Pencarian Hakikat Kehidupan di Dalam Islam (Kritik Dunia Modernisme dan Posmodernisme)


Oleh: Muhammad Dudi Hari Saputra

Ukhuwah Islam bukanlah pada tataran eksoteris (lahir), melainkan pada tataran esoteris (hakikat) transendentalnya (Sayyed Hosein Nasr). Memaksaan penyatuan pada tataran eksoteris, sama saja mengupayakan keseragaman bentuk pemahaman lahir dari jiwa yang menerima pancaran spiritual ilahi, dimana hal ini adalah sesuatu yang mustahil. Karena keragaman (pluralitas) adalah sebuah keniscayaan pada sisi lahiriyahnya.

 Secara Filosofis, sintesis atau penggabungan dua hal yang berbeda secara bersamaan adalah mustahil (prinsip non-kontradiksi), pemahaman Nazharia’ Intiza (Realisme Instingtif) menjelaskan bahwa disposesi adalah menemukan hakikat immaterial pada yang material melalui proses pelepasan (tajarud), sehingga bentuk yang dicapai adalah akal murni (immaterial sebagai substansi), sedangkan bentuk materi adalah aksidensi yang rabith (bergantung) dan i’tibhari (respectival).

Dalam bahasa sederhana nya, bahwa keragaman/kemajemukan bentuk material-aksidental, hanya akan kembali pada ketunggalan perjalanan immaterial yang substansial, maka ungkapan Ayatollah Muthahhari adalah sikap yang rasional bahwa: Kita menerima kebenaran mutlak sebagai keniscayaan. Karena itu, kita percaya keterbukaan pemikiran. Kita menghargai pluralitas. Kita akan perjuangkan kebenaran mutlak dengan keterbukaan dan pluralitas. Yang bermaksud bahwa pada tataran Esoteris (ide dan bathin) kita memiliki kemutlakan dan ketunggalan perjalanan yang oleh Allah disebut sebagai Sirath Al-Mustakim (jalan yang lurus), tapi sekaligus tidak menafikan realitas keragaman bentuk pada tataran material (eksoteris)nya.

Sikap yang ingin menyatukan keragaman eksoteris malah menyalahi kodrat alam itu sendiri yang plural, seperti firman Allah: Kuciptakan perbedaan untuk saling mengenal. sehingga perbedaan sendiri adalah bagian dari asma Tuhan yang memanifestasi dalam bentuk yang tak terbatas dan tak terelakkan. Sehingga menurut Hosein Nasr, ukhuwah Islamiyah itu ada pada bentuk penyatuan esoterisnya, yaitu kesamaan tujuan terhadap yang transedental (Ketuhanan).

Gerakan yang ingin menyatukan atau menyeragamkan keyakinan, tak lain berangkat dari semangat Humanisme Barat, dimana ukuran nilai berdasarkan prinsip kemanusiaan dan kesepakatan, yang malah akan mereduksi nilai Ketuhanan itu sendiri.

Alam Modernisme yang berusaha menemukan essensi (kemendasaran) kehidupan, tapi keliru dalam proses mentasdiq/menyimpulkan nya, malah menggiring kehidupan manusia yang berdasarkan pada alam atau alat yang material dan partikular, sehingga niscaya terbatas. Maka konsekuensinya adalah melahirkan manusia yang tidak saling mengenal, dan teralienasi.

Kondisi manusia yang semakin tidak mengenal dan teralienasi, bahkan pada tahap tidak mengenal dan teralienasi terhadap diri sendiri, memuncak pada Alam Posmodernisme, yang menggiring manusia pada pencarian essensi ke fenomena (baca: eksistensi yang nampak, tapi pemahaman eksistensi dunia barat sedikit berbeda dengan para filsuf muslim).

Penghentian pencarian hakikat (essensi) kepada yang nampak (fenomena), telah membuat manusia bukan hanya teralienasi dan menjadi relative karena sibuk terhadap realitas yang nampak (aksiden), tapi juga nihilistik, manusia mendapati dirinya berada pada kesimpang-siuran informasi, yang pada titik parahnya menjadi apatis terhadap kebenaran yang hakiki, sehingga kebenaran sekedar dianggap sebagai kepentingan atau hasrat mendominasi, dan menyebabkan manusia tersesat, dan kehilangan arah tujuan hidup (nihilistik).

Karenanya menurut Nasr, manusia perlu kembali menemukan pencarian hakikat (essensi) kehidupan nya, tapi bukan seperti Modernisme yang menjadikan material sebagai essensi kehidupan atau sikap Kantian yang menganggap essensi tak bisa diketahui (das ding an sich), sehingga idea hanya dianggap sebagai intuisi belaka.

 

Pencarian hakikat atau essensi menurut Nasr adalah realitas immaterial yang universal, sekaligus bisa dikenali dan dipahami di alam material, sehingga bisa menjadi acuan bagi kehidupan manusia (tidak menjadi nihilistik), sekaligus saling berelasi karena sikap universal nya (antrokoposmik), yang membuat manusia terhindar dari sikap alineasi, baik terhadap diri, maupun orang lain, alam dan realitas profisik (baca: metafisik, silahkan jika ingin dipahami sebagai Tuhan). Sikap manusia yang tidak teralienasi, tentu akan membuat manusia bisa memahami (verstehen) satu sama lain. Karena sekat dan batas telah terlampaui, sehingga memahami bukan hanya menjadi perjalanan akal (Hushuli), tapi juga jiwa (Hudhuri).

Kesimpulannya bahwa Islam tidak hanya berbicara pada aspek yang eksoteris (lahir) seperti syari’at, politik, dsb, tapi juga berbicara pada aspek esoteris (bathin) nya, yaitu berada dalam bentuk hiqmah/falsafah dan tasawuf/irfan.

Islam kontemporer menurut saya, adalah orang-orang Islam yang tidak menjadi modernisme maupun posmodernisme, tapi tidak pula menjadi radikal dan puritan, melainkan menjadi manusia insan-kamil, manusia tercerahkan (Rausyan-Fikr), dimana aspek lahir dan bathin Islam telah disentuhnya. (IRIB Indonesia)

*) Mahasiswa S2 Hubungan Internasional, Konsentrasi Diplomasi Perdagangan Global, UGM.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s