Meresapi Makna Silaturahmi


Kebaikan-dan-Kebenaran-150616
Posted on October 1, 2009

Silaturrahim secara bahasa berarti menjalin tali kasih. Dalam Islam, silaturrahim maknanya lebih luas; bukan hanya menyambung tali kasih dengan sesama manusia [mikrokosmos] tetapi juga dengan alam raya [makrokosmos], seperti binatang, burung, ikan, tumbuh-tumbuhan, dan benda-benda mati, seperti air, tanah, udara, langit, dan lain sebagainya. Sebagai khalifah [representatif Allah di bumi], manusia harus menjalin komunikasi aktif secara verbal dengan mereka.

Dalam Islam yang punya rahim bukan hanya manusia tetapi semua makhluk yang memiliki unsur “hidup”. Bagi Allah swt tak ada benda mati. Mereka semua tanpa kecuali menyembah secara aktif dan bertasbih kepada Allah, Sang Khaliq. “Hanya saja [kita] tidak memahami tasbih mereka,” kata Allah swt dalam QS al-Isrâ’ [17]: 44.

Bersilaturrahim dengan sesama manusia [mikrokosmos] itu yang biasa dilakukan, terutama pasca lebaran ’Idul Fitri. Bersilaturrahim dengan alam raya [makrokosmos] sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan, terasa masih langka dan belum terlembagakan. Padahal, Rasulullah telah mencontohkan silaturrahim dan menjalin hubungan keakraban dengan lingkungan sekitarnya, seperti lingkungan alam misalnya tanah, air, dan langit, lingkungan hidup seperti fauna dan flora, dan lingkungan makhluk spiritual seperti bangsa jin, malaikat, dan para arwah manusia terdahulu. Bersilaturrahim dengan mereka tak kalah pentingnya dengan manusia. Gagal membangun silaturrahim dan keakraban dengan makhluk makrokosmos bisa membawa malapetaka bagi manusia. Hal ini sudah diingatkan Tuhan di dalam al-Qur’an: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia” [QS ar-Rûm [30]: 41].

Silaturrahim dengan benda-benda mati banyak dicontohkan Rasulullah Saw. Antara lain ia melarang keras mencemari air; baik genangan air [al-ma’ al-rakid] maupun air yang mengalir [al-ma’ al-jari], suara tasbih butiran pasir di tangan Rasulullah, batu keras menjadi lunak saat penggalian Khandak, dan kasus di dinding dan daun pintu yang berbicara kepada Nabi.

Silaturrahim dalam Islam juga diadreskan kepada makhluk-makhluk spiritual seperti bangsa jin, malaikat, dan makhluk spiritual lainnya. Termasuk dengan arwah manusia shaleh yang pernah hidup jauh sebelumnya. Jibril tempat curhatnya Rasulullah yang mendatanginya hampir setiap hari. Demikian pula dengan malaikat-malaikat lainnya. Silaturrahim juga dilakukan terhadap bangsa jin sebagaimana ditemukan di dalam beberapa riwayat Nabi.

Jadi jelas bahwa konsep silaturrahim di dalam al-Qur’an dan sebagaimana dipraktikkan Rasulullah bukan hanya dengan sesama manusia, apalagi hanya dibatasi sesama umat Islam. Silaturrahmi Rasulullah sangat komperhensif, meliputi seluruh makhluk makrokosmos, mikrokosmos, dan makhluk spiritual.

Silaturrahim Rasulullah tidak dipilah dan dibedakan oleh atribut-atribut primordial manusia, seperti agama, ras, etnik, suku-bangsa, negara, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, dan lain sebagainya. Al-Qur’an juga telah menegaskan: “Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak cucu Adam” [QS al-Isrâ’ [17]: 70]. Tuhan tidak menggunakan redaksi “Allah memuliakan orang-orang Islam.” Al-Qur’an juga menggagas konsep “ukhuwah imaniyah”, persaudaraan orang-orang yang berkeimanan. Al-Qur’an mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah saudaramu,” [QS al-Hujurât [49]: 10]. Tuhan tidak mengatakan “Sesungguhnya orang-orang Islam itu bersaudara”. Sehubungan dengan ini, menarik untuk dihayati kedalaman dan keluasan wawasan tokoh-tokoh NU yang pernah menggagas sinergi tiga konsep ukhuwah yang hidup di dalam wadah NKRI, yaitu Persaudaraan Kemanusiaan [ukhuwah basyariyah], Persaudaraan Kebangsaan [ukhuwah wathaniyah], dan Persaudaraan Keislaman [ukhuwah islamiyah]. Tak boleh atas nama salah satu konsep ukhuwah digunakan untuk merusak tatanan ukhuwah yang lain.

Jika terjadi silaturrahim internal sesama makhluk mikrokosmos bisa terwujud maka akan memudahkan terjalinnya ukhuwah komperhensif antara makhluk mikrokosmos dengan makhluk makrokosmos. Silaturrahim antara kedua kosmos ini diharapkan melahirkan kedamaian abadi. Semoga lebaran kali ini membawa kebahagiaan dan kedamaian untuk kita semua. « [Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA – Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Departemen Agama dan juga menjabat sebagai Rektor Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an Jakarta & Katib Am PB NU]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s