KEMULIAAN SHALAWAT


26/11/2014

Picture

Ustadz Miftah F. Rakhmat
Dewan Syura PP IJABI

Shalawat punya keistimewaan. Ia satu-satunya ibadah yang dicontohkan Tuhan  sebelum diperintahkan. Para ulama beragam pendapat mengenai arti shalawat Tuhan pada Nabi Saw. Ada yang berpendapat bahwa shalawat Tuhan pada Nabi Saw adalah penyucian. Karena itu, ketika kita bershalawat kita pun bergerak ke arah kesucian. (majulah-IJABI)


Dalam Bihar al-Anwar, seseorang bertanya pada Imam Ali as tentang empat hal,

”Apa itu wajib?”

Imam menjawab, ”Taat kepada (perintah) Allah.”

”Apa yang lebih wajib?”
”Meninggalkan dosa dan yang dilarang Allah.”

”Apa yang dekat?”
”Hari kiamat.”

”Dan apa yang lebih dekat?”
”Kematian.”

”Apa yang aneh?”
”Dunia.”

”Apa yang lebih aneh dari itu?”
”Para pecintanya.”

”Apa yang sulit?”
”Kuburan.”

”Apa yang lebih sulit dari itu?”
”Memasukinya tanpa persiapan.”

Dalam riwayat lain, pertanyaan keempat itu dijawab dengan ”Perjalanan, dan menempuhnya tanpa perbekalan.” Ada juga riwayat, ”Alam kubur, dan memasukinya dengan tangan kosong.”

Yang menarik adalah riwayat ketika jawaban itu diberikan Imam Ali as dalam syair yang indah,

Taubur rabbil warab waajibun ‘alaihim/
Wa tarkuhum lidz dzunuubi awjab(un)//

Wad dahru fii sharfihi ‘ajabun/
Wa ghiflatun naasi fiihi a’jab(un)//

Was shabru fin naa’ibaati sha’bun/
Laakin faututs tsawaabi as’ab(un)//

Wa kullama yurtajaa qariibun/
Wal mawtu min kulli dzaaka aqrab(un)//

Kalimat Imam, indah, singkat, namun dalam maknanya dan saling memperkaya satu dengan yang lainnya. Berikut terjemahan untuk syair Imam Ali as.

Bertaubat pada Tuhan wajib bagi mereka dalam ketaatan/ Dan menjauhkan diri dari dosa di atas kewajiban//

Dan waktu dalam menjalaninya sangat mengherankan/ Terlebih lagi mereka yang lupa dan terlenakan//

Dan sulit bersabar dalam penderitaan/ tapi kehilangan pahala karena kesabaran jauh lebih merugikan//

Dan dekatlah setiap yang diharapkan/ tapi yang lebih dekat dari semuanya adalah kematian//

Menurut Imam Ali as, taubat wajib. Tapi lebih wajib lagi berusaha meninggalkan dan menjauhkan diri dari dosa. Dunia ini aneh, ajaib, mengherankan. Lebih aneh lagi orang yang lalai dan terlena di dalamnya. Lalu, yang disebut kesulitan adalah ketika kita menghadapi musibah. Tapi akan lebih menyulitkan lagi, akan lebih menyakitkan lagi tatkala kita kehilangan pahala karena tidak bersabar menghadapinya. Dan yang terakhir, manusia merasa dekat dengan harapan-harapan dan keinginannya. Padahal yang lebih dekat dari segala sesuatu adalah kematian.

Hadis dalam Bihar al-Anwar 75:89 itu menunjukkan pada kita keutamaan Imam Ali as sebagai pintu kota ilmu Rasulullah Saw. Menurut Imam Ali, Baginda Nabi mengajari seribu pintu. Dan untuk seribu pintu, terbuka seribu pintu berikutnya. Mungkin metaforis, tetapi ia mengajak kita untuk merenung tentang perjalanan singkat di dunia ini. Perjalanan yang memerlukan ilmu agar mengetahui prioritas memanfaatkannya.

