Asyura: Epik Cinta, Pengabdian dan Kesetiaan


IMAM HUSEIN

Epik Imam Husein as, dikenal sebagai simbol konfrontasi kebenaran dengan kebatilan serta pengorbanan di jalan agama. Gerakan Imam Husein as bukan sekedar sebuah peristiwa, melainkan sebuah budaya yang hidup dan melahirkan berbagai gerakan baru. Sebuah budaya yang bangkit dari konteks Islam dan memainkan peran determinan dalam menjaga kelestarian nilai-nilai luhur agama. Yang pasti epik seperti ini, tidak akan pernah terhapus dari sejarah dan akan selalu menjadi motivasi dalam memerangi kezaliman bagi setiap generasi umat manusia.

Pada hari kesepuluh bulan Muharram tahun 61 Hijriah, seruan adzan dikumandangkan oleh Ali Akbar, putra Imam Husein bin Ali as menandai subuh Asyura. Shalat ditunaikan. Seakan semua wujud mengikuti Husein as. Para sahabat pun menunaikan shalat penuh kecintaan mengikuti pemimpin mereka. Seusai shalat Subuh, para perindu syahadah itu bangkit. Seakan tidak satu pun di antara mereka yang merasa kehausan dan seakan tidak ada ancaman 30.000 pedang yang telah terhunus di seberang medan sana. Umar bin Saad, panglima pasukan musuh mengetahui bahwa Husein as dan para sahabatnya tidak akan menyerang dan telah siap berperang.

Imam Husein as mengatur laskarnya yang hanya berjumlah puluhan dan menyerahkan panji kepada saudaranya yang setia Abbas bin Ali. Kemudian beliau maju ke depan dan memperkenalkan diri dengan harapan masih ada sekelumit kesadaran dalam hati pasukan musuh. Beliau berseru:

“Wahai kaum, kitab Allah dan kakekku Rasulullah (Saw) yang akan memberikan keputusan di antara aku dan kalian. Wahai masyarakat, mengapa kalian menghalalkan darahku? Bukankah aku putra Nabi kalian? Apakah kalian tidak mendengar ucapan kakekku tentang diriku dan saudaraku yang mengatakan: Putraku Hasan dan Husein adalah pujangga para pemuda penghuni sorga?”

Namun apa gunanya nasehat Imam Husein as, seakan hati mereka telah terkunci. Umar bin Saad menggerakkan pasukannya dan dengan suara keras dia berkata, “Saksikan wahai pasukan, katakan kepada penguasa Kufah bahwa aku adalah orang pertama yang melepaskan panah ke arah Husein.” Kemudian langit Karbala tertutupi dengan ribuan panah yang melesat ke arah pasukan Husein as. Kepada pasukannya Imam Husein as berkata, “Panah-panah ini adalah pesan perang. Bangkitlah, rahmat dan kasih sayang Allah (Swt) bersama kalian.”

Para sahabat Imam Husein as berperang tanpa secuil rasa takut dan menampilkan cinta dan pengorbanan yang tak terbayangkan. Para sahabat saling berlomba mendahului untuk terjun ke medan perang. Mereka dengan penuh hormat meminta ijin dari Imam Husein as untuk terjun ke medan perang. Hati para sahabat telah diluapi kecintaan kepada Allah Swt dan Imam Husein as. Hakikat ini dapat disaksikan dengan jelas dalam pasukan Imam Husein as, bahwa para sahabat beliau terjun di medan pengorbanan dengan kesadaran, kecintaan dan keimanan penuh.

Bagi Imam Husein as dan para sahabatnya, rasa sakit akibat kebodohan dan kejahilan masyarakat, lebih pedih dari luka pedang. Oleh karena itu, mereka berjuang bertekad melakukan tugas jihad terpenting yaitu memberantas kebodohan dalam pikiran masyarakat. Dalam sejarah Karbala disebutkan bahwa sebagian besar sahabat Imam Husein menyampaikan ucapan-ucapan bernilai tinggi untuk menyadarkan musuh. Di medan laga, para sahabat Imam Husein as melantunkan bait-bait syair epik memperkenalkan Imam Husein as dan keluarga Nabi, sebelum mereka menunjukkan heroisme di jantung barisan musuh. Ini menunjukkan bahwa musuh tidak berhenti berusaha merusak citra Ahlul Bait Nabi.

Masing-masing sahabat Imam Husein as yang bergegas ke medan perang, mampu menggetarkan barisan musuh hanya dengan menunjukkan keagungan iman dan perjuangan mereka. Setelah itu mereka akan berperang dengan penuh keberanian hingga terjatuh dengan badan penuh luka. Imam Husein as mendatangi setiap sahabatnya di medan perang, menghibur mereka dan memuji kesetiaan mereka. Para sahabat yang tidak sanggup mengungkapkan kebahagiannya dengan pertemuan tersebut, akan menjawab seruan beliau dengan ucapan “labbaik ya Husein”.

