan memberikan penghormatan yang tinggi, yang tertuang di dalam Al Qur’an Al Karim. Sebagaimana firman Allah Swt berikut ini, “Janganlah kamu sekalian jadikan panggilan (kepada) Rasulullah di antara kamu, seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian yang lain.” QS. An Nur; 63.

Sementara hakikat ibadah adalah merendah, tunduk, patuh secara mutlak, tidak menyekutukan dan tidak mengingkari secara mutlak. Berkenaan dengan syirik, kalaulah definisi ini di hubungkan dengan perasaan kepada seseorang, maka manusia semenjak Adam As hingga sekarang tentulah kafir. Ini terlihat pada perasaan taat, patuh dan penghormatan seorang manusia kepada manusia, selain di tujukan kepada Allah Swt. Seperti ketaatan seorang anak pada orang tuanya, kawula kepada rajanya dan seterusnya. Niscaya, seluruh penduduk bumi pastilah kafir. Ini bertolak belakang dengan logika murni manusia dan perintah Allah untuk taat dan berbakti kepada kedua orang tua. Singkatnya, bahwa jenjang kesyirikan, bukan berdasarkan penghormatan dan pemuliaan. Dan penghormatan serta pemuliaan, secara mutlak bukan termasuk ibadah, namun hanya merupakan nilai nilai etika.

Jika kemudian, antara ziarah kubur dan syirik, tidak ada relevansinya, bahkan sebagai upaya seorang hamba untuk meraih ridha Allah Swt dan RasulNya. Ini jadi bukan sesuatu yang aneh, jika kemudian tradisi ziarah kubur di terima bangsa Indonesia dan bangsa bangsa lain di seluruh dunia karena Islam memang datang untuk memenuhi panggilan hati nurani dan menjawab tuntutannya, dan tidak mengharamkannya, selama masih sesuai dengan sasaran Islam. Karena Islam adalah agama fitrah, artinya adalah agama yang memberikan perintah dan kebutuhan alami secara seimbang, tanpa ada satu yang di abaikan dan di rugikan. Akhir kisah, selamat berziarah kubur tanpa harus takut menjadi kafir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s