Ada hadis qudsi, dialog antara Allah Ta’ala dan Rasulullah Saw. Sebuah kitab ”Kalimatullah” bahkan mengumpulkan percakapan wahyu antara para nabi dan Allah Ta’ala. Antara lain ada yang berbunyi seperti ini.

Tuhan bertanya, ”Untuk dan kepunyaan siapakah langit dan bumi?”

Nabi Saw, ”UntukMu dan milikMu Ya Rabb.”

”Perahu dan lautan, untuk siapakah?”
”UntukMu jua Ya Rabb.”

”Surga dan neraka?”
”UntukMu dan milikMu ya Rabb…”

”Lalu, Aku…untuk siapakah?”

Bersujudlah Nabi Saw mendengar ini. Baginda menjawab, ”Engkau jauh lebih mengetahuinya Ya Rabb…”

Suara kudus pun bergema, ”Aku…bagi dia yang bershalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.”

Shalawat memang punya keistimewaan. Ia menjadi satu-satunya ibadah yang dicontohkan Tuhan  sebelum diperintahkan. Para ulama beragam pendapat mengenai arti shalawat Tuhan pada Nabi Saw. Ada yang berpendapat bahwa shalawat Tuhan pada Nabi Saw adalah penyucian. Karena itu, ketika kita bershalawat kita pun bergerak ke arah kesucian. Shalawat juga mengajarkan pada kita untuk patuh, cinta, taat penuh seluruh, pasrah seutuhnya pada seorang hamba pilihan Tuhan, kekasihNya, cahaya terangNya di tengah-tengah manusia, perwujudan rahmatNya untuk alam semesta. Ayat Surat Al-Ahzab 56 yang menggunakan bentuk ”taslim” setelah perintah shalawat sering diterjemahkan: dan ucapkanlah salam. Padahal kata yang sama pada Al-Nisaa 65 diterjemahkan: ”menerima dengan sepenuhnya.” Shalawat karenanya membimbing kita untuk mendahulukan keinginan, perintah, kepentingan, dan keputusan Rasulullah Saw di atas segalanya.

Itulah mengapa, di mata air Khum, Nabi Saw berdiri dan bertanya, ”A lastu awla bikum? Bukankah aku lebih kalian utamakan, lebih kalian dahulukan (di atas yang lainnya)?” Dan serentak para sahabat menjawab, ”Balaa…Benar ya Rasulallah.” Kemudian Nabi Saw mengangkat tangan Ali. Aduhai, adakah cincin bertaut pada tangan-tangan suci itu? Dan Nabi Saw bersabda, ”Man kuntu mawla, fa ‘Aliyyun mawlaahu.” Siapa saja yang mengutamakan aku, hendaknya ia mengutamakan Ali juga.”

Setidaknya, ada tujuh faidah shalawat di dunia dan duabelas faidah di akhirat. Saya sarikan dari berbagai sumber dari hadis-hadis Baginda Nabi Saw dan keluarganya yang suci.

Faidah duniawi :

  1. Bersama 100 shalawat, Allah Ta’ala cukupkan 100 keperluan.
  2. Bershalawat dengan lantang, membantu mengikis kemunafikan.
  3. Shalawat adalah sarana untuk menyucikan amalan, menyempurnakannya, dan melengkapi kekurangannya.
  4. Bagi setiap shalawat yang dibaca, Allah Ta’ala taburkan kesejahteraan bersamanya.
  5. Membaca shalawat, menjauhkan kefakiran.
  6. Shalawat membantu mengingatkan perkara atau urusan yang dilupakan.
  7. Shalawat mengekang dan merendahkan musuh yang selalu dekat dengan manusia, yaitu godaan setan yang terkutuk.

