Kewajiban Bekerja


Shalat-Khusyuk-170616
Posted on May 21, 2010

Pada suatu hari, Rasulullah SAW sedang berjalan bersama dengan para sahabat. Tiba-tiba mereka menyaksikan seorang pemuda yang tampak gagah perkasa sedang bekerja keras membelah kayu bakar. Para sahabat pun berkomentar: “Celakalah pemuda itu. Mengapa keperkasaannya itu tidak digunakan untuk Sabilillah (jalan Allah)?” Lantas, Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian berkata demikian. Sesungguhnya bila ia bekerja untuk menghindari diri dari meminta-minta, maka berarti ia dalam keadaan Sabilillah. Dan jika ia bekerja untuk mencari nafkah serta mencukupi kedua orangtuanya atau keluarganya yang lemah, maka ia pun dalam Sabilillah. Namun jika ia bekerja hanya untuk bermegah-megahan serta hanya untuk memperkaya dirinya, maka ia dalam Sabilisy syaithan (jalan setan).”

Dalam arti luas, bekerja berarti melakukan suatu perbuatan dengan sadar. Al-Quran menggunakan kata ‘amila’ atau ‘amala – ya ‘malu’ untuk menunjukkan arti “bekerja”. Kata ‘amal’, yang mengandung arti “bekerja” telah digunakan juga dalam Bahasa Indonesia. Dalam Islam pekerjaan tidak bisa dilepaskan dari nilai yang dikandungnya, entah itu buruk ataupun baik. Tetapi al-Quran lebih banyak menekankan kata “bekerja” atau “beramal” dengan konotasi positif sebagai syarat untuk mencapai kemenangan, sebagaimana dinyatakan dalam firman, “Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang besar. Untuk kemenangan serupa ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja.” [QS 37:60-61].

Sebelum menilai apakah pekerjaan itu baik atau buruk, tentu harus dilihat motivasinya. Apakah motivasi bekerja hanya untuk Allah SWT? Sebuah hadis Nabi SAW menyebutkan, “Sesungguhnya nilai segala pekerjaan itu adalah sesuai dengan niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya ditujukan kepada ridha Allah dan RasulNya, maka ia (nilai) hijrahnya itu (mengarah) kepada ridha Allah dan RasulNya; dan barangsiapa hijrahnya itu ke arah (kepentingan) dunia yang dikehendakinya atau wanita yang hendak dinikahinya, maka (nilai) hijrahnya itu pun mengarah kepada apa yang menjadi tujuannya.” [HR. Bukhari-Muslim].

Bekerja demi kepentingan keluarga jelas termasuk sebuah amal saleh. Seperti pemuda dalam kisah di atas. Niatnya bekerja adalah murni untuk membantu keluarganya. Upayanya ditujukan agar keluarganya tidak menjadi hina lantaran menjadi parasit yang membebani orang lain. Sesungguhnya, sebaik-baik makanan, adalah makanan dari hasil keringatnya sendiri lantaran penuh dengan berkah Allah SWT. Seperti sebuah hadis yang berkisah bagaimana Rasulullah SAW mengangkat dan mencium tangan seorang lelaki yang sedang bekerja keras, beliau lantas bersabda: “Bekerja keras dalam usaha mencari nafkah yang halal adalah wajib bagi setiap muslim dan muslimah.” Semoga kita termasuk orang yang mau bekerja keras bagi kepentingan keluarga. Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s