Para syuhada telah berjatuhan di medan perang, pasukan Imam Husein as hanya tinggal sangat sedikit. Imam Husein as memandang pasukan musuh dan berseru: “Apakah ada orang yang membantu kami demi Allah? Apakah ada orang yang membela kehormatan Nabi dan menjauhkan kami dari musuh?”

Sengat terik matahari padang Karbala merampas dahaga dan daya dari perkemahan Imam Husein. Anak-anak gelisah. Salah satu sahabat mengabarkan waktu shalat dzuhur. Imam Husein as menatap ke langit dan berkata, “Kau telah mengingat shalat; semoga Allah menempatkanmu di antara para penunai shalat. Iya telah tiba waktunya; mintalah mereka (musuh) untuk menangguhkan sejenak dan berhenti perang sehingga kita dapat shalat.”

Barisan shalat berjamaah telah tersusun. Jumlah jemaah shalat tidak mencapai 30 orang. Di cuaca panas Karbala dan di dalam kepungan tombak, pedang dan panah musuh, ditunaikan shalat dengan penuh kekhusyukan. Bukankah Imam Husein as berkata bahwa dia bangkit melawan demi menegakkan amr makruf dan nahi munkar? Shalat Imam Husein as dan para sahabat setianya mengindikasikan tujuan tersebut. Tiga sahabat Imam Husein as termasuk Said bin Abdullah, salah satu penjaga barisan shalat, telah menjadi perisai penuh dengan panah. Usai shalat, Said bin Abdullah telah berlumuran darah.

Para sahabat telah pergi dan hanya para ksatria keluarga Imam Husein as dari Bani Hasyim yang tersisa. Ali Akbar, Abbas dan saudara-saudaranya, para putram Hasan bin Ali as dan putra-putra Aqil dan Zainab. Selama masih ada sahabat, Imam Husein as tidak mengijinkan seorang dari Bani Hasyim terjun ke medan perang. Sekarang adalah detik-detik perpisahan. Ali Akbar menyampaikan perpisahan dengan sang ayah menuju medan perang. Setelah itu, disusul Qasim bin Hasan, kemudian para putra Ali dan lainnya, sampai akhirnya sang pembawa panji laskar Imam Husein as yaitu Abbas bin Ali mengorbankan jiwanya.

Sekarang hanya tinggal Husein bin Ali as, kesayangan Rasulullah Saw, terkepung musuh yang congkak dan hina. Imam Husein as untuk terakhir kalinya ingin menyempurnakan hujjah-nya kepada musuh. Beliau mengangkat putra bayinya yang kehausan Ali Asghar dan meminta air untuk anak tidak berdosa ini. Akan tetapi musuh menembakkan panah ke leher Ali Asghar. Imam Husein as dengan duka mendalam, memercikkan darah putranya ini ke langit dan memohon agar Allah Swt menerima pengorbanannya.

Para sahabat dan keluarganya telah gugur syahid, Imam Husein as sendirian, namun berdiri tegak dan gagah di medan perang. Ke arah mana pun beliau bergegas, barisan musuh akan porak-poranda. Tidak ada yang berani bertarung menghadapi Imam Husein as. Umar bin Saad berteriak: “Sedang apa kalian? Ini adalah putra Ali, jiwa Ali ada di raganya, jangan kalian berduel dengannya.” Setelah beberapa waktu berperang tidak imbang di padang yang panas menyengat dan dalam kondisi kehausan dan kelelahan, Imam Husein as terdesak. Beliau sejenak berdiri diam. Ketika itu salah seorang dari pasukan musuh melempar batu yang mengena dahi Imam Husein as hingga pecah dan mengucurkan darah. Aksi itu disusul dengan tembakan panah yang menusuk dada Imam Husein as dan beliau pun semakin bersimbah darah. Imam Husein as menengadahkan kepala ke langit dan berkata, “Ya Allah! Kau tahu pasukan ini, akan membunuh seseorang yang kecuali dia tidak ada lagi putra dari putri Nabi di muka bumi.”

Untuk beberapa saat Imam Husein as terbaring di atas tanah dengan badan penuh darah. Tidak ada yang berani mendekati beliau. Pada akhirnya, seorang dengan perangai kejam dan sadis mengayunkan pedangnya ke kepala Imam Husein as. Darah terpercik dari kepala beliau. Kemudian Imam Husein as dengan hati penuh kerinduan untuk segera bertemu dengan Allah Swt berkata: “Ya Allah! Aku ridho atas keridhoan-Mu dan berpasrah diri kepada-Mu. Wahai Tuhan yang akan mengadili seseorang sesuai dengan amalnya, adili antara aku dan masyarakat ini, karena Kau adalah sebaik-baiknya Hakim.”

Sanan bin Anas turun dari kudanya dan berdiri di atas Imam Husein as, kemudian mengayunkan pedangnya ke leher Imam Husein as. Langit pun gelap berkabut. Kebenaran telah tertancap di tombak. Husein as dengan bibir kehausan melantunkan ayat-ayat al-Quran dan epik Asyura pun mencapai puncaknya. Salam sejahtera kepada Husein as dan para sahabatnya yang setia.(IRIB Indonesia/MZ)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s