Adapun duabelas faidah ukhrawi seperti berikut ini :

  1. Dari Imam Shadiq as, ”Barangsiapa bershalawat 10 kali, Allah Ta’ala bershalawat baginya 100 kali.” Ada juga yang menyebutkannya 1000 kali. Kata Imam Ja’far as, ”Barangsiapa yang Allah bershalawat untuknya 1000 kali, ia dijauhkan dari api dan siksa Tuhan. Dan bagi setiap sepuluh shalawat, ada sepuluh kebaikan. Dan bagi setiap sepuluh shalawat, ada sepuluh dosa yang diampunkan. Dan bagi sepuluh shalawat, ada sepuluh derajat yang ditinggikan. Ia termasuk penghuni surga.
  2. Makhluk yang paling layak dan paling dekat kedudukannya dengan Rasulullah Saw di hari kiamat adalah orang-orang yang paling banyak bershalawat untuknya di dunia.
  3. Di antara wasiat Nabi Saw pada Sayyidina Ali as, ”Siapa saja bershalawat kepadaku, wajib baginya syafaatku.”
  4. Dari Imam Ridha as, ”Bershalawat pada Nabi Saw di sisi Tuhan, setara dengan tasbih, tahlil, dan takbir.”
  5. Masih dari Imam Ridha as, ”Siapa saja yang kesulitan menebus kifarat dosa-dosanya, hendaknya memperbanyak bershalawat karena shalawat pada Nabi Saw dan keluarganya menggugurkan dosa-dosa.”
  6. Dari Imam Ali as, ”Shalawat lebih cepat menghapuskan dosa ketimbang air memadamkan api.”
  7. Bacaan shalawat di hari kiamat akan menjadi cahaya yang menemani manusia di depannya, belakang, kiri dan kanan, atas dan bawahnya.
  8. Barangsiapa membaca ”Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ali Muhammad” Allah Ta’ala anugerahkan baginya pahala 72 syuhada.
  9. Shalawat menerangi alam kubur dan memberatkan timbangan.
  10. Shalawat menjadi perisai yang menghalangi api neraka.
  11. Shalawat menghilangkan pahitnya kematian, dahsyatnya perpindahan, dan kehausan pada hari kebangkitan.
  12. Nah, untuk faidah yang keduabelas dijabarkan agak panjang berikut ini. Dari Imam Musa bin Ja’far as, ”Barangsiapa yang berdoa tanpa membukanya dengan pujian pada Allah dan shalawat pada Rasulullah Saw, bagaikan orang yang membentangkan busurnya tanpa anak panah.” Shalawat memang artinya doa. Dan doa adalah inti dari seluruh peribadatan. Shalawat juga bentuk jamak dari shalat. Shalawat dimaknai rahmat, ampunan, pujian, penyucian, dan anugerah kemuliaan. Ada juga yang mengotak-atik kata: shad dalam shalawat adalah ‘shamad’, laam-nya adalah ‘lathiif’, waw-nya adalah ‘wahid’, dan haa-nya adalah ‘haadi’. Semua dari nama-nama indah Tuhan.

Shalawat juga menyembuhkan, meringankan beban. Tapi shalawat juga menumbuhkan kerinduan. Kerinduan yang takkan terpenuhi, takkan terlepaskan hingga saat pertemuan nanti. Yaitu kerinduan dan kecintaan pada Rasulullah Saw dan keluarganya yang suci.

Jadi ada dua jenis shalawat. Yang pertama disebut shalawat buntung. Yaitu shalawat yang tak menyertakan keluarga Rasulullah Saw. Shalawat yang hanya berbunyi, ”Allahumma shalli ‘ala Muhammad” tanpa ”wa ali Muhammad.” Kata Baginda Nabi Saw, ”Shalawat yang terputus takkan mencium wewangian surga.” Dalam Ash-Shawaiq al-Muhriqah, Ibnu Hajar meriwayatkan dari Ka’ab bin Ujrah tentang larangan Nabi Saw, ”Janganlah bershalawat kepadaku dengan shalawat yang terputus.”  Hadis dengan makna yang sama untuk menyertakan keluarga Nabi Saw diriwayatkan juga oleh Qurthubi dalam al-Jami’ li ahkaamil Qur’an, 14:233, Shahih Bukhari 6:12, Tafsir Ibnu Katsir 3:506, Al-Durr al-Mantsur 5:215, Al-Kabir Fakhrurrazi 25: 226 dan masih banyak lagi. Imam Syafi’i bahkan memasukkannya sebagai syarat sah shalat. Tidak diterima shalat kita kalau dalam tahiyyat, dalam tasyahhud tidak ada shalawat pada keluarga Rasulullah Saw.

Dari Imam Ja’far Shadiq as: Satu hari, Rasulullah Saw bersabda pada Imam Ali as, ”Wahai Ali, sudahkah engkau kuberi kabar gembira?”

”Ayah dan ibuku menjadi tebusan bagimu. Ya Rasulallah, engkau selalu menjadi kabar gembira bagiku.”

”Jibril baru saja mengabarkan padaku sesuatu yang istimewa.”
”Apakah gerangan itu Ya Rasulallah…?”

”Ia memberitahuku, siapa saja di antara umatku bershalawat kepadaku dan setelahnya pada keluargaku, Allah Ta’ala akan bukakan baginya pintu-pintu langit. Para malaikat membalas shalawatnya tujuhpuluh kali. Dan akan diampuni dosa-dosanya sebagaimana dedaunan yang berguguran dari batangnya.

Lalu Tuhan berkata kepadanya, ”Labbayka yaa ‘abdii wa sa’daik…labbaik wahai hambaKu dan berbahagialah.” Kemudian Allah Ta’ala berkata kepada para malaikat, ”Wahai malaikatku, kalian bershalawat untuknya 70 kali. Maka dariKu shalawat baginya 700 kali.” Tetapi–lanjut Baginda Nabi Saw–bila ia hanya bershalawat kepadaku dan tidak menyambungkannya dengan shalawat pada keluargaku, 70 pintu langit tertutup. Tuhan akan berkata, ”Tidak ada labbaik bagimu, tidak ada sa’daik bagimu. Wahai para malaikatKu, jangan bawa doanya naik, kecuali ia sambungkan shalawat pada nabiKu dengan shalawat untuk keluarganya.” Maka hamba yang mengucapkan ‘Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ali Muhammad’ terikat dalam kecintaan (hingga ia digabungkan, dipersatukan, bersamaku dan keluargaku.) Sebagaimana ia bershalawat kepadaku dan keluargaku.”

Shalawat yang lengkap itulah bentuk shalawat yang kedua. Shalawat kamil atau jami’. Shalawat yang menyertakan Nabi Saw dan keluarganya. Inilah makna berikutnya dari shalawat: kerinduan tak berkesudahan untuk Baginda dan keluarga sucinya. Maka ketika kita mendengar nama Baginda, lalu kita membaca, ”shallallahu ‘alaihi wa sallam, shalawat Allah baginya dan salam,” sudah lengkapkah shalawat kita? Bacalah, ”shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam, salam shalawat Allah baginya dan keluarganya.”

Dan bukankah sekikir-kikirnya manusia, adalah ia yang disebut nama ”Muhammad” atau nama-nama Rasulullah Saw lainnya dan tak bershalawat kepadanya. Kikir di dunia, dan merugi di akhirat. Itulah kerugian yang sebenar-benarnya.

Shalawat menjadi wasilah mendekatkan diri pada keluarga Rasulullah Saw. Kecintaan pada keluarga Nabi menjadi wasilah kecintaan pada Rasulullah Saw. Dan kecintaan pada Rasulullah Saw menjadi wasilah untuk sampai pada ridho Tuhan. ”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan mendekatkan diri) kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. 5:35)

Di antara doa yang baik didawamkan adalah doa ini, ”Allahumma inni as’aluka hubbaka wa hubba man yuhibbuka wa hubba ‘amalin shalih yuqarribuni ilaa hubbika. Ya Allah, aku mohonkan padaMu cintaMu, dan cinta mereka yang mencintaiMu, dan cinta perbuatan baik yang mendekatkan kami pada cintaMu.” Mencintai para nabi, Rasulullah Saw dan keluarganya yang suci, para teladan saleh sepanjang sejarah adalah perwujudan dari ‘cinta mereka yang mencintaiMu.’ Kita pun bermohon agar diberi kecintaan pada perbuatan yang mendatangkan kecintaan Tuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s